Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 188 - Izin Zayn


__ADS_3

Beberapa Minggu berlalu, dan selama itu pula Zayn terus ikut hadir ke les privat tersebut. Guna memantau dua adik kembarnya belajar bersama Aydan.


Bukan hanya tak percaya dengan Aydan, Zayn juga tidak percaya pada kedua adiknya itu. Tahu sifat Anja dan Jani yang suka menyepelekan sesuatu, Zayn tak ingin les privat ini terbuang sia-sia.


Tahun ini juga, kedua adiknya itu harus lulus. Karena itulah, ia akan mengawasinya secara langsung.


Dan ternyata, satu minggu adalah waktu yang cukup bagi Zayn untuk mengawasi Anja, Jani dan juga Aydan.


Melihat kesungguhan diantara mereka semua, Zayn mulai percaya.


Dan tepat di pertemuan kali ini. Zayn, lelaki yang terkenal dingin itu tidak lagi menemani sang adik. Entah sebab apa Zayn tidak datang, aydan tidak tahu.


Kini, mereka hanya bertiga. Namun, entah kenapa, Aydan justru merasa canggung dengan suasana seperti ini. Terbiasa ada Zayn membuatnya lebih tenang.


Aydan menjadi satu-satunya lelaki di ruangan ini. Ada sih mahasiswa lain, tetapi mereka hanya keluar masuk untuk meminjam buku. Tidak berdiam diri seperti dirinya.


Apalagi saat ia menyadari tatapan Anja dan Jani. Keduanya sama-sama menatap Aydan dengan begitu lekat, seperti predator yang tengah mengincar mangsanya.


Kedua kembar itu sama sekali tak melepaskan tubuh Aydan. Mereka terus mengunci. Selagi ia memberi penjelasan tentang pelajaran sore hari ini.


Jujur saja, Aydan sungguh merasa tak nyaman.


Namun, karena lelaki itu tak mau seudzon, Aydan langsung menepis pikiran-pikiran buruk yang bersarang. Toh, lagi pula selama ini pun tidak terjadi apapun di antara mereka.


Ia hanya tidak tahu saja, kalau semalam ketiga bersaudara itu sudah melakukan kesepakatan bersama.


Ya, hari ini Zayn sengaja tidak ikut, karena pemuda tampan itu ingin memberikan ruang untuk kedua adiknya itu mengenal cinta. Apalagi pada seorang lelaki seperti Aydan. Lelaki yang menurutnya paling pantas untuk dijadikan imam.


Baik imam dalam sholat, maupun dalam keluarga.


Ia yakin, bahwa Aydan adalah orang yang paling tepat untuk menjaga salah satu adiknya.

__ADS_1


"Ada apa Kak? Kenapa Kakak memanggil kita kesini?" Tanya Jani, sehabis makan malam, Zayn memang meminta Anja dan Jani.


Di sebuah ruangan yang mirip dengan perpustakaan mini. Tempat dimana koleksi buku-buku sang Ayah Arick, berjajar dengan rapih.


Dan disini pula, terkadang Zayn menghabiskan waktu untuk mengurus segala jenis makalahnya.


Duduk di kursi yang tersedia. Kedua kembar itu berhadapan dengan sang Kakak, Zayn.


Pikiran mereka bergelut, mencari jawaban yang paling masuk akal, kenapa Zayn tiba-tiba meminta waktu kepada mereka untuk berbicara.


Bahkan, Zayn sudah memasang wajah seserius mungkin. Apa ada masalah? Batin Anja dan Jani bertanya-tanya.


"Sekarang kalian jujur padaku. Selain meminta Aydan menjadi guru privat, kalian pasti punya tujuan lainkan?" Tanya Zayn tanpa basa-basi, melainkan langsung pada inti.


Ia bukan lelaki bodoh, yang tidak tahu arti tatapan seorang wanita terhadap orang yang ia suka. Ia juga bukan lelaki yang tidak mengerti, mana perhatian seorang teman, dan mana perhatian karena merasa nyaman.


Binar kagum itu jelas, benar-benar sangat kontras, memenuhi pelupuk Anja dan Jani saat menatap wajah Aydan.


Itulah yang Anja dan Jani lakukan. Berharap Aydan mengerti akan hal-hal itu, dan lelaki itu mengungkapkan perasaan lebih dulu.


Glek!


Ditanya seperti itu, keduanya langsung bungkam. Tak ada sepatah katapun untuk membantah. Memanglah, dari awal mereka melihat Aydan. Dua kembar itu langsung suka.


Mereka tertarik dengan kecerdasan otak Aydan. Mereka juga tertarik dengan sikap tegas lelaki itu dalam memutuskan sebuah pilihan, dan yang paling membuat mereka tak berhenti memikirkan Aydan adalah wajahnya yang tampan.


Ya, bibir tipis dengan hidung mancung. Rahang tegas serta alis yang bertaut cukup tebal. Benar-benar menjadi tipe ideal si kembar.


"Jawab, atau aku akan tidak membiarkan kalian melanjutkan les privat lagi dengannya." Ancam Zayn. Melihat kedua adiknya yang bergeming ia semakin yakin.


Kedua gadis itu tengah menyembunyikan perasaan masing-masing.

__ADS_1


Anja dan Jani kompak menunduk, tangan mereka saling terpaut. Dengan keringat dingin mengucur.


Habislah riwayat keduanya. Zayn tahu akan hal itu.


"Maaf Kak." Ucapnya bersamaan sekaligus merasa bersalah.


Melihat itu, Zayn justru terkekeh kecil, merasa lucu. Pasti keduanya berpikir Zayn akan melarang hal itu. Mereka pikir Zayn pasti akan menghentikan niat mereka.


Dan pikiran-pikiran itu ternyata salah. Zayn justru berkata. "Kalian boleh dekati dia."


Deg!


Jantung mereka mencelos, dengan netra yang membola, melebar hanya karena ucapan sang Kakak yang mengizinkan mereka untuk mendekati Aydan.


Satu persatu, kepala itu terangkat, menatap Zayn penuh tanya. Ingin sebuah kejelasan, kenapa lelaki dingin yang biasanya melarang mereka pacaran, kini justru memberikan izin untuk mendekati Aydan?


"Aku pikir. Dia adalah lelaki yang baik dan cocok untuk dijadikan suami. Aku lihat, dia itu tipe laki-laki yang tidak neko-neko. Bertanggung jawab dengan pendidikannya, pintar, bahkan dia juga termasuk penerima beasiswa di kampus kita. Dan satu lagi, jangan lupakan kalau dia adalah lelaki taat beragama." Jelas Zayn panjang lebar pada kedua adiknya.


Dalam sejarah kehidupan beradaban mereka. Zayn baru pernah memberi lampu hijau kepada mereka untuk mendekati seorang lelaki.


Apalagi lelaki bernama Aydan, mahasiswa terpopuler di kampus, sekaligus sosok yang mereka kagumi.


Kedua jantung itu tak berhenti berdebar-debar. Ada lengkungan senyum yang tak habis-habis, seolah tak ingin memudar.


Selalu tampak memancar, lengkap dengan netra yang berbinar-binar.


Dan pada akhirnya malam itu, atas izin Zayn, mereka memutuskan untuk mengambil hati seorang Aydan.


Ya, mereka berdua akan bersaing secara sehat, mendapatkan si guru privat.


"Kak Zayn ganteng makasih." Ucap Anja dan Jani bersamaan. Memeluk Kakak laki-lakinya itu dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


Seraya berpikir keras bagaimana caranya bisa mendapatkan Aydan.


__ADS_2