Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 149 - Kalau Sakit Katakan Sakit


__ADS_3

Sampai di perpustakaan, Alana, Sisil dan Nathan berpisah sejenak untuk memilih buku yang akan mereka baca di sana. Nanti, mereka akan kembali bertemu di meja yang sudah mereka sepakati.


Sisil mengambil buku mata pelajaran biologi, sementara Alana bahasa Indonesia.


Alana, kesulitan dalam memahami tehnik baca cepat. Karena itulah ia ingin memahami teorinya.


Setelah menemukan buku yang ia cari, Alana langsung keluar dari rak-rak buku itu, menuju meja baca.


Namun alangkah terkejutnya Alana, saat tiba-tiba tangannya dicekal dan dengan cepat seseorang menariknya hingga lebih masuk ke dalam rak-rak buku itu.


Alana ingin berteriak, namun Altar engan cepat pula membungkam mulutnya menggunakan tangan.


Lalu memberi isyarat untuk diam dengan tatapannya yang tajam.


Tahu tak bisa berkomunikasi dengan alana lewat bicara, Altar menuliskan pertanyaan dalam sebuah kertas.


Kenapa mendiamkan ku? Tulis Altar di kertas itu.


Alana membaca, lalu mengeyitkan dahinya. Dan dengan kasar merebut kertas itu.


Pikir sendiri. Balas Alana, sama-sama menulis.


Aku bukan paranormal.


Aku juga bukan paranormal.


Altar, menghembuskan napasnya pelan.


Baiklah, maafkan aku. Tulis Altar lagi.


Maaf untuk apa? Tanya Alana, menulis dengan menatap sengit pada pria dihadapannya ini. Ia yakin, jika Altar pun pasti tidak tahu apa kesalahannya. Kesalahan yang membuat ia jadi diam seperti ini.


Untuk semuanya, digabungkan aja semua salahku jadi satu, dan aku meminta maaf untuk itu semua. Balas Altar. Membaca itu, bukannya senang, Alana malah makin mengeram kesal.


Buru-buru, Altar kembali menulis. Aku selalu saja salah di matamu. Tulis Altar, ia bahkan memasang wajah memelas.


Dan bodohnya, Alana merasa iba tiap kali melihat wajah Altar yang seperti itu.


Tak ingin bodohnya ketahuan, Alana ingin pergi begitu saja dari sana, namun dengan cepat pula Altar kembali menahan pergelangan tangannya.

__ADS_1


Memegang dengan kasar, namun saat Alana menoleh kearahnya, cengkraman itu perlahan berubah jadi lembut.


“Berhenti mendiamkan ku,” bisik Altar, meminta dengan sungguh-sungguh. Ia lebih suka dicaci maki oleh Alana, daripada harus didiamkan seperti ini.


“Hem,” jawab Alana singkat lalu menarik tangannya dengan kasar.


Dan saat itu juga, Alana segera meninggalkan Altar seorang diri di sana. Berjalan menuju meja yang sudah lebih dulu diduduki oleh Sisil dan Nathan.


“Kenapa lama sekali?” bisik Nathan ingin tahu, kenapa Alana pergi begitu lama, sementara ia dan Sisil sudah sedari tadi kembali kesini.


“bukan urusanmu,” bisik Alana pula, hingga membuat Nathan bergeming. Sementara Sisil yang ikut mendengar hanya mengulum senyum.


Alana, memang selalu saja seperti itu, judes, ketus. Kalau kata bunda Dinda, Alana sama seperti tante Kiran muda.


Bisik-bisik antara Alana dan Nathan itupun tak lepas dari tatapan tajam Altar diujung sana, lengkap pula dengan mata kelima temannya.


“Seneng ih, ada mainan baru,” ucap Billar, merasa bahagia kini mereka akan menjadikan Nathan sebagai bahan bulian.


Semenjak Alana datang ke kelas 2E dan dengan lantang memanggil altar sayang. Seluruh sekolah ini langsung tahu jika Alana dan Altar kini resmi menjalin kasih. Dugaan mereka selama ini ternyata benar adanya. Alana dan Altar memang berpacaran.


Namun seolah menutup diri dari kebenaran, Nathan malah masih tetap saja mendekati Alana dengan berbagai cara, termasuk memanfaatkan perpustakaan agar bisa lebih dekat dengan gadis pujaannya itu.


