
Turun dari dalam mobil, Kiran berjalan penuh percaya
diri memasuki toko baju milik keluarganya, menaiki anak tangga menuju pintu
utama toko itu. Pintu yang otomatis terbuka ketika ada orang yang akan lewat.
Sampai di dalam, Hana langsung menyambutnya dengan
begitu ramah, bahkan Hana sedikit menudukkan kepala, tanda hormatnya.
Hana juga langsung memperkenalkan diri dengan layak,
dan membimbing Kiran untuk melihat seisi toko itu, memeriksa beberapa karyawan
yang masih sibuk bekerja.
Melihat sikap Hana yang begitu profesioanl, Kiran
mengukir senyumnya tipis. Merasa jika ia sudah salah menilai wanita ini.
Maka dari itu, Kiran pun akan bersikap profesional.
“Kalian tidak punya baju seragam?” tanya Kiran,
seraya terus berkeliling, toko baju lantai 2 yang cukup besar. Kantor dan
tempat istrirahat para karyawan terletak di lantai satu, sebelah kiri dari toko
ini.
Sementara didedan kantor, baju-baju tersusun rapi,
bahkan ada beberapa manekin yang berjajar. Juga laintai 2 yang penuh dengan
baju-baju kualitas premium, bukan barang bermerek namun memiliki kualitas yang
baik.
“Tidak ada Bu, kemarin pak Iwan sudah berniat
membuatkan seragam, tapi belum terealisasi,” jelas Hana apa adanya.
Dan Kiran menganggukkan kepala, memegang baju yang
menurutnya bagus.
“Harusnya yang ini yang dipasang di tubuh manekin
itu,” jelas Kiran kemudian, mengambil satu stel baju yang dihangeri lalu
diangkatnya tinggi.
Hana pun ikut memperhatikan pula, baju pilihan Kiran
itu.
Baju berwarna peach pastel dengan corak bunga-bunga
yang nampak begitu cantik, senyum Hana terukir, merasa jika kini ia sudah
menemukan Bos yang tepat. Yang mengerti tentang fashion dan segala sesuatunya
tentang trend.
“Akan saya ganti,” jawab Hana mantap, dan Kiran
langsung memberikan baju itu pada Hana.
“Aku bisa berkeliling sendiri, kamu kembali saja
bekerja,” titah Kiran dan Hana mengangguk.
Lalu meninggalkan Kiran, berdiri disana sendirian.
Menelisik tiap sudut ruangan, hanya melihat saja,
sudah banyak sekali ide dikepalanya yang bermunculan tentang rencananya untuk
toko ini, ingin begini dan ingin begitu. Jujur saja, Kiran jadi lebih
bersemangat.
Seolah ia mempunyai tantangan baru yang harus
diselesaikan dengan baik.
Hingga dering ponselnya membuat Kiran berhenti
__ADS_1
melangkah, lalu memilih duduk di kursi sofa yang tersedia untuk para
pengunjung.
Sang suami menelpon.
Tanpa mengulur-ngulur, Kiran langsung menjawabnya.
“Assalamualaikum Mas,” jawab Kiran, riang, dari
suaranya saja Aslan bisa merasa jika saat ini istrinya itu sednag tersenyum.
“Walaikumsalam, sayang,” balas aslan yang ikut
tersenyum pula.
“Kamu sudah ditoko?”
Kiran mengangguk, “sudah,” jawabnya singkat.
“Bagimana? Apa kamu menyukainya?” tanya aslan lagi,
menyelidik.
“Sangat suka, apa aku boleh buat studio foto disini
Mas?” tawar Kiran hingga membuat Aslan mengeryit bingung.
Saat Aslan bertanya untuk apa, Kiran langsung
menjelaskan semuanya dengan rinci. Kiran ingin, membuat Hana menjadi model
untuk semua baju yang dijual disini. Hana masih muda dan memiliki wajah cantik
dan tubuh proporsional, dengan membuat kemasan baju yang lebih WAH, pasar yang
mereka jangkau bisa lebih luas lagi.
Bukan hanya mengandalkan pembeli setia dan dari
mulut ke mulut. Namun juga pasar global, menggunakan sosial media yang bisa
dijangkau dunia.
