
“Jangan sentuh aku!” ucap Kiran saat suaminya itu
hendak menyentuh lenganya dan meminta maaf.
Tapi Kiran yang sedang labill malah tak terima dan
terus meneteskan air mata.
“Aku shalat di kamar Aydan saja,” timpal Kiran lagi
lalu segera pergi keluar dari dalam kamar itu, lengkap dengan menggunakan
mukenahnya.
Dan Aslan, hanya mampu mengusap wajahnaya, frustasi.
“Ya Allah, istriku kenapa ya?” gumamnya yang merasa
heran, ia merasa Kiran berubah terlalu banyak. Jika tidak ada penyebabnya,
tidak mungkin Kiran jadi seperti ini.
Pemarah, pecemburu, sensitif, dan gampang sekali menangis.
Dimana Kiran yang selalu bersikap dewasa, selalu bicara jika ada yang salah dan
bersikap tegar.
Kepala Aslan dipenuhi pertanyaan-pertanyaan itu,
namun lama berpikir dan tak menemukan jawaban, akhirnya ia memilih untuk shalat
magrib lebih dulu, shalat sendirian karena istrinya kabur.
Selesai shalat, Aslan langsung mencari sang istri.
Dan benar saja, Kiran berada di kamar Aydan. Kiran bahkan masih menggunakan
mukenah pula.
“Des, tolong tinggalkan kami dulu ya?” pinta Aslan
pada Desi, dan Desi pun patuh, ia menunduk hormat lalu keluar dari dalam kamar
itu.
Meniggalkan majikan mudanya untuk bicara berdua.
Desi pun sedikit heran, saat melihat Kiran yang datang ke kamar Aydan dengan
menangis, lalu memutuskan untuk shalat magrib disana pula.
Desi menebak, jika Aslan dan Kiran sedang terlibat
pertengkaran.
“Sayang,” panggil Aslan seraya duduk disebelah sang
istri, Kiran sedang memangku Aydan yang meminum susu didalam botol, duduk di
sofa kamar itu.
Kiran tak menjawab, malah memalingkan wajah. Entah kenapa,
kini ia tak suka sekali melihat wajah suaminya itu, seolah apapun yang
dilakukan Aslan selalu salah dimatanya. Namun Kiran, ingin Aslan selalu ada
didekatnya, Ah entahlah, bingung.
“Maafkan aku ya?” pinta Aslan sungguh-sungguh,
meminta maaf adalah keputusan yang tepat disaat seperti ini. Jangan banyak
bertanya tentang yang lainnya, pikir Aslan.
“Ran?” panggil Aslan lagi seraya memeluk tubh
istrinya dari arah belakang, lalu mencium pipi Kiran lembut.
Kiran tersenyum, lalu kembali mencebik.
“Iya aku maafkan, tapi malam ini aku mau tidur di
kamar Aydan, mas tidur saja sendiri,” pinta Kiran dan kedua netra Aslan
langsung membola.
Ia menggelang dengan cepat.
“Tidak mau!” tolak Aslan lantang. Jika tidak tidur
__ADS_1
bersama sang istri, Aslan selalu merasa gelisah. Kiran adalah tempat tidurnya
yang paling nyaman.
“Tapi malam ini aku Cuma mau tidur berdua sama Aydan
Mas,” jawab Kiran lirih, ia bahkan menatap Aslan dengan matanya yang kembali berkaca-kaca.
“Iya iya iya, ,sudah jangan menangis lagi, baiklah,
aku akan tidur sendiri,” balas Aslan cepat, ia bahkan langsung menangkup wajah
Kiran dan mencium bibir istrinya sekilas.
“Ciumnya dikit banget, mas udah nggak sayang sama
aku?” tuntut Kiran.
“Ada Aydan sayang,” lirih Aslan.
Lalu keduanya terkekeh.
Malam ini, Aslan benar-benar tidur sendiri dengan
begitu gellisah,. Sementara Kiran, tidur sangat nyenyak bersama sang anak,
Aydan.
***
Dua hari berlalu, dan selama itu pula, Kiran selalu
menolak untuk tidur bersama sang suami. Kiran selalu menghabiskan malam dikamar
Aydan.
Tak hanya itu, Kiran juga begitu enggan mendapatkan
perlakuan hangat oleh sang suami jika bukan ia yang memintanya sendiri. Aslan,
benar-benar erasa terheran-heran atas perubahan istrinya itu.
Namun ia bingung, bagaimana cara mencari jawabanya.
