Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 100


__ADS_3

Seminggu berlalu.


Sejak Aslan memutuskan untuk membantu sang ayah mengurus toko itu. Aslan kini jadi super sibuk. Siang hingga sore ia bekerja di


Bank, dan sore hingga malam ia datang  ke


toko.


Mengubah sebagian manajemen toko yang selama ini diterapkan oleh sang ayah.


Bahkan Aslan memasang CCTV di setiap sudut ruang toko itu. Karena terlalu sibuk dan tak punya watu untuk bertegur sapa dengan


para karyawan Toko, Aslan jadi dikenal sebagai bos baru yang dingin dan


sombong.


Di toko itu, semua karyawan totalnya ada 14 orang, mulai dari kepala toko, dua kasir, tiga office boy dan sepuluh orang yang


melayani pembeli. Satu karyawan yang minggu lalu melakukan kecurangan sudah


dipecat, tanpa mendapatkan gaji bulan ini dan pesangon.


Saat ini Aslan sedang berada di ruang kerjanya,


setelah beberapa saat lalu ia melaksanakan shalat isya. Duduk berhadapan di


meja kerjanya dengan kepala toko itu, Hana. Hana sudah bekerja di toko ini


selama 5 tahun, setelah kepala toko sebelumnya menikah dan memilih resign.


“Ubah semua laporan penjualan, nanti saya akan


memberikan format yang baru,” ucap Aslan, ia berucap dengan mata yang terus


menatap layar komputer. Memeriksa laporan penjualan bulanan yang baginya begitu


jauh dari kata sempurna, sehingga antara barang masuk dan barang keluar sulit


untuk dibaca.


“Baik Pak,” jawab Hana patuh, ia selama ini hanya


meneruskan format dari tahun ke tahun. Dan Iwan tidak pernah memprotesnya.


Cukup lama mereka berdisikusi, Aslan menyampaikan semua yang ia ingin atas toko ini. Hana yang menjabat sebagai kepala toko pun


meyanggupi itu semua. Apapun akan ia lakukan, meski pekerjaannya jadi berlipat-lipat. Ini juga atas bentuk tanggung jawab dan juga rasa bersalahnya


atas peristiwa beberapa hari lalu.


Karena kelalaiannya pulalah, salah satu karyawan


disana sampai bisa berbuat ulah.


Hana bahkan berjanji, ia akan bekerja lebih keras


lagi, sebagai bentuk pengabdiannya pada toko ini. Dan  rasa terima kasihnya kepada Iwan.


Jauh di dalam hati Aslan pun, ia juga ingin


memajukan toko sang ayah. Sudah sepuluh tahun terakhir, toko mereka tetap


seperti-seperti ini saja, belum ada lagi peningkatan.


Setelah  saling


sepakat dan selesai pembahasannya dengan Hana, Aslan langsung memutuskan untuk


pulang. Toko itu memang buka sampai malam, menggunakan metode shift pagi dan

__ADS_1


shift malam.


Sampai di rumah, waktu sudah menunjukkan jam 10 malam, bahkan saat ini juga sedang turun gerimis. Dingin malam itu menusuk


hingga ke tulangnya.  Dan besok pagi ia


kembali  bekerja di Bank, sungguh


rutinitas yang melelahkan, tapi Aslan yakin, nanti saat keadaan toko sudah


stabil, ia tak akan serepot ini.


Membuka pintu, ternyata sang istri menunggunya di ruang tamu, namun Kiran tertidur di sofa itu. Aslan tersenyum, seraya berjalan


mendekat, lalu berjongkok tepat didepan wajah sang istri.


Ditatapinyalah wajah cantik Kiran, saat ia sedang


tidur seperrti ini, entah kenapa kecantikkannya makin berlipat-lipat. Ia ingin


memindahkan Kiran, namun tubuhnya sudah begitu lelah. Akhirnya Aslan memilih


untuk menciumi wajah sang istri, agar istrinya ini segera terbangun.


Dan benar saja, Kiran langsung mendorong tubuhnya saat ia membuka mata, bahkan Kiran sedikit berteriak, terkejut.


“Mas!” pekik Kiran dengan suara tertahan.


“Ku kira hantu mesum,” timpalnya lagi dengan wajah cemberut, dan Aslan malah terkekeh.


Hantu mesum? Ulang Aslan di dalam hati.


