
Seminggu berlalu.
Sejak Aslan memutuskan untuk membantu sang ayah mengurus toko itu. Aslan kini jadi super sibuk. Siang hingga sore ia bekerja di
Bank, dan sore hingga malam ia datang ke
toko.
Mengubah sebagian manajemen toko yang selama ini diterapkan oleh sang ayah.
Bahkan Aslan memasang CCTV di setiap sudut ruang toko itu. Karena terlalu sibuk dan tak punya watu untuk bertegur sapa dengan
para karyawan Toko, Aslan jadi dikenal sebagai bos baru yang dingin dan
sombong.
Di toko itu, semua karyawan totalnya ada 14 orang, mulai dari kepala toko, dua kasir, tiga office boy dan sepuluh orang yang
melayani pembeli. Satu karyawan yang minggu lalu melakukan kecurangan sudah
dipecat, tanpa mendapatkan gaji bulan ini dan pesangon.
Saat ini Aslan sedang berada di ruang kerjanya,
setelah beberapa saat lalu ia melaksanakan shalat isya. Duduk berhadapan di
meja kerjanya dengan kepala toko itu, Hana. Hana sudah bekerja di toko ini
selama 5 tahun, setelah kepala toko sebelumnya menikah dan memilih resign.
“Ubah semua laporan penjualan, nanti saya akan
memberikan format yang baru,” ucap Aslan, ia berucap dengan mata yang terus
menatap layar komputer. Memeriksa laporan penjualan bulanan yang baginya begitu
jauh dari kata sempurna, sehingga antara barang masuk dan barang keluar sulit
untuk dibaca.
“Baik Pak,” jawab Hana patuh, ia selama ini hanya
meneruskan format dari tahun ke tahun. Dan Iwan tidak pernah memprotesnya.
Cukup lama mereka berdisikusi, Aslan menyampaikan semua yang ia ingin atas toko ini. Hana yang menjabat sebagai kepala toko pun
meyanggupi itu semua. Apapun akan ia lakukan, meski pekerjaannya jadi berlipat-lipat. Ini juga atas bentuk tanggung jawab dan juga rasa bersalahnya
atas peristiwa beberapa hari lalu.
Karena kelalaiannya pulalah, salah satu karyawan
disana sampai bisa berbuat ulah.
Hana bahkan berjanji, ia akan bekerja lebih keras
lagi, sebagai bentuk pengabdiannya pada toko ini. Dan rasa terima kasihnya kepada Iwan.
Jauh di dalam hati Aslan pun, ia juga ingin
memajukan toko sang ayah. Sudah sepuluh tahun terakhir, toko mereka tetap
seperti-seperti ini saja, belum ada lagi peningkatan.
Setelah saling
sepakat dan selesai pembahasannya dengan Hana, Aslan langsung memutuskan untuk
pulang. Toko itu memang buka sampai malam, menggunakan metode shift pagi dan
__ADS_1
shift malam.
Sampai di rumah, waktu sudah menunjukkan jam 10 malam, bahkan saat ini juga sedang turun gerimis. Dingin malam itu menusuk
hingga ke tulangnya. Dan besok pagi ia
kembali bekerja di Bank, sungguh
rutinitas yang melelahkan, tapi Aslan yakin, nanti saat keadaan toko sudah
stabil, ia tak akan serepot ini.
Membuka pintu, ternyata sang istri menunggunya di ruang tamu, namun Kiran tertidur di sofa itu. Aslan tersenyum, seraya berjalan
mendekat, lalu berjongkok tepat didepan wajah sang istri.
Ditatapinyalah wajah cantik Kiran, saat ia sedang
tidur seperrti ini, entah kenapa kecantikkannya makin berlipat-lipat. Ia ingin
memindahkan Kiran, namun tubuhnya sudah begitu lelah. Akhirnya Aslan memilih
untuk menciumi wajah sang istri, agar istrinya ini segera terbangun.
Dan benar saja, Kiran langsung mendorong tubuhnya saat ia membuka mata, bahkan Kiran sedikit berteriak, terkejut.
“Mas!” pekik Kiran dengan suara tertahan.
“Ku kira hantu mesum,” timpalnya lagi dengan wajah cemberut, dan Aslan malah terkekeh.
Hantu mesum? Ulang Aslan di dalam hati.
