Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 38


__ADS_3

Cukup lama, akhirnya tangis Kiran mereda. Meski rasa bersalah itu masih menyelimuti hatinya, namun Kiran mencoba ihklas.


Disesalinya pun semuanya tidak akan kembali.


"Dimana mas Aslan mbak?" tanya Kiran dengan suara yang lirih, satu pertanyaan yang sedari tadi menganggu isi kepalanya.


Dimana keberadaan sang suami, kenapa laki-laki itu tidak berada disampingnya disaat seperti ini.


Belum sempat Tika mejawab, pintu ruang rawat Kiran dibuka oleh seseorang.


Perhatian keduanya teralihkan oleh kedatangan tamu itu.


Tak lama Yuli muncul, disusul oleh Maya. Kedua wanita ini masuk dengan wajah yang tidak begitu ramah.


Tadi, setelah Aslan pergi, Maya buru-buru menemui sang mertua. Mengatakan bahwa sebaiknya mereka memastikan dengan segera atas anak yang sudah tiada itu. Benarkah itu anak Aslan atau bukan.


Yuli menurut, tanpa pikir panjang ia langsung mengajak Maya untuk menuju rumah sakit dan menemui Kiran.


Dan disinilah kini mereka berada, berdiri di hadapan Kiran dengan tatapan tak suka.


Sementara Kiran tersenyum, merasa bahagia Yuli sang mertua dan Maya datang untuk menjenguk dirinya.


"Umi," sapa Kiran, ia mencoba bangkit agar bisa berada di posisi duduk.


Tika yang melihat itu entah kenapa ia merasa tak suka, rasanya sia-sia saja rasa bahagia Kiran itu.


"Untung kamu sudah sadar," jawab Yuli dengan suara yang dingin.


Mendapati jawaban seperti itu, mendadak Kiran merasa sesak. Senyumnya yang sedari tadi terkembang perlahan menyusut dan menghilang.


"Bude, Kiran masih butuh waktu untuk kembali pulih, jadi saya mohon maaf sekali, sebaiknya Bude dan Maya keluar dulu. Temui Kiran saat ia sudah benar-benar sembuh," ucap Tika yang merasa kedatangan Yuli dan Maya membawa niat tidak baik, bahkan kini tidak ada pula Iwan bersama mereka.


Bukannya keluar, Yuli dan Maya malah tersenyum miring, meremehkan. Bagi mereka tidak pantas wanita hina seperti Kiran untuk dihargai.


"Ran, apa kamu sadar apa yang kamu lakukan sebelum kecelakaan itu adalah hal yang salah?" tanya Yuli dan Kiran hanya terdiam.


"Untuk apa kamu menemui pria itu lagi? apa belum selesai antara kamu dengan pria itu? apa pria itu juga adalah ayah dari anak yang kamu kandung?" tanya Yuli bertubi dengan raut wajah yang kentara jika ia sedang begitu marah dan kesal, kedua rasa yang bercampur menjadi satu.


Mendengar pertanyaan itu perlahan namun pasti, kedua netra Kiran meneteskan air bening bersamaan.

__ADS_1


Matanya tetap terbuka dengan air mata yang terus mengalir tanpa berkedip.


Kenapa umi menuduhku dengan tuduhan yang begitu kejam? Batinnya didalam hati.


"Cukup Bude! jangan sembaranag bicara sementara anda belum tahu pasti tentang kecelakaan itu!" bentak Tika, sumpah demi apapun ia tidak terima, sang adik ipar dituduh sedemikian rupa.


"Kami tidak sembrangan bicara, karena kecelakaan itu adalah bukti nyata tentang mereka berdua," ucap Maya dengan kedua tangan yang saling meremat.


Suaranya bergetar, begitu takut untuk bicara tentang kebohongan. Namun ia mencoba yakin, membenarkan pemikirannya sendiri.


"Umi kecewa padamu Ran, selama ini Umi sangat menyayangi kamu. Tapi tega kamu ya menghianati Aslan!" bentak Yuli, melihat Kiran yang hanya terdiam entah kenapa amarahnya semakin tersulut.


"Jadi benar, anak itu bukan anak Aslan?" tanya Yuli lagi memastikan, matanya merah menahan tangis. Ia benar-benar tidak menyangka, menantu yang sempat ia sayangi ternyata adalah seseorang yang hina.


"Bude! cukup! jangan keterlaluan!" Bentak Tika. Ia mendekati Kiran dan memeluk bahu sang adik ipar, bahu yang sudah bergetar menerima tuduhan seperti itu.


"Mbak, jangan bentak Umi. Kami hanya bertanya, apa salahnya?" balas Maya, ia mendekap lengan Yuli mencoba memberikan ketenangan.


Melihat itu, Kiran menggelengkan kepalanya kecil dengan air mata yang terus mengalir.


