Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 41


__ADS_3

Tanpa kata-kata, Aslan langsung meninggalkan meja informasi rumah sakit. Kini ia berlari lebih cepat, ingin segera keluar dan menuju rumah sang kakak ipar.


Disana, ia sangat berharap bisa menemui Fahmi dan menanyakan tentang keberadaan sang istri.


"Maaf Bu, izinkan saya memakai taksi ini. Saya mohon," pinta Aslan pada salah satu pengunjung rumah sakit yang lebih dulu mendapatkan taksi di depan rumah sakit itu.


Wanita paruh baya yang melihat mata Aslan berembun pun hanya bisa mengangguk. Entah kenapa, mendadak ia iba. Tanpa berdebatan, ibu itu memberikan taksinya pada Aslan.


"Terima kasih Bu," ucap Aslan seraya buru-buru memasuki taksi itu dan si Ibu lagi-lagi hanya bisa mengangguk.


"Tolong lebih cepat Pak, saya sangat buru-buru," kata Aslan pada sang supir. Tapi hanya sedikit saja supir itu menambah kecepatan. Pasalnya ia tak bisa sesuka hati.


Di dalam mobil ini, Aslan dilanda kebingungan.


Lagi, ia mencoba menghubungi Fahmi.


"Ya Allah, kenapa nomor mas Fahmi tetap tidak aktif," lirihnya setelah panggilan itu terputus. Panggilan yang tanpa jawaban.


Cukup lama, akhirnya ia sampai di rumah Fahmi. Rumah yang bersebelahan langsung dengan rumah milik kedua orang tuanya.


Tanpa babibu, ia langsung mencoba masuk.


Namun sia-sia, karena gerbang rumah itu pun sudah terkunci rapat. Seperti mendadak buta, Aslan kehilangan arah dan tujuan.


Matanya memanas, menahan amarah yang bercampur kesedihan.


Merasa hilang kendali, Aslan mengambil batu berukuran besar dipinggir jalan. Bertubi, ia memukuli gembok pagar itu dengan batu yang ia bawa.


Tapi sayang, usahanya tetap sia-sia. Gembok itu tetap bergeming mengunci rumah sang majikan.


"Ya Allah," gumam Aslan, dengan napas gusar ia melemparkan batu itu asal.


Perlahan, ia mundur dan memperhatikan rumah bernuansa putih itu. Rumah yang terlihat jelas sudah tak berpenghuni.


"Dimana kamu Ran? kenapa pergi tanpa memberi tahuku?" lirihnya dengan tatapan hampa.


"Tunggu, mungkin Umi dan Abi tahu tentang ini," ucapnya lagi dengan penuh pengharapan.


Kembali Aslan berlari, kini ia menuju rumahnya sendiri.


Tanpa mengetuk pintu dan mengucap salam, Aslan masuk begitu saja menerobos rumah.


"Umi! Abi! May!" teriaknya mencari semua orang.


Tak butuh waktu lama, Yuli menghampiri.


"Ya Allah Lan, kenapa teriak-teriak? dan kenapa kamu kacau begini Nak?" tanya Yuli bertubi, ia cemas, dilihatnya sang anak yang datang dengan napas terengah. Dahinya dipenuhi peluh dan bajunya yang terlihat berantakan.


"Umi, dimana Kiran Umi? kenapa di rumah sakit tidak ada, bahkan rumah mas Fahmi pun sekarang kosong. Katakan Umi, katakan kemana mas Fahmi membawa Kiran pergi?" tanya Aslan. Selesai ia bertanya, Iwan dan Maya datang menghampiri ruang tengah itu.


Ruangan yang terdengar lebih riuh.


Tidak langsung menjawab, Yuli malah menghela napasnya dengan kasar.

__ADS_1


"Tidak perlu kamu cari keberadaan wanita itu. Dia sudah pergi membawa rasa malu dan aibnya sendiri," jawab Yuli dengan suara yang dingin.


Mendengar itu, Maya tersenyum, sementara Aslan gamang, tidak memahami apa maksud ucapan sang ibu.


"Apa maksud Umi?" tanya Aslan dengan suara yang bergetar.


