
"Kenapa tidur disini?" tanya Aslan saat dilihatnya mata sang istri sudah terbuka.
Suara yang terdengar nyata itu mulai membawa kesadaran Kiran kembali.
Ini bukan mimpi, batinnya.
"Kamu datang?" tanya Kiran, ia masih tertidur disana, membalas tatapan sang suami yang berada tepat didepan wajah.
"Tentu saja, bukankah aku sudah mengatakan jika aku akan datang?"
"Tapi kamu tidak bilang akan datang selarut ini."
"Maaf." desis Aslan sungguh-sungguh.
"Apa Maya tidak mengizinkanmu pergi?" tanya Kiran, jujur saja, kini pun ia mulai egois, mulai ingin menuntut haknya sebagai seorang istri. Tidak seperti selama ini yang selalu mengalah dan ihklas jika Aslan selalu bersama Maya.
Aslan terdiam, Kiran tahu jika jawabannya adalah IYA. Jawaban itu terpancar jelas dimata sang suami.
"Jika Maya memintamu untuk menceraikanku apa kamu juga akan menurutinya?" tanya Kiran lantang.
Hati Aslan berdenyut kala mendengar pertanyaan itu. Ia tahu Kiran sang istri sedang marah, bahkan Kiran tak memanggilnya Mas, selalu memanggil dengan sebutan kamu.
Tapi baginya pertanyaam itu sudah keterlaluan, membicarakan tentang perceraian yang tak pernah sekalipun terbesit dalam benaknya.
"Maafkan aku untuk malam ini, aku akui aku salah. Tapi berhenti bicara tentang perpisahan. Itu tidak akan terjadi."
"Bohong," jawab Kiran cepat.
"Apa kamu ingin meninggalkan aku?" tanya Aslan, kini ia pun jadi bingung apa mau sang istri. Wanita yang sedang marah cemburu memang membingungkan.
"Kenapa malah aku yang ditanya? jelas-jelas kamu yang paling banyak punya kemungkinan untuk meninggalkan aku. Apalagi sekarang Maya sudah hamil." Mata Kiran berembun, inilah lemahnya ia pada cinta. Cinta yang membuatnya hilang kendali.
Entah kenapa, melihat kemarahan Kiran itu malah membuat Aslan tersenyum. Ia lalu mendekat, mengikis jarak dan mencium sekilas bibir sang istri.
"Kalau begitu, ayo kita buat agar kamu juga hamil. Agar aku ataupun kamu tidak akan ada yang bisa melarikan diri," ucap Aslan setelah kecupannya terlepas, berbicara begitu dekat dihadapan wajah Kiran hingga napas hangatnya menyapu wajah yang sudah dingin itu.
Kiran meremang, kata-kata manis bercampur godaan itu berhasil meluluhkan amarahnya.
Ia menurut, saat Aslan mulai mengangkat tubuhnya. Bahkan Kiran menggantungkan kedua tangannya di leher sang suami.
Aslan membawa Kiran masuk ke dalam kamar mereka.
__ADS_1
"Mas belum mandi?" tanya Kiran, ia begitu hapal aroma keringat sang suami. Wajahnya yang tadi bersembunyi di ceruk leher Aslan langsung mendongak menatap mata suaminya itu.
"Belum, aku buru-buru kesini untuk menemui kamu, tapi seberapapun aku berusaha tetap saja datangnya larut malam dan saat sampai disini, aku dimarah-marahi," jawab Aslan dengan wajah memelas.
Kiran tersenyum, lalu mencium sekilas pipi sang suami.
"Buka pintunya." Titah Aslan dan Kiran menurut. Ia menurunkan 1 tangannya dan mulai membuka pintu.
Saat sudah masuk, Aslan mendorong pintu itu dengan kakinya. Dan kembali melangkah menuju ranjang mereka.
Dengan perlahan, Aslan membaringkan sang istri.
Dan saat ia hendak bangkit, Kiran dengan cepat menahan tangan sang suami.
"Mau kemana?" tanya Kiran, entah kenapa kini pun ia sama seperti Maya, tidak ingin jauh-jauh dari sang suami.
Mungkinkah cinta itu semakin dalam?
"Aku ganti baju dulu_"
"Untuk apa? kan mau dilepas bajunya," jawab Kiran dengan senyum menggoda.
