Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 194 - Kedatangan Aydan


__ADS_3

Hari itu telah tiba. Dimana Anja dan Jani akhirnya dapat di wisuda.


Semua orang datang dengan tersenyum sumringah seraya memberi selamat kepada dua kembar cantik itu.


Tak terkecuali Aydan. Meski ia tertinggal, karena tidak dapat wisuda bersama. Namun, hal itu tidak membuat seorang Aydan iri hati, ia justru bangga, ilmu yang ia pelajari dapat bermanfaat bagi sesama.


"Selamat ya, Nak." Ucap Jihan seraya memeluk kedua putrinya bangga. Air matanya luruh tak tertahankan, tanda ia bahagia.


Jihan sangat bersyukur, karena akhirnya, si kembar pun bisa menyusul sang Kakak Zayn.


Namun, semua ini belum berakhir, wisuda bukan berarti menjadi patokan kita berhenti mencari ilmu.


Karena di dalam hadist Nabi mengatakan, bahwa mencari ilmu itu sejak dalam buaian sampai kita masuk ke liang lahat. Itu artinya, selama kita hidup, kita di wajibkan untuk selalu mencari ilmu.


Dimana pun, tidak mesti di bangku sekolah. Karena banyak masjid-masjid terbuka, membuka ta'lim untuk belajar bersama-sama.


"Iya, Bu. Ini berkat doa ibu, ayah, sama Kak Zayn." Balas Jani seraya menyeka ujung matanya, ia dan Anja sudah sesenggukan dari tadi.


Apalagi saat MC memanggil nama mereka berdua.


Ia benar-benar merasa haru. Tak pernah menyangka akan menyelesaikan pendidikannya dengan nilai yang bagus seperti ini.


Dulu, dalam pikiran mereka. Bisa wisuda saja itu sudah cukup, tidak ada embel-embel apalagi, mengingat bagaimana bebalnya otak mereka.


Zayn dan Arick mengulum senyum, melihat ketiga wanita yang mereka cintai terus-menerus menangis tiada henti.


Hingga akhirnya, kedua lelaki itu ikut bergabung. Merentangkan tangan mereka, memeluk si kembar dan juga Jihan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah Anja dan Jani lulus. Mereka mulai belajar sambil bekerja di perusahaan konstruksi sang Ayah, Arick.


Mengelola manajemen keuangan. Mereka dibimbing oleh seorang senior yang sudah mengabdikan dirinya cukup lama.


Tidak dibeda-bedakan dengan karyawan lain, sebagai seseorang yang mengemban tanggung jawab. Senior akan menegur Anja dan Jani bilamana mereka bersalah.


Karena itu adalah perintah langsung dari Arick. Ia tidak ingin kedua putrinya itu menjadi manja. Arick ingin Anja dan Jani memiliki kepercayaan diri dengan ilmu mereka. Bukan karena mereka anaknya.


Dan waktu terus bergulir, semakin melaju ke depan. Mereka berdua sudah lama tidak bertemu dengan Aydan, jika dihitung-hitung, sudah nyaris 3 bulan.

__ADS_1


Namun, baik Anja maupun Jani. Tidak melupakan janji lelaki itu untuk memberi jawaban atas perasaan mereka.


"Aku yakin Aydan nggak bakal bohong, meskipun kita udah lama nggak ketemu dia, dia pasti bakal tepatin janjinya." Ucap Anja, sambil mengunyah sarapannya.


Ya, pagi ini mereka sarapan di kantor. Sang ibu yang kebetulan sedang tidak enak badan, membuat satu keluarga itu terpaksa sarapan di luar rumah.


Mendengar itu, dalam hati Jani membenarkan. Namun, ada kalanya dia tidak lagi berharap. Dia sudah begitu ikhlas untuk semuanya.


Dalam satu tahun ini, ia selalu mencoba melepas perasaan ini, dia tidak mau terlalu memupuknya, takut-takut rasa kecewa itu semakin dalam, meski mereka berdua sudah berkomitmen untuk berlapang dada dan menerima keputusan Aydan.


"Woy! Kok bengong." Sentak Anja, melihat kembarannya itu menatap kosong ke depan.


Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu.


Anja tidak tahu, karena Jani terlalu sering memendam perasaannya sendiri. Tidak seperti dirinya yang terkenal ceplas-ceplos.


"Lagi makan, jangan banyak ngomong nanti keselek." Balas Jani ketus. Lalu dengan malas mengunyah makanannya.


Namun, hal itu justru membuat Anja terkekeh. Mereka berdua memang selalu seperti itu, tidak menanggapi terlalu serius meskipun rasa kesal sudah di puncak ubun-ubun.


