Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 163 - Jangan Ragu


__ADS_3

Mendengar ucapan Alana itu, kedua netra Altar langsung membola. Ia bisa mendengar dengan jelas, jika Alana memintanya untuk menikahi dia.


“Benarkah? Jadi kamu mau menikah denganku sekarang? Tidak perlu menunggu nanti saat kamu lulus kuliah?” tanya Altar bertubi, ia bahkan menahan dagu Alana agar gadisnya ini terus menatap kearahnya, tidak lagi menunduk.


Ditanya beruntun seperti itu, Alana malah bingung sendiri. Bingung harus menjawab yang mana dulu.


“Kamu mau menikah denganku?” tanya Altar sekali lagi dan dilihatnya Alana yang mengangguk dengan kedua pipi yang sudah merah merona.


Melihat itu, Altar langsung mengucapkan kata Yes! Dengan sangat antusias, lalu menangkup wajah Alana dengan kedua tangannya dan kembali mengecup sekilas bibir ranum sang calon istri.


Di perlakukan seperti itu, Alana makin merasa malu, dengan tubuhnya yang terasa semakin panas.


“Terima kasih Al,” ucapan Altar, setelah kebahagiannya mereda. Dengan Alana menyetujui pernikahan ini, ia tak hanya bisa memiliki Alana secara utuh, namun ia juga bisa membahagiakan sang ibu.


“Kenapa berterima kasih,” tanya Alana lirih, mendengar kata itu, ia malah merasa tak suka.


“Kenapa jadi murung?” tanya Altar pula, saat melihat wajah Alana yang mendadak cemberut.


“Aku berterima kasih karena kamu mau mempercayai aku. Aku berjanji Al, aku akan melakukan apapun, untuk membuatmu merasa beruntung menikah denganku diusia muda ini, aku akan terus membuatmu bahagia,” ucap Altar bersungguh-sungguh,


Apapun akan ia lakukan untuk Alana, wanita yang begitu dicintainya, wanita yang sudah mau menerima dirinya disaat seperti ini.


“Tapi aku takut Al,” ucap Alana lirih. Hingga membuat Altar bergeming, senyumnya yang terkembang lebar perlahan menyurut.


“Apa yang membuatmu takut Al?” tanya Altar, pelan. Ia  bahkan mengambil jarak pada sang gadis, duduk kembali dengan sempurna di kursinya dan menggenggam erat kedua tangan Alana.


“Katakan padaku, apa yang membuatmu takut?”


Hening,


Alana tak langsung menjawab, ia menatap kedua netra Altar yang menatapnya lekat, tatapan hangat yang begitu membuatnya merasa nyaman.


“Aku takut, kamu akan bosan, lalu nanti kita malah bercerai saat usia kita sudah beranjak dewasa,” jujur Alana. Seperti yang ada dalam benaknya.


Dengan menikah saat ini, maka mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama, bahkan bisa jadi mereka akan terus bersama hingga seumur hidup.


Alana takut, Altar malah akan  bosan dan kelak meninggalkan dirinya.


“Kamu belum tahu kan sifat buruk ku seperti apa? Bagiamana jika setelah menikah nanti, ternyata kamu tidak menyukai pribadiku, aku tidak mau jadi janda muda,” lirih Alana lagi, hingga membuat Altar mengulum

__ADS_1


senyumnya.


“Al, kenapa pikiranmu jauh sekali?” tanya Altar, dengan masih berusaha menahan gelak tawa.


Pikiranku memang sangat jauh, aku bahkan sudah membayangkan bagaimana malam pertama kita nanti. Jawab Alana, yang hanya berani ia ucapkan didalam hati.


“Aku sudah mengenalmu sejak  aku lahir di dunia ini, kalau tidak percaya tanyalah ayah Agung,” seloroh Altar, hingga membuat Alana mencebik. Mereka sama-sama tahu, jika ayah Agung sudah mengenalkan mereka, beberapa jam  setelah Altar lahir ke dunia ini, Agung selalu menceritakan masa lalu itu pada mereka berdua.


“Bahkan aku masih ingat dengan jelas, kamu punya tanda lahir di dada kiri mu, iya kan?” tanya Altar, hingga membuat Alana


mendelik.


Sejak kecil mereka sering mandi hujan bersama, hingga Altar bisa mengingat dengan jelas tanda itu.


