
Setelah berbaikan.
Aslan dan Kiran memutuskan untuk langsung pulang.
Kiran, kembali ke mobilnya sendiri lalu sama-sama
melaju menuju rumah mereka.
Sampai di rumah, Aslan dan Kiran langsung terkejut,
saat melihat Yuli yang dibantu oleh Idah dan Asni sedang memapah sang ayah,
Iwan yang terlihat begitu lemas.
Dengan cepat, Aslan mengambil alih kendali dan
menudukkan sang ayah di sofa ruang tengah.
“Apa yang terjadi Umi?” tanya Aslan dan Yuli
langsung menjelaskan. Iwan terjatuh dan membentur lantai, entah karena apa, sepertinya
darah tinggi dan vertigonya kambuh.
“Umi, sebaiknya Abi kita bawa ke rumah sakit,” ucap
Aslan dengan suaranya yang terdengar cemas, namun raut wajah yang ia tunjukkan
seolah ingin terlihat tenang.
“Iya, sebaiknya Abi kita bawa ke rumah sakit.” Kiran
menimpali.
Dan Yuli pun akhirnya mengangguk. Awalnya Iwan
menolak untuk di bawa ke rumah sakit, ia merasa pusingnya sudah menghilang dan
hanya butuh istirahat sejenak. Namun Yuli memaksa, bagaimanapun keadaannya
entakh itu baik atau buruk, Yuli tidak akan merasa tenang jika suaminya itu belum
mendapatkan penanganan, pemeriksaan
kesehatan. Yuli tak ingin, kejadian seperti ini terulang kembali.
Akhirnya Iwan pasrah, ia tak bisa berdebat dengan
istrinya sendiri. Lagipula, ini juga untuk kebaikkannya.
Aslan dan Yuli mengantarkan Iwan ke rumah sakit,
Kiran yang ingin ikut tidak diperbolehkan oleh Aslan. Aslan meminta pada
istrinya itu untuk menunggu saja di rumah, bersama Aydan dan juga yang lainnya.
Dan Kiran pun menurut.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Aslan dan kedua orang
tuanya sampai di rumah sakiit.
Saat itu Iwan langsung dibawa ke ruangan dokter
Johan, dokter yang biasa menangani keluarga Iwan selama ini.
Aslan dan Yuli setia mendampingi semua pemeriksaan
itu.
Hingga akhirnya dokter Johan membacakan semua hasil
pemeriksaannya.
Iwan, mempunyai riwayat darah tinggi, akhir-akhir
ini Iwan memiliki banyak pikiran didalam benaknya, hingga membuatnya tak tidur r
nyentak pun makan tak enak, hingga memicu darah tingginya kambuh.
Puncaknya adalah sore ini, ditambah penyakit
vertigonya yang menyerang, akhirnya Iwan ambruk. Bahkan kepalanya terantuk oleh
lantai.
Yuli menghembuskan napasnya berat, kala mendengar itu, Yuli tahu pasti apa yangs
sedang menjadi beban pikiran sang suami, apalagi kalau bukan masalah Aslan dan
Toko.
Iwan, begitu tak tega melihat anaknya yang banting
tulang, hanya untuk mempertahankan usaha yang telah ia bangun selama ini.
Melihat perjuangan Aslan itu, bukannya merasa
__ADS_1
bahagia, Iwan malah merasa bersalah.
Setelah mendapatkan resep dan menebusnya, mereka
semua kembali pulang.
Aslan, bukan tidak tahu apa yang menjadi beban
pikiran ayahnya itu. Ia tahu dan bisa merasakannya dengan jelas.
“Abi, maafkan aku, jika aku membuat Abi jadi beban
seperti ini,” ucap Aslan, sesaat setelah mobil mereka keluar dari area parkiran
rumah sakit dan mulai memasuki jalan raya. Ikut berkerumun dengan mobil-mobil
yang lainnya.
“Tidak Nak, bukan salahmu Abi sakit seperti ini,”
jawab Iwan, lirih. Ia bersandar pada sandaran kursi, menyandarkan kepalanya
agar tak kembali pusing. Sesekali menutup mata, saat dunia terlihat
berputar-putar di matanya.
“Kiran sudah setuju untuk mengambil alih toko itu
Abi, Umi,” jelas Aslan lagi, dengan suaranya yang lembut, memberi pengertian.
Mendengar itu kedua mata Iwan dan Yuli membola,
seolah tidak percaya.
“Benarkah?” tanya Yuli antusias dan Aslan
menagngguk.
“Iya Umi, Lima hari lagi atau seminggu lagi Kiran
baru bisa ke toko, ia harus menyelesaikann beberapa pekerjaannya dulu di
showroom,” jawab Aslan, menjelaskan.
Yuli dan Iwan lantas tersenyum mendnegarnya.
“Alhamdulilah,” ucap Iwan dan Yuli kompak, merasa
lega.