Aslan tersenyum, tak menyangka jika Kiran akan
“Aku sudah mempercayakan semuanya padamu sayang,
jadi kelolalah toko itu sesuai keinginanmu,” jawab Aslan, dan Kiran yang
mendengar itu makin tersenyum lebar.
“Terima kasih sayang,” balas Kiran dengan suaranya
yang mendayu-dayu.
“Tapi nanti malam, aku akan tetap tidur di kamar
Aydan,” timpal Kiran lagi lalu terkekeh.
“Jadi, aku dapat imbalan apa atas kemurahan hatiku
padamu?” Aslan berucap dengan nada tak terima,seolah merasa rugi jika tidak
mendapatkan apa-apa.
“Mandi bareng lagi,” bisik Kiran, agar para pembeli yang
berada didekatnya tak bisa mendengar ucapan vulgarnya itu.
Dan diiujung sana Aslan terkekeh.
Cukup lama keduanya saling bertukar cerita, hingga
Aslan lebih dulu memutus sambungan teleponnya, karena ada nasabah yang ingin
menemui dirinya.
Selesai memutus sambungan telepon itu, Kiran
langsung menuju ruang kerjanya yang baru, ruangan yang beberapa hari lalu
ditempati oleh sang suami.
Ruangan itu nampak besar dan banyak pula sisi yang
kosong. Lagi-lagi otaknya langsung mendapatkan ide.
__ADS_1
“Sabar Ran, satu satu,” ucap Kiran pada dirinya
sendiri.
Dengan bibir yang terus tersenyum itu, Kiran mulai
duduk di kursi kerjanya.
Hal pertama yang harus ia lakukan adalah memperbaiki
sistem manajemn toko ini, mengetahui keadaan keuangannya dan transparansi uang
masuk dan juga uang keluar.
Agar semuanya tertata dengan rapi dan memudahkannya
untuk membuat program baru.
****
Sore hari jam pulang kerja, Kiran lebih dulu datang
di rumah.
Mulai bekerja di toko, Kiran memutuskan hanya akan
bekerja setengah hari. Apapun yang akan terjadi, nanti setiap zuhur ia akan
pulang ke rumah.
Terdengar suara berisik di arah taman belakang,
Kiran yang penasaran pun langsung bergegas kesana. Ternyata, sang anak dan
pengasuhnya pun sedang melihat ribut-ribut itu.
Beberapa orang sedang membuat sebuah kolam kecil,
didekat kolam renang milik mereka.
“Buat apa?” tanya Kiran langsung saat ia sudah
berdiri tepat disebelah sang ibu mertua yang juga ada disana, lengkap ada Iwan
juga.
“Mana salamnya?” hardik Yuli dengan tatapan tajam,
Kiran langsung cengir kuda dan memulai dari awal.
“Assalamualaikum Umi,” ucapnya lembut, bahkan sangat
lembut hingga membuat Yuli geli sendiri dan sedikit menyesal meminta Kiran
untuk mengucapkan salam.
“Abi ingin buat kolam ikan koi, gara-gara lihat
punya pak Kasdi, Abi jadi pingin,” jelas Yuli apa adanya. Orang yang
dibicarakan pun langsung mengikuti senyum Kiran tadi, enyum cengir kuda.
Dan Kiran terkekeh melihtanya.
Dalam hati kecil Kiran, ia pun merasa bahagia, kini
keadaan Iwan sudah semakin membaik, ia bahkan jadi lebih banyak bercengkrama
dengan para tetangga dan mulai menikmanti masa tuanya, sesuatu yang ingin Aslan
dan Kiran lihat.
“Umi tidak ingin buat-buat juga seperti Abi? Taman
kupu-kupu misalnya?” tanya Kiran sungguh-sungguh, namun Yuli malah merasa
diledek
“Kalau Umi butuhnya bukan taman kupu-kupu.”
“Lalu?”
“Taman yang penuh dengan cucu-cucu,” timpal Yuli
lalu terkekeh, sedangkan Kiran langsung mencebik, untuk buat taman cucu-cucu ia
harus hamil berapa kali, pikirnya lalu bergidik ngeri.
__ADS_1
Dan melihat itu, kekehan Yuli makin keras terdengar.