
Siang itu, Aydan pulang ke rumahnya. Sebelum nanti sore, ia mulai mengajar les privat untuk kedua gadis bernama Anja dan Jani.
Di rumah, ia hanya disambut oleh sang ibu, dengan takdzim lelaki itu menyalimi tangan Kiran. Dan meminta izin untuk masuk terlebih dahulu ke dalam kamar.
Setelah melaksanakan sholat Dzuhur, lelaki berparas tampan itu menyantap makan siang, ditemani sang ibu yang sudah makan lebih dulu.
"Bu, nanti sore Aydan izin ya." Ucapnya setelah kunyahan di mulut itu habis, tertelan masuk ke kerongkongan.
Kiran mengerutkan dahi. "Kemana?" Tanyanya, tak biasanya sang putra keluar di jam-jam tersebut.
"Aydan mau belajar bareng temen-temen." Balasnya dengan senyum mengembang. Ia tidak bohong bukan? Anja dan Jani adalah temannya, dan mereka akan belajar bersama.
"Baiklah kalau begitu. Yang penting jangan lupa waktu." Pesan Kiran, seraya mengelus kepala putra sulungnya dengan sayang.
"Siap, Bu. Nanti kasih tahu ayah aja ya." Takut kalau Aslan belum datang, dan dia sudah pergi.
Dan Kiran hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Satu lagi, jangan lupa cari pacar," timpal Kiran lagi, dengan senyumnya yang mengembang.
Dan Aydan hanya mampu menghembuskan napasnya pelan.
"Iya nggak?" desak Kiran.
"Iya iya."
Mendengar jawaban terpaksa anak sulungnya itu, Kiran tetap tersenyum. Setelah tak ada Alana, kini tinggal Aydan lah yang menjadi tempat meledekny.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aydan kembali ke kamarnya, ia menyiapkan beberapa buku yang sekiranya perlu ia bawa untuk materi nanti sore.
Ia juga sudah menyiapkan beberapa soal, untuk ia ajukan pada Anja dan Jani, kalaupun dua gadis itu tidak sanggup mengerjakan, akan ia jadikan soal-soal itu sebagai PR.
Agar kedua gadis itu, mampu berpikir lebih luas lagi tentang pelajaran.
Pemuda itu mengulum senyum, merasa lucu sendiri dengan dirinya. Membayangkan ia menjelaskan seperti seorang guru, ah tidak. Dia tidak pernah berpikir seperti ini sebelumnya.
__ADS_1
Aydan memutuskan untuk tidur siang, ingin mengistirahatkan otak sejenak, dengan mengatur alarm, supaya tidak kebablasan.
Dan benar saja, tubuhnya terasa lebih rileks, dan kepalanya terasa lebih fresh, setelah ia bangun dari tidur.
Aydan mulai bersiap-siap, setelah mandi ia memakai setelan lengkap, dibilang ingin mengajar, lelaki tampan itu justru terlihat seperti ingin berkencan.
Wajah manisnya yang menurun dari Aslan benar-benar kentara, lelaki itu tersenyum, di balik kaca yang menampilkan seluruh tubuhnya.
"Aku tampan juga ya ternyata." Pujinya pada diri sendiri, karena kalau bukan kita siapa lagi?
Selesai dengan penampilan, Aydan pamit pada sang ibu. Membawa kijang besi itu kembali ke tempat dimana ia menimba ilmu.
Tepat pukul 4 sore, Aydan sudah sampai di perpustakaan kampus. Namun, kedua gadis yang sudah janjian dengannya, sama sekali tak terlihat batang hidungnya.
Mungkin masih di jalan. Gumamnya meyakinkan, lalu duduk di kursi besi yang ada di depan perpustakaan tersebut.
Hingga tak berapa lama kemudian, suara Anja dan Jani yang sudah cukup dihafal oleh Aydan, memenuhi gendang telinga lelaki tersebut.
Wajahnya berpaling, kedua netra pekat itu melihat jelas, kedua kembar cantik, Anja dan Jani sedang berjalan ke arahnya.
Tapi tunggu!
Hingga siapa saja, tak ada yang berani mendekati dua adik kembarnya itu. Lihat, tatapannya saja sudah sangat membunuh, seperti dapat menguliti orang secara hidup-hidup.