Aslan tersenyum, bahkan hanya dengan kata-kata Kiran sudah berhasil membangunkan hasratnya.
Dengan tersenyum, Kiran pun membalas. Tubuh sang suami yang diselimuti aroma keringat ini membuatnya begitu tenang, seolah candu.
Benar kata Kiran, untuk apa mengganti baju, karena kinipun keduanya sama-sama polos. Menyatu dengan begitu dalam.
"Aku suka dengan kamu yang cemburu seperti ini," ucap Aslan sambil terus memandangi wajah sang istri yang kini berada diatas tubuhnya.
"Siapa yang cemburu? aku tidak cemburu," kilah Kiran dengan terus bergerak.
Aslan terkekeh, lupa, mana ada wanita yang mengaku kalau dia sedang cemburu.
"Aku mencintaimu Ran," ucap Aslan sungguh-sungguh.
"Aku membencimu Mas." jawab Kiran, lalu menunduk dan menciumi bibir sang suami. Aslan memeluk erat tubuh polos itu dan membantingnya keatas ranjang, kini ia ingin mengambil alih.
"Akan ku buat kamu mencintaiku," ucap Aslan, ia terus menghujami tubuh sang istri tanpa ampun.
Kiran terkekeh, lalu mencoba bangkit hingga keduanya sama-sama duduk dengan Kiran diatas pangkuan.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Mas," jawabnya tulus lalu kembali mencium bibir sang suami. Bergerak perlahan dalam posisi itu.
Hingga keduanya serentak mendapatkan pelepasan.
Keduapun berdoa didalam hatinya masing-masing, agar salah satu benih itu bisa tumbuh menjadi janin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat, meski susah payah menjalani rumah tangganya namun Aslan selalu berusaha untuk tetap adil.
Dalam kurun waktu 2 bulan pun baginya berjalan begitu cepat.
Di rumah utama, ia melayani Maya dan di rumah lainnya ia melayani Kiran.
Jika minggu ini ia mengajak Kiran untuk jalan-jalan, maka besok saat bersama Maya pun ia harus melakukan hal yang sama.
Capek? tentu saja, tapi itu sudah menjadi tanggung jawabnya. Sebisa mungkin ia tidak akan ingkar, pada kedua ijab kabul yang ia kumandangkan.
Mendapati perlakuan Aslan yang tak berubah meski Maya hamil pun membuat Kiran merasa benar-benar dicintai, jujur saja, meski sang suami selalu menyatakan cinta ia masih saja sedikit ragu.
Tapi keraguan itu perlahan sirna, karena Aslan tak hanya selalu berucap, namun ditunjukkannya pula pada tindakan.
"Nyonya, kenapa wajahnya pucat sekali?" tanya Asni saat Kiran berjalan dengan gontai memasuki dapur.
"Tidak tahu Bude, tadi pagi saya muntah-muntah, sekarang pusing sekali rasanya. Tolong ambilkan buah di kulkas Bude, rasanya kalau makan buah mulut saya jadi tidak pahit," desis Kiran seraya duduk di kursi meja makan.
Dengan kebingungan, Asni mengambil beberapa buah, dikupasnya langsung dan dihidangkan dalam sebuah piring.
"Ini Nyonya, saya buatkan jahe hangat ya? mungkin masuk angin." ucap Asni perhatian bercampur cemas, selama 2 bulan tinggal disini, tak sekalipun ia melihat Kiran sakit.
"Tidak usah Bude, ambilkan saya air dingin saja," jawab Kiran.
Dan Asni makin mengeryit heran, padahal selama ini Kiran tak pernah meminum air es, selalu air biasa atau malah air hangat.
Masih dengan kebingungannya itu, Asni memgambilkan segelas air dingin untuk sang nyonya.
Dilihatnya Kiran yang memakan buah dengan lahap, bahkan seperti orang kelaparan. Seketika itu juga wajahnya kembali berseri, tak sepucat saat pertama kali datang tadi.
Asni mulai menduga-duga, apalagi saat ia mengingat tiap kali Tuanya datang kesini selalu meninggalkan bekas-bekas kemerahan di tubuh sang Nyonya.
"Jangan Nyonya! jangan makan nanasnya," cegah Asni cepat dan Kiran langsung menghentikan tangannya.
__ADS_1
"Kenapa Bude?" tanyanya bingung.
"Nyonya hamil, jangan makan nanas."