“Aku sudah sangat  mengenalmu dengan baik Al, kamu selalu berpikir buruk tentangku,. Iya kan?” selidik Altar lagi.


“Kamu suka menyimpulkan apapun, tanpa bertanya lebih dulu apa kebenaranya. Aku benci sekali sikapmu yang itu,” jujur Altar kemudian.


“Kamu selalu berucap kasar dan semaunya, tanpa memikirkan perasaan orang lain, apa lagi yang aku tidak tahu tentang kejelekan mu?”


Alana terdiam, kenapa jadinya ia terlihat buruk sekali dimata Altar.


“Tapi kamu harus tahu satu hal Al, sehari saja aku tidak melihatmu rasanya aku sangat rindu. Sehari saja aku tidak melihat wajah ketus mu itu, aku jadi kepikiran,” jujur Altar. Hingga membuat Alana menunduk, malu.


“Ya?” Tanyanya lagi hingga membuat Alana mengangguk kecil.


“Ku rasa hujannya masih lama, aku akan tetap turun dan mengambilkan mu payung. Jangan tahan aku lagi, aku tidak ingin khilaf di mobil ini,” ucap Altar, lalu segera turun dan menembus hujan itu.


Meninggalkan Alana yang  wajahnya kembali terasa panas. Ucapan Altar itu membuat pikirannya terbang kemana-mana, memikirkan khilaf  yang dibicarakan Altar.


“Ya Ampun Alana, kenapa kamu jadi mesum begini.” gerutu Alana, merutuk dirinya sendiri.


Alana malah merasa, jika ia jadi lebih mesum dibanding altar.


“Hii,” ucap Alana, seraya bergidik.


Tak lama kemudian, Altar mengetuk jendela pintu mobil Alana. Seketika itu juga, Alana segera membuka pintu dan keluar dari sana.


Menemui Altar yang menjemputnya menggunakan payung berwarna hitam.

__ADS_1


“Tuh kan, tubuhmu basah,” kata Alana, melihat tubuh Altar yang sudah basah kuyup.


“Aku baik-baik saja,” jawab Altar, dengan bibir yang terus mengukir senyum.


Keduanya terus berjalan beriringan, melihat  ibu Kiran yang menunggu mereka di teras rumah.


“Aku mencintaimu Al,”  bisik Altar, disaat mereka nyaris saja sampai di teras sana.


Alana mengulum senyum, dan membisikkan kata yang sama.


“Aku mencintaimu Al,”


Seperti anak remaja yang saling mengucapkan kata cinta, namun terdengar seperti omong kosong. Namun bagi Alana dan Altar, itu bukan omong kosong lagi, karena nyatanya, memang itulah yang mereka rasa.


Dengan tubuhnya yang sudah basah kuyup, Altar segera bergegas pulang.


Ternyata sang ibu, Widya pun sudah menunggu anaknya itu, ia membuka pintu rumahnya dan duduk di ruang tamu.


Membawa handuk dan siap menyambut sang anak.


Hingga terdengar suara deru mobil, Widya pun langsung bangkit. Lalu tak lama melihat anaknya yang berlari menuju rumah.


“Alhamduliah, kamu sudah pulang,” kata Widya, ia langsung mengeringkan rambut sang anak dan menyelimutkan handuk itu pada anak laki-lakinya ini.


Seluruh tubuh Altar basah kuyup, namun sang anak tak nampak kedinginan sedikitpun.


Altar malah tersenyum lebar dengan kedua netra yang berbinar.


“Kamu sepertinya bahagia sekali,” tebak Widya, ia lalu menarik sang anak untuk segera masuk ke dalam rumah.


“Iya Bu, aku memang sedang bahagia, ibu ingin tahu apa yang membuatku bahagia?” tanya Altar pula, seraya menatap sang ibu sekilas, dan terus berjalan masuk ke dalam rumah.


“Apa?” tanya Widya, yang ikut tersenyum. Melihat anaknya bahagia, ia pun merasa bahagia pula.


“Aku dan Alana memutuskan untuk menikah bu, sekarang, bukan nanti saat kami sudah dewasa.”


Seketika langkah Widya terhenti, dan altar pun mengikuti.


“Kamu serius?”

__ADS_1


Altar mengangguk.


Saat itu juga air mata Widya luruh, merasa haru, kebahagian yang tiba-tiba memasuki hatinya secara penuh.


__ADS_2