"Ini, dia pergi meninggalkanmu ini." Yuli mengambil selembar kertas dari Pengadilan Agama yang tergeletak diatas meja, gugatan cerai dari Kiran untuk Aslan.


Dengan pikirannya yang kosong, Aslan menerima uluran kertas itu. Dibacanya berulang untuk meyakinkan bahwa yang ia baca tidak salah.


Pelan, Aslan menggeleng.


"Tidak Umi, ini tidak mungkin. Tidak mungkin Kiran melayangkan gugatan ini," jelas Aslan dengan mata yang merah. Hatinya sesak, sakit seperti tertimpa batu besar.


"Kenapa tidak mungkin? dia bahkan bisa memiliki anak dari pria lain dibelakangmu Lan, wanita seperti dia itu bisa melakukan apapun sesuka hati dia. Ya Allah, Umi benar-benar marah jika mengingat semua kelakuan dia," jawab Yuli menggebu.


Dan Aslan menggeleng.


"Apa maksud Umi?" tanya Aslan sekali lagi.


"Kiran keguguran anak Alfath Lan, bukan anakmu! Allah murka kepada mereka berdua, karena itulah terjadi kecelakaan yang menewaskan bayi haram itu," jawab Yuli lantang dan penuh amarah.


Lagi-lagi Aslan menggeleng, tidak membenarkan ucapan sang ibu.


"Kamu tidak percaya pada Umi? Maya saksinya Lan, Maya sendiri yang menyaksikan perselingkuhan mereka. Dia diam karena merasa takut pada wanita itu," jelas Yuli.


Maya yang disebut mulai gemetar, apalagi saat dilihatnya sang suami yang langsung menatapnya dengan dingin.


Gugup, Maya meremat kedua tantannya yang sudah basah dengan keringat dingin.


"Be-benar Mas, aku pernah dengar sendiri mbak Kiran bertelepon mesra dengan Alfath, setelah itu ia meminta pindah dari rumah ini," jawab Maya gugup, namun ia berusaha tetap tegar untuk menutupi kebohongannya.


Melihat sang suami yang hanya terdiam, Maya kembali bersuara.


"Aku menyesal Mas, menyesal karena memilih mbak Kiran sebagai istri keduamu. Ku pikir mbak Kiran bisa berubah, ternyata tidak. Dia bahkan berani menjalin hubungan terlarang di belakangmu. Selama ini aku diam, karena ku lihat Mas begitu menyayangi mbak Kiran. Aku menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan ini semua," jelas Maya, ia mengambil jeda dan melirik ke arah Yuli. Dilihatnya Yuli mengangguk, mengisyaratkan bahwa sebaiknya Maya kembali bercerita.


"Dan ternyata Allah menunjukkan semuanya kepada kita Mas, kecelakaan itu adalah bukti bahwa mbak Kiran berselingkuh, bahkan mereka sampai memiliki anak, astagfirulahalazim," timpal Maya seraya menunjukkan wajah menyesal.


Yuli mengangguk, sementara Iwan hanya terdiam.


Baginya semua masih abu-abu, namun ia juga menyesalkan keputusam Kiran yang menggugat cerai Aslan.


Mendengar itu, Aslan menggeleng kecil. Ia tahu, Maya berbohong, dan menutupi kebohongan yang satu dengan yang lainnya.


"Tadi pagi surat gugatan cerai itu sampai, ceraikanlah mbak Kiran Mas, dengan begitu aku tidak akan merasa bersalah padamu," jelas Maya yakin.


"Benar kata Maya Lan, kemarin Umi dan Maya menemui Kiran. Dia sudah sadar dan membenarkan semuanya. Dia mengakui jika anak itu bukan anak kamu Nak. Itu anaknya dengan pria lain." Yuli menimpali dengan suara yang menekan, seolah ingin membuat Aslan yakin dengan ucapannya.


Jatuh sudah air mata Aslan, tak bisa dibendung.


"Jadi Kiran sudah sadar? dan saat dia sadar, Umi menuduhnya mengandung anak orang lain? Astagfirulahalazim Umi. Kiran baru saja keguguran. Bagaimana bisa Umi setega itu? ya Allah." Aslan mengusap wajahnya frustasi. Seolah menemukan benang merah yang selama ini melilitnya erat.


