Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 37


__ADS_3

Jam 7 pagi.


Tika kembali datang ke rumah sakit.


Ia kini menjaga Kiran sementara Fahmi pulang sebentar untuk membersihkan diri. Fahmi pun menceritakan tentang kepergian Aslan pada sang istri. Mendengar itu, Tika hanya mengangguk tanpa mengeluarkan tanggapan.


Tika sama halnya seperti Fahmi, setelah semalam mendengar Maya yang menuduh adiknya berselingkuh benar-benar membuat Tika marah pada keluarga itu. Apalagi saat melihat Iwan dan Yuli yang hanya diam saja, seolah mendukung ucapan Maya.


Ingin sekali Tika menampar Maya kala itu.


Namun ia tahan, karena masih menghormati para orang tua.


Kini tak peduli ada Aslan atau tidak, Tika akan menjaga Kiran dengan baik.


"Ran, bangun dong, mbak Tika akan menuruti semua keinginanmu kalau kamu bangun sekarang," ucap Tika, ia berkeliling mengamati ruangan itu, mencari colokan listrik untuk mengisi daya ponselnya.


"Kamu mau beli kalung seperti milik almarhum ibu kan? ayo kita beli sekarang juga, mbak akan jual beberapa perhiasan untuk membeli kalung itu," jelas Tika lagi mencoba menarik perhatian sang adik ipar.


Dulu, saat awal-awal Fahmi dan Kiran ditinggal oleh kedua orang taunya, hidup mereka sedikit sulit. Hingga terpaksa, Fahmi harus menjual perhiasan peninggalan sang ibu.


Salah satu kalung yang dijual adalah kalung pemberian sang ayah. Kalung itulah yang ingin Kiran dapatkan kembali, namun harganya tidak murah. Kini kalung berlian itu sudah seharga 200 juta.


"Ran, dengar tidak?" panggil Tika seraya menatap sang adik ipar yang masih tertidur tanpa pergerakan.


Ia menghela napas, berulang kali menyakinkan hatinya untuk jangan bersedih.


Selesai menemukan colokan listrik dan mengisi daya ponselnya, Tika ke kamar mandi. Mencuci mukanya agar hilang semua kesedihan.


Tak berselang lama setelah Tika pergi, jari-jari Kiran bergerak kecil terasa tak bertenaga. Matanya mencoba terbuka meski terasa begitu berat. Belum lagi tenggorokkannya yang terasa begitu kering.


Rasa yang begitu menyiksa.


Mengerjab berulang saat cahaya-cahaya mulai masuk ke dalam netranya.


Ditatapnya langit-langit kamar ini, Kiran tahu kini ia sedang berada di rumah sakit.

__ADS_1


Tak ada siapapun disana, hanya dia seorang diri yang terbaring lemah. Dalam benaknya, hanya ada satu orang yang langsung ingat, suaminya, Aslan.


Dimana mas Aslan? batin Kiran.


Dilihatnya tak ada sosok sang suami disana, hatinya begitu kecewa. Namun saat sayup-sayup terdengar gemericik air di dalam kamar mandi. Senyum Kiran langsung terbit, meski hanya senyum yang sangat kecil.


Mas Aslan. Batinnya lagi yang mulai ceria, tahu jika suaminya tak mungkin meninggakan dirinya.


Ceklek! pintu kamar mandi terbuka dan Kiran menatap lurus kearah pintu itu.


Tika yang baru saja keluar pun langsung melihat ke arah Kiran. Dan betapa terkejutnya dia saat kedua tatapan mereka bertemu.


"Masya Allah Kiran!!" teriak Tika dengan kebahagiaan yang membuncah.


"Alhamdulilah ya Allah, alhamdulilah, kamu sudah sadar," ucap Tika seraya memeluk sang adik yang masih berbaring.


Melihat Tika yang keluar, jujur saja Kiran merasa kecewa. Ia sudah sangat berharap, jika yang berada di dalam kamar mandi itu adalah suaminya, ternyata bukan.


"Kamu mau apa? minum?" tanya Tika setelah melerai pelukkannya sendiri dan Kiran mengangguk.


Tika lalu menaikkan sedikit tempat tidur Kiran dan mulai menuangkan segelas air minum. Menggunakan pipet, ia membantu Kiran untuk minum.


