Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 29


__ADS_3

Kiran buru-buru mengejar Aslan dan Maya yang hendak menuruni anak tangga.


"Mas!" teriak Kiran dan Aslan langsung menoleh seraya menghentikan langkah.


"Jangan lari-lari, bagaimana kalau kamu jatuh?" ucap Aslan saat Kiran sudah berdiri tepat dihadapannya.


Kiran melirik Maya yang menatapnya dengan tatapan tak suka. Ia memilih acuh, sedari awal Kiran sudah menebak jika maya bermuka dua, entah itu hanya dengannya saja atau dengan orang lain pula.


"Ada yang aku katakan, bisa bicara sebentar, berdua." jelas Kiran, sengaja menekan kata berdua, lama-lama ia pun kesal juga dengan Maya.


"Bicaralah Mas, aku akan turun lebih dulu." ucap Maya lembut seraya mengelus lengan sang suami.


Kiran mencebik melihat itu, pintar sekali merubah-rubah diri, pikirnya.


"Kita bicara di bawah saja ya, tunggu aku di ruang tengah. Aku akan mengantar Maya dulu ke meja makan." ajak Aslan pada istri keduanya dan Kiran mengangguk setuju.


Sementara Maya menyeringai, merasa jika Aslan masih mementingkan dirinya dibanding sang madu.


Akhirnya mereka bertiga turun, Kiran mengekor dibelakang mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sayang, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Aslan setelah duduk disamping sang istri.


Kiran tak langsung menjawab, ia mengambil salah satu tangan sang suami untuk digenggamnya erat.


"Sayang," panggil Kiran manja dan Aslan mengeryit bingung, curiga.


"Aku ingin pindah dari rumah ini, aku bisa mengontrak rumah dimanapun, asal tidak tinggal disini." jelas Kiran dengan wajah memelas, menatap dalam mata sang suami.


"Kenapa? aku tidak akan mengizinkanmu untuk keluar dari rumah ini." jawab Aslan dingin, sumpah demi apapun ia sangat membenci permintaan Kiran itu.


"Mas, dengarkan dulu alasanku." lirih Kiran.


"Aku mohon, izinkan aku untuk keluar dari rumah ini. Aku benar-benar ingin memiliki waktu hanya berdua saja denganmu. Hanya berdua." Desis Kiran, ia semakin mengeratkan genggaman tangan itu.


Hanya inilah alasan yang ia punya, rasanya tak mungkin jika mengatakan Maya telah mengusir dirinya. Pasti Aslan pun tidak akan percaya.


"Benar itu alasanmu? bukan karena hal yang lainnya lagi? bukan karena kamu menghindariku?" cerca Aslan dengan tatapan tajam.


Dan Kiran menggeleng


"Tatap mataku dengan benar, apa Mas tidak bisa melihat begitu banyak cinta disana? Mata yang begitu mendambakan kamu."


Aslan terdiam, ditatapnya lekat mata sang istri, mata yang membuatnya tak bosan-bosan untuk menatap. Seolah dari mata itu ia bisa membaca semua tentang Kiran.


"Kamu yakin?" tanya Aslan meyakinkan dan Kiran mengangguk.

__ADS_1


"Mana mungkin aku menghindari kamu Mas, sementara sayap-sayapku sudah patah olehmu," jawab Kiran berucap manis.


Aslan tersenyum, satu tangannya yang lain bergerak menarik hidung sang istri, gemas sekaligus kesal. Kenapa wanita ini pintar sekali merayu dirinya?


"Baiklah, tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu mengontrak rumah. Nanti tinggalah di rumahku saja, bude Asni akan menemanimu disana. Jadi saat aku tidak bersamamu kamu tidak akan merasa sendirian."


Kiran mendelik, langsung menatap sang suami dengan tatapan tak suka.


"Mas punya rumah?" tanya Kiran menggebu dan Aslan mengangguk. Dia memang memiliki 2 rumah, 1 rumah pemberian sang ayah dan 1nya lagi rumah hasil jerih payahnya sendiri, selama 10 tahun mulai bekerja.


"Kenapa tidak bilang dari dulu." Ketus Kiran kesal, jika tahu begini sudah dari dulu ia pindah dari rumah ini. Tanpa rayu-rayu begini.


"Kan kamu tidak pernah bertanya," jawab Aslan apa adanya dan wajah Kiran makin ditekuk kusut.


"Mau pindah atau tidak?" ledek Aslan dan Kiran langsung memeluk lengan sang suami erat.


"Mau sayang." jawabnya sambil tersenyum menggoda.


Aslan terkekeh, lalu mencium sekilas kening sang istri.


"Nanti pulang kerja aku akan mengantarmu kesana." jelas Aslan dan Kiran mengangguk semangat.