Altar yang merasa geram pun setuju-setuju saja dengan ide teman-temannya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam 10 pagi itu, Kiran mendatangi rumah Widya Pagi tadi sahabatnya itu tidak keluar rumah untuk membeli sayur di tukang sayur keliling. Biasanya, setiap pagi mereka akan bertemu didepan rumah untuk membeli sayur itu.


Takut Widya sakit, Kiran pun langsung datang kesini ketika semua pekerjaan rumahnya selesai.


Menekan bell rumah berulang kali dan pintu itu masih setia terkunci, tidak ada tanda-tanda akan terbuka.


Dengan perasaannya yang sedikit cemas.


Kiran mencoba menghubungi nomor sang sahabat, namun naas, panggilannya pun diabaikan.


“Ya Allah, semoga mbak Wid baik-baik saja. Semoga Agung juga baik-baik saja,” gumam Kiran, dengan kaki yang kulu kilir kesana kesini, tidak tenang.


Langkah kaki Kiran terhenti, saat dilihatnya ada satu mobil yang mulai masuk ke pekarangan rumah itu.

__ADS_1


Ternyata yang datang adalah mobil Agung. Buru-buru, Kiran menghampiri mobil itu, bahkan sebelum sang pemilik turun.


Berdiri dengan cemas di dekat pintu mobil. Menyaksikan Agung yang turun dengan wajahnya yangs sendu.


“Gung,” panggil Kiran lemah.


“Tunggu ya, aku bantu Widya turun dulu.” Jawab Agung, lalu menghampiri istrinya yang mulai turun juga dari pintu sebelah sana.


Kiran pun mengikuti dan ikut memapah Widya pula untuk segera masuk ke dalam rumah.


“Kenapa tidak memberi tahuku,” ucap Kiran, dengan menahan isak tangis.


Sudah 2 tahun ini, Widya sering jatuh pingsan. Penyakit bawaan dari sang ibu yang tertinggal di dalam tubuhnya.


“Maaf Ran, aku hanya tidak ingin merepotkan mu,” jawab Widya lirih, ia bahkan masih mencoba tersenyum diantara rasa sakitnya.


“Kalau sakit katakan sakit, jangan tersenyum seperti itu,” kini Agung yang buka suara. Pria yang sangat mencintai istrinya ini sungguh tak sanggup melihat penderitaan sang istri. Andaikan bisa, ia ingin penyakit itu berpindah ditubuhnya dan mengambil alih semua rasa sakit sang istri.


Tak bisa ditahan, akhirnya air mata Kiran jatuh juga. Meski begitu ia masih menahan sekuat tenaga agar tangisnya tidak pecah. Jika ia sampai menangis keras, Agung akan memarahinya.


Tak lama setelah masuk ke dalam rumah, mereka semua sampai di kamar Agung dan Widya, Kiran pun ikut mengantar hingga ke dalam sini.


“Jaga mbak Wid, aku akan buat makanan.” Ucap Kiran kemudian, tanpa menunggu jawaban keduanya ia langsung bergegas pergi menuju dapur.


Meninggalkan Agung dan Widya dikamar ini, berdua, saling menatap dengan tatapan sendu.


Kata dokter, penyakit Widya memang bisa diobati, namun tidak bisa disembuhkan secara total.


Karena itulah, Widya meminta untuk ia dirawat di rumah saja, tidak perlu sampai melakukan perawatan di rumah sakit.


“Mas,” panggil Widya lirih.


Dan tanpa kata-kata apapun, Agung langsung memeluk istrinya itu. Memeluk erat dan penuh kehangatan.


“tenanglah, jangan berpikir yang berlebihan, aku akan selalu ada untukmu sayang,” ucap Agung, mencoba tenang, tak peduli meski hatinya sedang bergemuruh hebat.


Pelan, Widya membalas pelukan sang suami. Pelukan yang selalu membuatnya merasa nyaman.


Menjadi istri Agung, adalah hal terindah di dalam hidupnya.

__ADS_1


“Aku mencintaimu Mas,” ucap Widya lirih.


“Aku lebih mencintaimu sayang,” balas Agung pula, dengan semakin memeluk erat sang istri.


__ADS_2