Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 126


__ADS_3

Sore itu, Yuli membawa Aydan untuk jalan-jalan


menikmati senja di jalanan komplek perumahannya. Tak hanya Aydan, banyak pula


anak-anak kecil lain yang sedang bermain disana,. Rata-rata, anak-anak itu


bermain sepeda ataupun mobil-mobilan yang didorong oleh orang tuanya.


Kala itu Widya hendak membuang sampah, namun


tatapannya langsung tertuju pada Aydan yang berjalan sendiri, sementara Yuli


melihat dan melindungi susunya itu dengan sangat hati-hati.


Bahkan Widya mendengar dengan jelas, kala berulang


kali Widya menyemangati Aydan.


“Ayo sayang, hati-hati! aduh pinter! Cucu oma memang


pintar.” Yuli terus antusias bermain dengan sang cucu, tak tahu jika ia sedang


diperhatikan.


Widya, yang melihat kedekatan Yuli dan Aydan sontak


saja mengelus perutnya yang masih rata, seraya mengingat mendiang sang ibu.


Dalam hati Widya ia terus berucap, mengatakan pada ibunya jika kini ia tengah


hamil.


Tak ingin kesedihan menyelimuti, Widya akhirnya


memutuskan untuk menemui Yuli dan Aydan, ikut bergabung bersama mereka


menikmati sore kala itu yang nampak cerah.


“Bude,” sapa Widya pada Yuli. Widya bahkan langsung


berjongkok, mensejajarkan diri dengan Aydan.


“Wid, kamu disini Nak?” tanya Yuli penasaran, ada


apa gerangan sampai Widyakeluar rumah.


“Iya Bude, aku habis buang sampah,” jawab Widya apa


adanya. Kantong plastik berisi sampah yang ia bawa sudah ia masukkan di kotak


sampah sana.


Yuli hanya menanggapinya dengan senyuman, hingga


sampai akhirnya ia mengingat akan satu hal.


“Oh iya wid, apa kamu di rumah sendirian jika Agung


kerja?” tanya Yuli, dengan nada yang terdengar cemas.


Bukan apa-apa, Yuli pun tahu jika kini Widya tengah


hamil. Rasanya ia begitu tak tega jika membayangkan Widya harus tinggal seorang


diri jika suaminya itu bekerja.


Apalagi jika membayangkan, Widya yang mengurus semua


keperluan rumah.


“Iya Bude, Wid tinggal sendiri,” jawab Widya, ia pun


lalu menerangkan jika kini belum mendapatkan Asisten Rumah tangga yang tepat.


Rata-rata. Asisten rumah tangga yang diberikan oleh


yayasan masih gadis ataupun belum menikah. Sementara Widya, ingin Asisten rumah


tangganya sudah menikah dan tidak terlalu muda.


Widya hanya merasa tak nyaman jika Asisten rumah


tangganya masih muda dan lajang.

__ADS_1


Hal itupun disetujui oleh Yuli, terlebih mereka memilih


tinggal sendiri dan tidak tidak bersama orang tua. Rasanya jika mengambil


asisten rumah tangga yang masih muda hanya akan menjadi orang ketiga diantara


pernikahan mereka.


“Kalau begitu, biar nanti Bude minta bude Asni untuk


tinggal bersamamu dulu sampai kamu mendapatkan Asisten rumah tangga yang tepat,


Ya?” tawar Yuli tulus. Asni adalah asisten rumah tangga di rumah Yuli sejak


lama, bahkan dulu Asni sempat ikut bersama Kiran saat Kiran dan Alsn pindah


rumah.


Mendapatkan tawaran itu, Widya langsung menggeleng


dengan cepat. Sumpah demi apaun, ia merasa tak enak hati, seolah tak ada


habisnya keluarga Aslan dan Kiran terus membantu dirinya dan sang suami.


“Tidak usah Bude, terima kasih. Tapi untuk sekarang


Wid masih bisa menangani sendiri. Lagipula mas Agung juga sering membantuku


mengurus rumah,” tolak Widya, Agung memang selalu membantu sang istri untuk


mengurus rumah itu. Bahkan tak segan, Agung pun  menyapu rumah saat Widya tengah masak.


“Sebenarnya Bude memaksa, bukan meminta


persetujuanmu,” jawab Yuli kemudian, lalu mengulas senyum yang begitu lebar. Makin


Widya menolak, makin ia ingin membantu.