Jika seperti ini, Iwan yakin semuanya akan berjalan
“Abi jangan terlalu banyak berpikir, apalagi sampai
berpikir yang berlebihan. Di usia tua seperti ini, harusnya Abi dan Umi menikmati
hidup, memberi kami kesempatan untuk berbakti kepada Umi dan Abi,” jelas Aslan
lagi.
Dan mendengar irtu, suasana mobil mendadak haru. Bahkan
Yuli meneteskan air matanya. Harta yang paling berharga memanglah anak yang
sholeh dan sholeha, bukan tahta ataupun uang semata.
Yuli pun langsung memeluk suaminya yang berada duduk
disebelah Yuli, memeluk dengan penuh kasih sayang dan rasa syukur yang tak
habis-habis.
Sementara Aslan yang mengemudikan mobil hanya
tersenyum tipis, saat melihat kedua orang tuanya yang mulai tersenyum kembali melalui
kaca kecil diatas dashboard.
Menjelang magrib, mereka semua sampai di rumah.
Kiran sudah menunggu dengan cemas.
Ia menunggu di ruang tengah, ruangan yang langsung
terhubung dengan garasi rumah mereka.
“Bagaimana Mas?” tanya Kiran cemas, saat mereka
semua sudah masuk kedalam rumah, Aslan adalah tempat menumpahkan semua rasa
penasarannya atas kondisi Abi.
“Semuanya baik-baik saja sayang, darah tinggi Abi
kambuh,” jelas Aslan apa adanya.
“Benar Umi?” tanya Kiran pada sang ibu mertua,
__ADS_1
seolah tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya sendiri.
“Iya sayang,” balas Yuli, ia bahkan langsung memeluk
tubuh menantunya itu hingag membuat Kiran mengeryit bingung. Apalagi saat Yuli
pun meneteskan air mata sambil memeluknya erat.
Dan seperti terhipnotis, Kiran jadi ikut menangis
juga.
“Kalau semuanya baik-baik saja, kenapa Umi menangis?”
tanya Kirandengan suaranya yang serak, perasaannya yang campur aduk dan sangat
sensitif akhir-akhir ini membuat ia gampang sekali menangis.
Bahkan kini tangisan Kiran lebih parah dari tangisan
Yuli.
“Loh, kok jadi nangis semua?” bingung Aslan.
“Sayang, semuanya baik-baik saja Nak, seperti yang
dijawab Aslan tadi. Umi menangis kali ini karena bahagia,” jelas Yuli akhirnya,
ia menatap menantunya itu yang malah menangis terisak.
“Umi bahagia, karena kamu mau meneruskan usaha Abi,
mempertahankan toko itu untuk tetap dikelola keluarga kita,” timpal Yuli apa
adanya, Kiran yang mulai paham pun mulai mencoba mengendalikan emosinya, namun
ternyata susah sekali. Kini pun ia jadi menangis haru.
Tak menyangka, jika keputusan sederhananya untuk
mengambil alih toko itu, bisa membuat Iwan dan Yuli sebahagia ini. Kiran merasa
sangat dihargai, bukan hanya sebagai menantu tapi juga keluarga yang
sesungguhnya.
Masih menangis, Kiran lalu memelukYuli erat.
“Umi tenang saja, aku akan menjaga toko itu, seperti
Abi selama ini,” jawab Kiran sesuai dengan isi hatinya.
Iwan yang mendengarnya pun mengulas senyum yang
semakin lebar.
Kiran, baginya memang bukan hanya sebagai menantu,
tapi juga seorang anak.
“Ya sudah, jangan nangis-nangis lagi.” Iwan akhirnya
buka suara dan Aslan menagngguk setuju.
Hingga terdengar suada Adzan yang berkumandang,
akhirnya tangis itu baru benar-benar mereda.
Yuli membawa suaminya untuk masuk kedalam kamar, dan
Aslan pun demikan,. Membawa Kiran untuk masuk ke dalam kamar mereka.
Di dalam kamar itu, Kiran masih sesenggukan, meski
sudah tidak menangis lagi.
“Sepertinya, kamu jadi semakin cengeng ya sayang?”
tanya Aslan, seraya menggelar sajadah untuk melaksanakan shalat magrib.
Disebut semakin cengen, Kiran mencebik, tak suka.
“Kok Mas bilangnya gitu sih? Kenapa? Tidak suka
kalau melihat aku memangis?” Kiran balik tanya, dengan nadanya yang kesal, marah,
dan malah terlihat inginj menangis lagi.
Melihat itu, Aslan mengehmbuskan napasnya pelan,
entah kenapa, ia jadi merasa serba salah.
“Tidak sayang, bukan seperti itu,” bela Aslan,
suaranya dibuat selembut mungkin agar tak memancing amarah sang istri.
“Mas jahat,” jawab Kiran, yang kembali meneteskan
__ADS_1
air matanya.