Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 102


__ADS_3

Hana tersentak.


Jujur saja, ia sangat terkejut.


Ia tahu bahwa bosnya itu sudah menikah, dulu bahkan Aslan pernah membawa istrinya untuk datang ke toko ini.


Tapi setahu Hana, Aslan dan istrinya itu sudah bercerai sejak lama, dan namanya pun Maya bukan Kiran.


Kedua netra Hana membola, sedikit tidak percaya. Namun ia tetap menundukkan kepalanya, memohon maaf atas ketidaktahuannya sekaligus bentuk rasa hormatnya.


Tanpa banyak pertanyaan lagi, Hana lalu mempersilahlan Kiran untuk masuk ke ruang Aslan. Bahkan Hana pun membukakan pintunya.


Ingin memastikan secara langsung, benarkan wanita cantik ini adalah istri baru atasannya itu.


"Sayang," sambut Aslan saat melihat Kiran masuk, dengan wajahnya yang sedikit ditekuk.


"Hem," jawab Kiran pendek, lalu masuk ke ruangan itu dan Hana segera kembali menutup pintunya.


Entah kenapa, ada geleyar aneh yang menggelitik dihati Hana. Seolah ia kecewa, mengetahu Aslan kini sudah beristri kembali.


Dengan hatinya yang mengganjal itu, Hana segera kembali ke ruang kerjanya.


"Kenapa tidak bilang kalau mau kesini? aku kan bisa menjemputmu," ucap Aslan, ia meminta Kiran untuk mendekat kepadanya.


Kiran menurut, ia bersandar di pinggr meja kerja Aslan, saat sudah berada tepat dihadapan suaminya itu.


"Duduk disini," titah Aslan, lalu menarik istrinya untuk duduk dipangkuan.


"Kenapa wajahmu ditekuk?" tanya Aslan lagi, saat melihat Kiran yang cemberut, tak seperti biasanya.


Kiran juga tidak tahu, kenapa akhir-akhir ini ia merasa sensitif sekali. Merasa cemburu dan ah entahlah..


"Itu tadi Hana?" tanya Kiran kemudian, saat pertama kali membuka mulut, malah Hana yang ia tanyakan.


Aslan mengangguk, membenarkan tebakan sang istri.


"Pantesan betah sampe malem di toko, kepala tokonya saja secantik itu," timpal Kiran dengan nada ketus, bahkan ia melipat kedua tangannya didepan dada.


Aslan hanya mampu menghembuskan napas, ia bekerja sungguh-sungguh, namun malah dicurigai.


"Kamu tidak percaya padaku?" tanya Aslan kemudian, ia semakin mendekap pinggang erat, berharap kecemburuan sang istri akan mereda.


Tapi bukannya menjawab, Kiran malah memalingkan wajah.


Aslan yang sudah lelahpun memilih untuk tak menanggapi, saat pelukannya merenggang, Kiran segara bangkit dari pangkuan sang suami.


Lalu memilih untuk segera keluar dari ruangan suaminya itu.


Menahan air matanya sendiri agar tidak pecah.


Aslan menyusul, meski kalah langkah karena Kiran sedikit berlari.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Kiran sampai di mobilnya sendiri dan segera memelajukan mobilnya. Dan Aslan pun mengikuti dari belakang.


Di dalam mobil yang melaju itu, Kiran menangis.


Entah kenapa, kini ia merasa begitu sedih, merasa Aslan sudah tertarik pada wanita lain dan menduakan cintanya.


Pikirannya terlalu jauh melayang, Kiran menyadari itu, namun hatinya tetap memilih untuk bersedih.


Hingga saat sampai menasuki kompleks perumahan mereka, Aslan menyalip mobil istrinya. Menghadang Kiran hingga ia berhenti melaju.


Aslan turun, dan memaksa Kiran untuk membuka pintu mobilnya. Awalnya Kiran menolak, namun saat melihat wajah marah Aslan, akhirnya ia menurut.


Saat pintu itu dibuka, Aslan segera menarik Kiran untuk keluar. Mengunci mobil sang istri, lalu membawa Kiran untuk masuk ke dalam mobilnya sendiri.


Kiran masih terus menangis, entah kenapa ia jadi selemah ini.


Aslan masuk, dan hanya terdengar suara isak tangis Kiran didalam mobil itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Aslan, mencoba buka suara, meski istrinya terus saja menangis tanpa jeda.


