
Jam setengah 5 subuh, adzan berkumandang dengan begitu merdu. Aslan bangun lebih dulu, lalu membangunkan sang istri pula.
Jika awal-awal menikah dulu, Kiran akan sedikit sulit untuk dibangunkan di jam subuh seperti ini. Bahkan saat Aslan sudah selesai shalat subuh baru Kiran akan terbangun.
Tapi kini, hanya dengan menyentuh bahunya, Kiran akan langsung terbangun. Ia sudah begitu terbiasa dengan kebiasaan suaminya itu, untuk tidak menunda shalat.
Setelah bangun, mereka langsung mengambil air wudhu, lalu melaksanakan shalat subuh berjamaah, seperti biasa, saat subuh seperti
ini, Aslan akan membacakan surat ad-duha dan al-ihklas, lantunan surat itu terdengar begitu menanangkan hati Kiran.
Dengan khusuk, keduanya melaksanakan shalat subuh.
Kiran bangkit lebih dulu setelah mencium punggung tangan kanan sang suami, ia memeriksa keadaan Aydan yang ternyata masih tertidur pulas. Duduk disisi ranjang dan melipat mukenahnya.
“Mas, kemarin saat di hotel sebenarnya aku bertemu dengan Maya,” ucap Kiran, ia bicara dengan nada biasa saja, namun sedikit melirik sang suami, ingin tahu bagaimana reaksi Aslan ketika membicarakan mantan istrinya itu.
Aslan hanya terdiam, tak memberikan reaksi apapun, bahkan wajahnya terlihat biasa saja, datar.
Melihat itu, Kiran malah mendengus kesal.
“Dia sudah menikah lagi,” ucap Kiran lagi, kini ia
coba untuk menatap lekat mata sang suami, mencari dengan sungguh-sungguh perasaan sang sumi dari dalam kedua matanya.
“Dia tidak tinggal di Jakarta, tapi di Surabaya, ikut suaminya.” Kiran terus berceloteh, meski Aslan tak pernah bertanya.
Hingga lambat laun, Kian jadi kesal sendiri.
“Kasih tanggapan dong Mas,” Keluh kiran dengan
wajahnya yang cemberut, khas orang cemburu.
Aslan terkekeh, lalu ikut bangkit pula, melipat
sajadah dan menghampiri istrinya, ikut duduk disisi ranjang.
“Aku juga lihat sayang, tapi hanya aku yang lihat, Maya tidak melihatku. Saat itu sepertinya dia sedang melakukan pembayaran di meja resepsionist. Aku tidak menemui Maya, aku ingin langsung menuju ballroom, tapi saat mau masuk
lift, ada seorng wanita cantik yang memanggilku dengan berteriak ...”
“Mas Aslan! Gitu,” Aslan meniru gaya Kiran kemarin.
"Lalu wanita itu menghampiri aku dan memberikan ponsel, tapi ternyata dia pamrih, ternyata mengantar ponsel itu tidak gratis, wanta itu meminta ciuman sebagai bayaran.” Timpal Aslan lagi, dengan mengulum senyumnya.
Sementara Kiran, makin mendengus kesal.
Kenapa jadi membahas dirinya dan bukan Maya, pikir Kiran.
__ADS_1
“Kenapa Mas tdak menemui Maya?” tanya Kiran kemudian.
“Jika aku sedang bersamamu, mungkin aku akan mengajakmu untuk menemui Maya. Tapi saat itu aku hanya sendiri, aku tidak berani. Kalau kata
mas Agung, istriku itu galak.”
“Mas!” pekik Kiran dengan suara yang tertahan, antara kesal dan takut mengganggu tidur Aydan.
Aslan terkekeh, lalu merengkuh pinggang sang istri untuk didekapnya erat.
“kenapa marah-marah sih? Kamu ingin tahu bagaimana perasaanku saat kembali
melihat Maya?” tanya Aslan serius dan Kiran langsung menganggukkan kepalanya cepat.
“Awalnya memang terasa aneh, bagaimanapun kami pernah menikah bertahun-tahun, tapi rasa aneh itu tidak sampai memenuhi hatiku. Hanya sesaat langsung menghilang, aku malah teringat wajahmu dan juga Aydan,” jujur Aslan.
Kiran bergeming.
Namun bibirnya membentuk sebuah senyuman.
“Manurut Mas, apa kita dan Maya bisa memiliki hubungan yang baik?” Tanya Kiran lagi yang tidak pernah puas.
“Entahlah, bahkan sampai sekarang Alfaht juga masih menghindari kita bukan?” tanya Balik Aslan.
