
Dan kini, giliran Agung dan Widya yang masuk ke dalam ruangan dokter Susan.
Tadi, ada seorang perempuan yang memegang nomor antrian 7 pergi karena ada suatu urusan mendadak.
Agung, segera meminta nomor antrian itu dan untunglah si wanita meberikan. Dan karena itulah, kini Agunh dan Widya tak menunggu sampai lama.
Mereka hanya menunggu selema 20 menit, kemudian dipanggil.
Mendengar nomornya disebut, senyum kedua pengantin baru ini langsung tersenyum, bahkan senyum itu tidak pernah surut sejenaknya pun, hingga mereka duduk di kursi di hadapan dokter Susan.
Kala itu, adalah pemeriksaan pertama Widya pada dokter kandungan. Susan, kembali meminta Widya untuk memeriksa kehamilannya menggunakan testpack.
Dan benar saja, lagi-lagi testpack itu menunjukkan tanda dua garis merah, menandakan jika Widya sedang hamil. Dalam rahimnya sudah tumbuh janin.
"Selamat ya pak Agung, ibu Widya benar-benar hamil," ucap Susan, setelah melihat hasil testpack. itu.
Menurut pemerisaan, usia kehamilan Widya memasuki menggu ke 6. Di hitung dari terakhir kali widya datang bulan. Mendengar itu, sontak Widya mulai menerka-nerka, kapan kira-kira bayi janin ini benar-benar tumbuh.
Widya mengulum senyumnya, ketika menyadari jika mungkin saja, penyatuan pertama kalinya dengan sang suami, janin itu langsung jadi.
Kali ini, Susan memberikan buku berwarna merah muda untuk Widya, yang harus ia bawa tiap kali melakukan pemeriksaan, buku Kesehatan Ibu sdan Anak (KIA).
Susan juga memberikan beberapa resep obat yang harus dikonsumsi Widya selama masa kehamilan.
Bulan depan, Widya diminta untuk kembali memeriksakan diri.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya konsultasi mereka selesai. Keluar dari ruangan dokter Susan dan kembali menghampiri kedua sahabatnya, Aslan dan Kiran.
"Bagaimana?" tanya Kiran antusias, dan Widya pun menganggukkan kepalanya antusias pula.
Awalnya Widya memang masih ragu dengan kehamilannya, namun setelah melakukan pemeriksaan ternyata memang benar, ia tengah hamil.
Saking senangnya, Widya bahkan langsung memeluk Kiran erat. Dan Kiran pun membalas tak kalah eratnya.
"Harusnya aku dong sayang yang dipeluk," keluh Agung.
"Aku kan ayahnya, aku juga yang buat," timpal Agung lagi dengan wajahnya yang nampak kesal.
__ADS_1
Dan ucapan itu berhasil melerai pelukan Widya dengan Kiran.
Kedua wanita ini lalu kompak menatap tak suka pada Agung. Hingga membuat Agung keheranan, kenapa istrinya jadi ikut-ikutan seperti Kiran?
"Ayo pulang," ajak Aslan, dengan mengulum senyum. Dia yang sudah paham akan mood wanita hamil tak ingin ambil resiko. Daripada urusannya makin panjang, lebih baik cepat-cepat pulang.
Aslan bahkan langsung menggandeng sang istri, menautkan jemari keduanya hingga menyatu sempurna.
Lalu memimpin langkah untuk berjalan lebih dulu.
Agung dan Widya mengikuti.
Kini, mereka berempat sudah berada di dalam mobil. Mobil yang melaju dengan tujuan langsung pulang ke rumah.
Dan butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai. Berhenti tepat didepan gerbang rumah Agung.
"Terima kasih ya Mas," ucap Aslan, seraya turun dari dalam mobil sang sahabat. Kiran pun melakukan hal yang sama, setelah mengucapkan terima kasih pada Widya, ia langsung turun.
"Maaf ya Lan, aku tidak bisa antar sampai rumah," ucap Agunh seolah rumah Aslan masih berada jauh dari sini.
Aslan tak menjawab apapun, hanya Kiran yang menanggapi dengan wajah bengisnya.
