Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 160 - Seperti Gunung


__ADS_3

Mendengar omong kosong Altar, Alana langsung melerai pelukan mereka, lalu menatap tajam pada laki-laki dihadapannya ini.


“Jangan jadi playboy, sudah berapa perempuan yang kamu beri ucapan seperti itu?” tanya Alana dengan nada kesal, mendengar kata cinta dari Altar, bukannya senang Alana malah merasa geram.


Melihat reaksi Alana, Altar pun mengulum senyumnya, lucu. Benar seperti tebakkannya, Alana tidak akan percaya.


“Tatap mataku,” ucap  Altar setelah kekehhanya mereda.


Alana yang sedang kesal pun hanya bisa menurut, ia menatap mata Altar dengan tatapannya yang tajam.


Namun tatapan tajam itu seketika meluruh saat melihat Altar yang menatapnya dalam.  Lalu seperti waktu berhenti berdetik, Alana merasakan altar yang mengecup pipinya sekilas, lalu kembali berdiri dan menatapnya lekat.


Sementara Alana, masih membatu ditempatnya berdiri seraya membalas tatapan Altar tak kalah dalamnya. Darahnya sudah mengalir semakin panas dan ia tak kuasa untuk mengatakan apa-apa. Bahkan untuk berteriak marah pun tak mampu.


“Al, aku tidak ingin banyak bicara, aku hanya ingin menunjukkannya langsung padamu,” ucap Altar. Sungguh-sungguh. Perihal cinta yang ia rasa, hanya akan Altar tunjukkan melalui sikapnya, bukan hanya sekedar kata-kata.


Mendengar itu, Alana tergugu.


Tak menyangka jika meraka akan berada di situasi seperti ini, membahas tentang cinta.


“Al, apa kamu mau menikah denganku? Sekarang, saat ini, dekat-dekat ini, bukan nanti, bukan menunggu kita lulus SMA ataupun lulus kuliah, tapi saat ini,” terang Altar langsung, tak ingin menunda-nunda waktu.


Dan Alana makin dibuatnya terperangah.


“Menikah saat kita masih sekolah SMA?” tanya Alana, dengan mulutnya yang menganga, syok dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


“Jangan bercanda,” timpal Alana lagi,


Lalu melihat Altar yang menggelengkan kepalanya, pelan.


“Aku tidak bercanda, Al” jawab Altar, yakin.


Namun Alana malah menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Menikah itu bukan hanya tentang cinta Al, tapi kesiapan kita, memangnya kamu siap memperistri aku?” tanya Alana serius, Alana sadar, ia belum cukup dewasa untuk bersikap seperti seorang istri. Bahkan ia pun tidak bisa memasak. Bangun masih kesiangan dan malas membereskan kamarnya sendiri.


“Kalau hanya aku sendiri yang siap tidak akan bisa, karena itulah, aku ingin kamu juga siap. Jika kita sama-sama siap, aku yakin kita bisa,” jelas Altar, namun Alana terus menyangkalnya.


“Kenapa mendadak kamu membahas ini?’ tanya Alana dan Altar yang mendengar pertanyaan itu pun seketika tersentak. Bingung harus menjawab apa. Harus jujur atau bagaimana.


Namun ketika ia mengingat ayah Aslan, Altar kembali menemukan ketenangannya. Ayah Aslan sudah berkata bahwa ia akan selalu mendukung dirinya.


“Tadi, ayah Aslan berkata padaku, tentang tanggung jawab sebagai seorang laki-laki,” jelas Altar, mulai mencari pembelaan.


“Aku hanya ingin melindungi kamu Al, aku tidak ingin merusak mu sebelum kita halal. Kamu tahu kan apa maksudku?” tanya Altar lagi dengan suaranya yang pelan,


Alana, cukup mengerti apa maksud Altar itu. Mereka memang masih terlalu muda untuk bicara tentang cinta, namun cukup mengerti tentang dosa yang bisa saja mereka lakukan.


Bahkan kini, mereka sudah saling memeluk erat, meski tahu jika itu tidak boleh dilakukan.


“Pikirkanlah dulu ajakan ku ini, tapi selama berpikir itu jangan menghindari ku, kita tetap seperti biasa, ya?” pinta Altar, ia lalu menggenggam salah satu tangan Alana yang terasa begitu dingin.


Altar menghembuskan napasnya lega, saat melihat Alana menganggukkan kepalanya. Bahkan Alana kembali menurut saat Altar kembali menarik dan memeluknya erat.


