
Sore harinya.
Setelah serangkaian acara pernikahan selesai, kini kedua keluarga besar itu berkumpul di ruang keluarga yang sudah kembali seperti semula.
Meja ijab kabul sudah dibereskan dan semua sofa sudah dikembalikan ketempat semula.
Altar dan Alana masih menggunakan baju pernikahannya, duduk disebelah kedua orang tuanya masing-masing, tidak berani untuk duduk bersebalahan.
“Ehem!” Agung berdehem, merasa jika suasananya jadi canggung begini.
Ia bahkan berulang kali saling tatap mata dengan sang besan, Aslan.
“Altar, Alana ....” panggil Aslan, menggantung.
Seketika yang dipanggil terlonjak, langsung menatap sang ayah dengan kedua mata yang membola. Altar bahkan menelan salivanya dengan susah payah.
“Sekarang kalian berdua sudah menikah, sudah sah menjadi suami istri. Tapi ...” timpal Aslan, yang lagi-lagi menggantung ucapannya, hingga membuat sepasang pengantin itu makin merasa gugup dan cemas sekaligus.
Kiran bahkan sampai memegang lengan sang suami, memberi isyarat untuk suaminya itu melanjutkan ucapannya.
Menghela napas pelan, akhirnya Aslan kembali berucap.
“Tapi ayah dan ayah Agung juga ibu Kiran dan ibu Wid sudah bersepakat, untuk meminta kalian untuk tidak melakukan itu dulu,” ucap Aslan, sedikit ragu namun berusaha tak gentar.
Seketika, suasana jadi canggung, merasa aneh ketika membicarakan hal ambigu ini. Alana bahkan sampai menunduk, merasa malu.
Lalu sang kakak, Aydan mencubit lengan adiknya itu, meledek.
Saking kesalnya, Alana sampai kembali membalas cubitan itu dengan sangat keras.
“Aw!” pekik Aydan, memecah kecanggungan diruang keluarga itu. Bahkan seketika semua orang jadi menatap ke arahnya.
Dan Aydan, akhirnya hanya bisa tersenyum kikuk.
“Ehem!” Agung, kembali berdehem, ia ingin berucap juga, namun rasanya suaranya menghilang entah kemana.
“Bukan tanpa sebab, kami meminta hal itu kepada kalian. Kami merasa, Alana pasti belum siap untuk hamil. Tapi kami juga tidak menyarankan Alana untuk memakai KB. Jadi_”
“Ehem!” Kiran berdehem, sesaat setelah mendapat kode dari Widya untuk menghentikan ucapan Agung itu.
“Sudah-sudah, masalah ini biar nanti ibu dan ibu Wid yang sampaikan kepada Alana. Sebaiknya sekarang kita bersih-bersih badan dan istirahat sejenak. Nanti malam kita makan malam bersama,” putus Kiran, hingga membuat semua orang bernapas lega.
__ADS_1
Apalagi Aslan dan Agung yang sampai mengelus dadanya, merasa plong.
Membicarakan hal ini, memang membuat mereka bingung sendiri.
Sehari sebelum pernikahan anak-anak mereka, Agung dan Aslan sudah sepakat untuk meminta Alana dan Altar untuk tidak melakukan hubungan suami istri dulu.
Mereka bisa menundanya hingga Alana benar-benar siap untuk memiliki anak, setidaknya setelah Alana lulus SMA.
Aslan sungguh tak ingin, anaknya tertekan batin jika harus hamil muda sementara psikologi nya belum cukup siap.
Namun disisi lain, mereka pun tak ingin Alana menggunakan KB. Takut jika hal itu malah akan mengganggu kesehatan rahim sang anak.
Dilema, akhirnya mau tidak mau sore itu mereka menyampaikan perihal ini pada kedua anaknya itu. Meski mereka tidur dalam satu kamar, namun dilarang untuk berhubungan badan.
Tak ingin ada kecanggungan lagi, Kiran dan Widya pun mengantarkan Alana dan Altar untuk masuk ke dalam kamar mereka, kamar Alana selama ini.
Kedua ibu itu mengantar anak-anaknya hingga benar-benar sampai di dalam kamar.