Sementara Aslan dan Kiran, kembali menautkan jemari keduanya, berjalan beriringan masuk ke halaman rumah mereka dan segera masuk ke dalam rumah.
Yuli, sudah menyambut kedatangan kedua anaknya itu, menunggu Aslan dan Kiran di ruang tengah.
"Bagaimana sayang, semuanya baik-baik saja kan?" tanya Yuli pada sang menantu, saat Kiran sudah duduk di sempurna diatas sofa.
"Alhamdulilah semuanya baik-baik saja Umi, cuma aku yanh tambah gendut," jawab Kiran apa adanya, ia merasa bahwa pemerikaaan kali ini hanya membahas berat badannya yang baik 5 kg.
Mendengar itu Yuli mengulum senyumnya, tanpa harus periksa iapun tahu jika sang menantu berat badannya bertambah.
"Umi kok senyum-senyum gitu, seneng ya aku tambah gendut?" tanya Kiran, pura-pura kesal.
"Yang seneng bukan Umi, tapi Aslan. Iya kan Lan?" tanya Yuli pada sang anak, hingga membuat Aslan nyaris tersedak. Ia baru saja minum jus mangga buatan bude Asni.
"Mas, itu kan jus untuk ku," rengek Kiran, saat melihat gelas jus ditangan sang suami yang tinggal setengah.
__ADS_1
"Maaf sayang, ku kira ini tadi untukku," jawab Aslan polos, sungguh ia benar-benar tidak tahu jika ini untuk Kiran.
Tanpa mengulur waktu, Aslan langsung memberikan gelas jus itu pada sang istri. Bahkan membantu Kiran pula untuk meminumnya hingga tandas.
"Mau lagi?" tanya Aslan dan Kiran menggeleng.
"Aydan dimana Umi?" tanya Aslan, saat tak melihat sang anak di ruangan itu, biasanya dijam seperti ini Aydan akan berkeliaran kemana-mana. Terlebih ia sedang aktif-aktifnya belajar berjalan.
"Dibawa Abi ke rumahnya pak Amir, lihat ikan katanya," jawab Yuli apa adanya, Desi pun juga ikut bersama mereka.
Cukup lama mereka berbincang, sampai akhirnya Aslan dan Kiran pamit untuk masuk ke dalam kamar mereka.
Keduanya lalu mengganti baju, dan menggunakan baju rumahan.
Kiran langsung hendak beristirahat, dikehamilannya ini tiap jam 11 seperti ini ia selalu saja merasa mengantuk.
Saat Kiran sudah berbaring, Aslan memilih untuk duduk di sofa kamar itu. Tiga hari lagi, ia akan menghadiri seminar di universitas Indonesia, tentang perBankan, dan Aslan menjadi salah satu pembicaranya.
Kini, ia sedang mendalami tentang materi itu.
"Mas, aku tidur ya?" ucap Kiran, lirih, matanya sudah sayu dan terasa berat.
"Sebentar lagi zuhur sayang, nggak tunggu shalat dulu," jawab sang suami, Aslan yang sedang membaca berkas kemudian mendongak, kembali menatap kearah sang istri.
"Aku ngantuk banget Mas, nanti saat zuhur mas bangunin aku saja ya," pinta Kiran dengam sayang, bahkan rasanya ia sudah nyaris setengah sadar.
Dan benar saja, belum sempat Aslan kembali menjawab, ia sudah mendengar seru napas sang istri yang mulai teratur.
Aslan tersenyum, bisa dipastikan jika saat ini istrinya itu sudah tertidur.
Aslan lalu bangkit, menyelimuti tubuh Kiran yang hanya menggunakan baju tipis.
Kemudian kembali lagi duduk di sofa untuk melanjutkan pekerjaannya.
Kini, selagi Aslan masih mampu ia akan bekerja sebaik mungkin. Untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk istri dan juga anak-anaknya.
Aslan sadar, tak selamanya ia kuat dan bisa menjadi tulang punggung keluarga. Karena itulah, sekali kini ia masih mampu, ia akan bekerja keras.
__ADS_1
Sudah banyak, rencana masa depannya yang akan ia jalani dengan sang istri dan juga anak-anak.
"Bismilah," ucap Aslan, lalu kembali mulai membaca.