
Saking sesak hatinya, kedua netra Alana sampai terasa memanas, air mata itu seolah tak bisa dibendung lagi.
Ternyata, mendengar Altar ingin membatalkan perjodohan mereka rasanya sesakit ini.
Hatinya, seolah diremat dengan paksa.
Jengah melihat Alana yang hanya diam, Altar pun berbalik, hendak pergi dari dapur.
Namun niatnya terhenti, saat tiba-tiba tangan dingin Alana menahan lengannya.
Altar kembali berbalik, dengan wajahnya yang dingin itu, ia melihat Alana menangis.
Seketika, kemarahan Altar hilang seketika, ia bahkan langsung mendekat dan menghapus air mata itu.
"Kenapa menangis?" tanya Altar, ia sampai harus sedikit menunduk untuk menatap lekat kedua netra Alana yang basah.
Perbedaan tinggi tubuh mereka sangat ketara.
Dan bukannya menjawab pertanyaan Altar. Alana malah langsung mengikis jarak, memeluk tubuh kekar Altar dengan erat.
Menumpahkan semua air matanya di dada bidang itu, ingin sesak yang ia rasakan menghilang.
Diperlakukan seperti ini oleh Alana, seketika hati Altar menghangat. Ia memang butuh sebuah pelukan, untuk masalah yang sedang ia hadapi, perihal ibu Wid.
Dengan perlahan pula, Altar menggerakkan kedua tangannya dan membalas pelukan Alana.
Sejenak, tak ada kata. Hanya terdengar isak tangis Alana yang semakin mereda.
Dan saat suara tangis itu benar-benar hilang, Altar perlahan melerai dekapan mereka, kembali menatap Alana lekat.
"Kenapa menangis?" tanya Altar sekali lagi.
Dan Alana mengigit bibir bawahnya, mengumpulkan semua keberanian untuk bicara jujur.
Dengan menunduk, Alana pun mulai menjawab, "Aku tidak ingin kita membatalkan perjodohan ini Al, maafkan aku," lirih Alana pelan.
Dan Altar yang mendengar itupun sedikit mengulas senyum.
Ia pun sungguh tak ingin perjodohan ini batal. Entah perasaan apa yang ada dihatinya untuk Alana. Namun hanya Alana lah yang ada di bayangannya ketika ia membayangkan masa depan.
__ADS_1
Ketika membayangkan kelak akan menikah dan memiliki sebuah keluarga.
"Kamu ingin kita berpacaran? aku tidak mau," balas Altar, sedikit menggoda, ia sedikit mengulum senyum namun Alana tidak tahu. Gadis ini masih setia menunduk.
Altar tak ingin ada hubungan itu, karena dia tidak ingin ada kata putus.
"Tidak, kita tidak perlu berpacaran, seperti yang kamu bilang, tidak usah mempersulit semuanya. Yang jelas, saatnya tiba nanti, kita akan menikah," jawab Alana lagi. Anggaplah ia menelan ludah sendiri, namun setiap kali mengatakan kejujuran dihatinya itu, hatinya perlahan jadi lega sendiri.
Seolah beban yang terasa ia lepas satu per satu.
Tak tahu harus menjawab apa lagi, Altar akhirnya kembali menarik kedua lengan Alana dan memeluknya erat.
Hanya itu jawaban dia, namun Alana cukup yakin jika Altar mengiyakan keinginannya.
Mereka, sudah sepakat untuk tidak membatalkan perjodohan itu. Dan hanya tinggal menunggu waktu, kelak mereka akan menikah.
Di dalam dekapan Altar, Alana mulai mengukir senyum. Bahkan membalas pelukan Altar dengan lebih erat.
Diam-diam, Agung dan Widya mengintip kelakuan anak dan calon menantunya. Bahkan Agung tanpa segan mengambil foto Altar dan Alana yang sedang berpelukan itu.
"Ayo sayang kita pergi, jangan ganggu mereka," bisik Agung, setelah puas mengambil beberapa foto.
"Tidak apa-apa Mas mereka ditinggal, bagaimana jika mereka melakukan lebih?" jawab Widya, berbisik pula.
"Biarkan saja, bukannya kita akan senang kalau mereka khilaf?" bisik Agung lagi lalu menarik sang istri untuk menjauh dari sana. Bibir Agung terus tersenyum membayangkan kekhilafan itu.
"Bukannya kita ingin mereka nikah muda? jadi biarkan saja mereka khilaf," ucap Agung lagi saat keduanya sudah sampai di ruang tamu.
Dan mendengar ide suaminya itu, Widya pun menganggukkan kepalanya pula, Setuju.
Ya, baik mereka ataupun Aslan dan Kiran memang menginginkan anak-anaknya menikah diusia muda.
Tidak seperti mereka, yang terbilang sangat telat. Menikah diusia yang sangat matang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai urusan bubur, Alana pamit pulang.
Pulang dengan perasaan yang jauh lebih lega daripada tadi, kini seolah yang mengganjal dihatinya benar-benar telah menghilang.
__ADS_1
"Besok jemput aku," pinta Alana, pada calon suaminya itu.
Saat ini Altar mengantar kepulangan Alana hingga sampai didepan gerbang, dari sana pun gerbang rumah Alana sudah terlihat dengan jelas.
"Kenapa tidak pergi dengan Sisil?" tanya Altar, sungguh-sungguh. Tak ada maksud apapun, apalagi jika untuk menyindir calon istrinya ini perihal tadi pagi.
Tapi Alana yang baperan, mengira Altar sedang menyindirnya.
Alana cemberut dengan bibir yang mengerucut.
"Aku tidak akan pergi bersama Sisil lagi, aku akan pergi bersamamu terus," jawab Alana ketus. Dan melihat itu, Altar malah terkekeh.
"Baguslah," balas Altar pula.
Tak sampai lama, Alana benar-benar pulang ke rumahnya. Altar, melepas kepergian calon istrinya itu dengan sebuah cubitan di pipi.
Cubitan yang membuat Alana terus tersenyum meski sudah sampai di dalam rumah.
Kembali bertemu orang tuanya yang masih setia di ruang tengah.
Melihat anaknya kembali dengan raut wajah bahagia itu, Aslan dan Kiran lagi-lagi saling pandang, sama-sama mengulum senyum.
Mereka sudah bisa menebak lewat wajah anaknya itu, jika Altar lah yang sudah membuat senyum Alana kembali.
"Ibu wid tadi makan bubur mu tidak?" tanya Kiran, menyelidik.
"Makan kok Bu," jawab Alana, dengan bibir mesem-mesem.
"Ada Altar nggak?"
"Ada Bu," jawab Alana singkat, pipinya berubah jadi bersemu.
Aslan yang melihat gelagat anaknya ingin sekali terbahak, namun sekuat tenaga ia tahan.
"Sebentar lagi kan kalian ujian naik kelas, lebih baik kamu dan Altar belajar sama-sama. Kamu bantu Altar agar bisa memahami pelajaran kalian," kata Kiran lagi, memberi saran yang menguntungkan untuk semua orang.
Altar dan Alana akan banyak menghabiskan waktu bersama. Berharap nilai Altar akan naik dan hubungan keduanya pun jadi semakin dekat.
Mendengar saran sang ibu, Alana pun langsung tersenyum antusias. Setuju sekaligus membenarkan.
__ADS_1
"Iya juga ya Bu. Besok akan katakan pada Altar untuk belajar bersama," jawab Kiran, cepat.
Aslan dan Kiran pun menganggukkan kepalanya.