Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 66


__ADS_3

Jam setengah tiga sore mereka sampai di rumah, Aslan dan Kiran segera beristirahat di dalam kamar. Aslan takut, istrinya itu merasa kelelahan, seharian ini Kiran belum merebahkan badannya.


Aslan pun tadi sudah meminta Desi untuk mengantarkan irisan buah ke kamar saja, sebagai cemilan sang istri.


"Sayang, sini ku pijat kakimu," ucap Aslan, setelah mengganti baju dan mencuci muka, Aslan menghampiri Kiran yang sedang berbaring di atas ranjang.


Kiran tak menolak tawaran sang suami, karena dengan cepat Aslan sudah menarik kedua kakinya mendekat. Meletakkannya dipangkuan Aslan.


Pelan-pelan, Aslan meminjat telapak kaki Kiran.


"Enak?" tanya Aslan sambil menoleh kearah sang istri.


Kiran terkekeh, "enak-enak geli," jawabnya ambigu dan mendengar jawaban itu, Aslan pun ikut terkekeh.


"Nakal," suat Aslan lagi lalu kembali memijati sang istri.


Hingga tak lama kemudian, Desi mengetuk kamar mereka, mengantarkan sepiring irisan berbagai jenis buah.


Setelah Aslan mengucapkan terima kasih, Desi kembali meninggalkan mereka berdua.


Kiran bangkit dari tidurnya, lalu duduk dan mulai memakan buah itu, sedangkan Aslan masih terua memijat kaki sang istri.


"Aku suap ya Mas?" tanya Kiran dan Aslan menggeleng.


"Kenapa? enak kok, seger," bujuk Kiran sambil memasukkan satu irisan buah ke dalam mulutnya menggunakan sendok garpu.


"Panggil aku sayang dulu," pinta Aslan memelas, dan Kiran mengulum senyumnya.


"Aku suap ya sayang?" ucap Kiran mengulangi pertanyaannya.


Mendengar ucapan itu, Aslan tersenyum lebar, namun belum cukup puas untuk menggoda sang istri.


"Ulangi sekali lagi," pinta Aslan dan Kiran mencebik,


"Nih makan," titah Kiran lalu dengan cepat memasukkan satu irisan buah ke dalam mulut sang suami.


Aslan terkekeh, Kiran memang tidak selebay itu, pikirnya.


Tak butuh waktu lama, Kiran menghabiskan sepiring irisan buah itu. Padahal tadi siang ia sudah makan bersama Aslan di luar. Kehamilannya ini memang membuatnya gemar makan, meskipun ia tidak merasa lapar.


Aslan, tidak mempermasalahkan itu. Baginya, yang terpenting adalah kebahagiaam sang istri dan kesehatan anaknya.


"Apa kabar mas Agung sayang, selama kita pulang, sepertinya mas Agung tidak pernah menghubungimu," tanya Aslan, kini ia dan Kiran sudah duduk bersama dan bersandar di sandaran ranjang.


Kiran memeluk tubuh suaminya erat dan satu tangan Aslan mengelus punggungnya dengan sayang.


"Dulu pernah kok Mas sekali telepon, setelah itu memang tidak ada lagi," jawab Kiran apa adanya.

__ADS_1


"Kenapa? ku pikir kalian tidak akan bisa dipisahkan," tanya Aslan lagi penasaran.


"Agung tidak enak padamu Mas, katanya dia mau istri dulu, nanti biar istrinya yang berteman denganku, gitu katanya," jawab Kiran dengan mengingat-ingat pesan Agung yang terakhir.


Dalam pesannya Agung mengatakan, jika ia sangat menyayangi Kiran. Tapi kini ceritanya lain, Kiram sudah berumah tangga dan mereka tidak bisa seperti dulu lagi.


Agung akan tetap ada untuknya jika Kiran membutuhkan bantuan, tapi Agung membatasi komunikasi diantara keduanya.


Kiran menjawab iya pesan Agung itu, Kiran pun mengatakan jika ia juga sangat menyayangi agung.


Akhir pesan mereka dipenuhi oleh emoticon menangis.


"Padahal aku ingin berteman dengan mas Agung," ucap Aslan jujur dan Kiran mengangkat wajahnya tidak percaya.


"Kenapa? Agung kan sudah jahat padamu Mas," jawab Kiran mengeryit bingung.


"Itukan dulu sayang, masa-masa remaja, wajar saja kalau bertindak tanpa pikir panjang. Tapi asal kamu tahu, karena mas Agung dan teman-temannya selalu membully aku, aku jadi punya semangat untuk berani dan melawan," jujur Aslan lagi ketika mengingat masa lalu. Masa lalu yang membuatnya jadi seperti ini sekarang.


Mendengar itu, Kiran tersenyum.


