
Sore itu, Yuli membawa Aydan untuk jalan-jalan
menikmati senja di jalanan komplek perumahannya. Tak hanya Aydan, banyak pula
anak-anak kecil lain yang sedang bermain disana,. Rata-rata, anak-anak itu
bermain sepeda ataupun mobil-mobilan yang didorong oleh orang tuanya.
Kala itu Widya hendak membuang sampah, namun
tatapannya langsung tertuju pada Aydan yang berjalan sendiri, sementara Yuli
melihat dan melindungi susunya itu dengan sangat hati-hati.
Bahkan Widya mendengar dengan jelas, kala berulang
kali Widya menyemangati Aydan.
“Ayo sayang, hati-hati! aduh pinter! Cucu oma memang
pintar.” Yuli terus antusias bermain dengan sang cucu, tak tahu jika ia sedang
diperhatikan.
Widya, yang melihat kedekatan Yuli dan Aydan sontak
saja mengelus perutnya yang masih rata, seraya mengingat mendiang sang ibu.
Dalam hati Widya ia terus berucap, mengatakan pada ibunya jika kini ia tengah
hamil.
Tak ingin kesedihan menyelimuti, Widya akhirnya
memutuskan untuk menemui Yuli dan Aydan, ikut bergabung bersama mereka
menikmati sore kala itu yang nampak cerah.
“Bude,” sapa Widya pada Yuli. Widya bahkan langsung
berjongkok, mensejajarkan diri dengan Aydan.
“Wid, kamu disini Nak?” tanya Yuli penasaran, ada
apa gerangan sampai Widyakeluar rumah.
“Iya Bude, aku habis buang sampah,” jawab Widya apa
adanya. Kantong plastik berisi sampah yang ia bawa sudah ia masukkan di kotak
sampah sana.
Yuli hanya menanggapinya dengan senyuman, hingga
sampai akhirnya ia mengingat akan satu hal.
“Oh iya wid, apa kamu di rumah sendirian jika Agung
kerja?” tanya Yuli, dengan nada yang terdengar cemas.
Bukan apa-apa, Yuli pun tahu jika kini Widya tengah
hamil. Rasanya ia begitu tak tega jika membayangkan Widya harus tinggal seorang
diri jika suaminya itu bekerja.
Apalagi jika membayangkan, Widya yang mengurus semua
keperluan rumah.
“Iya Bude, Wid tinggal sendiri,” jawab Widya, ia pun
lalu menerangkan jika kini belum mendapatkan Asisten Rumah tangga yang tepat.
Rata-rata. Asisten rumah tangga yang diberikan oleh
yayasan masih gadis ataupun belum menikah. Sementara Widya, ingin Asisten rumah
tangganya sudah menikah dan tidak terlalu muda.
Widya hanya merasa tak nyaman jika Asisten rumah
tangganya masih muda dan lajang.
__ADS_1
Hal itupun disetujui oleh Yuli, terlebih mereka memilih
tinggal sendiri dan tidak tidak bersama orang tua. Rasanya jika mengambil
asisten rumah tangga yang masih muda hanya akan menjadi orang ketiga diantara
pernikahan mereka.
“Kalau begitu, biar nanti Bude minta bude Asni untuk
tinggal bersamamu dulu sampai kamu mendapatkan Asisten rumah tangga yang tepat,
Ya?” tawar Yuli tulus. Asni adalah asisten rumah tangga di rumah Yuli sejak
lama, bahkan dulu Asni sempat ikut bersama Kiran saat Kiran dan Alsn pindah
rumah.
Mendapatkan tawaran itu, Widya langsung menggeleng
dengan cepat. Sumpah demi apaun, ia merasa tak enak hati, seolah tak ada
habisnya keluarga Aslan dan Kiran terus membantu dirinya dan sang suami.
“Tidak usah Bude, terima kasih. Tapi untuk sekarang
Wid masih bisa menangani sendiri. Lagipula mas Agung juga sering membantuku
mengurus rumah,” tolak Widya, Agung memang selalu membantu sang istri untuk
mengurus rumah itu. Bahkan tak segan, Agung pun menyapu rumah saat Widya tengah masak.
“Sebenarnya Bude memaksa, bukan meminta
persetujuanmu,” jawab Yuli kemudian, lalu mengulas senyum yang begitu lebar. Makin
Widya menolak, makin ia ingin membantu.
