
Di suatu malam kita pernah sama-sama berkata "aku tidak bisa hidup tanpamu", namun di pagi berikutnya setelah berpisah, kita tetap hidup dan baik-baik saja.
-Kiran-
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ran, bismilah," ucap Tika setelah terdengar suara pemberitahuan keberangkatan mereka menggema di ruang tunggu itu.
Menurut, Kiran pun mengucapkan Bismilah, lalu Fahmi mendorong kursi rodanya dengan perlahan. Mulai memasuki pesawat yang akan membawanya terbang ke Malaysia.
Beberapa minggu lalu, Fahmi mendapatkan tawaran untuk pindah berkarier disana, kala itu Fahmi masih meminta waktu untuk berpikir.
Namun pagi tadi, ia langsung mendapatkan jawaban.
Setelah mengurus gugatan cerai Kiran pada Aslan. Fahmi langsung membawa semua keluarganya untuk meninggalkan Jakarta.
Kota yang baginya penuh luka untuk sang adik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam ini entah kenapa, angin berhembus lebih dingin bagi Aslan. Seolah mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang hilang dihatinya. Ruang kosong itu diisi oleh hawa dingin yang menusuk.
Merasa gelisah, Aslan lalu mencari keberadaan ponselnya yang seharian ini terabaikan. Ia ingin menghubungi Fahmi dan menanyakan tentang keadaan sang istri.
Tak butuh waktu lama, Aslan menemukan ponsel itu, Masih rapi berada di dalam tas.
Dilihatnya ponsel itu, banyak panggilan tidak terjawab dan juga pesan masuk dari Maya.
Namun ada satu nomor yang mencuri perhatiannya. Satu nomor tanpa nama yang menelponnya diantara nama Maya Maya.
Padahal ini adalah nomor pribadinya, hanya orang terdekatnyalah yang tahu, lalu ini nomor siapa? pikirnya.
Namun tak ingin kehilangan banyak waktu, Aslan memilih mengabaikan nomor itu dan langsung menghubungi fahmi.
Tapi sayang, panggilannya tidak terhubung.
Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan. Silahkan coba beberapa saat lagi.
3 kali Aslan mengulang dan hasilnya tetap sama saja.
"Ya Allah," gumam Aslan pelan, ia mengusap wajahnya kasar, hatinya makin terasa tidak tenang.
"Ran, bagaimana keadaan mu sayang?" lirihnya sambil memandangi ponselnya sendiri yang masih menyala.
Namun seketika ia terkisap, saat tiba-tiba ada panggilan masuk dari Maya.
__ADS_1
Tak menunggu lama, Aslan langsung menjawab telepon itu.
"Assalamualaikum May."
"Walaikumsalam, ya Allah Mas, kamu seharian ini kemana saja? kenapa panggilanku tidak ada yang diangkat, pesanku juga tidak ada satupun yang Mas balas. Jangankan dibalas, Mas baca pun tidak," ucap Maya, awalnya ia berucap dengan menggebu, namun makin lama jadi begitu sendu.
"Maaf May," jawab Aslan singkat, hanya itulah yang bisa ia ucapkan. Karena jujur, kini pikirannya hanya tertuju pada Kiran. Istrinya yang lain, yang kini sedang berjuang di rumah sakit. Belum lagi jika mengingat anaknya yang telah tiada. Aslan benar-benar terpuruk.
Sementara diujung sana, Maya tercenung. Mendapat kata maaf itu malah makin membuatnya merana. Dulu, suaminya ini pasti akan membujuk dan merayu, namun kini hanya kata Maaf saja yang ia dapatkan.
Kenapa? karena Kiran. Itulah yang diyakini Maya.
"May?" panggil Aslan karena Maya hanya terdiam.
"Iya Mas," jawab Maya dengan suara yang lesu.
"Bagaimana keadaan Kiran, apa dia sudah sadar?" tanya Aslan langsung, karena memang inilah yang ia ingin tahu sedari tadi.
Deg! seperti teremat, hati Maya benar-benar terasa sakit dan sesak.
Kenapa? kenapa malah mbak Kiran yang ditanya? bagimana denganku? bagaimana kabarku? bagaimana keadaanku? lirihnya di dalam hati.
"Aku tidak tahu Mas, hari ini aku ditemani Umi pergi untuk memeriksakan kandungan," jawab Maya bohong.
