
Pukul 5 lewat 10 menit. Anja dan Aydan keluar dari perpustakaan kampus.
Namun naas, hujan malah turun dengan lebatnya. Padahal sebelum mereka berangkat, cuaca masih baik-baik saja. Terkesan cerah.
Suara petir menggelegar, serta kilat menyambar-nyambar pepohonan.
Sedangkan Anja menjerit-jerit. So pura-pura takut, padahal hujan badai sering ia terjang.
"Aydan, aku ikut mobil kamu yah." Pinta Anja dengan wajah yang memelas. Di samping hujan deras, pasti akan lebih seru pulang bareng kan?
Lelaki itu nampak berpikir sejenak. Ia melihat sekeliling, semuanya tampak sepi. Hampir semua orang pergi, hanya ada dia dan Anja di depan perpustakaan kampus ini.
Apalagi saat ia melihat, hujan yang sepertinya akan terus mengguyur hingga malam. Bagaimana nasib Anja kalau ia tinggal.
Akhirnya, Aydan mengangguk. Memutuskan untuk mengantar Anja pulang ke rumahnya.
Dua anak muda itu menerobos hujan menuju mobil milik Aydan. Dan kesempatan kembali mengambil alih, Anja memeluk lengan lelaki itu seiring mereka berlari.
"Aku takut." Ucap sang gadis, dan lagi-lagi Aydan tak bisa menolak itu.
Dengan cepat, langkah itu melesat ke arah parkiran. Aydan segera membuka kunci, hingga mereka berhasil masuk.
Tubuh mereka setengah basah, karena mereka tidak menghalau hujan dengan apapun. Hanya berbekal telapak tangan, Aydan memayungi tubuhnya.
Nafas keduanya terdengar memburu. Terasa begitu ngos-ngosan, seperti baru saja menyelesaikan lari maraton.
Anja mengambil air botol dari dalam tasnya. Sesuatu yang tak pernah tertinggal, selalu siap sedia.
"Mau minum?" Tawar Anja ke arah Aydan. Karena ia tidak mungkin minum air itu sendirian, walaupun nantinya Aydan menolak, setidaknya dia sudah menawarinya, bukan?
Mendengar tawaran Anja, Aydan melirik sebelum menyalakan mesin mobilnya. Namun, bukan botol yang menjadi fokusnya. Melainkan baju Anja yang setengah basah, mencetak jelas, bagian dalamnya.
Warna merah.
Lelaki itu langsung melengos, membuang pandangannya ke samping. Mencoba menetralkan kembali pikirannya.
Anja mengernyitkan dahi, apa ada yang salah dengannya? Dia kan hanya menawari lelaki itu minum.
__ADS_1
Dan Aydan langsung melepas sweater yang ada di punggung kursi. Tanpa menoleh, menyerahkannya pada Anja. "Pakai ini." Ucapnya.
Anja tersenyum senang, ia kira Aydan kenapa. Ternyata lelaki itu tengah perhatian kepadanya, takut dia kedinginan.
Dengan hati yang berbunga, gadis itu menerima sweater yang tawarkan Aydan, lalu cepat-cepat memakainya.
Sedangkan lelaki itu, langsung menyalakan mesin mobil. Dan mulai melajukanya ke jalan raya, menerobos hujan.
Selama di perjalanan, tidak ada satu pun yang bersuara. Mereka bungkam dengan pikiran masing-masing.
Apalagi Anja, dia terus senyum-senyum sendiri, sambil menggenggam erat ujung sweater yang ia pakai.
Dapat ia rasakan, aroma tubuh Aydan begitu menyeruak ke indera penciumannya. Seperti mendapat sebuah pelukan, Anja merasa hangat.
Hingga tak berapa lama kemudian. Sampailah di sebuah rumah, rumah yang menjadi tempat tinggal gadis cantik di sebelah Aydan.
Mereka turun bersamaan. Tak hanya sampai di depan gerbang, Aydan mengantarkan Anja sampai benar-benar di depan rumah.
Dan disana, mereka langsung disambut oleh Arick dan Jihan.
