
Setelah acara lamaran dadakan itu. Dua Minggu kemudian. Acara pernikahan Jani dan Aydan sepakat di gelar.
Di rumah Jihan. Nampak tenda-tenda sudah dipasang, disemai dengan ikatan-ikatan bunga berwarna-warni di setiap tiangnya.
Menggantung dengan kain putih, tanda suci pernikahan yang akan segera dilangsungkan hari ini.
Dari pintu masuk sampai pelaminan, karpet merah terhampar. Sementara kursi-kursi tamu berjajar.
Rumah itu benar-benar disulap dengan apik, seperti istana yang akan menjadi tempat huni raja dan ratu.
Satu meja disediakan, lengkap dengan beberapa kursi. Tempat dimana acara sakral akan dilangsungkan, tempat janji suci Aydan di hadapan Tuhan.
Di kamar.
Jani sudah selesai dirias, wajah cantik dengan polesan make up. Sementara tubuhnya berbalut kebaya putih, lengkap dengan hijab di kepalanya.
Semua itu membuat aura dalam diri Jani benar-benar semakin kentara. Lengkungan senyum sempurna, seperti tidak akan pernah habis, terus terukir di bibir gadis itu.
Terdengar suara ketukan pintu, Jani menoleh, terlihat Jihan dan Anja yang memakai baju senada menghampirinya dengan senyum mengembang.
Sepertinya keluarga mempelai pria sudah datang. Dan dia akan dijemput untuk dibawa keluar.
"Masyaallah, cantiknya anak ibu." Puji Jihan pada putrinya.
Hari ini gadis itu memang nampak terlihat berbeda. Seolah ada pancaran cahaya yang tidak biasa. Membuat Jani terlihat semakin cantik dan mempesona.
Rona merah itu jelas terlihat, dipuji seperti itu membuat Jani semakin tersipu.
"Ibu bisa aja, Jani malu tahu." Balasnya dengan senyum malu-malu.
"Dih, pake acara malu-malu segala. Biasa malu-maluin juga." Cibir Anja, yang langsung mendapat tabokan dari adiknya.
"Sudah, sudah." Jihan melerai, kebiasaan kalau sudah berdua pasti tidak pernah akur.
Tapi kalau jauh bilangnya rindu. Anak kembarnya ini memang terlihat aneh, tetapi percayalah mereka sebenarnya saling menyayangi.
"Nak, Aydan sudah menunggu di depan bersama kedua keluarga besarnya. Ayo." Ajak Jihan seraya menggenggam tangan sang anak, tangan yang terasa dingin.
Namun, Jani malah bergeming, ia menatap Jihan dan Anja bergantian. Keduanya kompak mengulum senyum, tanda ikut berbahagia.
Entah kenapa, dengan melihat itu Jani malah ingin menangis, seolah perpisahan sudah ada di depan mata.
Air matanya luruh, ketika sang ibu dengan sayang memeluk bahunya. "Anak ibu kenapa menangis?" Tanya Jihan lembut, menatap sang putri dari pantulan kaca di depan mereka.
Ditanya seperti itu, bukannya berhenti, tangis Jani malah makin menjadi. Anja memberikan sekotak tisu ke pangkuan Jani.
"Jangan nangis, nanti make up kamu luntur." Anja mengingatkan, lalu membantu kembarannya itu mengelap sisa-sisa air mata itu pelan-pelan.
Tak dipungkiri, Anja pun sedang menahan itu. Hanya saja, ia sedang menahannya agar tidak tumpah.
Ia yakin, kalau ikut menangis. Jani juga tidak akan berhenti untuk menangis pula.
__ADS_1
"Bu, memangnya kalau menikah harus ikut suami ya, Bu? Kenapa nggak Aydan aja nanti yang ikut kesini." Tanya Jani, sedikit sesenggukan, dengan pelupuk mata yang masih menggenang.
Mendengar itu, Jihan justru mengulum senyum. Mengerti kekhawatiran sang anak yang akan mulai jauh dari sisinya.
Pelan, Jihan menunduk, memberikan senyum terbaik serta tatapan teduhnya.
"Nak, Aydan itu akan menjadi imammu. Kemanapun dia pergi, kamu harus mengikutinya. Tapi ingat, sampai kapanpun, pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu. Selagi Aydan memberikanmu izin, datanglah." Terang Jihan panjang lebar.
Wanita paruh baya itu mengusap-usap bahu sang anak yang sudah naik turun. Lalu menatap Anja, yang ikut berkaca-kaca.
Akhirnya, tangis mereka pecah. Tumbuh bersama, selama bertahun-tahun, nyatanya membuat perpisahan ini terasa berat.
Sama halnya dengan Anja dan Jani. Air mata Jihan pun ikut menderas, tetapi ini adalah bentuk kebahagiaan, bukan kesedihan yang harus terus ditangisi.
Terasa cukup lama mereka dalam posisi seperti ini. Akhirnya Jihan melerai, semua orang diluar pasti sudah menunggu mereka.
"Ibu panggilkan tukang make up nya lagi yah. Habis itu kita keluar." Ucap Jihan, mengelus kepala Anja dan Jani bergantian.
Lalu melenggang keluar, meninggalkan dua kembar tersebut.
Anja kembali memeluk erat Jani, setelah ibunya pergi, dia malah semakin sesenggukan. "Kalo kamu pergi, nanti siapa yang aku ajak berantem dong, yang ajak aku buat seru-seruan."
