Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 62


__ADS_3

Sudah saatnya jam makan malam, tapi kedua majikannya tak kunjung-kunjung datang. Sedari Aslan pulang, suami istri ini betah sekali berada di dalam kamar.


Desi, menunggu dengan ragu di meja makan.


"Ku panggil tidak ya?" gumam Desi bingung.


"Tapi kata ibu Yuli, bu Kiran harus makan tepat waktu. Haduh, bagaimana ini?" Desi mulai gelisah, namun dengan semua keraguannya itu, akhirnya Desi berjalan perlahan menuju kamar sang majikan.


"Ketuk nggak ya?" tanyanya pada diri sendiri setelah sampai disana.


Desi kulu kilir, bingung.


"Ketuk sajalah," putusnya langsung.


Tok tok tok


Tok tok tok


Di dalam kamar.


"Mas, itu sepertinya mbak Desi," lenguh Kiran di bawah kungkungan Aslan.


Bukannya berhenti, Aslan masih saja terus menyentak tubuh sang istri.


Pelan, Kiran mendesah.


Tok tok tok


Ketukan itu kembali berbunyi, namun sungguh Aslan tidak peduli. Ia kembali menyesapi pucuk sang istri, hingga Kiran menggelinjang tak karuan. Yang bisa dilakukan Kiran hanyalah meremat rambut sang suami yang bersarang tepat di depan dadanya.


Kakinya menukik hebat, tak kala pelepasan itu datang.


Dan beberapa detik setelahnya, Aslan menyentaknya begitu dalam. Aslan menyusul pelepasan itu.


Melenguh, Kiran dibuatnya.


"Maaf sayang," ucap Aslan terengah, sadar, yang terakhir ini ia sedikit kasar.

__ADS_1


Pelan, Kiran menggeleng.


"Aku juga suka," jawab Kiran dengan tersenyum, ia bahkan sedikit menggigit bibir bawahnya menggoda.


Keduanya melupakan tentang bunyi ketukan pintu beberapa saat lalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi.


Kiran keluar dari dalam kamar bersama sang suami, Aslan. Kiran bergelayut manja di lengan Aslan, mendekapnya erat seolah tak ingin lepas.


"Jam makan siang pulang ya? makan dirumah saja," rengek Kiran, begitu manja.


Melihat perubahan sang istri itu, Aslan mengulum senyumnya. Sumpah demi apapun, ia begitu suka melihat sikap Kiran yang manja begini.


Aslan yakin, ia bawaan si jabang bayi. Meyakini itu, Aslan jadi bertekad untuk memiliki banyak anak bersama Kiran.


"Iya sayang, aku akan pulang," jawab Aslan menyetujui.


Kiran yang kegirangan langsung saja mengecup pipi Aslan sejenak.


Diujung sana, Desi mengulum senyum melihat pemandangan indah itu.


Kini ia tahu, kenapa semalam kedua majikannya itu tidak keluar kamar.


Sedang jenguk dedek bayi, batin Desi yakin lalu terkekeh.


Aslan dan Kiran sampai di meja makan, tak lama setelah itu Desi pun datang. Desi baru saja mengangkat panggilan telepon rumah.


"Mbak, ayo sarapan sama-sama," ajak Kiran sungguh-sungguh. Di rumah ini mereka hanya tinggal bertiga, rasanya begitu tega jika membiarkan Desi makan seorang diri.


Tidak langsung menjawab, Desi malah menampakkan senyum kuda.


"Saya sudah sarapan duluan Bu," jawab Desi jujur. Pagi ini pun, kedua majikannya ini terlalu lama keluar dari dalam kamar.


Bahkan sekarang sudah nyaris jam 8.

__ADS_1


"Oh iya Bu, tadi ibu Yuli telepon, katanya nanti ibu akan datang kesini," terang Desi apa adanya.


"Iya Mbak, terima kasih ya," jawab Kiran, lalu Desi mengangguk dan segera berlalu. Menyelesaikan tugasnya yang belum beres.


"Kenapa umi tidak menelpon ponsel kita saja ya sayang?" tanya Aslan heran, tumben-tumbenan sang ibu sampai menelpon rumah.


Mendengar pertanyaan itu, Kiran langsung merasa bersalah.


"Tadi kan ponsel kita sama-sama bergetar Mas, tapi kata Mas Aslan tunggu dulu," cicit Kiran.


Dan mendengar itu, Aslan mengulum senyumnya. Pagi tadi, mereka memang tidak menyatu. Namun Aslan tetap memberikan pagi yang panas untuk sang istri, memainkam lidahnya di pucuk kembar itu, lengkap dengan memberinya tanda merah.


Tubuh Kiran yang makin berisi, membuatnya tak tahan sendiri.


Hingga rasanya, urusan yang lain bisa menunggu nanti.


"Ya sudah tidak apa-apa," tenang Aslan masih dengan senyum yang ditahan.


Keduanya melanjutkan sarapan mereka. Selesai dengan itu, Kiran mengantar sang suami sampai di teras rumah.


"Jum'at besok ikut denganku ke kantor ya?" ajak Aslan yang rasanya begitu enggan untuk berpisah dengan sang istri. Ia bahkan memeluk pinggang Kiran erat dan menatap penuh cinta.


Pelan, Kiran mengangguk. Meski rasanya aneh untuk ikut suaminya itu ke kantor namun Kiran mencoba tidak peduli. Kini, memang ialah istri Aslan satu-satunya. Bukan lagi Maya.


Tersenyum, Aslan melihat jawaban sang istri.


"Aku pergi dulu," pamit Aslan.


"Iya Mas," jawab Kiran, ia lalu mencium punggung tangan suaminya takzim. Lalu Aslan mencium keningnya cukup lama.


"Bibir juga ya?" pinta Aslan dan Kiran memukul dada suaminya pelan.


"No," jawab Kiran dengan menggeleng, Kiran tahu betul bagaimana suaminya itu, jika sudah sampai dibibir pasti urusannya akan lama.


Memasang raut wajah kecewa, Aslan melepaskan dekapannya.


Lagi, Kiran memukul dada suaminya pelan. Hingga keduanya sama-sama terkekeh dan akhirnya berpisah dengan bibir yang saling mengukir senyum.

__ADS_1


Pagi yang indah.


__ADS_2