Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 7 - Kedatangan Maya


__ADS_3

Malam berganti, bahkan satu hari telah terlewati.


Kiran hanya termenung, melamun dan sesekali ia menghabiskan waktu bersama dua keponakannya Raka dan Rian.


"Kapan izinmu selesai?" tanya Tika sambil menghampiri Kiran yang sedang menonton televisi, tepatnya televisi itu yang menonton Kiran. Karena gadis cantik ini hanya menatap kosong kearah depan.


Kiran tersadar, lalu menoleh dan melihat sang kakak Ipar yang sudah duduk disampingnya. Sekarang jam 4 sore, Fahmi masih belum pulang kerja sedangkan Raka dan Rian sedang mengaji di masjid dekat rumah.


"Kamis mulai masuk Mbak," jawab Kiran datar, tak ada lagi gurat kebahagiaan diwajah cantiknya.


"Ayo temani mbak belanja bulanan, daripada hanya di rumah." ajak Tika antusias.


"Tapi baru seminggu kemarin kita belanja Mbak, persediaan di dapur masih banyak." jawab Kiran dan Tika hanya bisa menelan salivanya, bingung memikirkan alasan apalagi yang bisa ia gunakan untuk kembali membuat Kiran ceria.


Hening, sampai akhirnya terdengar bell rumah mereka berbunyi. Tika yakin itu adalah suaminya, meski sedikit heran, karena biasanya Fahmi sampai di rumah saat jam 5 sore.


Tika bangkit dengan semangat, bergegas menuju pintu utama rumah mereka.


Namun senyum Tika perlahan hilang, saat melihat yang bediri didepan pintu bukanlah sang suami. Melainkan Maya, calon madu adik iparnya.


Maya tersenyum, ditangannya ada sebuah bingkisan yang entah isinya apa.


"Masuk May," ajak Tika ramah, mencoba bersikap sewajar mungkin meski ia bertanya-tanya tentang kedatangan Maya ke rumah ini.


"Mbak Kiran ada tidak, Mbak?" tanya Maya langsung saat mereka sudah sama-sama duduk.


Tika tak langsung menjawab, menimbang mana baiknya, menemukan Maya dan Kiran atau tidak.


"Ada May, tapi dia sedang beristirahat. Kepalanya sedikit pusing," kilah Tika.


"Apa ada sesuatu yang penting, katakan saja nanti Mbak sampaikan?" timpal Tika lagi dan Maya sedikit kecewa mendengar itu.


Ia sengaja datang kesini untuk membujuk Kiran agar menerima lamaran keluarga mereka. Ingin bicara dari hati ke hati sebagai seorang wanita.


Maya hanya terdiam, sesekali melongok ke dalam berharap Kiran akan keluar.


Dan beruntunglah Maya, ketika harapannya itu langsung dapat terkabul. Tiba-tiba Kiran keluar, membawa sekantong plastik hitam berisi barang kenangannya bersama Alfath.


Kiran berhenti melangkah, seketika itu juga tatapannya terkunci pada sesosok wanita yang duduk di sofa dengan senyum lebar.


Menatap kearahnya dengan mata berbinar, sementara ia malah bermuram durja.


Tika mati kutu, entah situasi macam apa ini. Akhirnya ia memanggil Kiran untuk duduk bersama, sementara ia izin untuk masuk lebih dulu.

__ADS_1


Meninggalkan dua wanita ini berdua di ruang tamu.


"Ada apa?" tanya Kiran langsung, tak ingin basa basi dan mengulur waktu.


Bukan langsung menjawab, Maya malah beranjak dari duduknya dan memilih duduk tepat di sebelah Kiran. Ia memberikan sebuah bingkisan pada calon madunya ini.


"Tidak ada apa-apa Mbak, aku hanya ingin memberikan ini," ucap Maya dengan wajah berseri, ingin hubungannya dengan Kiran terjalain layaknya seorang sahabat.


"Apa ini?" tanya Kiran datar, sumpah ia tai suka yang basa basi seperti ini. Katakan saja langsung apa tujuanmu? begitulah yg ada dibenak Kiran.


"Ini hanya hadiah kecil, tanda bahwa aku ingin memiliki hubungan yang baik dengan Mbak Kiran," jawab Maya sambil menatap lekat Kiran yang duduk disampingnya.


"Aku ingin mbak tahu, bahwa aku sudah sangat ihklas mas Aslan menikah lagi, dengan siapapun wanita pilihannya." jelas Maya hati-hati, seolah sedang mengingat-ingat sesuatu dipikrannya.


