
Aslan mendekat, ingin menjangkau bibir sang istri yang sudah mengerucut minta dicium. Tapi belum mendarat sempurna, Aydan malah menangis.
Aslan dan Kiran terkekeh, gagal sudah ciuman mereka lakukan. Aslan langsung bangkit dari duduknya dan memeriksa keadaan Aydan.
"Pup sayang, kok warnyanya hitam ya?" tanya Aslan penasaran bercampur takut.
"Tidak apa-apa sayang, kata dokter Susan pupnya memang warna hitam, nanti lama-lama juga jadi warna kuning," terang Kiran apa adanya, tadi pun ia sempat menanyakan tentang hal itu kepada Susan.
Mendengar penjelasan sang istri, Aslan pun mengangguk. Hilang sudah kecemasannya masalah pup itu. Tanpa ada rasa jijik sedikitpun, Aslan mulai membersihkan kotoran Aydan.
Setelah selesai, ia membawa Aydan dan menyerahkannya pada Kiran untuk disusui.
"Yah Mas, sepertinya Asiku belum keluar juga," Kiran sendu, saat ia tak merasa Asinya keluar, sementara Aydan terus menyesapnya kuat.
"Jangan sedih, aku buatkan susu formula dulu ya," jawab Aslan dan Kiran hanya mengangguk kecil.
Pikiran ibu satu anak ini sudah melayang kemana-mana, memikirkan betapa jahatnya dia membiarkan sang bayi kelaparan.
Perlahan, air mata Kiran luruh juga. Apalagi saat ia melepaskan Aydan dari susuannya itu. Rasa bersalah menyelimuti hati Kiran.
"Sayang, jangan menangis," ucap Aslan, ia menghampiri istri dan anaknya dengan membawa sebotol kecil susu formula.
Kiran tak menjawab, hanya menghapus air matanya menggunakan tangan kanan. Sedangkan tangan kirinya masih menunpu Aydan.
Dengan telaten, Kiran pun mulai membantu Aydan untuk meminum susu itu. Tak sampai habis, Aydan sudah kenyang dam kembali tidur. Dengan sendirinya Aydan melepaskan sesapannya.
Dan Aslan, kembali mengambil sang bayi dan menidurkannya di dalam boxs.
Saat hendak kembali menghampiri sang istri langkahnya terhenti sejenak, Iwan dan Yuli datang setelah melaksanakan shalat magrib di masjid rumah sakit.
Akhirnya, setelah kedatangan mereka, kini giliran Aslan yang shalat.
"Aku turun dulu, jangan banyak berpikir, semuanya akan baik-baik saja," ucap Aslan pamit, ia mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang. Bahkan iapun mencium kening Kiran sejenak.
Setelah Aslan pergi, Iwan pun memutuskan untuk keluar membeli makanan untuk makan malam mereka. Sementara Yuli, menemani Kiran dan Aydan.
"Kenapa? Asinya belum keluar?" tanya Yuli sambil menebak-nebak, ia pun mendengar kata-kata Aslan sebelum pergi tadi. Juga dilihatnya botol susu yang terisu setengah disamping nakas.
Pelan, Kiran mengangguk.
Dan melihat itu, Yuli tersenyum seraya duduk dipinggir ranjang. Kursi yang sedari tadi menjadi tempat duduk Aslan.
"Itu wajar sayang, Umi dulu juga seperti itu. Lubang asinya masih tersumbat," terang Yuli dan Kiran mendengarkan dengan seksama.
__ADS_1
"Nanti kamu bersihkan pakai baby oil, setelah itu minta Aslan untuk menghisapnya," timpal Yuli lagi lalu terkekeh.
Sementara Kiran, mendengarkan itu ia mengerucutkan bibirnya. Merasa tak masuk akal.
"Umi jangan bercanda," keluh Kiran dengan mencebik dan Yuli makin terkekeh. Namun tetap berusaha menahan tawanya agar tidak menganggu Aydan.
"Umi serius Ran, Umi juga dulu seperti itu. Tapi karena Umi caesar, asinya tetap tidak mau keluar. Akhirnya sampai besar Aslan minum susu formula," jelas Yuli lagi dan Kiran mulai mencerna kata-kata itu.
"Hisapan suami kan lebih kuat daripada bayi, jadi akan memudahkan lubang asi yang tertutup itu untuk terbuka," terang Yuli terus, karena Kiran hanya terdiam, mendengarkan.
Iya juga ya, ucap Kiran di dalam hati.
Setelah makan malam, Yuli dan Iwan diminta Aslan untuk pulang. Awalnya Yuli bersikeras menolak, namun Aslan meyakinkan bahwa ia masih bisa menangani. Lagipula kini mereka berada di rumah sakit, banyak pula perawat yang akan membantu jika mereka merasa kesulitan.
Akhirnya, mau tidak maupun Yuli dan Iwan pulang. Menunggu kepulangan Aydan esok hari di rumahnya, rumah utama.
"Sayang, saat Aydan tidur, kamu juga tidurlah," titah Aslan sesaat setelah sang umi dan abi keluar dari dalam ruangan ini.