Hening, seolah keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sedangkan Maya tersenyum, memang inilah tujuannya membawa-bawa sang anak yang masih berada di dalam kandungan.
Untuk mengalihkan perhatian sang suami dari madunya itu.
Dengan semangat, Maya bercerita, cerita yang ia karang sendiri, karena hari ini ia sama sekali tidak memeriksakan kandungannya.
Cukup lama, sampai akhirnya telepon itu terputus.
Meninggalkan Maya yang tersenyum lebar, sementara Aslan makin diselimuti kegelisahan.
"Ya Allah, lindungilah Kiran, segera pulihkan ia ya Allah, hamba mohon," lirihnya seraya melirik jam di dinding.
Jam 10 malam, kenapa malam ini terasa begitu lama?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi-pagi sekali, Aslan langsung meminta izin pada semua rekan kerjanya untuk pulang lebih awal. Pekerjaannya memang belum selesai, tapi rasanya ia tak sanggup lagi jika harus berlama-lama di Surabaya tanpa ada kabar yang pasti tentang Kiran.
Subuh tadi, ia kembali menghubungi Fahmi. Namun sayang, ternyata nomor itu masih tetap tak kunjung aktif.
__ADS_1
Otaknya tidak bisa lagi berpikir positif, tidak bisa lagi menduga-duga yang baik-baik.
Meski terkesan tidak bertanggung jawab pada pekerjaannya, namun Aslan tetap kukuh untuk pulang.
Ia tidak mau, saat sang istri sadar, ia tak berada di samping Kiran.
Buru-buru, Aslan mengambil pernerbangan terpagi, jam 7.30. Dengan lama pernerbangan selama 1 jam.
Tepat jam 8.30, ia sudah sampai di jakarta.
Tujuan utamanya adalah rumah sakit dimana saat ini sang istri di rawat. Saking gelisahnya, Aslan sampai meminta pada supir taksi untuk melaju lebih cepat.
Jam 9 pagi tepat, taksi itu sudah sampai di depan lobby rumah sakit. Setelah membayar, Aslan tergesa turun dan membawa tas ranselnya di tangan kanan.
Ia sedikit berlari, menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan langkah lebar. Tak jarang, ia bahkan sering bertabrakan bahu dengan para pengunjung lainnya.
Brak!
Dengan kasar, Aslan membuka pintu ruang rawat sang istri.
Kosong.
Tidak ada siapapun, bahkan lampu kamar itu mati. Mengisyaratkan bahwa sudah tidak ada lagi penghuni.
"Dimana Kiran? apa dia sudah sadar dan dipindahkan di ruangan yang lain? ya Allah, Alhamdulilah," ucap Aslan bersyukur. Dengan bibir penuh senyuman, ia lalu kembali berlari menuju meja informasi.
Ingin menanyakan, di ruang rawat mana istrinya dipindahkan.
"Atas nama siapa Pak?" tanya ulang karyawan dibagian informasi rumah sakit itu.
"Kirana Putri," jawab Aslan mantap.
"Ibu Kirana sudah keluar kemarin pagi pak, beliau dipindahkan ke rumah sakit lain oleh pihak keluarga. Tapi kami tidak tahu, rumah sakit mana yang mereka tuju," jelas karyawan itu setelah membaca rekam jejak Kiran di rumah sakit ini.
Aslan terdiam, gamang.
Pikirannya mendadak kosong, hatinya pun ikut menjadi kosong pula.
"Bagaimana bisa? Istri saya masih membutuhkan perawatan intensif, bagaimana bisa dipindahkan begitu saja?" tanya Aslan menggebu, sedikit bercampur ketidakterimaan atas apa yang terjadi.
Kenapa? kenapa Kiran dipindahkan tanpa konfirmasinya terlebih dahulu, tanpa izinnya sebagai suami.
"Maaf Pak, tapi dipindahkannya ibu Kirana sudah sesuai dengan prosedur rumah sakit. Lebih baik Bapak tanyakan langsung pada saudara Fahmi. Saudara Fahmi adalah nama tercatat sebagai penanggung jawab ibu Kirana."
Ya Allah. Batin Aslan, kembali ia mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
Apa yang terjadi? Batinnya penuh tanya, Apalagi saat mengingat, nomor Fahmi tidak pernah bisa dihubungi.