Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 57


__ADS_3

Jam 10 pagi, Aslan dan Kiran sudah mendarat di Indonesia. Sekretaris Aslan yang bernama Pras datang menjemput.


"Mas, sebaiknya kita langsung pulang ke rumah umi," ucap Kiran setelah mobil itu melaju, mulai meninggalkan area parkiran bandara.


Aslan tidak langsung menjawab, ia semakin menggenggam erat tangan sang istri.


"Besok saja, hari ini kita pulang ke rumah," balas Aslan dengan menatap sang istri lekat.


Sudah beberapa hari ini ia tidak bertukar kabar dengan sang ibu ataupun sang ayah. Yuli dan Iwan pun tidak tahu perihal kepergiannya ke Malaysia untuk menemui Kiran.


Jadi Aslan memutuskan untuk menunda, nanti malam Aslan akan lebih dulu menelpon sang ibu dan menceritakan semuanya.


Aslan tidak ingin, Yuli kembali menyakiti Kiran untuk yang kedua kalinya.


"Kenapa?" tanya Kiran penasaran, ia malah merasa tak nyaman jika harus menunda, apalagi menunda bertemu dengan orang tua.


"Sebenarnya, umi dan abi tidak tahu tentang kepergianku ke Malaysia untuk membawamu pulang. Aku akan mengatakan perihal itu dulu pada umi dan abi, baru setelahnya kita temui mereka," jelas Aslan jujur, ia tak ingin ada yang ditutup-tutupi diantara keduanya.


Mendengar itu, Kiran tersenyum kecil seraya mengangguk setuju.


Pras yang ikut mendengar pembicaraan itupun langsung membelokkan mobilnya, menuju rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal sang atasan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seteleh sampai di rumah dan Pras kembali ke kantor. Aslan membawa sang istri untuk memasuki rumah mereka.


Aslan, tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman.


Mimpi yang kini menjadi nyata, tinggal kembali di rumah ini bersama sang istri, Kiran.


"Kenapa berhenti Mas?" tanya Kiran saat sang suami berhenti mendorong kursi rodanya, berhenti tepat di depan pintu rumah itu.


Sebelum menjawab, Aslan lebih dulu berjongkok, menatap lekat kedua mata sang istri.


"Janji satu hal padaku Ran, semarah apapun padaku, jangan pernah tinggalkan rumah ini," mohon Aslan bersungguh-sungguh.


Kiran, menggerakkan tangan kanannya, menyentuh wajah sang suami dengan lembut.

__ADS_1


"Maafkan aku Mas," jawab Kiran lirih, hanya kata itulah yang bisa ia ucapkan untuk semuanya.


Pergi tanpa lebih dulu bertanya pada sang suami. Kiran sadar, selama ini Aslan tidak pernah berbuat salah sedikitpun padanya.


Perselisihannya pada Maya pun terjadi di belakang sang suami.


Aslan, mengangkat sedikit tubuhnya dan menjangkau bibir sang istri. Inilah jawaban atas permintaan maaf Kiran.


Cukup lama keduanya berpagut disana, seolah memutus semua kegundahan dan memulai semuanya dari awal.


"Ayo masuk," ucap Aslan setelah melepas ciumannya, setelah puas menyesap manisnya bibir sang istri.


Dengan tersenyum, Kiran mengangguk.


Rumah yang tidak berubah barang sedikitpun, bahkan semuanya masih tertata dengan rapi dan bersih.


Melihat itu, Aslan malah jadi bingung sendiri. Pasalnya, dirumah ini ia hanya tinggal seorang diri. Dan sudah selama 3 hari ini ia tinggalkan.


Lalu, siapa yang membersihkan? pikir Aslan di dalam hati.


Yuli, berdiri disana dengan tatapan yang entah.


Seketika itu juga, senyum Aslan dan Kiran memudar.


"Umi," desis Aslan.


"Ran," gumam Yuli menatap tidak percaya. Hari ini ia berniat menemui sang anak, Aslan. Ia sudah begitu rindu. Namun betapa terkejutnya Yuli saat melihat seisi rumah ini, rumah yang nampak tak berpenghuni.


Dengan pikiran yang campur aduk, ia mulai membersihkan semua sudut rumah. Terus berucap memohon pada Allah agar anaknya segera kembali.


Dan seperti keajaiban, disana ia melihat Aslan pulang. Bahkan tidak sendiri, ada pula Kiran bersamanya.


Dengan langkah sedikit berlari, Yuli menghampiri keduanya. Ia bahkan langsung memeluk tubuh Kiran erat.


"Maafkan umi Nak, maafkan umi," isak Yuli dengan derai air mata.


Perasaan bersalah yang begitu menyiksa, selepas kepergian Kiran. Ia bukan hanya kehilangan sesosok seorang menantu, tapi juga merasa kehilangan seorang anak.

__ADS_1


Aslan pun ikut pergi meninggalkanya.


Sebagai seorang ibu, ia benar-benar merasa terpukul. Tiap malam, Yuli hanya terus menyalahkan diri sendiri.


"Maafkan umi Nak," ucap Yuli lagi tak bosan-bosan.


Dengan gerakan perlahan, Kiran membalas pelukan sang ibu mertua. Ia pun ikut menangis, merasa haru.


"Umi tidak bersalah, jangan meminta maaf lagi Mi," jawab Kiran diantara isak tangisnya.


Melihat pemandangan itu, Aslan hanya mampu meremat pegangan kursi roda sang istri dengan erat.


Ia begitu iba pada sang ibu, namun kekecewaannyapun belum seutuhnya pulih.


"Umi," lirih Kiran.


Dengan perlahan, Yuli melerai pelukannya, lalu berjongkok memerhatikan dengan lekat Kiran yang kini semakin kurus. Bahkan hingga saat ini Kiran masih duduk di kursi roda.


"Maafkan umi Ran, umi mohon," ucap Yuli bersungguh-sungguh dan Kiran langsung menggeleng dengan cepat.


"Tidak Umi, jangan meminta maaf padaku, umi tidak bersalah. Akulah yang terlalu kekanak-kanakan Mi, aku hanya bisa pergi dari semua masalah," jawab Kiran apa adanya.


Mendengar itu, Aslan pun ikut berjongkok dan memeluk tubuh sang ibu dari samping.


Dua wanita yang begitu dicintainya.


"Semuanya sudah berlalu Mi, sekarang Kiran sudah disini bersama kita. Jadi ayo kita mulai semuanya dari awal lagi," terang Aslan, mencoba menenangkan keduanya.


"Mas Aslan benar Umi," timpal Kiran, ia menghapus air matanya sendiri dengan cepat. Lalu tersenyum seceria mungkin.


"Aku merindukan Umi," ucap Kiran sungguh-sungguh.


Melihat itu, Yuli pun melakukan hal yang sama. Tersenyum lalu menghapus air matanya sendiri. Ia sedikit bangkit dan kembali memeluk sang menantu erat.


Dan senyum yang terakhir, ditunjukkan oleh Aslan.


Alhamdulilah, batin Aslan penuh syukur.

__ADS_1


__ADS_2