
Sehabis shalat zuhur, Aslan menemani Fahmi untuk pergi ke perusahaan lama kakak iparnya itu, mengambil beberapa berkas. Berada
di dalam satu mobil yang sama hanya berdua saja, Aslan pikir ia dan Fahmi akan merasa canggung.
Tapi ternyata, dugaannya itu salah.
Fahmi kini malah lebih banyak bercerita, memulai
obrolan lebih dulu. Tak ada lagi Fahmi yang bersikap keras seperti dulu, yang
ada hanyalah Fahmi yang begitu hangat.
Sesaat, Aslan pun tertegun. Namun saat ia tersadar, ia terus mengukir senyum.
“Iya Mas, aku dan Kiran memang sekarang sedang
berusaha untuk memberi Aydan seorang adik,” jawab Aslan, tadi Fahmi bertanya tentang perubahan yang terjadi pada adiknya itu, kini Kiran nampak lebih berisi, apa kalian sedang
ingin menambhan momongan? Tanyanya.
Fahmi tersenyum, dalam hatinya pun ia menyetujui
akan hal itu. Perihal anak memang seharusnya tidak perlu ditunda. Karena Allah
adalah sebaik-baiknya pembuat rencana.
“Alhamdulilah, semoga Kiran cepat hamil ya.”
“Aamiin,” sahut Aslan cepat.
“Bagaimana kabar Agung?” tanya Fahmi, saat berniat
berkunjung kesini, Fahmi juga ingin sekali untuk menemui Agung, sahabat Kiran
yang selama ini sudah begitu banyak membantu mereka.
“Alhamdulilah, Mas Agung juga baik Mas, bulan depan
dia akan menikah dengan mbak Widya, manajer mas agung dan Kiran di showroom,”
jelas Aslan rinci.
Mendengar itu, jujur saja Fahmi terkejut, sekaligus
ikut bahagia. Sedikit banyak, Fahmi pun mengenal sosok Widya itu. Seseorang
yang diketahuinya sudah berstatus janda. Tahu Agung akan menikahinya, makin
suka lah Fahmi pada pribadi Agung.
Aslan dan Fahmi terus terlibat dalam perbincangan yang tanpa putus, seolah tak ada lagi dinding pembatas diantara keduanya. Aslan
memang begitu ingin dekat dengan sang kakak ipar, dan kinipun Fahmi sudah
menerima Aslan dengan sepenuh hati.
Maka, terjadilah hubungan baik itu.
Fahmi juga mengatakan, bahwa ia akan menetap di Malaysia. Lalu meminta Aslan untuk menyewakan saja rumahnya yang berada di
samping rumah Aslan itu.
Sampai kapanpun, Fahmi tidak akan pernah menjual rumah itu, karena rumah itu adalah satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya
yang tersisa. Namun fahmi pun merasa sedih, saat melihat rumah itu sudah tak
dihuni, karena itulah ia meminta Aslan untuk menyewakan saja rumah itu.
Tidak perlu mematok harga yang mahal, Fahmi hanya ingin rumah itu dihuni, dirawat dan dijaga.
__ADS_1
Dan Aslan menyanggupinya.
Mereka terus berbincang, hingga tak terasa kini mobil mereka sudah sampai di kantor Fahmi.
Aslan ikut turun bersama kakak iparnya itu, bahkan ikut masuk pula saat Fahmi
menghadap sang atasan.
Tak butuh waktu lama, urusan Fahmi disana usai juga. Mereka berdua, langsung memutuskan untuk pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore hari.
Langit memang nampak lebih gelap, bahkan gerimis pun mulai turun membasahi kota Jakarta sore ini. Namun cuaca mendung itu tak mampu
mengusik kebahagiaan dihati Kiran, wanita ini terus tersenyum sepanjang jalan
ia pulang, menuju rumahnya.
Membayangkan keluarganya yang kini tengah berkumpul membuat hatinya menghangat.
Kiran menepikan mobilnya di sebuah toko kue, membeli beberapa kue yang menjadi kesukaan Raka dan Rian selama dulu mereka tinggal
disini, tak lupa pula beberapa cemilan untuk sang anak, Aydan.
Setelah mendapatkan semua yang ia cari, Kiran
kembali meneruskan perjalanan.
Hingga 20 menit kemudian, ia sampai di rumah.