“Alana, Altar. Kalian mengerti kan apa maksud ayah Aslan dan ayah Agung tadi?” tanya Widya pada kedua anaknya itu, Alana dan Altar sudah duduk disisi ranjang, sementara ia dan Kiran duduk di kursi yang berada di sana.
“Iya Bu, aku mengerti,” Altar yang menjawab, meski ia pun malu namun mulai kini ia akan mulai bersikap dewasa. Berada didepan Alana untuk melindungi istrinya itu.
Melihat kedua ibunya sudah keluar, Altar pun menghembuskan napasnya lega. Sementara Alana langsung bangkit dan mengambil jarak dari suaminya itu.
Hingga membuat Altar menatapnya bingung.
“Kenapa? Jangan berpikir yang macam-macam. Ki-kita tidak akan melakukan itu,” ucap Altar, diantara kegugupannya.
Melihat Alana yang menyilang kan kedua tangannya didepan dada, ia cukup tahu apa yang ada dibenak Alana saat ini.
Pastilah Alana berpikir jika ia akan menyergapnya tanpa permisi.
“Janji? Janji kamu akan menuruti permintaan ibu dan ayah? Janji kita tidak akan melakukan itu?” tanya Alana bertubi, mendesak dengan tatapannya yang tajam.
Tatapan yang terlihat menggemaskan dimata Altar.
Jujur saja, Alana sebenarnya memang belum siap untuk melakukan itu. Ia sangat bersyukur kala mendengar kedua orang tuanya melarang mereka untuk melakukan hubungan suami istri itu.
Alana jadi memiliki alasan yang kuat untuk menolak Altar.
Melihat Alana yang takut seperti itu, Altar malah merasa lucu.
__ADS_1
“Iya Al, kita tidak akan melakukan itu, percayalah padaku,” jawab Altar kemudian.
Tak sampai disitu, Altar kemudian meminta istrinya itu untuk kembali duduk disebelahnya dan mulai membahas tentang rumah tangga mereka nantinya.
Altar menjelaskan banyak hal kepada Alana, meskipun mereka tidak melakukan itu, namun tiap malam mereka akan tidur bersama, di ranjang yang sama, bahkan memungkinkan mereka untuk saling memeluk erat ketika tidur.
Setelah menikah, akan banyak hal yang mulai mereka pahami tentang satu sama lain. Dan Altar tak ingin istrinya itu seperti dulu-dulu, yang selalu memendam dan menyimpulkan sendiri tentang sesuatu perkara.
Altar ingin mereka saling terbuka, tentang apapun.
Alana mengangguk, menyetujui ide Altar itu.
Alana juga mulai menyampaikan keinginannya tentang rumah tangga mereka nanti. Alana ingin, Altar juga terbuka kepadanya, tentang apapun. Tak membatasi per temanan nya, karena Alana pastikan ia akan tahu batas-batasnya, mana yang boleh dan mana yang tidak.
Altar mengangguk, setuju.
Setelah bersepakat, akhirnya mereka mulai bersiap untuk membersihkan diri.
Saat itu Altar lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Alana masih menghapus riasannya dan duduk di kursi meja rias.
Sebelumnya, Alana sudah lebih dulu melepas baju pengantinnya dan mengganti dengan baju rumahan.
“Al!” panggil Altar, ia membuka sedikit pintu kamar mandi itu dan melongok dari dalam sana.
Alana menoleh, dan menatap bingung.
“Apa?” tanya Alana kemudian, lalu berputar dan menghadap ke arah sang suami.
“Aku boleh keluar tidak? Aku hanya menggunakan handuk,” ucap Altar, tak ingin kembali canggung, akhirnya Altar lebih dulu meminta izin pada istrinya itu sebelum keluar.
Pelan, Alana terkekeh, lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“keluarlah, tapi pastikan handuk itu tidak jatuh,” jawab Alana kemudian, lalu kembali memutar tubuhnya dan kembali menghadap kaca.
Dengan tersenyum kecil, Altar pun keluar dari sana lalu menghampiri lemari dimana bajunya sudah disusun rapi oleh sang ibu didalam sana.
Sesekali, Alana mengintip Altar melalui kaca didepannya.
Kedua pipinya mendadak merona, kala melihat punggung yang terbuka itu.
Hih! Alana mesum! Batinnya sendiri, merasa kesal.
__ADS_1