"Apa yang terjadi padaku, harusnya aku yang tanya, apa yang terjadi dengan Mas?" jawab Kiran sesenggukan.


"Memangnya kenapa aku?" tanya Aslan lagi, bingung. Entah kenapa kini Kiran suka sekali membuatnya menerka-nerka.


Tak biasanya Kiran seperti ini.


"Pikir saja sendiri," jawab Kiran ketus, seraya memalingkan wajah.


"Jangan seperti ini Ran," ucap Aslan mencoba sabar, tak peduli meski tubuh dan pikirannya begitu lelah.


"Aku capek Ran, aku tidak mau bertengkar."


"Udah tau capek tapi kenapa Mas maksa buat urus toko juga, apa biar bisa ketemu Hana?" balas Kiran menggebu, pun dengan tatapannya yang penuh dengan amarah.


"Astagfirulahalazim," gumam Aslan pelan, lagi, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jadi kamu cemburu?"


"Tidak!" jawab Kiran dengan suara meninggi, masih dengan isak tangis.


"Ran," panggil Aslan, seraya mencoba menggenggam erat kedua tangan istrinya.


"Percayalah padaku Ran, aku tidak mungkin menghianati kamu dan juga Aydan," ucap Aslan pelan.


"Lalu kenapa Mas memaksakan diri sekali untuk mengurus toko juga? kenapa Mas tidak memintaku yang mengurus toko itu, aku bisa keluar dari showroom dan hanya mengurus toko. Tapi bukannya meminta padaku, Mas malah mengurus toko itu sendiri. Memaksakan diri untuk bekerja di 2 tempat, bagaimana aku tidak curiga?" jelas Kiran yang semakin menangis.


Aslan lalu menarik tubuh istrinya dan didekapnya erat.


"Kamu salah paham Ran."


"Mas yang buat aku salah paham."

__ADS_1


"Iya, maafkan aku," balas Aslan. Masih terus memeluk tubuh istrinya erat.


"Lepas! Mas bau," pinta Kiran sungguh-sungguh, seolah aroma tubuh Hana ada disana, ia enggan untuk menghirupnya. Terasa menyengat dan ia ingin muntah.


Perlahan, Aslan melepaskan pelukan dan menatap dalam kedua netra istrinya.


"Benar bau? bukan karena kamu marah?"


"Beneran bau," jawab Kiran cepat, masih dengan nadanya yang ketus.


"Abi, bahkan ingin kamu yang meneruskan toko itu. Tapi kata Abi, kamu bahagia sekali bekerja di Showroom, dia jadi enggan memintamu," jelas Aslan kemudian.


Tak sampai disana, Aslan juga mengatakan, bahwa dia ragu untuk meminta istrinya itu meneruskan toko, takut Kiran merasa terbebani, apalagi masalahnya toko ini adalah tanggung jawab Aslan.


Kiran menggeleng, pekerjaan baginya hanyalah pekerjaan, bukan sesuatu yang harus ia perdebatkan dengan sang suami. Jika saat ini juga Aslan memintanya untuk berhenti di showroom, Kiran pun akan menuruti.


Mendengar jawaban sang istri itu, Aslan berulang kali mengucapkan kata Maaf.


Dan Kiran menerimanya dengan senang hati.


Lalu keduanya membuat kesepatakan, bahwa kini Kiran lah yang akan mengurus toko itu, setelah ia menyelesaikan administrasi keluarnya dari showroom.


"Jadi sekarang kamu tidak marah lagi kan?" tanya Aslan, seraya kembali menggenggam kedua tangan sang istri.


"Masih, tadi kenapa Hana keluar dari ruangan Mas senyum-senyum?" tanya Kiran, mode cemburu belum kelar.


Aslan menghembuskan napasnya, mana dia tahu.


"Mana aku tau Ran, kenapa dia tersenyum, aku bahkan tidak peduli padanya," jelas Aslan jujur.


"Benar?"


"Iya."


"Serius?


"Iya."


"Nggak bohong?"


"Enggak."


Pelan, Senyum Kiran kembali terukir.


"Maaf ya Mas, aku juga tidak tahu, kenapa aku jadi secemburu ini."


Aslan tak peduli ucapan sang istri itu, ia lalu menarik Kiran dan menahan tengkuknya. Menjatuhkan ciuman yang menghujam.


Puas menciumi bibir sang istri, Aslan lalu memeluk tubuh istrinya erat.


"Mas Bau," ucap Kiran dengan suaranya yang manja.

__ADS_1


__ADS_2