"Jani, Dia sekarang pasti dia sebentar lagi wisuda. Kira-kira muka Aydan kaya apa yah?" Tanya Anja, mencodongkan wajahnya ke arah Jani, matanya berbinar-binar, tidak sabar ingin bertemu lagi dengan lelaki itu.


"Iya maksud aku tambah ganteng nggak gitu, ah pasti tambah plus-plus deh." Girang Anja sambil membayangkan wajah Aydan. Ia bertepuk tangan kecil, melupakan sarapannya yang hampir dingin.


Sedangkan Jani hanya bisa geleng-geleng kepala, tak bisa lagi berkomentar apa-apa kalau Anja sudah bertingkah laku aneh seperti ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore hari, mereka pulang bersama. Sebagai hadiah wisuda kala itu, Jihan dan Arick sepakat memberikan si kembar mobil baru.


Dan mobil inilah yang setia menemani mereka berdua, kemanapun mereka pergi. Termasuk bekerja di perusahaan sang ayah.


Jani terlihat menyetir, sedangkan Anja tidur di sebelah kursinya.


Merasa sepi, akhirnya Jani menyalakan audio musik. Memutar lagu kesukaannya, sambil bersenandung kecil, ia terus meresapi isi lagu tersebut.


Lagu yang ia persembahkan untuk Aydan.


Hingga tak terasa, mobilnya sudah sampai di depan rumah. Namun, ada yang aneh. Ada mobil lain yang begitu ia kenal. Tiba-tiba Jani meremaas buku-buku jarinya.

__ADS_1


Benarkah?


Ludah Jani terasa tercekak di tenggorokan. Tiba-tiba tubuhnya gemetaran tidak karuan. Sampai keringat dingin bermunculan, menghias di dahi sempit itu.


Hingga cukup lama Jani terus berkecamuk dengan pikirannya. Jani memutuskan untuk membangunkan Anja, gadis yang masih setia terlelap di alam bawah sadarnya.


"Anja bangun!" Pekik Jani seraya menggoyang-goyangkan bahu itu.


Anja mengucek matanya, tetapi belum berniat untuk beranjak. Membuat rasa kesal Jani semakin memuncak.


"Anja ada Aydan di rumah kita!!!" Teriak Jani tepat di telinga kembarannya itu.


Dan berhasil, Anja langsung membuka kedua matanya lengkap dengan mulut yang menganga.


Tanpa ba-bi-bu Anja langsung membuka pintu mobil, namun dia tertahan. "Lepasin aku Jani, aku mau ketemu Aydan." Pekiknya.


"Dih apaan sih nggak jelas, sabuk pengaman noh dibuka." Cetus Jani lalu membuka pintu, meninggalkan Anja yang tertawa sendiri karena tingkah konyolnya.


Seperti dugaannya, terlihat di ruang tamu sudah ada beberapa orang. Aydan beserta orang tuanya, ditemani Jihan dan Arick.


Mendengar Anja dan Jani mengucap salam, kompak mereka menjawab dengan senyum sumringah. Dengan sopan, kedua gadis itu menyalimi semua orang.


Setelah itu Jihan langsung menggerakan tangannya, meminta Anja dan Jani mendekat, duduk di sisi kanan dan kirinya.


Dan tepat didepan mereka, Aydan dengan wajah tampannya tertunduk dengan uluman senyum. Senyum yang benar-benar langsung tertular pada si kembar.


"Silahkan Mas Aslan, dilanjutkan bicaranya." Ucap Arick mempersilahkan lelaki bernama Aslan, yang ia tahu ayah dari Aydan.


Sebelum Anja dan Jani datang, mereka memang sedang membuat pembicaraan. Mengenai tujuan Aydan membawa kedua orang tuanya ke rumah Anja dan Jani.


"Baik, Mas Arick. Sebelumnya saya mau berterimakasih, karena sudah diterima dengan baik di rumah ini. Langsung saja, saya kemari karena memiliki sebuah tujuan, dan tujuan ini ada kaitannya dengan masa depan putra sulung saya, Aydan. Saya sebagai orang tua mewakilkan Aydan untuk meminang..."


Seperti detik-detik penantian terakhir, kedua gadis itu semakin cemas mendengar ayah Aydan menggantungkan ucapannya.


"Meminang Jani sebagai menantu kami."


Deg!


Dua jantung berdetak kencang secara bersamaan. Bahkan netra mereka langsung membulat sempurna menatap lantai yang ada di bawah sana.

__ADS_1


Benarkah? Ini tidak salah?


__ADS_2