
Duduk di depan cermin meja rias, Kiran tak hanya merapikan rambutnya, tapi juga memberi sedikit riasan diatas wajahnya yang sudah terlihat segar. Ia mandi lebih dulu sedari pulang dari acara lamaran Agung, kini sang suami sedang berda di dalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya pula.
Aydan, malam ini tidur di kamarnya sendiri, ditemani oleh Desi.
Berdiri, Kiran kembali memperhatikan pantulan dirinya sendiri di dalam cermin itu.
Lingeri tipis berwarna merah maroon sudah melekat ditubuhnya, kain itu tak sedikitpun menutupi lekuk tubuh Kiran, malah semakin membuatnya terlihat menganga.
Mengulum senyumnya, saat melihat dirinya sendiri.
Tapi malam ini, Kiran sudah mempersiapkan semuanya. Bukan hanya ingin memberi adik kepada Aydan, tapi Kiran juga ingin memuaskan sang sumi. Sudah hampir satu minggu mereka tidak memadu kasih.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, nampaklah Aslan keluar dari sana. Menggunakan handuk yang melingkar penuh dipinggang. Bahkan dadanya masih dialiri sebagian air yang bersarang dirambut.
Melihat suaminya itu, Kiran hanya mampu menelan salivanya, lalu bersandar di meja rias dan menyilangkan kedua kakinya, menggoda.
Dan Aslan? Ia tersenyum, lalu berjalan mendekati sang istri yang sudah membuat hasratnya bangkit.
“Siapa kamu?” tanya Aslan, karena disaat seperti ini, Kiran akan berubah jadi orang lain, tak seperti Kiran biasanya. Kiran akan jadi lebih genit, nakal dan agresif, tapi anehnya Aslan begitu menyukai perubahan istrinya itu.
Dan benar saja, bukannya menjawab, Kiran malah mengikis jarak. Menyentuh bahkan membelai dada suaminya yang terbuka nyata. Hingga membuat Aslan mendongak, menikmati sentuhan istrinya yang memabukkan.
“Aku diatas ya?” tawar Kiran dengan suara menggoda, dan tanpa babibu, Aslan langsung mengangkat tubuh istrinya itu, melemparnya diatas ranjang hingga lingeri Kiran tersingkap.
Kiran menjerit, terkejut. Tapi ia begitu menyukai permainan kasar sang suami.
Dan entah bagaimana awalnya, kini tubuh keduanya telah menyatu. Lenguhan keduanya terdengar merdu seperti musik klasik yang menghanyutkan.
Tak hanya berbagi saliva, keduanya pun berbagi peluh. Entah sudah berapa kali Kiran terkulai lemas dengan denyutan dasyat, tapi Aslan tak juga menyudahi hentakkannya.
Hingga tengah malam, lenguhan panjang Aslan terdengar.
Larva hangat itu masuk sampai kebagian paling dalam rahim sang istri, entah terlalu banyak atau bagaimana, bahkan ada sebagian pula yang mengalir keluar.
Lagi, napas keduanya saling memburu.
Dari dagu Aslan bahkan jatuh setetes paluh diatas dada sang istri yang masih naik turun, terengah.
Keduanya mengukir senyum tipis, mengingat percintaan panas mereka malam ini.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Kiran izin tidak masuk, sedangkan Aslan hanya masuk setengah hari.
Sudah sepakat menambah momongan, mereka tak bisa lagi menahan-nahan untuk tidak menyatu seperti selama ini.
Meski Kiran izin untuk tidak masuk, tapi pagi ini Kiran tetap pergi dari rumah seperti biasanya. Namun bukan ke kantor, melainkan ke sebuah hotel dan menunggu sang suami disana.
Drt drt drt
Ponsel Kiran bergetar diatas ranjang hotel.
Kiran yang sedang duduk di meja rias pun langsung mengambil ponsel itu, melihat ada panggilan masuk dari sahabatnya, Agung.
Tak perlu pikir panjang, Kiran langsung menjawab panggilan itu. Lalu saling mengucapkan salam.
“Ku kira kamu sakit, ya sudah kalau baik-baik saja,” ucap Agung setelah Kiran selesai bercerita, mengatakan bahwa ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama keluarga.
“Hem,” jawab Kiran singkat.
“Eh, tunggu-tunggu,” timpal Kiran kemudian.