Karena begitu mengkhawatirkan sang anak, Jihan sampai menunggu Anja di depan pintu. Sambil mondar-mandir dengan hati yang tidak tenang.
Hingga kedua orang tua itu mendengar deru mobil di depan rumah. Dan benar saja, Anja pulang, diantar oleh seorang lelaki, yang diyakini sebagai teman kuliah gadis itu.
"Nak, Ya Allah... Kamu tidak apa-apa kan?" Jihan langsung menghambur memeluk sang anak, mengelus punggung itu mencoba meredam rasa cemasnya.
Melihat itu, Arick ikut mengelus puncak kepala Anja dan Jihan secara bergantian.
Hingga rasa cemas itu menguar, hilang karena melihat Anja baik-baik saja. Barulah Jihan mau melepaskan pelukannya.
Lalu, kedua pasang netra itu, beralih menatap ke arah Aydan. Sosok lelaki tampan yang tengah tersenyum ramah, lalu dengan sopan menyalimi Jihan dan Arick.
"Aydan Tante, Om." Ucapnya memperkenalkan diri.
Jihan mengulum senyum, melihat sikap Aydan yang begitu sopan, pada orang yang lebih tua darinya.
"Temennya Anja sama Jani yah?" Tanya Jihan, dan dijawab anggukan oleh lelaki muda itu.
__ADS_1
Lantas, karena merasa tak enak mengobrol di luar. Arick mengajak semua orang untuk masuk. Duduk di ruang tengah. Aydan di suguhi teh hangat.
Anja sudah masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti baju. Sedangkan Aydan, sedari tadi dia hanya menunduk.
Di depannya ada Arick yang terus memperhatikan pemuda itu, wajahnya terasa tidak asing. Batin Arick terus mengulik.
Ia pernah melihat atau bahkan kenal. Tapi dimana? Arick mencoba mengingat-ingat.
Hingga saat sang istri duduk dengan membawa setoples biskuit di tangannya. Arick baru ingat, pemuda ini mirip dengan pegawai bank yang pernah membantunya untuk mengurus pinjaman.
Ya, dia mirip dengan Mas Aslan.
Dulu waktu Arick akan membuka usaha cafenya dengan Jodi. Ia sempat meminjam uang di bank, dan yang membantunya adalah lelaki baik bernama Aslan.
"Nak Aydan, ayo diminum." Pinta Jihan, saat melihat Aydan hanya bergeming, menatap kepulan asap teh.
Dengan malu-malu, Aydan mengangguk, lalu mengangkat gelas teh tersebut.
"Oh ya Aydan. Apa Om boleh tahu, siapa nama ayahmu?" Tanya Arick yang sudah digerogoti oleh rasa penasaran.
Aydan menyelesaikan sesapannya pada teh hangat itu. Lalu beralih menatap Arick.
"Aslan, Om. Ayahku namanya Aslan." Jawab Aydan jujur.
"Ternyata benar." Arick kegirangan karena tebakannya tidak salah. Ditambah, kini anak-anak mereka juga dekat. Makin senanglah hati Arick.
Sedangkan Jihan terlihat kebingungan, apa yang benar?
"Ada apa Mas?" Tanya Jihan. Tak hanya dia, Aydan sama-sama tidak mengerti maksud lelaki paruh baya itu.
"Ini lho Sayang. Waktu Mas mau buka cafe sama Jodi kan Mas sempat meminta pinjaman pada pihak bank. Nah, Mas Aslan ini yang membantu Mas. Ternyata anak dia juga sudah besar, tampan sama seperti ayahnya." Terang Arick membuat Jihan manggut-manggut, seraya membulatkan mulutnya, membentuk huruf O.
Sedangkan Aydan tak mampu menjawab apapun. Berhadapan dengan orang tua membuatnya benar-benar merasa canggung.
Hingga maghrib tiba, akhirnya obrolan mereka terputus. Seiring hujan juga mulai mereda.
Awalnya Arick mengajak pemuda itu untuk makan malam. Namun, Aydan menolak, takut sang ibu juga mengkhawatirkannya di rumah, karena pulang terlalu lama.
__ADS_1
Hingga akhirnya setelah sholat Maghrib berjamaah, Aydan pamit undur diri.