
Sampai di dalam kamar, Kiran langsung melepaskan genggamannya pada lengan sang suami saat mendengar ponselnya yang diatas nakas bergetar.
Ia segera menggapai ponsel itu dan melihat ada satu panggilan masuk dari Dinda.
Tanpa mengulur waktu, Kiran langsung mengangkat panggilan itu. Terlebih, terakhir kalo Dinda menghubungi, kabar sahabatnya itu kurang baik.
"Ada apa Din?" tanya Kiran saat keduanya sudah saling mengucapkan salam.
"Aku memutuskan untuk tidak pergi Ran," ucap Dinda lirih, bahkan terdengar jelas jika suaranya serak, seolah habis menangis.
Sebenarnya Kiran merasa tidak berhak untuk mencampuri hubungan mereka berdua, karena itulah ia hanya memutuskan untuk menjadi pendengar. Tidak menyalahkan salah satunya.
"Apapun keputusanmu, aku akan dukung Din, lagipula kamu melakukan itu semua demi Akbar," jawab Kiran, antara bingung dan ikut merasakan kesedihan sang sahabat.
Mendengar jawaban Kiran itu, Aslan bisa langsung tau jika yang menelpon adalah Dinda.
Aslan lalu mencium pucuk kepala sang istri, lalu memberi isyarat jika ia akan mandi. Dan Kiran menjawabnya hanya dengan anggukan.
Lalu melihat sang suami yang berjalan menuju kamar mandi dan masuk kesana.
"Sedari semalam mas Alfath tidak menghubungiku, karena aku menolak ajakannya," terang Dinda lagi, kini Kiran yakin jika Dinda kembali menangis.
Isak tangisnya mulai terdengar.
"Aku tidak tahu harus bagaimana Din, tapi percayalah, Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk kalian berdua. Lebih baik kita ihklas, insya Allah, kelak Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan yang lebih," jelas Kiran.
Dan diujung sana, Dinda akhirnya menumpahkan semua air mata.
Dulu sebelum ada Akbar, ia akan melakukan apapun untuk membuktikan cintanya pada Alfath, bahkan ia sudah seperti seorang pengemis cinta.
Tapi kini tidak lagi, cinta bagi Dinda bukanlah hal yang diutaman lagi. Anak adalah prioritasnya. Karena itulah, ia mulai melepas Alfath.
Meski rasanya begitu perih, namun Dinda akan coba.
Lagipula sejak awal ia sudah tahu, jika Alfath akan sulit untuk memberikan hatinya pada Dinda.
"Din, sudah jangan menangis lagi, bagaimana jika besok kita bertemu?" tawar Kiran, ia sungguh merasa iba, tak tega mendengar sang sahabat menangis.
Kesedihan itu seolah ikut menyelimuti hatinya, apalagi kini Kiran begitu sensitif.
"Apa kamu tidak masuk kerja?" tanya Dinda, masih dengan isak tangisnya.
"Siang kan aku pulang, datanglah ke rumahku, nanti aku akan mengenalkanmu dengan mbak Widya, tetangga baruku," jelas Kiran lagi, mencoba mengalihkan kesedihan Dinda.
"Ajak Akbar juga, bagaimana?" tanya Kiran sekali lagi.
Sementara Dinda, ia mulai menghapus air matanya sendiri.
Bahkan berulang kali membuang dan menghirup napasnya perlahan.
__ADS_1
"Baiklah, jam 3 sore aku akan ke rumahmu," jawab Dinda akhirnya.
Bagaimanapun sakitnya hati ini, Dinda tetap harus melanjutkan hidupnya. Apapun keputusan yang ia ambil, ia akan tanggung semua akibatnya.
Tak lama setelah saling sepekat, panggilan telepon Kiran dan Dinda itu terputus. Lalu tanpa mengulur waktu, Kiran langsung menyiapkan baju ganti untuk sang suami.
Meletakkannya diatas ranjang.
Sementara ia, duduk disebelah baju itu.
Termenung sejenak, memikirkan kenapa Alfath seegois itu. Lamunan Kiran putus, saat terdengar pintu kamar mandi terbuka.
Dengan sendirinya, Kiran mulai tersenyum saat melihat sang suami datang.
"Dinda kenapa lagi?" tanya Aslan langsung, seraya ikut duduk disebelah Kiran dan mengeringkan rambut basahnya menggunakan handuk kecil.
"Dinda memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia Mas, dan semenjak itu Alfath tidak menghubungi dirinya," jelas Kiran apa adanya dan Aslan hanya menganggukkan kepalanya. Aslan masih merasa jika sikap Alfath kini karena laki-laki itu masih mencintai istrinya.
Jujur saja, sebenarnya Aslan cemburu dan merasa tak nyaman. Namun ia memutuskan untuk mempercayai sang istri. Hingga tak meributkan apapun.
