Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 68


__ADS_3

Waktu berlalu, beberapa hari lagi Kiran akan segera melahirkan. Hubungannya dengan Dinda pun semakin membaik, bahkan keduanya memutuskan untuk bersahabat dan benar-benar melupakan masa lalu.


Masih menjadi suami Dinda, Alfath meminta izin untuk pergi menjauh dulu, ke Thailand untuk menenangkan hatinya dan menyibukkan diri dengan pekerjaan.


Sebulan sekali Alfath akan pulang, menemui anak dan istrinya.


Dinda tak merasa keberatan, selama pergi pun Alfath tak pernah memutus komunikasi, kepergiannya malah membuat Rindu muncul diantara keduanya.


Kini, Aslan dan Kiran sudah kembali pindah ke rumah utama. Hanya sementara sampai Kiran melahirkan dan lepas masa nifas kelak.


Aslan benar-benar tak tega meninggalkan sang istri hanya seorang diri di rumah sana saat ia sedang bekerja. Meski ada Desi, tetap saja Aslan merasa tak tenang. Karena itulah, mereka pindah ke rumah orang tua mereka.


Saat ini, Kiran dan Yuli sedang membereskan beberepa keperluan bayi yang akan mereka bawa ke rumah sakit kelak. Keduanya duduk diatas karpet tebal di kamar Kiran, mulai memasukkam beberap baju ke dalam koper kecil.


"Apa tidak kebanyakan Umi, ini di bawa semua?" tanya Kiran saat melihat tumpukan bedong, celana ikat, kain gurita dan setelan baju bayi. Menumpuk seperti persediaan satu minggu.


Sementara kemarin, saat ia bertanya pada Dinda, Akbar hanya semalam di rumah sakit, besoknya sudah boleh pulang.


Tak langsung menjawab, Yuli lebih dulu tersenyum.


"Tidak sayang, bayi itu tiap jam eek, tiap jam pipis, kasihan kalau langsung di kasih pampers. Jadi kita butuh banyak persediaan kain," terang Yuli pada sang menantu yang belum tahu apa apa ini.


Kiran hanya mengangguk, paham. Baginya, Umi memang lebih tahu banyak.


"Umi sudah tidak sabar Ran, menunggu kelahiran cucu laki-laki Umi," terang Yuli lagi dengan wajah berbinar. Jenis kelamin bayi Kiran memang sudah diketahui saat USG dulu kala.


Kini giliran Kiran yang tersenyum, ia pun merasakan hal yang sama. Jika sesuai dengan HPL (Hari Perkiraan Lahir) maka 4 hari lagi Kiran akan melahirkan, melaui jalur normal yang ia pilih.


"Aku juga sudah tidak sabar Umi," jawab Kiran jujur, keduanya terus berbincang dengan asiknya, hingga tak menyadari saat pintu kamar itu di buka oleh Aslan.


Obrolan mereka terhenti, saat Aslan ikut mendudukkan diri disebelah Kiran.

__ADS_1


"Loh, kok kamu sudah kesini? memangnya ini jam berapa?" tanya Yuli heran, tadi sehabis makan malam ia dan Kiran berkemas, sementara Aslan berbincang dengan sang ayah di ruang tengah.


"Jam 9 Umi," terang Aslan apa adanya.


Tak percaya, Yuli dan Kiran pun menoleh pada jam dinding disebelah kanan mereka. Ternyata benar, saat ini sudah jam 9 malam.


Kenapa cepat sekali? batin keduanya kompak.


Setelah itu Yuli pamit keluar, memberi waktu untuk kedua anaknya beristirahat.


Aslan, membantu Kiran untuk bangkit lalu membimbing sang istri untuk duduk disisi ranjang. Mengambilkan baju tidur sang istri dan membantunya ganti baju.


Makin kesini, tubuh Kiran makin berubah berisi. Bahkan kedua dadanya pun ikut membesar hingga menyembul keluar.