"May, katakan padaku, apa benar semua ceritamu itu?" tanya Aslan pada istri pertamanya.

__ADS_1


"Apa kamu juga menghasut Umi untuk mempercayai itu semua? ya Allah May, jangan sampai ucapanmu itu jadi Fitnah," Buru-buru Aslan mengambil beberapa lembar foto di dalam tasnya. Foto semua rekaman CCTV yang menangkap kejadian kecelakaan Kiran.


Seteketika itu juga semua orang terperangah, bahkan hingga membuat Yuli menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan.


Sementara Maya mundur dengan kaki yang gemetar. Dilihatnya dengan jelas Kiran yang hendak keluar dari dalam mobil yang masih melaju.


"Itu anakku Umi, itu anakku Abi, itu anakku May," lirih Aslan, setetes air bening jatuh di ujung matanya. Meratapi anak dan istri keduanya yang malang.


"Ini buku kandungan Kiran, usia anakku 4 minggu Umi. 4 minggu lalu adalah waktuku bersama Kiran," jelas Aslan dengan suara yang pelan.


Melihat itu, Maya nyaris jatuh tersungkur. Namun ia masih berusaha berdiri, menahan tubuhnya dengan berpegang pada pinggiran sofa.


"Ma-maafkan aku Mas, maafkan aku," kata Maya dengan derai air mata.


"Aku tidak bisa membagi kamu dengan mbak Kiran Mas. Aku tidak bisa, apalagi sekarang aku sudah hamil. Aku ingin kita kembali seperti dulu Mas, tanpa ada orang ketiga," jelas Maya dengan sesenggukan.


PLAK!


Satu tamparan melayang di wajah ayu Maya, bukan Aslan yang menamparnya, melainkan Yuli.


"Jadi kamu sengaja menghasut Umi, kamu sengaja membohongi Umi dengan semua cerita-cerita mu itu," Bentak Yuli.


"Maafkan aku Umi, maafkan aku," mohon Maya. ia bahkan mengatupkan kedua tangannya didepan dada.


Mendengar itu, Yuli memegangi dadanya yang terasa sesak, "Ya Allah," gumamnya lirih, penuh dengan penyesalan.


"Maafkan aku Abi," ucap Maya mencoba mencari pembelaan.


Namun Iwan tetap bergeming.


"Mas, maafkan aku," pintanya lagi pada sang saumi.


Aslan menggeleng, ditatapnya lekat mata sang istri yang kini sudah tak dikenalinya lagi.


"Kamu yang memaksaku menikah lagi, kamu yang memilih Kiran dan membawanya masuk ke dalam rumah tangga kita. Bukan hanya aku, bahkan Umi dan Abi berulang kali menanyakan kesungguhanmu dan saat itu kamu menjawab IYA dengan mantap," jelas Aslan dengan suara yang dingin.


Tangis Maya makin deras, berulang kali ia menggeleng, tak ingin suaminya kembali buka suara. Ia tahu, Aslan sudah kecewa.


"Dan sekarang, kamu juga berusaha memutuskan tali pernikahan itu. Dimana hati nurani mu May? apa kamu sadar, bahkan selama kita bertiga berumah tangga, Kiran sudah banyak mengalah padamu_"


"Cukup Mas, cukup! aku sadar aku salah. Maafkan aku, aku mohon," pinta Maya sungguh-sungguh.


Pelan, tapi Aslan menggeleng. Cintanya pada Maya sudah terkisis oleh rasa kecewa.


"Harta dan anak-anak adalah cobaan dari Allah May, bagi orang-orang yang berpikir," ucap Aslan dengan suara yang bergetar.


"Kenapa hanya karena itu kamu sampai tega memfitnah sesamamu, mengabaikan semua penderitaan yang sudah dialami Kiran. Kakinya lumpuh dan dia keguguran."


"Maaf Mas, maafkan aku," pinta Maya tak habis-habis, dengan isak tangis yang begitu kuat.


"Setelah anak kita lahir, aku akan menceraikanmu," ucap Aslan tanpa ragu.


Dan Maya langsung ambruk, tersungkur duduk diatas lantai.

__ADS_1


__ADS_2