Keduanya bergeming, hanya saling tatap dengan
Mereka berempat memang memiliki masa lalu yang terlalu rumit, rasanya untuk memiliki hubungan baik akan terasa sulit. Mungkn mereka memang tidak akan bermusuhan lagi, namun lebih sekedar saling tahu saja, tdak sampai memiliki hubungan yang lebih, apalagi menjadi seorang teman.
Pembicaraan mereka terhenti saat terdengar Aydan mulai merengek, terbangun dan ingin segera minum susu.
Aslan dan Kiran langsung melerai dekapan mereka dan mulai mengurus Aydan.
Saat masih merengek itu, Kiran segera menggantikan pampers Aydan yang sudah begitu penuh, lalu membersihkannya menggunakan air
hangat, sementara Aslan membuatkan susu untuk sang anak.
Setiap pagi mereka memang selalu seperti ini, bahkan Kiran masih sempat memandikan Aydan sebelum dirinya sendiri mandi.
Tapi saat sarapan, Aydan sudah mulai bersama Desi ataupun Yuli.
Jam 7 pagi, Aslan dan Kiran mulai berangkat kerja. Mereka berdua berjalan beriringan
menuju garasi.
“Ran,” panggil Aslan saat istrinya itu hendak
membuka pintu mobilnya sendiri.
__ADS_1
Kiran menoleh, urung untuk membuka pintu itu.
“Ada apa Mas?” tanya Kiran, dilihatnya sang suami yang terus mentap lekat dirinya lalu berjalan mendekat, menarik pinggangnya dan
mengikis jarak. Aslan, melabuhkan sebuah ciuman dalam diatas bibir sang istri, melumaatnya dengan begitu mesra.
Sedangkan Kiran, dengan sendirinya menggantungkan kedua tangannya dileher sang suami, ikut memperdalam ciuman itu.
Ada rasa yang mengganjal setelah pembicaraan mereka subuh tadi, tak hanya Aslan yang merasakannya, namun Kiran juga. Namun dengan
ciuman seperti ini, rasa mengganjal itu akan menghilang seketika, menguap entah kemana.
Keduanya terus berpaut bahkan hingga menimbulkan suara decapan. Iwan yang hendak ke garasi juga pun jadi menghentikan langkahnya,
lalu mengendap-ngendap kembali masuk ke dalam.
“Kok balik lagi Abi? Apa ada yang tertinggal?” tanya Yuli peasaran, seingatnya semua sudah dibawa oleh sang suami, kunci mobil dan juga
bekal makan siang. Tapi Iwan malah kembali lagii dengan raut wajah yang entah.
"Tidak ada yang tertinggal Umi, hanya ingin minum saja,” kilah Iwan seraya berjalan menuju dapur, meninggalkan begitu saja Yuli yang sedang menyuapi Aydan di ruang tengah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai ciuman panas mereka di garasi, akhirnya Kiran dan Aslan melanjutka niat mereka untuk berangkat kerja, jika terus dilanjutkan, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin mereka akan kembai masuk ke dalam kamar.
Sampai di showroom, lagi-lagi Kiran mencuri
perhatian semua orang, disudut bibirnya, nampak jelas ada goresan lipstik yang tidak rata. Apalagi saat itu ia masuk ke dalam showroom bersama Agung pula, Agung tidak sempat melihat goresan lipstk itu karena ia sedang sibuk belajar tentang ilmu agama di ponselnya. Dari parkiran sampai masuk kedalam showroom dan duduk di kursi kerjanya, ia terus menunduk menatap layar ponsel.
Sementara Kiran yang bertugas menarik-narik bajunya agar sahabatnya itu tidak salah jalan.
Lagi-lagi, gosip tentang perselingkuhan Kirn dan
Agung mencuat tanpa bisa ditahan. Bahkan ada salah satu karyawan yang melaporkan
perihal itu kepada ibu widya, mereka melaporkan bahwa mereka tidak nyaman melihat perselingkuhan antara Agung dan Kiran, andaikan Kiran belum menikah mungkin mereka akan setuju-setju saja, namun kini ceritanya lain, Kiran sudah bersuami.
“Pak Agung, Mbak Kiran, kalian dipanggil ibu Widya,” ucap salah satu karyawan.
Kiran hanya mengangguk, tak memberikan jawaban apapun.
Lalu dengan mendengus kesal, karyawan wanita itu pergi.
Sedangan Kiran segera merampas ponsel Agung dan digenggaamnya erat.
“Nanti lagi bacanya, kita dipanggil bu Widya,” jelas Kiran dan Agung hanya mengangguk-anggukan kepalaya.
__ADS_1
Lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju ruangan sang manajer.