"Ya sudah sana berteman, tapi sekarang Agung bukan temanku lagi," jawab Kiran lalu kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


Aslan tersenyum, lalu menciumi pucuk kepala Kiran dengan sayang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari sabtu, Aslan libur.


Hari ini, Aslan dan Kiran akan berkunjung ke rumah Yuli. Menghabiskan akhir pekan di rumah orang tua mereka.


Memasuki halaman rumah itu, Kiran merasakan ada desiran aneh dihatinya. Rasa yang membuatnya tak nyaman itu kembali muncul.


Meski hanya sesaat, lalu menghilang saat ia menoleh pada sang suami.


Rumah ini, mengingatkannya pada Maya. Kenangan tentang wanita itu begitu melekat dengan rumah ini.


Sesaat, Kiran termenung dan tersadar saat Aslan menyentuh pundaknya.


"Sayang kenapa? ayo turun," ajak Aslan karena Kiran hanya terdiam, padahal cukup lama ia sudah mematikan mesin mobil, ia bahkan sudah nyaris turun lebih dulu.


"I-iya Mas," jawab Kiran dengan ragu.


Namun akhirnya ia turun dan Aslan mengulurkan tangannya meminta sang istri mendekat.


"Kamu teringat Maya?" tanya Aslan dengan menatap lekat netra sang istri. Kiran hanya diam, sedikit menunduk karena memang begitulah adanya.


Namun ketika menyadari tentang perasaan Aslan, Kiran langsung membalas tatapan sang suami.

__ADS_1


"Mas bagaimana? apa mas juga memikirkan Maya? apalagi di rumah ini," tanya Kiran lirih, kecemburuan itu merayap memenuhi seisi hatinya.


Aslan tersenyum, lalu mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang.


"Tentu saja aku ingat, aku belum pikun," jawab Aslan dengan senyum yang entah.


"Aku juga ingat, bagaimana hari-hari panas kita di rumah ini," seloroh Aslan lagi dengan menarik pinggang sang istri dan medekapnya erat.


"Nanti kita ulangai lagi ya?" ajaknya manja dan Kiran langsung memukul dada sang suami cukup keras.


"Mesum mesum mesum," kesalnya lalu masuk lebih dulu.


Ia sudah bicara begitu serius, tapi suaminya itu selalu saja mesum, pikir Kiran dengan bibir yang mencebik.


Ditinggal seperti itu, Aslan malah terkekeh.


Ia hendak kembali berjalan dan menyusul sang istri, namun langkahnya terhenti saat ia mendengar ada suara deru mobil memasuki halaman rumah ini.


Mobil yang baginya asing.


Aslan masih memperhatikan, hingga pemiliknya turun dengan sempurna, Alfath dan Dinda.


Ternyata, Alfath sudah sadar dari komanya, pikir Aslan. Saat itu, Kiran sudah masuk ke dalam rumah.


Alfath dan Dinda langsung saja menghampiri Aslan yang berdiri disana.


Sesaat ada kecanggungan yang menyelimuti mereka, namun saat Akbar menggeliat di dalam gendogan Dinda, suasana itu jadi mencair.


Aslan langsung mengajak Alfath dan Dinda untuk masuk ke dalam rumah, rasanya tak tega melihat seorang ibu yang harus lama berdiri sambil menggendong bayi.


Sampai di dalam, ketiga orang ini duduk. Aslan belum memanggil Kiran ataupun umi dan abinya, karena ia belum tahu apa maksud kedatangan mereka.


"Lan, kedatangan kami kesini untuk meminta maaf padamu, Kiran dan semua keluarga," jelas Alfath langsung pada intinya.


"Maaf, karena keegoisanku, kecelakaan itu terjadi. Kamu dan Kiran berselisih dan kalian kehilangan seorang anak," ucap Alfath lagi dengan suara yang bergetar, rasa bersalah itu teramat besar di dalam hati Alfath.


Dinda, hanya mampu menggenggam salah satu tangan sang suami, mencoba memberikan ketenangan.


Mendengar permintaan maaf itu, Aslan jadi teringat masa lalu. Masa lalu yang begitu kelam dihidupnya, masa-masa terpuruk baginya.


"Jika kalian berkenan, tolong maafkan aku," ucap Alfath lagi bersungguh-sungguh.


Aslan, menghembuskan napasnya sejenak. Hari ini memang tidak bisa dihindari, suatu saat pun pasti mereka akan bertemu.


"Aku sudah memaafkanmu. Tunggu, aku akan memanggil Kiran," jawab Aslan lalu bangkit dan masuk ke dalam.


Selepas kepergian Aslan, Alfath menoleh pada Dinda. Jujur saja, Alfath begitu takut untuk menemui Kiran, wanita yang masih dicintainya hingga kini.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja Mas," ucap Dinda menenangkan dan Alfath mengangguk kecil.


__ADS_2