"Kamu udah nunggu lama disini?" Tanya Anja lebih dulu, memecah suasana canggung diantara Aydan dan juga Zayn.
Baru pertama bertemu, sudah seseram ini, bagaimana kalau bertemu setiap hari. Gumam-gumam dalam hati Aydan.
"Enggak, aku baru aja dateng kok." Balas Aydan sedikit gugup, lalu mengulurkan tangan ke arah Zayn berniat menyapa seniornya itu.
"Ini pasti Kakaknya Anja dan Jani ya." Sapa lelaki itu lebih dulu. Meski tak dipungkiri ia sedikit gemetaran, tapi semoga saja Zayn tidak menyadarinya.
"Tidak perlu basa-basi, cepat lakukan tugasmu!" Cetus Zayn, ia menganggap bahwa lelaki di depannya ini hanya berpura-pura pintar saja, supaya bisa mendapatkan hati adiknya.
Ia masih tak percaya, jika dia belum melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Aydan mampu melakukan itu semua. Mengajar kedua adik kembarnya yang sedikit bebal.
Anja dan Jani hanya saling pandang, sedikit geleng-geleng kepala, melihat tingkah Kakaknya. Selalu saja begitu. Tidak pernah berubah.
__ADS_1
Sedikit ragu, akhirnya Aydan mengangguk pelan, lalu memimpin di depan untuk masuk ke perpustakaan.
Begitu mereka duduk, lelaki itu langsung mengeluarkan buku-buku pelajaran yang ia bawa, beberapa makalah sebagai bahan referensi. Dan buku catatan soal yang sudah dia buat sendiri.
Pun dengan dua kembar itu. Mereka langsung mengeluarkan buku dan satu pulpen milik masing-masing.
Anja dan Jani mulai fokus mendengarkan apa yang Aydan jelaskan.
Tampak begitu menarik, apalagi bibir tipis yang tengah bergerak-gerak itu, entah rasanya seperti apa, kedua gadis itu malah berpikir yang tidak-tidak.
"Ada yang ingin kalian tanyakan?" Aydan menjeda, karena sepertinya kedua muridnya sedang tidak fokus pada apa yang ia jelaskan. Ada hal lain yang Anja dan Jani perhatikan.
Mendengar itu, sontak keduanya kembali sadar.
"Coba diulang, Pak. Kurang ngerti saya." Sudah seperti sekolah sungguhan, Jani menyebut Aydan dengan sebutan pak, dan saya untuk dirinya sendiri.
Lelaki itu menghela nafas, sedikit kesal. Namun, mengingat ada Zayn, ia tidak bisa berkutik sedikitpun.
Padahal bibirnya juga pegal sedari tadi mengejalaskan terus menerus, tetapi si murid seperti tidak mendengarkan.
Sabar Aydan.
Akhirnya dengan sedikit menekan rasa kesalnya. Aydan kembali menjelaskan pelajaran sore hari ini dengan begitu rinci.
Lelaki itu menegaskan, tidak ada lagi pengulangan. Ia meminta Anja dan Jani fokus, bila tidak. Ia rasa cukup, pelajaran tidak akan dilanjutkan lagi.
Kedua kembar itu menurut, kali ini mereka benar-benar mengikuti apa arahan Aydan. Jani sesekali manggut-manggut, begitu pun dengan Anja.
Mulut mereka tak berhenti untuk mengucap "Oh begitu, ternyata begitu, itu sih aku tahu."
Sedangkan Zayn yang melihat itu, mulai sadar, kalau Aydan memang benar-benar pintar. Tidak hanya sekedar modus, untuk menjerat kedua adik kembarnya. Seperti kebanyakan lelaki.
Hatinya tenang, baru kali ini, ia melihat lelaki seperti Aydan. Sudah jarang, seorang lelaki mau belajar dengan keras, bahkan mengalahkan kaum perempuan.
Ada uluman senyum kecil di bibir lelaki itu. Di pertemuan pertama mereka ini, ia langsung tertarik pada Aydan. Apalagi menyadari tingkah adiknya di depan lelaki itu.
Sepertinya Anja dan Jani juga suka padanya. Pantas saja bersikeras meminta dia jadi guru privat.
__ADS_1
Lagi, Zayn merasa lucu sendiri. Mengingat tingkah dua gadis itu, saat merengek-rengek meminta izin untuk les privat.