
"Beri aku waktu, aku akan menemui Aslan dulu sebelum mengatakan semuanya pada Kiran," jelas Fahmi dan Tika hanya terdiam.
Hatinya begitu lega, mengetahui sang suami yang mulai meluluhkan egonya sendiri.
Pelan, Tika mengangguk setuju.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ternyata bukan Kiran," lirih Aslan setelah panggilannya terputus.
Ternyata itu hanya nomor salah sambung, pikirnya lagi didalam hati.
Tersenyum getir, ia lalu menyandarkan tubuh lelahnya di sandaran kursi itu. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Tubuhnya begitu lelah, namun matanya tak bisa terpejam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malaysia.
Keesokan harinya.
Hari ini, Kiran akan menjalani pemeriksaan rutin di rumah sakit. Agung datang kesini memang sengaja untuk menemani Kiran.
Jika dilihat sekelabat mata, Agung dan Kiran nampak seperti pasangan yang sangat bahagia dan romantis.
Menyusuri rumah sakit, Agung mendorong kursi roda Kiran. Sesekali keduanya tertawa, membicarakan hal yang tidak penting.
Sampai di ruangan dokter Johan, tawa mereka langsung mereda. Mereka disambut dengan senyum yang begitu lebar oleh Johan.
Melihat itu, Agung mengeryit bingung bercampur heran dan curiga.
Ada udang di balik bakwan. Pikirnya yakin.
"Kita langsung ke ruang CT scan ya?" tanya Johan seraya menghampiri Kiran.
"Tuan Agung, tunggu disini saja, biar saya yang bawa Kiran kesana," izin Johan pada Agung, pria yang diyakininya hanyalah teman Kiran.
Mendengar itu, entah kenapa Agung merasa tak suka. Rasanya tidak wajar, seorang dokter memperlakukan pasiennya seistimewa ini, sampai-sampai rela mendorong kursi rodanya.
Merasa Johan memiliki ketertarikan pada Kiran, Agung langsung mengambil tindakan.
"Sayang, kamu mau aku antar atau dengan dokter Johan saja?" tanya Agung pada Kiran, bahkan tangannya mengelus pucuk kepala Kiran dengan sayang.
Mendapati perlakuan seperti itu, Kiran bergidik ngeri. Namun jadi takut saat melihat Agung yang menatapnya dengan tatapan yang tajam.
"Ka-kamu ikut saja kesana," jawab Kiran yang langsung berubah kikuk.
Mendapati jawaban seperti itu, Agung langsung tersenyum lebar.
"Mari Dok, kita pergi bersama," ajaknya saraya menarik kursi Kiran kembali, menjauh dari Johan dan mendorongnya keluar.
Melihat itu, Johan terpana, jujur saja ia merasa cemburu. Karena tak bisa dipungkiri, ia sudah menyukai Kiran sejak awal wanita Indonesia ini menjadi pasiennya.
__ADS_1
Awalnya Johan hanya iba, namun lambat laun perasaan iba itu berkembang menjadi cinta.
Tapi seperti langkahnya terlalu lambat, ternyata kini Kiran sudah bersama Agung.
Setelah menghela napas berat, Johan menyusul langkah Agung. Ia harus bersikap profesional, antara profesi dan perasaannya sendiri.
Setelah ini, ia akan pelan-pelan mundur, melupakan perasaannya pada Kiran, pasien yang dengan wajah pucatnya pun masih terlihat sangat cantik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang harinya setelah menemani Kiran memeriksakan diri, Agung memutuskan untuk pulang ke Indonesia.
Kini, ia sedang berkemas, beberapa baju yang ia bawa.
"Minggu depan kamu kesini lagi sayang?" tanya Kiran menggoda dan Agung langsung menyentil dahi sang sahabat dengan gemas.
"Jangan panggil aku sayang, ngeri," jawab Agung dan Kiran hanya terkekeh sambil memegangi dahinya yang terasa sedikit nyeri.
"Tadi di rumah sakit kamu sayang-sayang," ledek Kiran lagi dan Agung malah mencebik.
"Kalau ada orang yang bertanya tentang anakmu, bilang itu anakku. Bilang juga aku ini kekasihmu, setelah kamu melahirkan, kamu akan menikah denganku," jelas Agung dengan raut wajah yang serius.
"Serius?" tanya Kiran pura-pura terkejut.
"Ya nggak lah, cuma untuk melindungi statusmu agar tetap janda." jawab Agung lalu menjulurkan lidahnya meledek.
Melihat itu, Kiran langsung menjambak rambut Agung dengan keras. Ditariknya tanpa ampun!