Jujur saja, Yuli sebenarnya merasa iba atas apa yang
terjadi pada Widya, Yuli tahu tentang meningalnya sang ibu belum lama ini.
“Jangan sungkan pada Bude Wid, anggap Bude ini
mengelus sayang salah satu pundak Widya.
Mendengar itu, kedua netra Widya berkaca-kaca, namun
sekuat tenaga air mata itu ia tahan agar tidak banjir.
Membahas sang ibu, masih saja menyisahkan sesak
dihatinya.
“terima kasih Bude,” jawab Widya, hanya satu kalimat
itulah yang bisa ia ucapkan untuk membalas kebaikan Yuli padanya.
Sore itu, Yuli dan Widya kembali menemani Aydan
bermain, bahkan sesekali Widya berpura-pura berlari, Agar aydan mengejarnya.
Hingga saat jam setengah 5 sore, mereka memutuskan
untuk menyudahi bermain-main. Memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah dan
membersihkan diri.
“Des, ambil baju Aydan, biar dia mandi di kamar ibu
saja.”
“baik Bu,” jawab desi pada perintah sang maikan,
Yuli.
Sementara saat itu, Kiran tengah membantu bude Idah
memasak untuk makan malam.
Aslan juga berada disana, duduk di meja makan dan menyeduh
teh hangat sambil menikmati tempe goreng tepung yang masih hangat, bersama
__ADS_1
dengan Iwan pula.
“Lan, ini toko baju kita?” tanya Iwan, seraya
menunjukan layar ponselnya, beberapa foto yang bertebaran di media sosial, yang
nampak mirip seperti sudut toko milik keluarga mereka. Bahkan foto-foto itu
begitu banyak dikomen orang, tentang ingin membeli salah satu baju di foto itu.
“Iya Abi, itu toko kita.”
“Ha! Kok ada disini?” tanya Iwan heran, yang ia tahu
tentang ponsel hanya untuk menelpon dan mengirim pesan singkat, juga hanya
menscroll beranda di fb, selebihnya ia tidak tahu apa-apa.
Aslan tak langsung menjawab, ia lebih dulu
tersenyum. Lalu menggeser kursinya agar lebih dekat dengan sang ayah.
“Kiran, pasang iklan di media sosial Abi, jadi semua
orang bisa lihat dan yang mau beli tinggal klik ini, Pesan sekarang,” jelas
Aslan, dengan sangat telaten, ia bahkan langsung menakan tulisan Pesan sekarang
itu, hingga membawanya ke halaman web toko mereka, berjejer foto baju-baju yang
nampak begitu indah.
“Lah, ini Hana?” tanya Iwan lagi begitu heran. Dan Aslan
akhirnya terkekeh.
“iya Abi, itu Hana. Sekarang dia bukan hanya kepala
toko, tapi juga model untuk toko kita,” jelas Aslan lagi, tak bosan-bosan
menjelaskan kepada sang ayah.
Seperti saat ia masih kecil dulu, saat ia terus
bertanya pada Iwan, Iwan akan menjelaskan semuanya dengan sangat rinci.
Sore itu, suasana hangat di rumah Aslan begitu
kental terasa. Seolah hari minggu ini, berakhir tidak sia-sia, karena membuat
hubungan kekeluargaan mereka semakin dekat.
Selesai memandikan Aslan dan juga mandi untuk
dirinya sendiri, Yuli dan Aydan pun ikut bergabung duduk di meja makan itu.
Ikut menikmati teh hangat dan tempe goreng yang mulai habis, sementara Aydan,
sepertinya juga mau.
“Ran, tempe gorengnya masih ada tidak?” tanya Yuli
seraya berjalan mendekati sang menantu.
“Masih ada kok Umi,” jawab Kiran, lalu mengambil piring
ksosong diatas meja makan dan kembali mengisinya.
“tapi jangan semua ya, adek kecil di perut Kiran
juga mau makan tempe goreng,” ucap Kiran, seraya menyisahkan tempe goreng itu
dipiring lain, meletakkannya di meja pantry untuk dia makan.
“Bayinya apa ibunya yang mau?” ledek Yuli dengan
menahan tawanya.
“Dua-duanya Umi,” Aslan yang menjawab, hingga
membuat Kiran mencebik.
Dan tawa Yuli, akhirnya tak bisa ditahan,.
__ADS_1