Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 109


__ADS_3

Turun dari dalam mobil, Kiran berjalan penuh percaya


diri memasuki toko baju milik keluarganya, menaiki anak tangga menuju pintu


utama toko itu. Pintu yang otomatis terbuka ketika ada orang yang akan lewat.


Sampai di dalam, Hana langsung menyambutnya dengan


begitu ramah, bahkan Hana sedikit menudukkan kepala, tanda hormatnya.


Hana juga langsung memperkenalkan diri dengan layak,


dan membimbing Kiran untuk melihat seisi toko itu, memeriksa beberapa karyawan


yang masih sibuk bekerja.


Melihat sikap Hana yang begitu profesioanl, Kiran


mengukir senyumnya tipis. Merasa jika ia sudah salah menilai wanita ini.


Maka dari itu, Kiran pun akan bersikap profesional.


“Kalian tidak punya baju seragam?” tanya Kiran,


seraya terus berkeliling, toko baju lantai 2 yang cukup besar. Kantor dan


tempat istrirahat para karyawan terletak di lantai satu, sebelah kiri dari toko


ini.


Sementara didedan kantor, baju-baju tersusun rapi,


bahkan ada beberapa manekin yang berjajar. Juga laintai 2 yang penuh dengan


baju-baju kualitas premium, bukan barang bermerek namun memiliki kualitas yang


baik.


“Tidak ada Bu, kemarin pak Iwan sudah berniat


membuatkan seragam, tapi belum terealisasi,” jelas Hana apa adanya.


Dan Kiran menganggukkan kepala, memegang baju yang


menurutnya bagus.


“Harusnya yang ini yang dipasang di tubuh manekin


itu,” jelas Kiran kemudian, mengambil satu stel baju yang dihangeri lalu


diangkatnya tinggi.


Hana pun ikut memperhatikan pula, baju pilihan Kiran


itu.


Baju berwarna peach pastel dengan corak bunga-bunga


yang nampak begitu cantik, senyum Hana terukir, merasa jika kini ia sudah


menemukan Bos yang tepat. Yang mengerti tentang fashion dan segala sesuatunya


tentang trend.


“Akan saya ganti,” jawab Hana mantap, dan Kiran


langsung memberikan baju itu pada Hana.


“Aku bisa berkeliling sendiri, kamu kembali saja


bekerja,” titah Kiran dan Hana mengangguk.


Lalu meninggalkan Kiran, berdiri disana sendirian.


Menelisik tiap sudut ruangan, hanya melihat saja,


sudah banyak sekali ide dikepalanya yang bermunculan tentang rencananya untuk


toko ini, ingin begini dan ingin begitu. Jujur saja, Kiran jadi lebih


bersemangat.


Seolah ia mempunyai tantangan baru yang harus


diselesaikan dengan baik.


Hingga dering ponselnya membuat Kiran berhenti

__ADS_1


melangkah, lalu memilih duduk di kursi sofa yang tersedia untuk para


pengunjung.


Sang suami menelpon.


Tanpa mengulur-ngulur, Kiran langsung menjawabnya.


“Assalamualaikum Mas,” jawab Kiran, riang, dari


suaranya saja Aslan bisa merasa jika saat ini istrinya itu sednag tersenyum.


“Walaikumsalam, sayang,” balas aslan yang ikut


tersenyum pula.


“Kamu sudah ditoko?”


Kiran mengangguk, “sudah,” jawabnya singkat.


“Bagimana? Apa kamu menyukainya?” tanya aslan lagi,


menyelidik.


“Sangat suka, apa aku boleh buat studio foto disini


Mas?” tawar Kiran hingga membuat Aslan mengeryit bingung.


Saat Aslan bertanya untuk apa, Kiran langsung


menjelaskan semuanya dengan rinci. Kiran ingin, membuat Hana menjadi model


untuk semua baju yang dijual disini. Hana masih muda dan memiliki wajah cantik


dan tubuh proporsional, dengan membuat kemasan baju yang lebih WAH, pasar yang


mereka jangkau bisa lebih luas lagi.


Bukan hanya mengandalkan pembeli setia dan dari


mulut ke mulut. Namun juga pasar global, menggunakan sosial media yang bisa


dijangkau dunia.