“Ayo pindah ke kamar,” ajak Aslan kemudian, dan
Kiran mengangguk. Kiran mengambil tas kerja suaminya itu lalu berjalan beriringan menuju kamar mereka yang berada di lantai 2.
Sampai di kamar, Kiran segera menyiapkan air hangat untuk mandi sang suami, jika tidak mandipun Aslan tidak akan bisa tidur dengan
Saat kembali setelah menyiapkan air hangat, Kiran melihat suaminya itu duduk disofa dengan menyandarkan kepalanya. Nampak jelas,
jika suaminya itu sangat lelah.
Jujur saja, sebenarnya Kiran tidak tega.
Kiran lalu menghampiri, ikut duduk disana dan memijat beberapa bagian
tubuh suaminya itu.
“Mandi dulu sana, habis ini aku pijat lagi,” ucap
Kiran.
Aslan tersenyum, lalu bangkit dari rebahannya dan mencium sekilas bibir sang istri.
“Harusnya aku dimandikan,” keluh Aslan setelah
melepaskan ciumannya.
Dan Kiran mencebik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokah harinya.
Semua berjalan seperti biasa.
Hanya saja, kini Kiran menyiapkan bekal untuk
suaminya itu. Tahu Aslan semakin sibuk, Kiran sengaja menyiapkan makanan penuh
__ADS_1
gizi untuk Aslan. Ia tak mau Aslan makan sembarangan dan malah berakhir sakit.
“Lan, kamu dipanggil Abi,” ucap Yuli saat Aslan dan Kiran baru saja memasuki garasi, hendak menuju mobil mereka dan berangkat
kerja.
Aslan dan Kiran berhenti melangkah, lalu saling
pandang.
“Iya Umi,” jawab aslan kemudian.
Lalu Yuli masuk lebih dulu.
“Kamu berangkat dulu saja, hati-hati ya?” ucap Asaln dan Kiran mengangguk setuju.
Setelah memastikan istrinya pergi, Aslan kembali
masuk ke dalam rumah, Iwan sudah menunggu ia di ruang tengah, Ada Yuli juga
disana.
“Abi, ada apa?” tanya Aslan saat ia sudah duduk
disana pula.
“Lan, sebaiknya kita jual saja toko itu Nak, Abi juga tidak tega melihat kamu siang malam
bekerja,” jawab Iwan langsung.
Dan Aslan bergeming.
Aslan melirik sang ibu yang sepertinya setuju dengan keputusan Abi ini.
“Abi sudah tidak sanggup jika harus ikut mengurus toko itu lagi Lan, kamu tahu sendiri, Abi sudah tidak punya cukup tenaga.
Bahkan naik tangga pun abi sudah merasa kelelahan.” Jelas Iwan apa adanya,
karena alasan itu jugalah, kini iwan dan Yuli pindah kamar di lantai satu. Dulu
semua kamar yang diguankan adalah di lantai 2.
Aslan masih setia terdiam. Memikirkan bagaimana
baiknya.
“iya Lan, lagipula kalau dijual, harga toko itu
pasti mahal. Kalau menurut umi memang lebih baik dijual saja, daripada kita yang urus tapi berjalan tidak semestinya,” timpal Yuli pula.
“Bagaimana Lan?” tanya Iwan, memastikan.
“Tidak Abi, aku tidak setuju. Lagipula aku masih
sanggup, mungkin abi dan umi melihat aku sepertinya lelah, tapi aku yang menjalaninya merasa baik-baik saja Abi, Umi,” jelas Aslan kemudian.
“Lagipula saat ini masih awal, masih masa pembaruan manajemen, kaerena itu aku terlihat sibuk, tapi aku yakin, jika semuanya sudah
sesuai dengan keinginaku, aku tidak akan sesibuk ini lagi,” jelasnya lagi,
sungguh-sungguh.
Iwan dan Yuli lalu saling pandang. Tetap saja
rasanya mereka tidak tega.
“Percayalah padaku Umi, Abi.” Pinta Aslan.
Dan kedua orang tuanya itu tak bisa menjawab apa-apa lagi, akhirnya mereka setuju untuk menyerahkan semuanya kepada Aslan.
__ADS_1
Mereka hanya berdoa, agar anaknya itu selalu diberi kesehatan dan kemudahan dalam semua urusannya.