Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 185 - Kisah Aydan Dimulai


__ADS_3

"Alana sudah hamil, kamu apa kabar Aydan?" tanya Kiran pada anak sulungnya itu.


Si anak tampan yang tak pernah nampak membawa gandengan. Apalagi sampai memperkenalkan seorang wanita pada Kiran dan Aslan.


Kemarin Alana dan Altar sudah memberi tahu mereka tentang kehamilan Alana itu. Kini, Kiran hanya tinggal memkirkan Aydan.


Sekitar 1 tahun lagi Aydan akan lulus kuliah, tapi anak laki-lakinya ini seperti tak tertarik pada seorang wanita.


"Tunggu saja Bu, nanti tiba-tiba aku akan membawa calon istriku ke rumah ini," seloroh Aydan, asal bicara. Hanya untuk menyenangkan sang ibu.


Sehabis makan malam itu, Aydan pun pamit untuk kembali ke kamarnya.


Berjalan dengan pikiran yang menerawang jauh ke depan.


Bagi Aydan, roda kehidupan di dunia terus berputar, tidak akan pernah sekalipun berhenti, sebelum kita mati.


Putaran itu terkadang akan membawa kita ke puncak tertinggi, atau bahkan menjatuhkan kita ke dasar jurang, yang kedalamannya tidak kita ketahui.


Sama seperti kehidupan seorang Aydan. Anak pertama dari pasangan Aslan dan Kiran.


Menjadi mahasiswa di salah satu universitas ternama di ibu kota Jakarta.


Di awal masuk, Aydan sudah memantapkan hati, untuk memilih fakultas manajemen sebagai fakultas yang akan ia geluti.


Berbekal otak cerdas yang menurun dari ayah dan ibunya. Di semester ini Aydan sudah mengajukan skripsi, meski baru dua setengah tahun ia kuliah. Aydan memang sudah dijuluki sebagai mahasiswa yang paling pintar di angkatannya.


Bahkan dia menjadi salah satu anak beasiswa sebagai apresiasi atas prestasinya.


Seluruh penduduk universitas tahu itu, Aydan si tampan yang pintar. Seketika semua orang membicarakannya.


Apalagi kaum hawa yang tidak kuat dengan pesona pria tampan sepertinya. Entah di kantin, di kelas, sampai di toilet. Seperti tidak ada kata bosan, topik perbincangan mereka tetaplah Aydan seorang.


sampai di dalam kamarnya, Aydan langsung duduk di meja belajarnya dan membuka buku.


Namun tak langsung membacanya, karena kembali teringat ucapan sang ibu.


"Bismilah sajalah, Allah pasti akan mengirimkan jodoh untukku diwaktu yang tepat," gumamnya pelan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari.


Hari ini, dua kembar cantik yang bernama Anja dan Jani. Masuk ke kelas Manajemen, kelas yang sama dengan Aydan.

__ADS_1


Sebenarnya tahun lalu mereka sudah pernah masuk ke kelas ini. Namun sayang, seperti kembar yang tak terpisahkan, kedua-duanya kompak mendapatkan nilai D.


Jihan dan Arick sampai geleng-geleng kepala, saat tahu putri mereka tidak pernah mendapat nilai bagus di kelas tersebut.


Kalian di kelas itu belajar apa?


Kalau kalian berdua merasa kurang jelas, jangan hanya diam, kalian bisa bertanya!


Fokus, satu tanamkan satu hal itu ketika dosen sedang memberikan arahan.


Dan masih banyak lagi nasihat-nasihat yang Jihan dan Arick sampaikan pada kedua putri mereka.


Sedangkan, Zayn sang kakak, hanya terkekeh tanpa suara, kala mendapati sang adik di ceramahi panjang kali lebar oleh ibu dan ayah mereka.


Dan akhirnya, mulai hari ini keduanya membulatkan tekad untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Mengulang kelas tersebut di tahun ini. Setidaknya, jika mereka tidak mendapat A, B pun tidak apa-apa kompak Anja dan Jani.


Cukup lama menunggu dan duduk di kelas itu, akhirnya kelas pun dimulai. Sang dosen sudah datang dengan menenteng beberapa buku di tangannya.


Setelah salam, ia mulai menyampaikan beberapa poin penting pelajaran hari ini. Dan mengadakan sesi tanya jawab. Membawa para mahasiswanya untuk berpikir, dan membuka suara.


Dan disana, Aydan benar-benar terlihat sangat aktif, lagi-lagi lelaki tampan itu mengangkat tangannya, untuk menjawab pertanyaan atau sekedar memberi masukan.


Anja dan Jani yang tidak pernah melihat murid seaktif itu langsung melongo. Bahkan sang dosen selalu mengacungi jempol pada setiap kalimat-kalimat yang Aydan lontarkan.


