Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 104


__ADS_3

“Jangan sentuh aku!” ucap Kiran saat suaminya itu


hendak menyentuh lenganya dan meminta maaf.


Tapi Kiran yang sedang labill malah tak terima dan


terus meneteskan air mata.


“Aku shalat di kamar Aydan saja,” timpal Kiran lagi


lalu segera pergi keluar dari dalam kamar itu, lengkap dengan menggunakan


mukenahnya.


Dan Aslan, hanya mampu mengusap wajahnaya, frustasi.


“Ya Allah, istriku kenapa ya?” gumamnya yang merasa


heran, ia merasa Kiran berubah terlalu banyak. Jika tidak ada penyebabnya,


tidak mungkin Kiran jadi seperti ini.


Pemarah, pecemburu, sensitif, dan gampang sekali menangis.


Dimana Kiran yang selalu bersikap dewasa, selalu bicara jika ada yang salah dan


bersikap tegar.


Kepala Aslan dipenuhi pertanyaan-pertanyaan itu,


namun lama berpikir dan tak menemukan jawaban, akhirnya ia memilih untuk shalat


magrib lebih dulu, shalat sendirian karena istrinya kabur.


Selesai shalat, Aslan langsung mencari sang istri.


Dan benar saja, Kiran berada di kamar Aydan. Kiran bahkan masih menggunakan


mukenah pula.


“Des, tolong tinggalkan kami dulu ya?” pinta Aslan


pada Desi, dan Desi pun patuh, ia menunduk hormat lalu keluar dari dalam kamar


itu.


Meniggalkan majikan mudanya untuk bicara berdua.


Desi pun sedikit heran, saat melihat Kiran yang datang ke kamar Aydan dengan


menangis, lalu memutuskan untuk shalat magrib disana pula.


Desi menebak, jika Aslan dan Kiran sedang terlibat


pertengkaran.


“Sayang,” panggil Aslan seraya duduk disebelah sang


istri, Kiran sedang memangku Aydan yang meminum susu didalam botol, duduk di


sofa kamar itu.


Kiran tak menjawab, malah memalingkan wajah. Entah kenapa,


kini ia tak suka sekali melihat wajah suaminya itu, seolah apapun yang


dilakukan Aslan selalu salah dimatanya. Namun Kiran, ingin Aslan selalu ada


didekatnya, Ah entahlah, bingung.


“Maafkan aku ya?” pinta Aslan sungguh-sungguh,


meminta maaf adalah keputusan yang tepat disaat seperti ini. Jangan banyak


bertanya tentang yang lainnya, pikir Aslan.


“Ran?” panggil Aslan lagi seraya memeluk tubh


istrinya dari arah belakang, lalu mencium pipi Kiran lembut.


Kiran tersenyum, lalu kembali mencebik.


“Iya aku maafkan, tapi malam ini aku mau tidur di


kamar Aydan, mas tidur saja sendiri,” pinta Kiran dan kedua netra Aslan


langsung membola.


Ia menggelang dengan cepat.


“Tidak mau!” tolak Aslan lantang. Jika tidak tidur

__ADS_1


bersama sang istri, Aslan selalu merasa gelisah. Kiran adalah tempat tidurnya


yang paling nyaman.


“Tapi malam ini aku Cuma mau tidur berdua sama Aydan


Mas,” jawab Kiran lirih, ia bahkan menatap Aslan dengan matanya yang kembali berkaca-kaca.


“Iya iya iya, ,sudah jangan menangis lagi, baiklah,


aku akan tidur sendiri,” balas Aslan cepat, ia bahkan langsung menangkup wajah


Kiran dan mencium bibir istrinya sekilas.


“Ciumnya dikit banget, mas udah nggak sayang sama


aku?” tuntut Kiran.


“Ada Aydan sayang,” lirih Aslan.


Lalu keduanya terkekeh.


Malam ini, Aslan benar-benar tidur sendiri dengan


begitu gellisah,. Sementara Kiran, tidur sangat nyenyak bersama sang anak,


Aydan.


***


Dua hari berlalu, dan selama itu pula, Kiran selalu


menolak untuk tidur bersama sang suami. Kiran selalu menghabiskan malam dikamar


Aydan.


Tak hanya itu, Kiran juga begitu enggan mendapatkan


perlakuan hangat oleh sang suami jika bukan ia yang memintanya sendiri. Aslan,


benar-benar erasa terheran-heran atas perubahan istrinya itu.


Namun ia bingung, bagaimana cara mencari jawabanya.