"Sayang belum mandi?" tanya Aslan dan Kiran menggeleng seraya tersenyum kikuk.
"Ini sudah sore, mandi sana," titah Aslan dan kini istrinya itu menganggukkan kepala.
Kiran lalu segera bangkit dan gantian ia yang kini mandi.
Keesokan harinya.
Seperti biasa, pagi-pagi Aslan dan Kiran akan sibuk untuk pergi bekerja.
Aslan pergi lebih dulu sementara Kiran pergi belakangan, menjadi seorang pemilik toko membuat Kiran merasa lebih bebas.
Bahkan datang hanya untuk memeriksa saja, lalu bisa kembali pulang.
Apalagi kini seisi toko itu sudah dipasang CCTV, yang terhubung langsung dengan ponsel pintarnya.
Dari rumah pun, Kiran bisa memeperhatikan jalannya toko.
"Umi, Abi, aku berangkat dulu ya?" pamit Kiran, lalu mencium punggung tangan kanan kedua mertuanya dengan takzim.
"Jangan lupa dibawa saladnya, tadi katanya mau makan salad," ucap Yuli mengingatkan.
Subuh tadi Kiran merengek pada Yuli ingin makan salad yang dibuat langsung oleh sang mertua. Tanpa banyak berdebat, Yuli pun langsung membuatkannya.
"Eh iya, hampir lupa," jawab Kiran jujur, ia lalu mengambil box salad yang sudah dikemas rapi oleh sang mertua.
"Aku pergi Umi," pamit Kiran sekali lagi.
Dan Yuli menganggukkan kepalanya, seraya meminta menantunya itu untuk berhati-hati. Jika terjadi sesuatu dijalan segera menghubungi rumah.
__ADS_1
Selalu itu saja yang diucapkan Yuli setiap pagi, setiap Kiran hendak pergi dari rumah.
"Siap Bos!" jawab Kiran patuh, lalu benar-benar meninggalkan, menciumi kedua pipi sang anak yang sedang menonton televisi di ruang tengah dan segara menuju garasi mobil.
Tak butuh waktu lama, 20 menit kemudian, Kiran sampai di toko.
Hana sudah menyambutnya dengan riang.
Memperlihatkan hasil penjualan toko yang naik pesat.
Melihat laporan itu, Kiran pun tersenyum juga. Merasa jika usahanya membuahkan hasil.
"Han, jangan lupa ya, sisihkan sebagian keuntungan kita untuk disumbangkan." Kiran mengingatkan dan Hana mengangguk dengan patuh.
"Siap Bu!" jawab Hana lantang.
Keuntungan toko itu, semuanya langsung Kiran kirim kepada sang ayah mertua, Iwan. Sementara ia hanya menyisahkan untuk kepentingan toko.
Diujung sana, Iwan mengeryit bingung saat melihat ada laporan diponselnya tentang saldo rekeningnya yang bertambah beberapa digit.
Iwan lebih terkejut lagi saat yang melihat uang itu adalah kiriman Kiran.
Tanpa menunda, Iwan langsung menghubungi sang menantu. Memperjelas semuanya.
"Asslamualaikum Abi, ada apa?" tanya Kiran langsung.
"Walaikumsalam, Ran, kenapa kamu kirim uang ke Abi? itu keuntungan toko kan?" Iwan balik bertanya dan mendengar itu Kiran langsung tersenyum lebar.
Kiran merasa sangat bahagia ketika mengirimkan uang itu, namun Iwan malah merasa tak suka.
Toko itu kinu sudah ia serahkan kepada Kiran, maka Kiranlah yang paling berhak menerima semua keuntungan ini, bukan dia.
"Iya Abi, aku yang kirim," jawab Kiran riang, penuh dengan rasa bangga.
Namun seketika senyum Kiran menyurut, saat ia mendengar Abinya malah menghembuskan napas berat.
"Nak, uang itu milikmu, kenapa dikirimkan ke Abi? abi tidak mau menerimanya Nak, ini adalah hak mu," terang Iwan sungguh-sungguh.
Dan Kiran langsung murung.
"Tapi Abi_"
"Ran, abi sudah menganggapmu seperti anak abi sendiri, bukan hanya menantu. Abi tidak membutuhkan uang itu Nak, abi akan kembalikan padamu. Dan untuk keperluan Abi dan Umi, bukankah kamu dan Aslan akan menyiapkan semuanya?" terang Iwan sekaligus bertanya.
Sementara Kiran tak bisa menjawab apa-apa. Mendadak jadi sedih.
"Iya Abi, aku dan mas Aslan akan memenuhi semua kebutuhan umi dan abi," terang Kiran yang merasa bersalah. Ia mulai menangis.
Iwan tersenyum, meski begitu susah untuk kembali membuat Kiran berhenti menangis.
__ADS_1