Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 174 - Ajaran Sisil


__ADS_3

Hari berlalu.


Hingga akhirnya tiba, Alana dan Altar kembali bersekolah. Setelah hampir satu bulan mereka liburan, libur kenaikan kelas kemarin.


Saat ini Alana berada di kelas 3A, sementara Altar berada di kelas 3C.


Ada peningkatan nilai yang membuat semua orang bangga. Selama berlibur, Alana dan Altar benar-benar tidak melakukan hubungan itu.


Namun kini keduanya sudah berani mandi bersama. Saling melihat tubuh satu sama lain, meski belum mencicipi.


Alana bahkan melihat secara langsung, saat tubuh inti Altar menegang kala melihat dirinya.


Bukannya senang, Alana malah semakin takut. Ia semakin meminta agar jadwal itu itunya terus diundur hingga entah kapan.


Menggunakan pakaian sekolah rapi, Alana dan Altar keluar dari dalam kamarnya.


"Sudah puas kan ciumnya? jadi nanti disekolah jangan cium-cium lagi," Ancam Alana, seraya menutup pintu kamar mereka.


Mendengar itu, Altar menarik dan menghembuskan napasnya pelan.


"Mana mungkin aku puas, kan sudah ku bilang, aku akan puas setelah membuat tanda merah di dada mu. Tapi kamu malah menolak, takut ada yang lihat. Memangnya kamu ingin menunjukkan dada mu pada siapa?" kesal Altar.


Mendengar suaminya yang menggerutu seperti itu. Alana menggosok salah satu telinganya yang terasa begitu gatal.


Jengah, akhirnya Alana menarik tangan sang suami dan kembali masuk ke dalam kamar. Menguncinya rapat lalu membawa Altar duduk si sofa kamar itu.


"Ya sudah cepat buat tandanya, jangan banyak-banyak tapi. Ibu dan Ayah pasti sudah menunggu kita," titah Alana dengan wajah yang cemberut.


Tapi Altar tak peduli pada wajah cemberut itu, ia tersenyum lebar seraya membuka kancing baju sang istri.


Ia buka semua hingga memperlihatkan kaca mata berwarna putih, membungkus rapi gundukan sintal itu.


"Siap ya?"


"Iya!" jawab Alana, ketus.


Dan tanpa mengulur-ngulur waktu lagi, Altar segera membuat tanda itu. Menyesapnya dalam hingga tercetak warna merah keunguan di dada sang istri.


Alana tak sampai melenguh, ia hanya menganga, merasakan sensasi aneh.


Awalnya Altar memang hanya ingin membuat tanda merah itu. Namun siapa sangka, jika nalurinya menginginkan lebih.


Akhirnya, Altar menurun penutup terakhir itu dan memainkan lidahnya di sana.


Alana menjerit tertahan, hingga berakhir jadi sebuah lenguhan. Pagi ini, mereka bermain lebih berani daripada pagi-pagi sebelumnya.


Dan pagi itu, Altar lebih dulu keluar dari dalam kamar dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


Sementara Alana kembali masuk ke dalam kamar mandi, mengganti pakaian dalamnya yang jadi basah.


Dengan wajah yang ditekuk, Alana masuk ke dalam mobil milik suaminya itu.


Mereka berdua hendak pergi ke sekolah.


"Mas jahat ih! nggak suka," ketus Alana, ketika mengingat kejadian di kamar tadi.


"Nggak suka tapi uh ah ih uh," jawab Altar dengan terkekeh.


Lalu tanpa babibu, Alana langsung memukul lengan suaminya itu dengan pukulan yang keras.


Hingga Altar gaduh kesakitan, merasakan panas dan perih sekaligus.


"Maaf sayang, besok tidak lagi," keluh Altar, sungguh-sungguh.


Dan Alana tetap mencebik, seraya melipat kedua tangannya didepan dada.


Selesai berdebat, barulah mobil itu melaju. Berjalan dengan sedikit cepat menuju sekolah mereka.


Nyaris saja mereka terlambat di hari pertama sekolah kala ini.