"Anja, dia hebat banget." Bisik Jani seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Anja yang sedang fokus memperhatikan lelaki tampan itu bicara.


"Nggak cuma hebat, dia ganteng juga Jani." Lirih Anja yang mulai terpesona lebih dulu dengan ketampanan lelaki yang kini menoleh ke arahnya.


Seperti adegan slow motion, senyum tipis itu tersemat semakin lama diingatan Anja.


Gadis itu seperti tersihir, matanya tak berkedip sedangkan wajahnya terlihat bergeming.


"Woy!" Jani melemparkan buku tebal ke arah meja Anja, membuyarkan lamunan gadis itu tentang Aydan.


Tersentak, Anja langsung mendelik. Dan hanya dibalas kekehan oleh Jani. Mungkin inilah penyebab dua gadis itu selalu mendapat nilai D.


Tidak terlalu serius dengan pelajaran yang tengah berlangsung, mereka malah asyik saling melempar candaan.


Hingga suara mereka terdengar sampai ke meja depan, tepat dimana lelaki berkacamata yang sedang mengajar itu duduk.


"Kalian kembar Anja dan Jani, coba ulangi jawaban Aydan tadi." Pinta sang dosen, karena tidak bisa membedakan yang mana yang Anja, dan mana yang Jani, dia menyebut dua nama itu sekaligus.


Dan mereka langsung kelabakan. Membolak-balikkan buku yang sama sekali tidak berhubungan dengan sesuatu yang sedang mereka bahas.

__ADS_1


Apa, apa, apa? Bahkan mereka tidak mencerna apapun pelajaran hari ini.


"Emmm... Anu Pak. Apa tuh?" Jawab Jani, ia berpikir keras, seraya satu tangannya mendorong pelan bahu Anja yang duduk di sebelahnya, meminta gadis itu untuk ikut menjawab.


"Anu apa maksud kamu?" Tanya sang dosen, ingin kejelasan.


Anja melirik Jani, dan mereka menatap satu sama lain, saling menyalahkan. "Ya itu anu, Pak!"


"Anu, anu, kalian mau anu?"


Dan detik selanjutnya, suara gelak tawa dari mahasiswa lain membuat kedua kembar itu menunduk malu. Apalagi saat mereka kompak melirik Aydan, ya lelaki itu juga ikut terkekeh merasa lucu.


Baru saja bertekad ingin nilai bagus, hari pertama masuk, mereka malah tidak fokus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini, mereka tengah menikmati jam istirahat dengan bersantai di kantin. Sambil meminum minuman kesukaan mereka masing-masing.


"Anja, kayanya kita harus cari cara deh supaya nilai kita itu bisa bagus. Kamu ada saran nggak?" Tanya Jani setelah menyeruput es kopi miliknya.


Minuman terfavorit di kala suntuk dan ngantuk.


"Eum..." So pura-pura berpikir, mengaduk-aduk es jeruk, tapi ujung-ujungnya dia angkat bahu. "Nggak tahu."


Cih, Jani berdecih melihat itu. "Kalo tentang Aydan gimana kamu penasaran nggak? Kalo aku sih iya."


Mendengar pertanyaan Jani, sontak Anja mengangkat kepala, menatap gadis yang lahir beberapa menit setelah dirinya itu. Dengan bola mata berbinar-binar.


"Bukan penasaran lagi Jani. Sumpah dia keren banget tadi." Balas Anja antusias. Dia pun sama. Sama-sama penasaran seperti adiknya.


Sambil menyeruput es kopi di depannya, Jani mulai berpikir. Seperti mendapat ide cemerlang, bibir tipis di wajah cantik itu tersenyum lebar.


"Ngapain senyum-senyum?" Cetus Anja melihat saudara kembarnya itu malah asyik sendiri dengan pikirannya.


Jani tersadar, ia buru-buru bangkit dan duduk di sebelah Anja. Merangkul bahu saudara kembarnya itu. "Anja, aku ada ide." Ucapnya girang.


"Ide apa?" Tanya Anja penasaran.


"Kita kan mau memperbaiki nilai yang jeblok alias telor asin itu. Bagaimana kalau kita minta bantuan sama dia? Dia kan pinter banget, pasti mau kan ajarin kita?" Jelas Jani, dengan begitu mereka bisa mendapatkan nilai yang tinggi di mata pelajaran tersebut.


Sambil menyelam minum air. Batin Jani sambil terkikik.


"Maksud kamu, dia jadi guru privat kita gitu?"

__ADS_1


Jani langsung mengangguk sebagai jawaban. "Gimana?" Tanyanya.


Dan Anja tersenyum lebar, lalu menoyor kening Jani dengan pelan. "Tumben pinter."


__ADS_2