Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 78


__ADS_3

Keesokan harinya adalah hari minggu.


Hari ini Aslan dan Kiran memutuskan untuk quality time bersama keluarga kecil mereka. Mengajak baby Aydan untuk piknik ke puncak Bogor, dan Desi ikut bersama mereka.


Sadar waktu mereka tak sepenuhnya untuk Aydan, jika libur seperti ini sebisa mungkin mereka menghabiskannya bersama dengan


Aydan.


“Kok jauh banget si ke Bogor, nanti waktunya Cuma habis di jalan,” ucap Yuli saat melihat anak dan menantunya sedang bersiap, memasukkan beberapa barang bawaan ke dalam mobil.


“Mending di rumah saja, main di kolam renang, Aydan juga pasti sudah senang,” timpal Yuli lagi.


Pergerakan tangan Kiran terhenti, ia sedikit


membenarkan ucapan sang ibu mertua.


“Tidak apa-apa Umi, sekali-kali pergi yang agak


jauh, biar Aydan lihat puncak.” Aslan yang menjawab.


Aydan memang jarang sekali diajak mereka untuk


keluar, selain karena kesibukan mereka, Yuli juga terlalu protektif pada cucunya itu.


“Apa Umi mau ikut?’ tawar Aslan dan Yuli hanya


mengedikkan bahu sebagai jawaban.


“Mas, sepertinya bener kata Umi, sebaiknya kita


piknik di taman belakang saja.” Kiran akhirnya buka suara, ia pun tak bisa sepenuhnya mengabaikan ucapan Yuli, bagaimanapun selama ini memang Yuli lah yang merawat Aydan dengan sungguh-sngguh, Yuli memiliki hak untuk melarang Aydan pergi jauh.


“Kenapa? Kemarin saat Aydan umur 6 bulan, katamu tunggu Aydan umur 1 tahun baru kita ke puncak. Sekarang Aydan sudah 1 tahun kenapa ditunda lagi? Apa menunggu Aydan umur 2 tahun?” tanya Aslan, semua sudah siap, mereka hanya tinggal berangkat saja, tapi istrinya ini malah membuatnya ragu.


Kiran terdiam, apalagi saat mendengar suara suaminya yang terdengar  lebih dingin dan penuh


sindiran.


Hingga akhirnya Yuli bergerak mengambil Aydan


didalam gendongan Desi.


“Sudah,  jangan bertengkar, lagipula diluar sedang mendung begini pasti Bogor hujan.” Yuli hendak menengahi, namun suasana dingin itu terlanjur menguasai.


“Ya sudah, tidak usah pergi,” putus Aslan, lalu


kembali menurunkan barang-barang mereka dari dalam mobil dan membawanya kembali


masuk ke dalam rumah.


Meninggalkan istri dan ibunya yang masih berada di garasi.


“Susul suamimu, sepertinya Aslan marah,” ucap Yuli pada Kiran yang hanya terdiam.


Lalu mengangguk dan menyusul suaminya itu.

__ADS_1


Aslan ternyata masuk ke dalam kamar mereka, dan mengganti baju jadi baju rumahan.


Kiran hanya duduk disisi ranjang memperhatian semua pergerakan suaminya itu, yang kini sedang mendiami dirinya.


“Mas?”


“Hem,” jwab Aslan singkat, entah kenapa mendengar itu Kiran malah merasa lucu. Ia lalu bangkit dan memeluk erat tubuh suamiya dari


arah belakang, saat Aslan sedang melepas jam di pergelagan tangannya.


“Jangan marah ya? Maafkan aku,” ucap Kiran dengan suaranya yang begitu  lembut, ia bahkan


menggerakan tangannya  naik turun mengelus dada bidang sang suami, dari belakang.


Aslan tak menjawab apa-apa, sampai akhirnya jam tangan itu berhasil ia lepaskan. Lalu berbalik dan membalas pelukan sang istri saat mereka sudah berhadapan.


“Aku tidak marah padamu, tapi marah pada diriku


sendri,” jelas Aslan.


Mendengar itu, Kiran langsung melerai pelukannya dan menatap mata sang suami, dengan tatapan yang  lekat.


“kenapa?” tanya Kiran kemudian.