Masuk, dengan hati yang berbunga-bunga. Namun
langkah Kiran terhenti, saat ia mendengar gelak tawa Raka dan Rian di ruang tengah, Kiran mengintip apa yang terjadi disana. Mbak Tika dan Umi Yuli berebut untuk mengambil foto bersama Aydan, karena kini bayi kecilnya itu menggunakan
baju karakter, berwarna hijau seperti ulat bulu, nampak lucu.
Kiran terpaku, merasa haru sendiri.
Adakah yang lebih indah dari ini? Tanyanya didalam hati, lalu ia menggelengkan kepalanya sendiri. Berulang kali Kiran mengucapkan
kata syukur.
Tak ingin berlama-lama, Kiran segera menghampiri semua keluarganya.
“Assalamualaikum,” ucap Kiran kertika sudah berada diantara mereka.
“Bulek Kiran!” teriak Raka dan Rian, bahkan kedua anak yang berangsur remaja inipun langsung berlari memeluknya, erat. Mereka berdua begitu rindu, pun Kiran juga merasakan perasaan yang sama.
Sejak kecil, Raka dan Rian sudah terbiasa dengan
kehadiran Kiran, dan sudah hampir 2 tahun ini mereka tidak bertemu, hanya
sesekali menatap dari panggilan video.
Tak bisa ditahan, air mata Kiran tumpah juga.
Apalagi saat tiba-tiba Tika pun memeluknya erat.
“Ran.”
“Mbak Tika,” jawab Kiran sesenggukan,.
Keduanya saling memeluk, menumpahkan rasa rindu.
Sore itu, tak hanya ada tangis haru, namun juga rasa lega untuk semua orang. Terlebih Fahmi, melihat tawa lepas sang adik, ia pun
ikut tersenyum pula. Penyesalan memang akan selalu ada, tapi ia tak ingin lagi
__ADS_1
mengungkitnya, Fahmi sadar, memisahkan Kiran dan Aslan dulu adalah keputusan
yang salah.
Namun ia juga bersyukur akan hal itu, karena dengan demikian, ia bisa mengetahui kesungguhan Aslan pada adik kesayangannya itu.
Aku sangat bahagia Ran, melihatmu saat ini hidup
bahagia seperti ini. Batin Fahmi.
Ia teringat, atas janjinya sendiri saat kedua orang tuanya meninggal dulu. Bahwa ia akan selalu melindungi Kiran dan memastikan
adiknya itu hidup dengan bahagia. Semua cara Fahmi lakukan, meski Kiran selalu
menilainya dengan buruk dan berlebihan kala itu.
Tanpa disadari oleh Fahmi, air matanya mengalir
tanpa permisi. Namun dengan cepat pula ia menghapusnya.
Lalu bangkit dari duduknya dan mulai berjalan
mendekati Kiran.
Memeluk adiknya itu erat, dan Kiran pun membalas tak
kalah eratnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, semua orang sudah beristirahat di
kamarnya masing-masing. Besok siang Fahmi dan semua keluarganya akan kembali
terbang ke negeri Jiran, Malaysia.
Kiran terus tersenyum, tak surut-surut. Hingga
membuat Aslan pun ikut tersenyum pula.
“Kamu bahagia?” tanya Aslan pada sang istri.
Aydan sudah tertidur diatas ranjang mereka, sedangkan Kiran membersihkan wajahnya, duduk di kursi meja rias. Dan aslan, memeluk tubuh
sang istri dari belakang
Kiran hanya mampu menganggukan kepala, tak sanggup berkata-kata untuk mengambarkan kebahagiaaan yang ia rasakan. Lalu makin merasa
bahagia saat ia merasa Aslan makin memeluknya erat, bahkan sesekali Aslan pun
menciumi tengkuknya yang terbuka.
“Aku juga sangat bahagia, sangat, sangat, sangat
bahagia,” jawab Aslan. Ia menatap kedua mata sang istri dari dalam cermin.
“Bahagia karena apa?” tanya Kiran.
“bahagia, karena melihat kamu bahagia.”
Kiran terkekeh, lalu memukul tangan Aslan yang
sedang melingkari perutnya, lalu menoleh dan mencium bibir Aslan sekilas.
“Terima kasih Mas.”
“Terima kasih juga sayang.”
Keduanya mengulum senyum, dengan kedua mata yang saling mengunci, menatap lekat dan begitu dalam. Seolah tatapan itu bisa
__ADS_1
melihat segala isi hati yang ditumbuhi bunga-bunga.
Malam itu, semuanya terasa begitu sempurna.