"Kan ada Kak Zayn." Balas Jani tak kalah sesenggukan.
"Mana mau Kak Zayn perang bantal sama aku, yang ada aku malah dikarungin sama dia." Rengek Anja. "Kalo aku ikut kamu aja gimana? Aku numpang hidup gitu sama suami kamu." Sambungnya sambil mengelap hidungnya yang basah.
Plak!
"Jangan ngaco, lagi sedih juga. Malah becanda." Balas Jani ketus dengan suara yang bergetar-getar.
Dan pertanyaan itu tidak Jani jawab. Karena Jihan masuk dengan tim Mua yang akan memperbaiki riasan di wajah Jani.
Akhirnya Anja menarik diri, memeluk sang ibu yang ada di sampingnya, sambil sesekali menyeka ujung matanya.
Tak berselang lama, riasan di wajah Jani terlihat kembali sempurna. Dengan saling mengulum senyum.
Anja dan Jihan mengapit Jani untuk keluar, menemui semua orang.
Seketika suasana riuh, saat sang pengantin keluar dari dalam sana. Berjalan dengan jejuta pesona yang membuat mata Aydan tak mampu berkedip, memandang makhluk indah, yang sebentar lagi sah menjadi istrinya.
Jani sudah sukses duduk di samping Aydan, saling melirik sekilas, membuat senyum di kedua bibir itu mengembang.
"Acieee.." Tiba-tiba semua orang.
Makin malulah dua pengantin ini, sampai-sampai kegugupan kembali menyapa Aydan.
Lelaki itu berulang kali membuang nafas, mencoba untuk tenang.
Sedangkan MC kembali bersuara, membuka acara sakral, ikatan janji suci pernikahan antara Jani dan Aydan.
Setelah muqodimah dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
__ADS_1
Arick langsung menjabat tangan Aydan. Lelaki itu dengan lantang menyerahkan sang putri, membuat hubungan antara Jani dan Aydan menjadi halal.
Aydan, mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan sekali tarikan napas.
Bahkan kata Sah, langsung menggelegar memenuhi acara itu.
Sah!
Alhamdulillah.
Gema ucapan syukur langsung terucap oleh semua orang.
Kecuali satu, Alana. Ibu hamil itu justru memekik kesakitan seraya memegangi perut besarnya.
Usia kandungan yang sudah masuk sembilan bulan, membuatnya diwanti-wanti menjelang hari kelahiran.
Hingga sepertinya, tepat hari ini, si jabang bayi sudah tidak sabar ingin keluar.
Semua orang panik dan heboh, apalagi Altar yang sedari tadi memegangi tubuh sang istri yang hampir limbung. Mengingat usia Alana yang terbilang sangat muda untuk hamil, membuat semua anggota keluarga sedikit ketar-ketir.
"Ibu Kiran, ini bagaimana, Bu?" Tanya Altar panik, bahkan peluh di dahinya mengucur deras. Tak tega, melihat Alana yang kesakitan.
"Sayang, apa rasanya sakit sekali?" Tanya Kiran, dan mampu dijawab anggukan oleh Alana.
"Mas, Altar. Sepertinya Alana akan melahirkan." Ucap Kiran membuat semua orang membelalakkan mata.
Dan Jihan membenarkan itu. "Iya sepertinya dia sudah kontraksi. Sebaiknya kita segera membawanya ke rumah sakit."
Dan semua orang mengangguk menyetujui. Tanpa menunggu waktu lagi, semua anggota keluarga dan besan membawa Alana ke rumah sakit.
Tak terkecuali sepasang pengantin yang baru saja resmi itu. Dengan menggunakan kebaya lengkap dengan riasannya, Jani dan Aydan ikut melihat Alana.
Sesampainya disana, Alana langsung dibawa ke ruang persalinan.
Sedangkan Jani yang sedikit kesusahan tertinggal di belakang bersama Aydan. Baju yang serta riasan yang berat, membuat dia tidak bisa berjalan cepat.
Hingga akhirnya, tanpa aba-aba, Aydan menggendong pengantin wanitanya. Jani yang terkejut reflek mengalungkan tangan di leher Aydan.
Kedua netra mereka kembali bertemu, lalu sama tersenyum malu-malu. Ah, indahnya pengantin baru.
Semua orang menunggu di luar. Hanya Altar dan Kiran yang menemani Alana berjuang di dalam sana.
Gurat cemas dan tak tenang, jelas tergambar. Namun, mereka semua kompak berdoa di dalam hati, untuk keselamatan Alana dan juga bayinya.
Hingga tak berapa lama kemudian. Terdengar suara bayi yang pecah, memekik telinga.
Alhamdulillah.
Bagai terlepas dari beban, semua orang kompak mengucap kata syukur itu. Bahkan Agung sampai bersujud di lantai, atas kelahiran cucu pertamanya.
Dia ingat betul, Widya sangat menginginkan kehadiran bayi mungil itu, dan dia sangat bahagia. Akhirnya cita-cita sang istri tercapai.
__ADS_1
Sedangkan di dalam sana. Altar tak berhenti mengecup seluruh wajah istrinya. Ia bahagia akhirnya sang istri mampu membawa putri kecil mereka lahir kedunia.
Putri yang sangat cantik, yang mereka beri nama Selina putri.