“Bukan hanya kamu, aku juga merasa kurang


memperhatian Aydan. Apalagi aku sering pulang malam, saat aku pulang Aydan sudah tidur.  Paginya aku berangkat lebih dulu. Dan saat libur begini, ku pikir membawa Aydan pergi jauh akan mengobati rasa bersalahku itu, tapi ternyata aku juga salah. Benar kata umi, jika kita pergi ke Bogor, mungkin hanya kita yang menikmati perjalanan itu tapi tidak dengan Aydan,” jawab Aslan panjang lebar, inilah yang kini ia rasakan, rasa yang begitu mengganjal dihati.


Kiran lalu berjinjit dan mencium sekilas bibir sang


mereka. Hanya dengan penyatuan bibir itulah perasaanya dapat lebih lega.


Bahkan hati mereka kembali menghangat.


“Setiap orang tua yang mengharuskan mereka untuk bekerja pasti merasakan hal yang sama seperti kita Mas, tapi kita melakukan ini


semua bukan hanya untuk mencari kesenangan diluar sana, tapi juga untuk masa depan


Aydan,” jelas Kiran setelah ciuman mereka teelepas dan napasnya kembali normal.


Dan Aslan menganggu kecil.


Lalu setelah itu, Kiran pun memutuskan untuk  mengganti baju dan keduanya kembali keluar,


menemui Aydan.


Seperti saran Yuli, akhirnya mereka hanya menghabiskan hari minggu itu untuk bermain di taman belakang. Aslan dan Kiran melatih


anaknya itu untuk mulai berjalan, Aydan dengan antusias melangkahkan kaki meski masih sering terjatuh.


Sementara diam-diam , Desi mengabadikan kenangan itu dalam sebuah rekaman dan beberapa foto. Kelak, saat Aydan sudah mengerti, ia akan menunjukkan foto-foto ini, sebagai kenangan indahnya semasa kecil bersama


kedua orang tua.


Desi, memang begitu menyayangi Aydan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya, Aydan tidur bersama dengan Aslan dan Kiran.


Aydan berada ditengah-tengah, diantara ayah dan ibunya.


“Hidung Aydan sama sepertimu, mancung,” ucap Aslan saat memperhatian wajah sang anak yang sudah terlelap, tertidur dengan sangat nyenyak, setelah tadi menghabiskan sebeotol susu formula.


Sudah 2 bulan ini, Asi Kiran memng tdak  keluar lagi. Karena itulah kini Aydan minum susu formula.


“Jangan bohong, semua orang bilang kalau Aydan itu mirip dengan Mas,” cebik Kiran, baru suaminya ini sajalah yang mengatakan jika hidung Aydan mirip dengannya.


Aslan mengulum snyumnya tak berani terkekeh. Takut Aydan akan terbangun.


“Kalau begitu ayo kita buat yang mirip denganmu.”


Dan Kiran makin mencebik mendengar hal itu.


“Mau tidak?" Tawar Aslan lagi, seraya mengerlingkan matanya, genit. Dan Kiran langsung saja mencubit perut suaminya itu.


Kerusuhan mereka akhirnya membuat Aydan menggeliat, Kiran buru-buru menepuk-nepuk pelan kedua kaki Aydan agar kembli diam.


Seraya mulutnya mengelurkan suara, sstt sssttt ssttt...


“Mas sih!” ketus kiran.


Melihat itu, Aslan lagi-lagi hanya mampu menahan tawanya.


Jam 10 malam, akhirnya Aslan dan Kiran ikut terlelap juga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di hari senin, rutinitas mereka kembali seperti


semula. Aslan dan Kiran mulai bekerja, juga Iwan yang masih harus ke toko bjunya.


Di rumah hanya menyisahkan Aydan, Yuli dan 3 asisten rumah tangga.


Pagi ini, Aslan akan ada menghadiri rapat umum


bulanan di salah satu ballroom hotel di Jakarta. Semua kepala cabang Bank ditempatnya bekerja wajib mengikuti rapat itu.


Tak ingin datang terlambat, dari rumah Aslan


langsung memutuskan kesana. Meski rapat itu akan digellar saat jam 9 pagi.


Dengan langkah besar, Aslan mulai memasuki lobby hotel itu. Hingga tatapannya terkunci pada seorang wanita yang seperti dikenalnya. Berdiri di meja resepsionist, seolah sedang melakukan pembayaran.


“Maya,” gumam Aslan pelan. Lalu tatapannya


teralihkan pada seorang anak perempuan kecil yang berada di dalam gendongan Maya, nampak usianya tak jauh dari Aydan.


Tak ingin ambil pusing, sebelum Maya melihat


keberadaannya, Aslan kembali melanjutkan langkah.

__ADS_1


__ADS_2