"Aduh, perih Ran," rengek Agung dan Kiran tidak peduli.
"Sudah ya, aku pulang. Tadi aku sudah pamit pada mas Fahmi, sekarang temani aku pamit dengan mbak Tika," ajak Agung dan Kiran mengangguk.
"Minggu depan tidak usah kesini, lama-lama uang tabunganmu habis hanya untuk kulu kilir Jakarta-Malaysia," jelas Kiran saat Agung sudah mendorong kursi rodanya keluar dari dalam kamar tamu.
Kiran sadar, ia sudah sangat banyak merepotlan Agung. Dan ia tak mau itu berjalan lebih lama lagi.
Baiklah, minggu depan akan ku buat Aslan yang datang kesini, jawab Agung di dalam hati.
"Uang tabunganku masih banyak, bulan lalu aku dapat bonus 60 juta, " sombong Agung, karena ia berhasil mencapai target penjualan.
Mendengar itu, Kiran mencebik.
"Sombong," jawabnya kemudian dan Agung terkekeh.
"Pokoknya selama aku pergi, jaga anakku baik-baik, tidak usah bertemu dengan dokter Johan kalau bukan demi pemeriksaan kakimu,"
"Kenapa? kamu cemburu?"
"Iya,"
"Baiklah," jawab Kiran patuh, ia tahu, Agung bukannya cemburu, hanya merasa tak nyaman ia memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Johan. Untuk itu, Kiran akan menuruti Agung, sang sahabat.
Selepas kepergian Agung, Kiran kembali masuk ke dalam kamarnya sendiri. Mendadak sepi menjalari seluruh hatinya.
__ADS_1
Dengan susah payah, ia mencoba pindah posisi, dari kursi roda ke ranjang. Kaki kanannya masihlah berfungsi dengan baik.
Terengah, tapi ia berhasil pindah.
"Alhamdulilah," gumamnya dengan napas yang seolah habis berlari.
"Sayang, kita istirahat dulu ya, ibu lelah sekali," ucap Kiran pada sang anak.
Kini keluh kesahnya hanya ia sampaikan pada sang anak, pusat hidupnya yang baru. Tempatnya bercerita dan mengadu.
Bersyukur, Allah tidak membuatnya benar-benar hidup seorang diri.
Pelan, Kiran menutup matanya, namun langsung terbuka dengan cepat saat bayangan Aslan muncul dengan jelas.
Mas Aslan, lirihnya di dalam hati.
Meski berat, ia mencoba berdamai dengan hatinya sendiri. Menerima semua yang sudah terjadi tanpa ada kata membenci.
"Maaf ya Nak, ibu belum memiliki keberaniam untuk kembali menghubungi ayahmu. Ibu belum berani untuk mengatakan tentang adanya kamu," lirih Kiran sambil mengelus perutnya dengan sayang.
"Tapi ibu janji, suatu saat nanti ibu akan mempertemukan kamu dengan Ayah Aslan," lirihnya lagi.
Kembali ia mencoba terpejam, meski ada bayangan Aslan ia mencoba untuk menerima itu.
Tidur, berselimutkan angan-angan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jakarta.
Siang ini, Aslan kembali mengintai Agung. Anehnya, Agung malah memgemudikam mobilnya berjalan menuju rumah kedua orang tuanya sendiri.
Bahkan Aslan melihat, saat Agung bertanya entah apa pada salah satu tetangganya.
Disana, ternyata Agung pun sedang menyelidiki.
"Iya Mas, semenjak mbak Kiran dan mas Fahmi pergi, rumah tangga mas Aslan dan mbak Maya retak," jelas ibu-ibu yang ditanya oleh Agung.
"Retak bagaimana Bude?" tanya Agung penasaran.
"Ya mereka ribut terus, akhirnya berpisah. Sudah lama kok cerainya, sekarang mbak Maya juga tidak tinggal disini. Mas Aslan juga sekarang tinggal di rumah yang dulu sempat jadi tempat tinggalnya mbak Kiran," jelas Ibu itu lagi dengan lebih terperinci.
Mendengar itu, Agung tersenyum. Entah kenapa, ia malah senang diatas masalah orang lain.
"Terima kasih ya Bude, ini sebagai ucapan terima kasih saya," ucap Agung seraya memberikan selembar amplop putih pada sang ibu.
Dengan riang, ibu-ibu itu menerimanya.
Selepas ibu itu pergi, Aslan langsung turun dan menghampiri Agung yang masih berdiri dihadapan rumah orang tuanya.
Memperhatikan rumah itu.
"Mas Agung," sapa Aslan dan langsung membuat Agung terkejut.
__ADS_1
Seperti maling yang tertangkap basah.