“Ada apa?”
Tapi ia tetap harus mengucapkannya.
“Terima kasih Ran, tapi maaf, mulai sekarang kamu bukan wanita satu-satunya dihidupku. Aku akan mendahulukan Widya baru kamu dari semua urusan,” jelas Agung, ucapannya itu hanya candaan, namun Kiran malah mencebik menahan agar air matanya tidak keluar.
“Iya, aku tahu,” jawab Kiran singkat dengan suara yang bergetar.
Agung bisa merasa, jika sahabatnya itu akan menangis.
“Ayo kita buat janji,” ucap Agung lagi yang tak ingin Kiran makin bersedih, meski Kiran nampak keras, tapi Agung tahu, jika hati Kiran begitu lembut.
“Janji apa?” tanya Kiran dengan suara yang tak ada semangat-semangatnya sedikitpun.
“Janji untuk menikahkan anak-anak kita nanti.”
Mendengar itu, entah kenapa bibir Kiran yang mulanya cemberut mendadak tersenyum lebar.
“Ogah!” jawab Kiran dengan sombongnya.
__ADS_1
Dan mendengar nada ketus sang sahabat mulai kembali, Agung diujung sana tersenyum kecil.
“Aku tidak akan memaksa anak-anakku untuk menikahi seseorang, terserah mereka mau menikah dengan siapa,” jelas Kiran lagi.
“Ya, dan aku pastikan, salah satu diantara anak kita akan menikah,” jawab Agung percaya diri.
Dan terjadilah lagi perdebatan diantara keduanya, tapi perdebatan itu bukannya memperkeruh keadaan, tapi malah memperbaiki semuanya. Rasa sedih, takut kehilangan atau apapun itu hilang begitu saja, mereka tetaplah sama, seorang sahabat, meski nanti akan banyak perubahan diantara keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebelum adzan subuh, Aslan sudah menyusul sang istri di hotel yang mereka sepakati. Masuk ke kamar 3021, dimana Kiran menunggu.
Sajian makan siang sudah tersusun rapi didalah satu meja.
Sebelum menyantap makan siang romantis itu, keduanya melaksanakn shalat zuhur berjamaah.
Kali ini ada satu doa yang mereka tambah, keduanya sama-sama memohon untuk kambali diberikan kepercayaan memiliki keturunan.
Hingga saat terdengar Aslan mengucapkan kata Amin, Kiran pun melakukan hal yang sama, Amin. Gumamnya pelan.
Dan selesai shalat itu, keduanya memutuskan untuk makan siang bersama. Makan didalam kamar hotel itu pula.
“Berasa kayak bulan madu ya Mas?” tanya Kiran dengan terkekeh, ia sedang menyajikan beberapa makanan didalam piring sang suami.
Mendengar itu, Aslan malah merasa bersalah, ia malah merasa selama ini belum pernah membahagiakan Kiran.
“Maafkan aku ya Ran, dulu aku tidak memberikanmu bulan madu,” jawab Aslan kemudian.
“Kalau dulu, Mas ajak aku bulan madu, aku juga belum tentu mau,” jawab Kiran yang lagi-lagi dengan kekehannya.
Jadi teringat, awal-awal hubungan mereka dulu.
Hubungan yang tanpa cinta, namun sekuat tenaga membentuk sebuah keluarga.
Hingga lambat laun cinta itu bersemi pula.
“Kenapa Mas minta maaf? Harusnya aku yang minta maaf,” timpal Kiran lagi. Dan Aslan bergeming, belum tahu arah pembicaraan sang istri.
“Karena sampai sekarang, aku masih belum bisa menjadi istri yang baik untukmu, aku tidak sempurna,” kata Kiran dengan tatapannya yang dalam.
Kiran cukup sadar diri, ia masih jauh dari kata sempurna. Untuk urusan yang sederhana saja, shalat contohnya, Aslan masih sering mengingatkan dia, bukan sebaliknya.
__ADS_1
Aslan lalu menggenggam salah satu tangan Kiran yang berada diatas meja, mengecup punggung tangan itu dengan penuh cinta.
“Kamu tidak akan bisa sempurna, aku juga begitu, karena itulah sekarang kita bersama. Untuk saling melengkapi apa yang kurang, hingga kata sempurna itu bisa kita raih, til Jannah.”