Selesai mengganti baju, Kiran lebih dulu berbaring, sementara Aslan memijati kedua kaki sang istri. Kebiasaan yang sudah ia lakukan sejak lama.


"Sudah Mas, sini tidur," pinta Kiran sambil menepuk sisi kosong disebelahnya.


"Tidurlah, aku akan mengusap punggungmu," ucap Aslan dan Kiran tersenyum riang. Semenjak kehamilanya semakin membesar ia memang senang sekali jika tidur sambil dipijat kecil-kecil di area punggung.


Kini, tanpa diminta pun Aslan sudah melakukannya sendiri.


"Enak Mas," jujur Kiran dan Aslan tersenyum.


"Tidurlah."


"Hem," sahut Kiran yang matanya mulai terpejam.


Cukup lama keduanya dalam posisi seperti itu, Aslan terus mengelus punggung sang istri dengan sayang, bakan sesekali ia memijat bagian pinggangnya.


"Mas?" panggil Kiran lirih, ruangan yang sunyi itu membuat Aslan mampu mendengarnya, bahkan deru napas sang istri pun ia dengar.

__ADS_1


"Hem? kenapa belum tidur?" tanya Aslan perhatian, sudah nyaris jam 10 malam tapi Kiran belum juga terlelap.


Tak langsung menjawab, masih berada di posisi yang sama, Kiran kembali membuka matanya. Jujur saja, sebenarnya ia merasa takut menjelang hari kelahiran sang anak.


Takut akan terjadi sesuatu pada bayinya.


"Kenapa?" tanya Aslan lagi karena Kiran hanya terdiam.


Dengan perlahan, Kiran merubah posisi tidurnya dan kini menghadap sang suami. Matanya berembun dan menatap lekat kedua netra Aslan.


"Mas, sebentar lagi aku akan melahirkan. Maafkan aku ya, maafkan aku karena selama ini belum bisa menjadi istrimu yang sempurna. Shalat pun aku masih sering menunda," jelas Kiran sendu. Sebelum menghadapi hari esok, ia ingin sekali meminta maaf pada sang suami.


Kiran sadar, hidup dan mati seseorang sudah digariskan oleh Allah. Jika saat melahirkan nanti dia tidak selamat, setidaknya ia sudah meminta maaf pada sang suami.


Mendengar itu, Aslan mencium kening sang istri cukup lama. Setelah melepasnya, ia kembali menatap kedua mata sang istri.


"Kenapa bicara seperti itu? kamu takut?" tanya Aslan seraya mengelus pipi sang istri dengan sayang, ia bahkan merapikan rambut Kiran dan menyingkapnya kebelakang.


Kecil, Kiran mengangguk.


Dan melihat itu, Aslan tersenyum tipis.


"Percayalah, aku lebih takut dari pada kamu," jujur Aslan dengan senyum yang makin melebar. Tak ingin pembicaraannya dengan sang istri malam ini, membuat Kiran semakin merasa takut.


"Tapi Ran, harusnya kita jangan merasa takut. Harusnya kita bahagia, karena sebentar lagi akan bertemu dengan anak kita. Bukan hanya kamu yang berjuang, anak kita juga berjuang untuk menemuimu. Dan aku akan mendampingi perjuangan kalian berdua," terang Aslan, mendengar itu tanpa permisi air mata Kiran luruh juga.


Kiran mengangguk, menyetujui ucapan sang suami. Bukan hanya dirinya yang sedang berjuang, namun anaknya pun melakukan hal yang sama.


Ibu jari Aslan bergerak, menghapus air bening di sudut mata sang istri. Lalu menciumi kedua mata itu dan membawa Kiran masuk ke dalam dekapannya.


"Sekarang tidurlah, jangan berpikir yang aneh-aneh lagi," titah Aslan dan Kiran mengangguk.

__ADS_1


Tak lama setelah itu keduanya sama-sama terlelap, tidur saling berhadapan dengan anak mereka yang masih berada didalam kandungan.


__ADS_2