Aslan tersenyum, tak menyangka jika Kiran akan


“Aku sudah mempercayakan semuanya padamu sayang,


jadi kelolalah toko itu sesuai keinginanmu,” jawab Aslan, dan Kiran yang


mendengar itu makin tersenyum lebar.


“Terima kasih sayang,” balas Kiran dengan suaranya


yang mendayu-dayu.


“Tapi nanti malam, aku akan tetap tidur di kamar


Aydan,” timpal Kiran lagi lalu terkekeh.


“Jadi, aku dapat imbalan apa atas kemurahan hatiku


padamu?” Aslan berucap dengan nada tak terima,seolah merasa rugi jika tidak


mendapatkan apa-apa.


“Mandi bareng lagi,” bisik Kiran, agar para pembeli yang


berada didekatnya tak bisa mendengar ucapan vulgarnya itu.


Dan diiujung sana Aslan terkekeh.


Cukup lama keduanya saling bertukar cerita, hingga


Aslan lebih dulu memutus sambungan teleponnya, karena ada nasabah yang ingin


menemui dirinya.


Selesai memutus sambungan telepon itu, Kiran


langsung menuju ruang kerjanya yang baru, ruangan yang beberapa hari lalu


ditempati oleh sang suami.


Ruangan itu nampak besar dan banyak pula sisi yang


kosong. Lagi-lagi otaknya langsung mendapatkan ide.

__ADS_1


“Sabar Ran, satu satu,” ucap Kiran pada dirinya


sendiri.


Dengan bibir yang terus tersenyum itu, Kiran mulai


duduk di kursi kerjanya.


Hal pertama yang harus ia lakukan adalah memperbaiki


sistem manajemn toko ini, mengetahui keadaan keuangannya dan transparansi uang


masuk dan juga uang keluar.


Agar semuanya tertata dengan rapi dan memudahkannya


untuk membuat program baru.


****


Sore hari jam pulang kerja, Kiran lebih dulu datang


di rumah.


Mulai bekerja di toko, Kiran memutuskan hanya akan


bekerja setengah hari. Apapun yang akan terjadi, nanti setiap zuhur ia akan


pulang ke rumah.


Terdengar suara berisik di arah taman belakang,


Kiran yang penasaran pun langsung bergegas kesana. Ternyata, sang anak dan


pengasuhnya pun sedang melihat ribut-ribut itu.


Beberapa orang sedang membuat sebuah kolam kecil,


didekat kolam renang milik mereka.


“Buat apa?” tanya Kiran langsung saat ia sudah


berdiri tepat disebelah sang ibu mertua yang juga ada disana, lengkap ada Iwan


juga.


“Mana salamnya?” hardik Yuli dengan tatapan tajam,


Kiran langsung cengir kuda dan memulai dari awal.


“Assalamualaikum Umi,” ucapnya lembut, bahkan sangat


lembut hingga membuat Yuli geli sendiri dan sedikit menyesal meminta Kiran


untuk mengucapkan salam.


“Abi ingin buat kolam ikan koi, gara-gara lihat


punya pak Kasdi, Abi jadi pingin,” jelas Yuli apa adanya. Orang yang


dibicarakan pun langsung mengikuti senyum Kiran tadi, enyum cengir kuda.


Dan Kiran terkekeh melihtanya.


Dalam hati kecil Kiran, ia pun merasa bahagia, kini


keadaan Iwan sudah semakin membaik, ia bahkan jadi lebih banyak bercengkrama


dengan para tetangga dan mulai menikmanti masa tuanya, sesuatu yang ingin Aslan


dan Kiran lihat.


“Umi tidak ingin buat-buat juga seperti Abi? Taman


kupu-kupu misalnya?” tanya Kiran sungguh-sungguh, namun Yuli malah merasa


diledek


“Kalau Umi butuhnya bukan taman kupu-kupu.”


“Lalu?”


“Taman yang penuh dengan cucu-cucu,” timpal Yuli


lalu terkekeh, sedangkan Kiran langsung mencebik, untuk buat taman cucu-cucu ia


harus hamil berapa kali, pikirnya lalu bergidik ngeri.

__ADS_1


Dan melihat itu, kekehan Yuli makin keras terdengar.


__ADS_2