Tak ingin munafik, karena iapun merasakan hal yang sama.


Selepas kepergian Altar, Alana masuk ke dalam rumahnya dengan banyak pikiran didalam kepala. Ternyata ayah dan ibunya masih menunggu sang anak untuk masuk, Aslan dan Kiran duduk di ruang tengah kala itu.


Sementara Aydan sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Melihat kedua orang tuanya masih di sana, Alana pun memutuskan untuk ikut duduk dan berniat mengutarakan ucapan Altar tadi padanya, tentang menikah di usia mereka yang masih terbilang sangat muda.


“Bu, Ayah,” panggil Alana, sesaat setelah ia duduk dengan sempurna.


“Ada apa sayang?” Kiran yang menjawab, lalu membenahi duduknya dan kini menatap ang anak.


Malam semakin larut, kini sudah nyaris jam 10 malam. Namun ketiga orang ini masih juga belum mengantuk. Masih sibuk dengan banyaknya pikiran di dalam kepala mereka masing-masing.


Tadi, saat Alana dan altar di depan, Aslan pun mengatakan pada istrinya itu, jika kini Altar sudah tahu tentang penyakit Widya. Juga tentang sarannya, untuk menikahi Alana.

__ADS_1


Kiran nyaris menangis kala mendengar itu, ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Altar.


Namun belum sempat air matanya turun, Aslan langsung menyesap bibir istrinya itu. Tak ingin Kiran menangis saat ini.


Dan kini, Aslan dan Kiran sama-sama tahu, apa yang akan disampaikan anaknya itu. Namun mereka, akan berpura-pura tidak tahu, lalu menjawab sesuai kapasitasnya sebagai orang tua.


“Bu, apa menurut ibu Alana bisa menikah di usia semuda ini?” tanya Alana langsung, ia sangat bingung harus memulai bertanya dari mana, dan hanya satu pertanyaan itulah yang akhirnya bisa ia utarakan.


Mendengar itu, Kedua netra Kiran membola. Pura-pura tidak tahu kemana arah pembicaraan sang anak.


“Apa maksud kamu Al? Menikah muda? Siapa yang mau menikah?” tanya Kiran bertubi. Dan Alana pun langsung menghembuskan napasnya pelan.


Lalu dengan sendirinya, ia mulai menceritakan semua ucapan Altar tadi, tidak ada yang ia kurang-kurangi.


“Benar kata Altar Al, ayah memang ingin kalian menikah saja, ayah tidak ingin kamu dan Altar bersama terlalu lama tanpa ada ikatan, ayah tidak ingin kalian terjerat dosa Nak, menikah itu ibadah, jadi akan lebih baik jika kalian menyegerakannya.”


“Tapi Alana masih sekolah Yah, memangnya ayah mengizinkan Alana menikah diusia ini?” tanya Alana, menggebu dan tidak percaya. Rasanya masih terlalu cepat.


“Al, kamu tidak sendiri sayang, ada ayah dan ibu, juga ada ayah Agung dan Ibu Wid, kami tidak mungkin melepas kalian begitu saja, bahkan setelah menikah, kalian masih dalam pengawasan kami,”  kini Kiran yang menjawab, membuat anaknya yakin.


“Nanti Altar mau kasih makan aku apa, dia kan masih sekolah, belum kerja,” jawab Alana, polos.


Hingga membuat Kiran terkekeh, sementara Aslan menahan kekehannya.


“Sayang, apa perlu kita bahas harta gono gini sekarang?” tawar Kiran pula.


Semenjak keluar dari Showroom mobil, Agung memutuskan untuk membuat bengkel. Saat ini bengkel Agung itu sudah jadi semakin besar, bahkan memiliki cabang dimana-mana. Bengkel itulah yang kini menjadi tumpuan hidup keluarga Agung.


Siapa lagi kalau bukan Altar yang harus mengurus bengkel itu. Bahkan tidak perlu diurus, hanya perlu diperhatikan sesekali dan uang terus mengalir di rekeningnya.


Alana mencebik dan menatap bingung pada kedua orang tuanya itu.


“Kamu tahu Al, gunung itu terlihatnya tinggi sekali, namun saat kita terus berjalan dan mendakinya. Di sana pun nampak sama saja seperti dibawah sini.” Ucap Aslan, setelah cukup lama mereka semua terdiam.

__ADS_1


“Seperti sebuah pernikahan, mungkin bagimu itu terasa sangat sulit sekali, namun ketika kamu menjalaninya, itu tidaklah terlalu susah.”


__ADS_2