Kiran semakin susah untuk diajaknya bicara, sedikit
saja ia salah, Kiran akan menagis dan marah. Perubahan Kiran itu, tak hanya
malam selalu memperhatian Aslan dan Kiran beradu argumen tiap kali hendak
tidur, lalu kembali berbaikan seolah tidak terjadi apa-apa.
Selepas Aslan dan Kiran pergi bekerja, Desi menemui
sang manjikan, Yuli, untuk membicarakan hasil penyelidikannya sendiri, atas apa
yang terjadi pada Kiran.
“Bu, sepertinya Mbak Kiran hamil,” ucap Desi
langsung, sesaat setelah ia berdiri disebelah Yuli yang sedang membantu Idah
mencuci piring kotor sarapan tadi.
Tak hanya mata Yuli yang membola, Idah yang ikut
mendengar pun melakukan hal yang sama.
“Bude juga mikirnya gitu Des,” timpal Idah tak mau
kalah, lalu Idah mengatakan jika sudah beberapa hari ini, Kiran sesalu minta
dibuatkan jus mangga, hanya jus mangga saja dan tidak mau jus jus yang lainnya,
bahkan pernah sekali, saat ada jus sirsak yang tersedia dimeja, Kiran malah
mual.
Yuli makin membelalakkan matanya, kala mendenger
cerita Idah itu.
“Masa sih?” tanya Yuli tidak percaya, Idan dan Desi
lalu kompak mengangguk.
“Tapi Kiran dan Aslan tidak mengatakan apapun
tentang kehamilan,” balas Yuli apa adanya.
“Sepertinya mbak Kiran dan Pak Aslan juga belum
__ADS_1
mengetahuinya Bu, makanya itu akhir-akhir ini mereka sering ribut, itu pasti
bawaan bayi,” Desi menjawab dengan menggebu, karena selama ini, memang itulah
yang selalu ia lihat.
Yuli, tak menjawab apa-apa lagi, masih berpikir.
Lalu lambat laun ia mengukir senyumnya, kala membayangkan Kiran benar-benar
hamil kembali.
“Semoga saja dugaan kalian benar ya? Coba aku
hubungi Kiran dulu.” Ucap Yuli lalu membasuh kedua tangannya yang penuh dengan busa,
hendak menelpon sang menantu agar memastikan semaunya.
“Lebih baik, tanya pak Aslan saja dulu Bu, mbak
Kiran kan sekarang lagi labil, takutnya nanti malah dia mikirnya aneh-aneh
kalau ibu yang tanya tentang kehamilan,” Desi memberi saran. Aslan saja selalu
salah dimata Kiran, apalagi orang lain, itulah yang dikhawatirkan oleh Desi.
Dan Yuli pun mengangguk setuju.
Selesai membersihkan tangannya, Yuli bergegas masuk
ke dalam kamarnya sedriri, mengambil ponsel yang tergeletak diatas nakas. Saat
ini, Iwan sedang memberi makan burung
peliharaannya di taman belakang.
Tanpa mengulur waktu, Yuli langsung menghubungi sang
anak. Untunglah dipanggilan pertamanya, Aslan langsung menjawab.
“Assalamualaikum Umi, ada apa? “ tanya Aslan
langsung.
“Walaikumsalam, kamu sudah sampai di kantor?”
“Sudah Umi, apa apa?” tanya Aslan lagi.
“Lan, apa Kiran sudah memeriksakan diri ke dokter
kandungan, bagiamana progam kalian kemarin? sudah ada hasilnya atau belum?”
tanya Yuli bertubi, hingga membuat Aslan bingung, harus menjawab pertanyaan yang
mana lebih dulu.
Namun sejurus kemudian, Aslan pun berpikiran yang
sama dengan sang ibu.
“Belum Umi, kami belum periksa lagi, memangnya
kenapa Umi?”
“Sepertinya Kiran hamil Lan,” balas Yuli langsung
dan membuat Aslan membola.
“Hamil?” gumam Aslan pelan namun Yuli pun masih
mampu mendengarnya.
“Iya, Hamil,” timpal Yuli lagi, dengan antusias.
Sementara Aslan mendadak tercenung, antara bahagia
dan terkejut. Lalu mengghubungkan kejadian satu dan kejadian yang lainnya
selama beberapa hari ini. Memutar ingatannya sendiri tentang perubahan yang
terjadi pada sang istri, tentang Kiran yang berulang kali mengatainya Bau, lalu
tentang Kiran yang tak ingin berdekatannya dengannya dan hanya ingin bersama
Aydan.
Dan tentang Kiran yang sedikit-sedikit menangis, lalu
kembali ceria lagi seolah tidak terjadi apa-apa.
Aslan tersenyum, merasa sudah menemukan titik terang
__ADS_1
atas perubahan sang istri.