Tak berselang lama, Tika datang bersama dokter Anton. Pria paruh baya ini ikut bahagia kala melihat pasiennya sudah sadarkan diri. Dalam perkiraannya, Kiran akan tersadar setelah 2 setelah operasi patah tulang kaki, karena benturan dikepalanya pun lumayan keras dalam kecelakaan itu.


Tapi seperti memiliki semangat yang lebih, Kiran sadar lebih cepat.


"Alhamdulilah, Kiran sudah melewati masa kritisnya. Sekarang hanya tinggal pemulihan untuk patah tulang kakiny," jelas Anton dengan tersenyum setelah selesai melakukan beberapa pemeriksaan.


"Jika merasa tidak nyaman pada gipsnya langsung katakan ya Ran," ucap Anton lagi dan Kiran mengangguk. Meski sedikt nyeri namun rasa itu tak begitu menyakitkan. Masih dalam batas wajar.


Sementara Tika yang sedari tadi memperhatikan terus saja tersenyum, merasa bahagia. Ia lalu buru-buru mengambil ponselnya dan menghubungi sang suami. Ternyata Fahmi sedang dalam perjalanan kembali ke rumah sakit.


Selesai dengan Kiran, Anton pamit untuk undur diri. Kini tinggalah Kiran dan Tika di dalam ruangan ini. Tadi Anton juga berpesan, jika Kiran bisa langsung dipindahkan ke ruang perawatan yang lebih besar. Kini ia bisa menerima kunjungan.


"Alhamdulilah Ran, ya Allah aku bersyukur sekali kamu sudah sadar, pulih, kata dokter Anton kaki kamu juga akan sembuh, meski membutuhkan waktu," jelas Tika antusias.

__ADS_1


Kata Anton, Kiran harus menggunakan gips paling lama selama 3 bulan. Setelah waktu itu baru gipsny bisa dilepas dan Kiran bisa kembali berjalan dengan normal.


"Iya Mbak," jawab Kiran seadanya.


"Sebentar lagi mas Fahmi akan datang," ujar Tika dan Kiran hanya mengangguk kecil. Ada orang lain yang ia tunggu tapi entah kenapa tak ada firasat bahwa Aslan akan kesini.


Ingat tentang Aslan, membuat Kiran mengingat anak di dalam kandungannya. Seketika itu juga senyum Kiran langsung terbit.


Tangannya bergerak mengelus perutnya dengan begitu lemah.


"Mbak, apa anakku baik-baik saja?" tanya Kiran dan Tika bergeming.


Gamang pada posisinya berdiri.


"Mbak?" panggil Kiran lagi karena Tika malah terdiam, seolah enggan untuk menjawab.


Ya Allah, bagaimana ini? aku tidak tega untuk mengatakan jika baji iti sudah tidak ada ya Allah. Batin Tika yang begitu bingung.


Namun sadar tidak bisa menutupinya, akhirnya Tika mencoba jujur.


"Ran, kamu keguguran. Anak dalam kandunganmu tidak bisa diselamatkan," jawab Tika dengan suara yang begitu lirih.


Kiran terdiam, antara mendengar atau tidak ucapan sang kakak ipar.


"Apa Mbak?" tanya Kiran lagi mencoba memastikan dan makin membuat Tika merana.


"Kamu keguguran Ran," jawab Tika langsung dengan suara yang bergetar.


Kiran terbelalak, ia menggeleng, tak mau menerima kenyataam itu. Bahkan ia belum mengatakan apapun tantang kehamilannya ini pada sang suami. Namun kenapa begitu cepat Allah mengambilnya kembali.


Derai air mata Kiran jatuh, mengutuk kelakuannya sendiri yang melompat dari dalam mobil itu.


Andaikan ia tetap diam, andaikan ia ikuti saja kemanapun Alfath pergi, pasti anaknya masih hidup dan tumbuh di dalam perutnya.


"Ya Allah," lirih Kiran, tak kuasa, hatinya begitu pilu, rasa sakit itu mengalahkan nyeri pada kakinya.

__ADS_1


"Sabar Ran, ikhlas, jangan menangis seperti itu, aku tidak sanggup melihatnya," ucap Tika seraya mendekat dan memeluk tubuh sang adik ipar.


Bukannya mereda, tangis Kiran malah semakin pecah.


__ADS_2