Kiran semakin susah untuk diajaknya bicara, sedikit


saja ia salah, Kiran akan menagis dan marah. Perubahan Kiran itu, tak hanya


malam selalu memperhatian Aslan dan Kiran beradu argumen tiap kali hendak


tidur, lalu kembali berbaikan seolah tidak terjadi apa-apa.


Selepas Aslan dan Kiran pergi bekerja, Desi menemui


sang manjikan, Yuli, untuk membicarakan hasil penyelidikannya sendiri, atas apa


yang terjadi pada Kiran.


“Bu, sepertinya Mbak Kiran hamil,” ucap Desi


langsung, sesaat setelah ia berdiri disebelah Yuli yang sedang membantu Idah


mencuci piring kotor sarapan tadi.


Tak hanya mata Yuli yang membola, Idah yang ikut


mendengar pun melakukan hal yang sama.


“Bude juga mikirnya gitu Des,” timpal Idah tak mau


kalah, lalu Idah mengatakan jika sudah beberapa hari ini, Kiran sesalu minta


dibuatkan jus mangga, hanya jus mangga saja dan tidak mau jus jus yang lainnya,


bahkan pernah sekali, saat ada jus sirsak yang tersedia dimeja, Kiran malah


mual.


Yuli makin membelalakkan matanya, kala mendenger


cerita Idah itu.


“Masa sih?” tanya Yuli tidak percaya, Idan dan Desi


lalu kompak mengangguk.


“Tapi Kiran dan Aslan tidak mengatakan apapun


tentang kehamilan,” balas Yuli apa adanya.


“Sepertinya mbak Kiran dan Pak Aslan juga belum

__ADS_1


mengetahuinya Bu, makanya itu akhir-akhir ini mereka sering ribut, itu pasti


bawaan bayi,” Desi menjawab dengan menggebu, karena selama ini, memang itulah


yang selalu ia lihat.


Yuli, tak menjawab apa-apa lagi, masih berpikir.


Lalu lambat laun ia mengukir senyumnya, kala membayangkan Kiran benar-benar


hamil kembali.


“Semoga saja dugaan kalian benar ya? Coba aku


hubungi Kiran dulu.” Ucap Yuli lalu membasuh kedua tangannya yang penuh dengan busa,


hendak menelpon sang menantu agar memastikan semaunya.


“Lebih baik, tanya pak Aslan saja dulu Bu, mbak


Kiran kan sekarang lagi labil, takutnya nanti malah dia mikirnya aneh-aneh


kalau ibu yang tanya tentang kehamilan,” Desi memberi saran. Aslan saja selalu


salah dimata Kiran, apalagi orang lain, itulah yang dikhawatirkan oleh Desi.


Dan Yuli pun mengangguk setuju.


Selesai membersihkan tangannya, Yuli bergegas masuk


ke dalam kamarnya sedriri, mengambil ponsel yang tergeletak diatas nakas. Saat


ini, Iwan sedang memberi makan  burung


peliharaannya di taman belakang.


Tanpa mengulur waktu, Yuli langsung menghubungi sang


anak. Untunglah dipanggilan pertamanya, Aslan langsung menjawab.


“Assalamualaikum Umi, ada apa? “ tanya Aslan


langsung.


“Walaikumsalam, kamu sudah sampai di kantor?”


“Sudah Umi, apa apa?” tanya Aslan lagi.


“Lan, apa Kiran sudah memeriksakan diri ke dokter


kandungan, bagiamana progam kalian kemarin? sudah ada hasilnya atau belum?”


tanya Yuli bertubi, hingga membuat Aslan bingung, harus menjawab pertanyaan yang


mana lebih dulu.


Namun sejurus kemudian, Aslan pun berpikiran yang


sama dengan sang ibu.


“Belum Umi, kami belum periksa lagi, memangnya


kenapa Umi?”


“Sepertinya Kiran hamil Lan,” balas Yuli langsung


dan membuat Aslan membola.


“Hamil?” gumam Aslan pelan namun Yuli pun masih


mampu mendengarnya.


“Iya, Hamil,” timpal Yuli lagi, dengan antusias.


Sementara Aslan mendadak tercenung, antara bahagia


dan terkejut. Lalu mengghubungkan kejadian satu dan kejadian yang lainnya


selama beberapa hari ini. Memutar ingatannya sendiri tentang perubahan yang


terjadi pada sang istri, tentang Kiran yang berulang kali mengatainya Bau, lalu


tentang Kiran yang tak ingin berdekatannya dengannya dan hanya ingin bersama


Aydan.


Dan tentang Kiran yang sedikit-sedikit menangis, lalu


kembali ceria lagi seolah tidak terjadi apa-apa.


Aslan tersenyum, merasa sudah menemukan titik terang

__ADS_1


atas perubahan sang istri.


__ADS_2