Saking bahagianya, ia lalu mencium bibir sang suami dan menyesapnya sedikit.


"Aku baru tahu kalau kamu seagresif ini." goda Aslan setelah ciuman itu terlepas.


Kiran yang kesal langsung saja memukul dada sang suami. Bukannya merasa sakit, Aslan malah kembali terkekeh.


"Sudah pacarannya, ayo sarapan dulu." ajak Yuli mengagetkan.


Buru-buru Kiran melepas dekapannya dan berdiri mengambil jarak.


"Ayo Umi." jawab Kiran gugup, lalu tergesa menghampiri sang mertua.


Aslan yang melihat tingkah sang istri hanya mampu mengulum senyum, lucu.


Kiran benar-benar sudah merubah hidupnya jadi lebih berwarna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selesai sarapan, Aslan mengatakan keinginan sang istri untuk pindah dari rumah ini. Awalnya Yuli dan Iwan tidak setuju, bahkan Yuli sampai bersikeras menolak.


Tapi dengan sabar, Aslan mencoba memberi pengertian. Ia juga mengatakan jika nanti Kiran akan ditemani oleh Asni.


Akhirnya Yuli setuju, dengan syarat Kiran pindah di rumah pemberian sang ayah. Karena rumah itu lebih dekat dengan rumah ini dibandingkan dengan rumah Aslan sendiri.


Kiran menurut, dimanapun ia tinggal itu bukan masalah, pikir Kiran.

__ADS_1


Maya yang ikut mendengar perbincangan itupun berulang kali mengulum senyumnya. Bahagia, karena akhirnya si madu pergi meninggalkan rumah utama ini.


Nanti, lama-lamapun akan ku buat ia meninggalkan rumah mas Aslan itu. Batin Maya yakin.


Setelah perbincangan itu selesai, akhirnya Kiran dan Aslan pergi untuk bekerja. Mereka selalu menggunakan mobil yang terpisah, karena letak kantor mereka pun berlawanan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang hari.


Kiran dan Agung makan siang bersama di cafe yang letaknya tepat dihadapan dealer tempat mereka bekerja.


Kiran dan Agung sudah bersahabat sejak lama, bahkan teman-temannya yang lain menggadang-gadangkan bahwa kelak mereka akan menikah.


Tapi mereka semua tidak tahu, jika Kiran dan Agung sama-sama tak menyukai pribadi masing-masing. Bagi Agung Kiran terlalu galak dan mandiri. Sedangkan tipe wanitanya adalah wanita lemah lembut dan bersahaja, seperti tokoh Jihan di novel Turun Ranjang.


Dan bagi Kiran, Agung terlalu jorok dan pemalas. Hobinya kentut dan kerjanya begitu lelet. Kiran paling membenci kedua hal itu.


Tapi anehnya, sejak dulu hingga kini mereka masih betah bersahabat.


"Ran, enak nggak nikah?" tanya Agung memulai obrolan, pesanan makan siang mereka baru saja tiba.


"Enak kalau pernikahannya normal, kalau kayak aku gini ribet, banyak drama." jawab Kiran santai, ia lebih dulu meminum jus buah sebelum menyantap makan siang.


"Salahmu sendiri menikah dengan pria beristri, mendadak pula, harusnya kalau hanya demi menghindari Alfath kamu lebih baik menikah denganku." jawab Agung sekenanya.


Kiran mencebik, "Ogah." jawabnya ketus.


Agung tak ambil pusing, lalu menyantap makan siang dengan lahap.


"Eh Ran, itu bukannya si Alfath." ucap Agung dengan mulut yang penuh dengan makanan. Ia menunjuk ke arah parkiran di cafe sebelah cafe ini.


Kiran mengikuti arah telunjuk itu dan benar saja, disana ia melihat Alfath. Bukan hanya sendiri, Alfath datang bersama sang istri, Dinda.


"Dinda hamil tuh, perutnya buncit," ucap Agung lagi.


"Nggak cinta nggak cinta tapi tekdung juga." celetuk Agung sambil terkekeh.


Sementara Kiran hanya termenung, sejenak hatinya merasa berdesir. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Alfath sejak kejadian berbulan--bulan lalu. Namun semakin lama ia melihat kedua orang itu desiran aneh itu perlahan menghilang.


"Alhamdulilah kalau Dinda hamil," ucap Kiran lalu ikut makan.


"Cie, beneran udah move on nih ya? hebat juga suamimu itu." ledeknya masih dengan terkekeh.


"Ya hebatlah, istrinya saja sudah 2, sementara kamu belum satupun."


Kesal, Agung lalu melempar sepotong kentang goreng dipiring Kiran.

__ADS_1


"Sial." jawabnya ketus.


Dan akhirnya, Kiran yang tertawa.


__ADS_2