"Iya Mas," jawab Kiran menurut, ia pun sebenarnya begitu mengantuk, hanya saja tak tega membiarkan sang suami terjaga sendirian.
"Aku juga nanti akan tidur," ucap Aslan lagi seraya memperlihatkan senyumnya yang menawan, hanya melihat raut wajahnya, Aslan bisa tahu jika istrinya itu sedang mencemaskan dirinya.
Dengan tersenyum kecil, Kiran mengangguk.
Aslan sengaja tak membangunkan Kiran, ia pun merasa kasihan pada istrinya itu yang baru saja berjuang melahirkan, berada diantara hidup dan mati.
Hingga dipertiga malam, akhirnya Kiran terbangun. Dilihatnya sang suami yang sudah terlelap di sofa panjang ruangan itu. Aydan pun sedang tertidur dengan pulasnya.
"Mas," panggil Kiran lirih pada sang suami. Cukup lama memanggil namun Aslan tetap bergeming, hingga dipanggilan keempat barulah Aslan tersadar.
"Astagfirulahalazim Ran, ada apa sayang? maaf aku ketiduran," jelas Aslan buru-buru, ia bahkan langsung bangkit dari tidurnya dan menghampri sang istri.
"Kamu kenapa?" tanya Aslan cemas, apalagi saat melihat keringat dingin memenuhi dahi sang istri.
"Dadaku sakit Mas," jawab Kiran lirih. Karena Asinya tak bisa keluar, dada Kiran jadi membengkak dan mengeras.
"Ya Allah, aku panggilkan perawat dulu ya?" cemas Aslan, ia pun mendadak bingung harus bagaimana.
Saat Aslan hendak bangkit dari duduknya, Kiran buru-buru mencegah.
"Tidak usah Mas, kata umi ...."
"Kata umi apa?" tanya Aslan cepat, bahkan sebelum Kiran menyelesaikan ucapannya yang menggantung itu.
__ADS_1
Dengan ragu, Kiran pun mejawab, rasa sakit itu benar-benar menyiksanya.
"Kata umi cukup dibersihkan, lalu Mas yang hisap," jawab Kiran dengan merengek, sumpah demi apapun dadanya begitu sakit.
Menelan ludah, namun Aslan mengangguk. Ia mengunci pintu kamar rawat sang istri lebih dulu, lalu duduk disisi ranjang dan mulai membuka baju sang istri.
Dada Kiran nampak begitu besar, bahkan sampai tak muat lagi di bra yang dikenakannya. Jika saja ini bukan keadaan darurat, pasti ia akan melumaatnya dengan brutal.
"Sekalian ku kompres dengan air hangat ya?" tawar Aslan dan Kiran mengangguk.
Kedua pucuk itu sudah tak bertutup dan nampak begitu menantang. Namun saat disentuh, terasa begitu keras tak selembut biasanya.
Perlahan, Aslan mulai mengompres secara bergantian. Bahkan memilin pucuknya untuk membersihkan, sesuai perintah sang istri.
"Aduh Mas, pelan-pelan," kaluh Kiran, ia meringis saat sang suami memutar pucuknya cukup kuat.
"Astagfirulah, maaf sayang," jawab Aslan buru-buru, ia menggeleng cepat membawa kesadarannya kembali.
Melihat dua gundukan itu nyaris saja membuat ia khilaf.
Selesai membersihkan, Aslan mulai mendekat dan menyesapnya secara perlahan.
"Iya sayang, memang tidak ada yang keluar," jujur Aslan dan Kiran memasang wajah sendu.
"Sedotnya yang keras, aku akan tahan sakitnya," pinta Kiran yang nyaris menangis.
Melihat itu, Aslan sungguh tak tega. Ia menatap sang istri lekat lalu menciumi bibir Kiran, bahkan menyesapnya penuh dengan cinta.
"Kita lakukan sama seperti saat sedang bercinta, mungkin jika seperti itu rasanya tidak akan terlalu menyiksa," tawar Aslan dan Kiran mengangguk.
Dengan perlahan, Aslan menyusuri dada yang nampak penuh itu menggunakan lidahnya, terdengar sedikit desahan sang istri, berulah Aslan menyesapnya dalam.
Ia ulang terus berulang kali kiri dan kanan secara bergantian. Tangannya pun tak tinggal diam. Dengan lembut ia memijati dada sang istri.
Dan benar saja, seperti itu Kiran tak merasakan kesakitan dan lambat laun Aslan pun merasakan Asi itu keluar, bahkan sampai mengalir dengan begitu deras.
Aslan menarik wajahnya menjauh dan mangambil alat pompa asi manual untuk menampung Asi itu. Seraya membersihkan sisa-sisanya yang tercecer.
"Kamu menyiksaku," jujur Aslan, kini ia yang merasa begitu tersiksa, karena dibawah sana sudah terasa sesak dan menuntut.
Kiran terkekeh, bukannya iba Kiran malah menyentuh manja bagian inti sang suami dengan senyum menggoda.
Melihat senyum sang istri sudah kembali, membuat Aslan tersenyum tipis, sangat bahagia.
__ADS_1