
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Hadiah, terima kasih 😗😗
Happy Reading 💚
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas," panggil Dinda dengan suara yang begitu lembut, lebih tepatnya lirih.
Tak ada habisnya ia mencoba berbicara dengan sang suami. Tapi seolah bisu, Alfath selalu mendiamkannya.
Semenjak kemarin ia sadar dari koma, hingga hari ini Alfath masih setia menutup mulut dengan tatapannya yang kosong.
Dinda, dia sudah menceritakan semua yang terjadi selama ini. Tentang Kiran yang keguguran dan tentang Kiran yang pergi meninggalkan Indonesia, entah kemana.
Dan tentang Aslan yang begitu mencintai Kiran.
Berulang kali pun Dinda memohon maaf atas apa sudah diperbuatnya, meminta agar Alfath bersedia memaafkan dia dan memulai semuanya dari awal.
Dinda pun rela, menunggu agar Alfath bisa membuka hati untuknya.
Tapi walau sebanyak apapun Dinda bersuara, Alfath masih bertah terdiam. Bahkan kedua orang tua merekapun sudah ikut membantu dalam rumah tangga mereka agar tetap utuh, namun Alfath tetap bergeming.
Seolah masih sibuk dengan pikirannya sendiri, seolah didalam hatinya masih ada perang batin.
"Mas," panggil Dinda sekali lagi.
"Aku ambilkan buah ya?" tawar Dinda, tapi jangankan menjawab, Alfath menoleh pun tidak.
Laki-laki ini masih duduk diatas ranjangnya, melewati masa obserbasi. Jika semuanya baik, besok ia sudah diperbolehkan pulang.
Dengan telaten, Dinda membuka buah apel. pelan-pelan dia mengupas buah itu dan menyajikannya di dalam piring kecil.
"Mas, makan ini ya?" tawar Dinda sambil duduk di kursi dekat ranjang itu.
"Aku ingin kita bercerai Din," ucap Alfath setelah lama bungkam.
Dan piring di tangan Dinda langsung jatuh ke lantai tanpa bisa ditahan.
Setelah lama menunggu sang suami buka suara, namun kalimat pertama yang didengarnya adalah talak. Sungguh sakit hati Dinda mendengar itu.
Sakit yang menjalar hingga sampai ke perutnya.
__ADS_1
"Awh!" pekik Dinda, merasakan sakit yang muncul dengan tiba-tiba. Perutnya terasa kram dan begitu menyiksa.
"Tolong aku Mas," lirih Dinda.
Melihat wanita ini begitu kesakitan, akhirnya Alfath turun dan membantu menahan tubuh Dinda. Ia pun berulang kali berteriak, memanggil siapapun yang lewat.
Usahanya membuahkan hasil, satu perawat masuk ke dalam ruangan itu dan menolong mereka.
Dinda, akan melahirkan.
Berjuang diantara hidup dan Mati, sendirian Dinda menghadapai nasibnya. Alfath tidak ikut masuk ke ruang persalinan.
Alfath, memilih duduk di kursi tunggu dengan pikiran yang entah bagaimana. Pikirannya makin kacau, saat mendengar berulang kali Dinda menjerit kesakitan.
Perlahan, Alfath bangkit dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu.
Cukup sekali, cukup sekali aku menjadi seorang pendosa dengan menghilangkan anak Kiran. Kini, jangan lagi Fath. Batin Alfath berbicara sendiri pada diriny.
Alfath masuk dan langsung menggenggam tangan sang istri.
"Maafkan aku Din," ucapnya setelah tangan itu tergenggam.
"Kamu pasti bisa," ucap Alfath lagi seraya mengelus pucuk kepala sang istri yang sudah dipenuhi peluh, bahkan tak hanya itu. Alfath pun melabuhkan kecupan penuh kasih sayang di dahi Dinda.
Wanita yang selalu ada meski berulang kali ia menyakiti.
Tersenyum, Dinda diperlakukan seperti itu, tapi ia tetap tak boleh berharap banyak. Karena beberapa saat lalu bahkan Alfath sudah menjatuhkan talak padanya.
Senyum Dinda perlahan berubah getir, ketika menyadari jika perubahan Alfath ini pasti hanya karena bayinya.
Setelah melahirkan, Dinda yakin, Alfath akan segera menceraikan dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sekitar jam setengah 12 siang, Iwan sampai di rumah Alfath. Pintu rumah itu tidak terkunci, hingga ia masuk begiti saja.
Rasa bersalah bercampur rindu ingin bertemu membuatnya tidak sabaran, meski hanya untuk mengucapkam salam.
Iwan masuk dan seketika itu juga pendengarannya menangkap gelak tawa di arah dapur. Kakinya melangkah sedikit tergesa menuju ruangan itu.
Dan tertegun saat melihat semua orang berkumpul disana.
__ADS_1
Sang istri, anak juga menantu.
Ketiganya berbicara dengan hangat dan sesekali diselingi tawa ringan. Entah apa yang mereka bicarakan, namun nampak sekali rona kebahagiaan di wajah semua orang, termasuk sang istri.
Kebahagiaan yang dulu hilang sejak Kiran meninggalkan rumah mereka.
Haru, ujung mata Iwan mengeluarkan cairan bening. Namun dengan cepat ia hapus. Dengan tersenyum pula, ia menghampiri semuanya.
"Aslan," sapa Iwan sambil mendekat.
Semua orang langsung menoleh, pada siapa yang datang.
"Abi," jawab Aslan, ia pun mendekati sang ayah dan mencium punggunh tangannya takzim.
"Ran," sapa Iwan pada sang menantu, dengan menangis Kiran pun hal yang sama seperti yang dilakukan Aslan. Bahkan Kiran pun mengucapkan kata maaf, perihal kepergiannya yang tanpa pamit, juga tentang kecelakaan itu yang membuatnya berada disisi pria lain.
Iwan menggeleng, ia mengelus pucuk kepala Kiran dengan sayang. Ia berkata, bahwa ia lah yang bersalah.
Keduanya seolah berebut, mengakui kesalahannya masing-masing.
"Abi, ada sesuatu yang ingin kami katakan," ucap Aslan setelah suasana mereda dari isak tangis.
Yuli yang sudah mengetahui apa yang akan dikatakan sang anak pun lalu mendekati Kiran, dan memeluk tubuh sang menantu dari samping.
"Kiran hamil Abi," jelas Aslan dengan tersenyum, sementara Iwan bergeming. Tetap diam sampai Aslan selesai menceritan semua keajaiban itu.
Berulang kali Iwan mengucap syukur, berterima kasih tak putus-putus. Allah masih berbaik hati pada keluarganya yang sudah banyak berbuat Dosa.
"Jadi, Fahmi sekarang tinggal di Malaysia?" tanya Iwan, baik Aslan ataupun Kiran keduanya mengangguk mengIyakan.
Lagi, Iwan mengelus kepala Kiran dengan sayang.
"Ran, percayalah pada Abi dan Umi, kami tidak akan menyia-nyiakan mu lagi," terang Iwan, ia masih takut Kiran belum sepenuhnya percaya pada Maaf yang ia dan Yuli ucapkan.
Mendengar itu, Kiran tersenyum, mengangguk kecil.
"Baik Abi," Aslan yang menjawab, lalu semuanya terkekeh.
Sudah cukup, sudah cukup air mata selalu menghiasi keluarga mereka. Kini Aslan ingin memulai semuaanya dari awal. Memperbaiki apa yang salah dan mengusahakan apa yang kurang.
Keimanan mereka.
__ADS_1