
Jika hari ini Aslan selalu bisa lebih baik dari hari kemarin, maka Kiran pun akan mengusahakan hal yang sama. Ia bertekad untuk bangun lebih dulu daripada suaminya itu, tanpa membangunkan Aslan.
Akhirnya Kiran, memasang alarm ponsel dengan mode getar dibawah bantalnya.
Dan benar saja, usahanya itu membuahkan hasil. Pagi ini, ia bangun lebih dulu dari sang suami. Karena terlalu bahagia, ia sampai tak merasa mengantuk sedikitpun saat bangun itu.
Perlahan, Kiran mulai turun. Bahkan saat ini adzan subuh belum berkumandang, masih terdengar suara orang mengaji di masjid sana.
Kiran langsung mandi saat itu juga, dan saat keluar dari dalam kamar mandi sana, ia melihat Aslan yang ternyata sudah duduk disisi ranjang.
Memperhatikan ia dengan lekat.
Menggunakan handuk kimono, Kiran mendekati suaminya itu, berdiri dihadapan Aslan yang tiba-tiba menarik pinggangnya untuk dipeluk erat.
Kiran tersenyum, mengelus kepala sang suami yang bersarang diperutnya.
"Sana mandi, kita shalat subuh berjamaah," ucap Kiran, tangannya masih terus mengelus, bahkan turun sampai ke bahu sang suami.
Bukannya segera bangkit, Aslan malah makin memeluk erat tubuh sang istri. Harum yang begitu segar, langsung masuk ke indera penciumannya.
Aroma yang ingin terua ia hirup.
"Tumben sudah bangun?" tanya Aslan, ia masih setia memeluk, bahkan sesekali menciumi perut sang istri yang tertutup handuk itu.
__ADS_1
"Iya dong, aku tadi rencananya mau bangunin Mas, eh malah Mas sudah bangun duluan," jawab Kiran dengan mengeluh.
Aslan tersenyum, lalu mendongak.
"Jadi kamu ingin membangunkanku?" tanyanya dengan tatapan yang entah, dan Kiran hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Baiklah, aku akan tidur lagi, sayang bangunkan aku ya?" tawar Aslan, lalu dengan sendirinya kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Kiran mencebik, lalu memukul lengan suaminya cukup keras.
"Malah ngeledek, sana buruan bangun," ucap Kiran, ia hendak menarik lengan suaminya itu, namun nyatanya ia malah tertarik oleh sang suami. Kiran terjatuh dipelukan Aslan dengan sedikit berteriak, terkejut.
Dan matanya makin membola saat Aslan tiba-tiba menarik tubuhnya hingga terbaring diatas ranjang, lalu dengan cepat ia pula menindih Kiran.
Perlahan, Aslan mengikis jarak dan mulai meraup bibir istrinya. Kiran bisa merasakan, bahwa kini hasrat suaminya sedang berada dipuncak, dibawah sana ia merasa sesuatu yang lembut berubah jadi sangat keras.
Pelan, Kiran menggeliat saat meraskan tangan sang suami mulai mesuk kedalam handuknya, menjalar masuk dengan sentuhan yang sangat lembut.
Lalu berubah jadi sentuhan yang begitu kasar dan memabukkan saat sudah berada dipucuk yang menegang itu.
Lenguhan Kiran tertahan, karena sang suami belum juga melepaskan pagutannya. Subuh kali ini, Kiran memang bangun lebih dulu. Tapi aktifitas mereka malah tidak seperti biasanya.
Kini keduanya malah memadu kasih, berbagi peluh dan lenguhan nikmat.
__ADS_1
Aslan bahkan memacu permaiannua dengan begitu kuat, hingga membuat Kiran terombang ambing.
Dan saat pelepasan itu tiba, Kiran memekik menyebut nama suaminya diantara lenguhan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kiran tertawa terbahak, ia bahkan sampai memegang perutnya yang terasa kram.
Pagi ini Aslan benar-benar mengantarnya ke showroom, namun karena aktifitas mereka tadi pagi akhirnya mereka berangkat lebih siang.
Kiran saja terlambat, apalagi suaminya itu?
"Salah siapa sok-sokan mau anter," gumam Kiran, seraya memperhatikan mobil suaminya yang semakin menjauh.
Pagi tadi Kiran sudah berniat membawa mobil sendiri, namun Aslan tetap kukuh ingin mengantar. Dan kini, dengan buru-buru, setelah menurunkan istrinya ia segera melaju ke kantornya sendiri.
"Masih pagi udah ngakak aja ketawamu Ran," ucap Agung yang tiba-tiba berada disamping Kiran.
Ternyata Agung juga terlambat.
"Kok telat? semalam ngapain?" tanya Kiran heran, apa iya capek gara-gara ke panti jompo kemarin? pikir Kiran, namun ia tak begitu yakin. Karena suaminya pun masih begitu kuat.
"Semalam teleponan sama Widya, nggak sadar kalau sudah jam 2 pagi, mau langsung tidur susah, habis subuh baru nyenyak."
__ADS_1
"Bucin!" sahut Kiran cepat, lalu melangkah lebih dulu untuk segera masuk ke dalam showroom.