“Ayo pindah ke kamar,” ajak Aslan kemudian, dan


Kiran mengangguk. Kiran mengambil tas kerja suaminya itu lalu berjalan beriringan menuju kamar mereka yang berada di lantai 2.


Sampai di kamar, Kiran segera menyiapkan air hangat untuk mandi sang suami, jika tidak mandipun Aslan tidak akan bisa tidur dengan


Saat kembali setelah menyiapkan air hangat, Kiran melihat suaminya itu duduk disofa dengan menyandarkan kepalanya. Nampak jelas,


jika suaminya itu sangat lelah.


Jujur saja, sebenarnya Kiran tidak tega.


Kiran lalu menghampiri,  ikut duduk disana dan memijat beberapa bagian


tubuh suaminya itu.


“Mandi dulu sana, habis ini aku pijat lagi,” ucap


Kiran.


Aslan tersenyum, lalu bangkit dari rebahannya dan mencium sekilas bibir sang istri.


“Harusnya aku dimandikan,” keluh Aslan setelah


melepaskan ciumannya.


Dan Kiran mencebik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokah harinya.


Semua berjalan seperti biasa.


Hanya saja, kini Kiran menyiapkan bekal untuk


suaminya itu. Tahu Aslan semakin sibuk, Kiran sengaja menyiapkan makanan penuh

__ADS_1


gizi untuk Aslan. Ia tak mau Aslan makan sembarangan dan malah berakhir sakit.


“Lan, kamu dipanggil Abi,” ucap Yuli saat Aslan dan Kiran baru saja memasuki garasi, hendak menuju mobil mereka dan berangkat


kerja.


Aslan dan Kiran berhenti melangkah, lalu saling


pandang.


“Iya Umi,” jawab aslan kemudian.


Lalu Yuli masuk lebih dulu.


“Kamu berangkat dulu saja, hati-hati ya?” ucap Asaln dan Kiran mengangguk setuju.


Setelah memastikan istrinya pergi, Aslan kembali


masuk ke dalam rumah, Iwan sudah menunggu ia di ruang tengah, Ada Yuli juga


disana.


“Abi, ada apa?” tanya Aslan saat ia sudah duduk


disana pula.


“Lan, sebaiknya kita  jual saja toko itu Nak, Abi juga tidak tega melihat kamu siang malam


bekerja,” jawab Iwan langsung.


Dan Aslan bergeming.


Aslan melirik sang ibu yang sepertinya setuju dengan keputusan Abi ini.


“Abi sudah tidak sanggup jika harus ikut mengurus toko itu lagi Lan, kamu tahu sendiri, Abi sudah tidak punya cukup tenaga.


Bahkan naik tangga pun abi sudah merasa kelelahan.” Jelas Iwan apa adanya,


karena alasan itu jugalah, kini iwan dan Yuli pindah kamar di lantai satu. Dulu


semua kamar yang diguankan adalah di lantai 2.


Aslan masih setia terdiam. Memikirkan bagaimana


baiknya.


“iya Lan, lagipula kalau dijual, harga toko itu


pasti mahal. Kalau menurut umi memang lebih baik dijual saja, daripada kita yang urus tapi berjalan tidak semestinya,” timpal Yuli pula.


“Bagaimana Lan?” tanya Iwan, memastikan.


“Tidak Abi, aku tidak setuju. Lagipula aku masih


sanggup, mungkin abi dan umi melihat aku sepertinya lelah, tapi aku yang menjalaninya merasa baik-baik saja Abi, Umi,” jelas Aslan kemudian.


“Lagipula saat ini masih awal, masih masa pembaruan manajemen, kaerena itu aku terlihat sibuk, tapi aku yakin, jika semuanya sudah


sesuai dengan keinginaku, aku tidak akan sesibuk ini lagi,” jelasnya lagi,


sungguh-sungguh.


Iwan dan Yuli lalu saling pandang. Tetap saja


rasanya mereka tidak tega.


“Percayalah padaku Umi, Abi.” Pinta Aslan.


Dan kedua orang tuanya itu tak bisa menjawab apa-apa lagi, akhirnya mereka setuju untuk menyerahkan semuanya kepada Aslan.

__ADS_1


Mereka hanya berdoa, agar anaknya itu selalu diberi kesehatan dan kemudahan dalam semua urusannya.


__ADS_2