Aku baru saja kehilangan anakku, tidakkah sedikit saja umi dan Maya prihatin? kenapa malah menuduhku dengan tuduhan seperti itu? Batinnya pilu.


Brak!


Pintu ruang rawat Kiran dibuka dengan kasar hingga mencuri perhatian semua orang.


Fahmi masuk dengan rahang yang mengeras, ia mendengar dengan jelas ucapan terakhir Yuli. Dan Fahmi tidak terima sang adik diperlakukan seperti itu.


"Pergi!" ucap Fahmi dengan suara yang dingin dan tatapan membunuh, ia berdiri tepat di hadapan Yuli dan Maya dan menatap keduanya dengan tatapan tajam.


Maya beringsut kebelakang Yuli, merasa takut. Sementara Yuli tetap bergeming pada posisinya.


"Kenapa? kamu malu adikmu begitu hina? saya yang seharusnya marah disini," jawab Yuli dengan suara yang tak kalah dingin, tak ada lagi kehangatan yang ia tujukan pada Kiran.


Mendengar pertanyaan itu, Fahmi berdecih dan belas memandang dengan tatapan tak suka.


"Dua wanita yang berselimut dosa," jawab Fahmi dengan nada menghina.


"Apa maksudmu!" bentak Yuli, ia tak terima atas ucapan Fahmi itu.

__ADS_1


Tidak langsung menjawab, Fahmi malah sedikit terkekeh.


"Percuma menjelaskan, Bude sudah terlanjur mempercayai sebuah kebohongan. Apa Maya yang mengatakan tentang hal ini?" tanya Fahmi, ia melirik Maya yang sedang bersembunyi dibalik tubuh Yuli.


Fahmi kembali terkekeh. Saat melihat Yuli yang hanya terdiam dan Maya yang ketakutan membuatnya makin yakin, jika fitnah ini dicetuskan oleh Maya.


"Bude boleh mempercayai apapun, bahkan tentang anak yang sudah tiada itu. Bude juga tidak perlu hawatir, aku akan memisahkan anak bude dengan adikku yang hina. Cukuplah bude memiliki 1 menantu yang begitu sempurna, Maya," sindir Fahmi.


Mendengar itu, entah kenapa ada geleyar aneh yang mendatangi hati Yuli, rasa bersalah yang muncul tiba-tiba. Sementara di belakang, Maya semakin merasa takut, keringat dingin mulai membasahi kedua tangannya.


"Bagus, itulah yang ingin saya dengar. Saya memang ingin Kiran berpisah dengan Aslan. Anakku tidak pantas untuk selalu bersanding dengan perempuan yang tidak bisa menjaga harga dirinya," jawab Yuli, setelah mengatakan itu ia langsung berbalik dan keluar meninggalkan ruangan.


Meninggalkan Maya yang masih mematung.


Saat terdengar Yuli menutup pintu barulah Maya tersadar, ditatapanya semua orang di dalam ruangan ini secara bergantian.


Saat ia melihat Kiran, rasa bersalah itu muncul tiba-tiba. Namun dengan cepat ia tepis. Memang beginilah harusnya. Harus ada 1 yang pergi, dan itu adalah Kiran, pikirnya.


"Pergi," ucap Fahmi, ia mengusir Maya secara langsung.


Mendengar itu, Maya pun langsung hendak pergi tanpa ada perdebatan. Namun langkahnya terhenti, ketika Kiran akhirnya buka suara untuk menahannya.


"Tunggu," ucap Kiran dengan suara yang bergetar.


Maya berbalik dan balas menatap kearah Kiran.


"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku May?" tanya Kiran, ia sadar, jika Yuli membencinya pasti karena hasutan Maya.


"Aku baru saja keguguran May, aku baru saja kehilangan anakku, tapi kenapa begitu tega kamu memfitnahku seperti ini?" tanya Kiran lagi karena Maya hanya terdiam.


"Apa karena mas Aslan?" tebaknya.


Hening, tak ada jawaban apapun dari Maya.


"Baiklah, aku akan berpisah dengan mas Aslan jika itu bisa membuatmu tidak sebenci itu padaku. Tidak memfitnahku dengan tuduhan kejam yang lainnya, karena dampaknya itu akan ku rasakan seumur hidup," ucap Kiran, ia yakin jika ketidakadaan Aslan kini juga karena hasutan Maya. Kiran yakin, jika saat ini pun Aslan sudah menatapnya hina seperti Yuli.


Jadi tidak ada yang perlu mereka pertahankan, perpisahan adalah jalan terbaik. Karena hubungan yang sudah hilang kepercayaan hanya akan menunda perpisahan.


Tika makin memeluk Kiran, sementara Fahmi terus menatap tajam Maya.

__ADS_1


Tanpa menjawab apapun, Maya langsung berbalik dan berjalan tergesa meninggalkan ruangan sang madu, bahkan menutupnya dengan begitu keras.


__ADS_2