Maya ingin membuat seolah Aslan lah yang memilih Kiran untuk jadi istri keduanya. Sebagai sesama wanita, Maya tahu betul beberapa hal yang bisa membuat seorang wanita merasa bahagia.


Yaitu merasa dihargai dan dicintai.


Bukannya merasa bahagia, Kiran malah mengeryit curiga. Selama bertetangga, ia dan Aslan tidak pernah memiliki hubungan pertemanan. Hanya cukup tahu satu sama lain.


Bahkan Kiran tak peduli, kala Sekolah Menengah Keatas Aslan sedang dibully oleh teman-temannya.


Wanita pilihannya? Kiran menyeringai, merasa lucu dengan kata-kata Maya itu.


Kiran adalah wanita mandiri dan keras kepala sama seperti sang kakak, Fahmi.


Ia lebih suka menyendiri, ketimbang menghabiskan waktunya hanya untuk basa basi. Karena itulah, Kiran dikenal sebagai gadis sombong di perumahannya ini. Kiran juga tak memiliki sahabat, temannya pun lebih banyak teman pria daripada wanita.


Maya mencoba tersenyum, sudah ia tebak jika Kiran memanglah wanita yang tak punya kelembutan hati. Dengan sifat kasarnya itu makin memantapkan hatinya untuk memilih Kiran sebagai istri kedua sang suami.


Dengan begitu, baik Kiran ataupun Aslan tidak akan pernah bisa bersatu dalam ikatan cinta, meski mereka terikat dalam sebuah pernikahan.


"Jadi Mbak sudah memutuskan untuk menerima lamaran mas Aslan?" tanya Maya antusias dan Kiran hanya terdiam dengan wajah datar.


Maya terus bercoloteh tentang banyak hal, sementara Kiran hanya setia mendengarkan.


Meninggalkan Maya dan Kiran, Tika yang sedang asik menonton televisi di ruang tengah mulai terganggu, saat ponsel diatas meja terus saja bergetar tanpa henti.


Itukan ponsel Kiran.


Tanpa ragu, Tika langsung mengambil ponsel itu. Ponsel yang sudah diatur untuk tidak bisa menerima panggilan. Hanya pesan saja yang bisa masuk kesana.


Tak terkejut sedikitpun, saat Tika melihat banyak pesan masuk dari satu nama, Alfath.

__ADS_1


Penasaran, akhirnya Tika membuka beberapa pesan itu.


Kenapa kamu terus menghindariku Ran? jangan bersikap kekanak-kanakan, jangan buat aku semakin marah.


Baiklah, aku menyerah, jika kamu tidak juga membalas pesanku, aku akan kembali datang ke rumahmu.


Tunggu, besok kita akan menikah siri.


Setelah itu aku akan mengirimu ke Bandung, disana kita akan membangun rumah tangga kita.


Jangan cemaskan mas Fahmi dan mbak Tika, aku yakin lambat laun mereka akan menerima hubungan kita kembali.


Jika kami sudah memiliki anak, baru aku akan memberi tahu Dinda.


Ran?


Ran?


Aku tidak butuh balasanmu, besok aku akan tetap datang.


Aku mencintaimu, Ran.


Tangan Tika terkepal, bahkan ia meremat dengan kuat ponsel itu.


Ia tak terima jika Alfath sampai tega berbuat sejahat itu, menikahi siri adik iparnya dibelakang sang istri.


"Kamu benar-benar bejat Fath, jangan harap kamu bisa membawa Kiran pergi dari rumah ini." gumam Tika penuh dengan amarah.


"Mbak, ada apa?" tanya Kiran, Maya sudah pulang dan ia juga sudah membuang kantong plastik hitamnya di tong sampah.


Saat masuk, ia melihat sang kakak ipar yang diselimuti amarah, sekaligus dengan menggenggam ponsel miliknya.


"Mbak benar-benar kecewa padamu Ran, dimana harga dirimu? dimana?" bentak Tika, ia menangis saat kata-kata kasar itu keluar dari mulutnya.


Ini adalah kali pertama ia memarahi Kiran.


Kiran hanya tercenung, gamang.


"Mbak tidak mau tahu, nanti saat mas Fahmi pulang, katakan kamu bersedia menikah dengan Aslan."


Setelah mengatakan itu, Tika memberikan ponsel Kiran dengan kasar. Lalu berlalu masuk ke dapur meninggalkan Kiran sendirian.


Perlahan, Kiran menghidupkan layar ponselnya. Saat terbuka, ia langsung melihat beberapa pesan Alfath disana.

__ADS_1


Tak punya sanggahan, Kiran hanya mampu menghela napasnya letih. Kini ia benar-benar tak punya lagi alasan untuk menolak.


__ADS_2