Sisil bahkan sampai harus berteriak, memanggil keduanya agar segera berlari menuju kelas.


Napas Alana terengah, untunglah tadi Sisil sudah mencarikan kursi untuknya.


"Udah tahu hari pertama sekolah, bukannya datang pagi malah datang terlambat," marah Sisil pada sahabatnya itu.


"Untung aku tadi berangkat pagi, jadi bisa mencari dua kursi untuk kita dikelas ini," timpal Sisil lagi, masih menatap tajam sahabatnya itu.


Alana tak menjawab apapun, ia hanya mendekat dan memeluk sahabatnya itu erat.


"Iya iya, maafkan aku, terima kasih ya sayang," jawab Alana akhirnya hingga membuat Sisil kembali tersenyum.


"Tapi tidak usah pakai peluk-peluk," balas Sisil seraya melerai pelukan mereka.


Belum sempat kembali bicara, wali kelas mereka mulai masuk.


Dan saat itu juga, kegiatan belajar mengajar di mulai.


Dari jam 8 pagi sampai jam 10, mereka baru beristirahat.


Sisil lalu mengajak Alana ke kantin, namun dengan cepat Alana menolak. Ia menunjukkan dua kotak bekal yang ia bawa.


"Satu untukmu, satu untukku," kata Alana, itulah pesan yang disampaikan ibu Widya tadi.


Altar tidak ingin membawa bekal, karena itulah Widya meminta Alana untuk memberikannya pada Sisil saja.

__ADS_1


"Ye! ibu Wid yang membuatnya?" tanya Sisil, setelah ia kegirangan.


Dan Alana pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Kedua gadis ini kemudian memutuskan untuk pergi ke taman sekolah dan mulai memakan bekal itu.


Sandwich telur kesukaan Alana adalah menunya.


"Pantas saja Altar tidak mau, isinya seperti itu," ucap Sisil kemudian. Sandwich roti berisi sayur segar dan telur goreng yang disiram saos pedas.


Sisil pun menyukai makanan sehat seperti ini. Tapi mereka sama-sama tahu jika Altar tak menyukainya.


Pria itu lebih suka makan makanan yang berminyak dan berlemak.


Menyadari itu, kedua terkekeh, lalu mulai memakan sandwich itu dengan lahap.


"Bagaimana rasanya menikah Al? apa enak?" tanya Sisil, namun buru-buru Alana membekap mulut sahabatnya itu.


Alana bahkan langsung celingak celinguk, mengintai adalah orang lain yang mendengar pertanyaan Sisil.


Dirasa tak ada yang mendengar dan aman, barulah Alana menghembuskan napasnya lega.


"Jangan asal ngomong, kalau sampai ada yang dengar bagaimana?" lirih Alana, ia pun menatap tajam pada sahabatnya itu.


Yang ditatap hanya diam, seraya tersenyum kikuk.


"Maaf," lirih Sisil.


Tapi bukan berarti Sisil menyerah, kini ia memilih untuk berbisik-bisik pada sahabatnya itu.


"Kamu sudah itu ituan belum, bagaimana rasanya?" bisik Sisil hingga membuat Alana begidik.


Tubuhnya tiba-tiba merasa merinding kala mendengar pertanyaan vulgaar itu.


Bahkan tak segan, Alana pun mencubit lengan Sisil yang berada didekatnya.


"Tentu saja belum, mana boleh kami melakukan itu sekarang. Ibu dan ayah tidak ingin aku hamil," jawab Alana, seraya berbisik pula.


Dan mendengar itu Sisil terkekeh.


Baru kali ini ada sepasang pengantin yang dilarang-larang melakukan itu.


"Al, aku akan mengajarimu satu hal. kalian bisa melakukan itu dan tidak akan hamil, juga tidak perlu memakai kb," bisik Sisil.


membuat kedua netra Alana membola, namun iapun penasaran bagaimana caranya.


"Suruh Altar keluar diluar," bisik Sisil, ambigu.

__ADS_1


__ADS_2