Jujur saja, Yuli sebenarnya merasa iba atas apa yang


terjadi pada Widya, Yuli tahu tentang meningalnya sang ibu belum lama ini.


“Jangan sungkan pada Bude Wid, anggap Bude ini


mengelus sayang salah satu pundak Widya.


Mendengar itu, kedua netra Widya berkaca-kaca, namun


sekuat tenaga air mata itu ia tahan agar tidak banjir.


Membahas sang ibu, masih saja menyisahkan sesak


dihatinya.


“terima kasih Bude,” jawab Widya, hanya satu kalimat


itulah yang bisa ia ucapkan untuk membalas kebaikan Yuli padanya.


Sore itu, Yuli dan Widya kembali menemani Aydan


bermain, bahkan sesekali Widya berpura-pura berlari, Agar aydan mengejarnya.


Hingga saat jam setengah 5 sore, mereka memutuskan


untuk menyudahi bermain-main. Memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah dan


membersihkan diri.


“Des, ambil baju Aydan, biar dia mandi di kamar ibu


saja.”


“baik Bu,” jawab desi pada perintah sang maikan,


Yuli.


Sementara saat itu, Kiran tengah membantu bude Idah


memasak untuk makan malam.


Aslan juga berada disana, duduk di meja makan dan menyeduh


teh hangat sambil menikmati tempe goreng tepung yang masih hangat, bersama

__ADS_1


dengan Iwan pula.


“Lan, ini toko baju kita?” tanya Iwan, seraya


menunjukan layar ponselnya, beberapa foto yang bertebaran di media sosial, yang


nampak mirip seperti sudut toko milik keluarga mereka. Bahkan foto-foto itu


begitu banyak dikomen orang, tentang ingin membeli salah satu baju di foto itu.


“Iya Abi, itu toko kita.”


“Ha! Kok ada disini?” tanya Iwan heran, yang ia tahu


tentang ponsel hanya untuk menelpon dan mengirim pesan singkat, juga hanya


menscroll beranda di fb, selebihnya ia tidak tahu apa-apa.


Aslan tak langsung menjawab, ia lebih dulu


tersenyum. Lalu menggeser kursinya agar lebih dekat dengan sang ayah.


“Kiran, pasang iklan di media sosial Abi, jadi semua


orang bisa lihat dan yang mau beli tinggal klik ini, Pesan sekarang,” jelas


Aslan, dengan sangat telaten, ia bahkan langsung menakan tulisan Pesan sekarang


itu, hingga membawanya ke halaman web toko mereka, berjejer foto baju-baju yang


nampak begitu indah.


“Lah, ini Hana?” tanya Iwan lagi begitu heran. Dan Aslan


akhirnya terkekeh.


“iya Abi, itu Hana. Sekarang dia bukan hanya kepala


toko, tapi juga model untuk toko kita,” jelas Aslan lagi, tak bosan-bosan


menjelaskan kepada sang ayah.


Seperti saat ia masih kecil dulu, saat ia terus


bertanya pada Iwan, Iwan akan menjelaskan semuanya dengan sangat rinci.


Sore itu, suasana hangat di rumah Aslan begitu


kental terasa. Seolah hari minggu ini, berakhir tidak sia-sia, karena membuat


hubungan kekeluargaan mereka semakin dekat.


Selesai memandikan Aslan dan juga mandi untuk


dirinya sendiri, Yuli dan Aydan pun ikut bergabung duduk di meja makan itu.


Ikut menikmati teh hangat dan tempe goreng yang mulai habis, sementara Aydan,


sepertinya juga mau.


“Ran, tempe gorengnya masih ada tidak?” tanya Yuli


seraya berjalan mendekati sang menantu.


“Masih ada kok Umi,” jawab Kiran, lalu mengambil piring


ksosong diatas meja makan dan kembali mengisinya.


“tapi jangan semua ya, adek kecil di perut Kiran


juga mau makan tempe goreng,” ucap Kiran, seraya menyisahkan tempe goreng itu


dipiring lain, meletakkannya di meja pantry untuk dia makan.


“Bayinya apa ibunya yang mau?” ledek Yuli dengan


menahan tawanya.


“Dua-duanya Umi,” Aslan yang menjawab, hingga


membuat Kiran mencebik.


Dan tawa Yuli, akhirnya tak bisa ditahan,.

__ADS_1


__ADS_2