Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 103


__ADS_3

Setelah berbaikan.


Aslan dan Kiran memutuskan untuk langsung pulang.


Kiran, kembali ke mobilnya sendiri lalu sama-sama


melaju menuju rumah mereka.


Sampai di rumah, Aslan dan Kiran langsung terkejut,


saat melihat Yuli yang dibantu oleh Idah dan Asni sedang memapah sang ayah,


Iwan yang terlihat begitu lemas.


Dengan cepat, Aslan mengambil alih kendali dan


menudukkan sang ayah di sofa ruang tengah.


“Apa yang terjadi Umi?” tanya Aslan dan Yuli


langsung menjelaskan. Iwan terjatuh dan membentur lantai, entah karena apa, sepertinya


darah tinggi dan vertigonya kambuh.


“Umi, sebaiknya Abi kita bawa ke rumah sakit,” ucap


Aslan dengan suaranya yang terdengar cemas, namun raut wajah yang ia tunjukkan


seolah ingin terlihat tenang.


“Iya, sebaiknya Abi kita bawa ke rumah sakit.” Kiran


menimpali.


Dan Yuli pun akhirnya mengangguk. Awalnya Iwan


menolak untuk di bawa ke rumah sakit, ia merasa pusingnya sudah menghilang dan


hanya butuh istirahat sejenak. Namun Yuli memaksa, bagaimanapun keadaannya


entakh itu baik atau buruk, Yuli tidak akan merasa tenang jika suaminya itu belum


mendapatkan penanganan,  pemeriksaan


kesehatan. Yuli tak ingin, kejadian seperti ini terulang kembali.


Akhirnya Iwan pasrah, ia tak bisa berdebat dengan


istrinya sendiri. Lagipula, ini juga untuk kebaikkannya.


Aslan dan Yuli mengantarkan Iwan ke rumah sakit,


Kiran yang ingin ikut tidak diperbolehkan oleh Aslan. Aslan meminta pada


istrinya itu untuk menunggu saja di rumah, bersama Aydan dan juga yang lainnya.


Dan Kiran pun menurut.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Aslan dan kedua orang


tuanya sampai di rumah sakiit.


Saat itu Iwan langsung dibawa ke ruangan dokter


Johan, dokter yang biasa menangani keluarga Iwan selama ini.


Aslan dan Yuli setia mendampingi semua pemeriksaan


itu.


Hingga akhirnya dokter Johan membacakan semua hasil


pemeriksaannya.


Iwan, mempunyai riwayat darah tinggi, akhir-akhir


ini Iwan memiliki banyak pikiran didalam benaknya, hingga membuatnya tak tidur r


nyentak pun makan tak enak, hingga memicu darah tingginya kambuh.


Puncaknya adalah sore ini, ditambah penyakit


vertigonya yang menyerang, akhirnya Iwan ambruk. Bahkan kepalanya terantuk oleh


lantai.


Yuli menghembuskan napasnya berat,  kala mendengar itu, Yuli tahu pasti apa yangs


sedang menjadi beban pikiran sang suami, apalagi kalau bukan masalah Aslan dan


Toko.


Iwan, begitu tak tega melihat anaknya yang banting


tulang, hanya untuk mempertahankan usaha yang telah ia bangun selama ini.


Melihat perjuangan Aslan itu, bukannya merasa

__ADS_1


bahagia, Iwan malah merasa bersalah.


Setelah mendapatkan resep dan menebusnya, mereka


semua kembali pulang.


Aslan, bukan tidak tahu apa yang menjadi beban


pikiran ayahnya itu. Ia tahu dan bisa merasakannya dengan jelas.


“Abi, maafkan aku, jika aku membuat Abi jadi beban


seperti ini,” ucap Aslan, sesaat setelah mobil mereka keluar dari area parkiran


rumah sakit dan mulai memasuki jalan raya. Ikut berkerumun dengan mobil-mobil


yang lainnya.


“Tidak Nak, bukan salahmu Abi sakit seperti ini,”


jawab Iwan, lirih. Ia bersandar pada sandaran kursi, menyandarkan kepalanya


agar tak kembali pusing. Sesekali menutup mata, saat dunia terlihat


berputar-putar di matanya.


“Kiran sudah setuju untuk mengambil alih toko itu


Abi, Umi,” jelas Aslan lagi, dengan suaranya yang lembut, memberi pengertian.


Mendengar itu kedua mata Iwan dan Yuli membola,


seolah tidak percaya.


“Benarkah?” tanya Yuli antusias dan Aslan


menagngguk.


“Iya Umi, Lima hari lagi atau seminggu lagi Kiran


baru bisa ke toko, ia harus menyelesaikann beberapa pekerjaannya dulu di


showroom,” jawab Aslan, menjelaskan.


Yuli dan Iwan lantas tersenyum mendnegarnya.


“Alhamdulilah,” ucap Iwan dan Yuli kompak, merasa


lega.


Jika seperti ini, Iwan yakin semuanya akan berjalan


“Abi jangan terlalu banyak berpikir, apalagi sampai


berpikir yang berlebihan. Di usia tua seperti ini, harusnya Abi dan Umi menikmati


hidup, memberi kami kesempatan untuk berbakti kepada Umi dan Abi,” jelas Aslan


lagi.


Dan mendengar irtu, suasana mobil mendadak haru. Bahkan


Yuli meneteskan air matanya. Harta yang paling berharga memanglah anak yang


sholeh dan sholeha, bukan tahta ataupun uang semata.


Yuli pun langsung memeluk suaminya yang berada duduk


disebelah Yuli, memeluk dengan penuh kasih sayang dan rasa syukur yang tak


habis-habis.


Sementara Aslan yang mengemudikan mobil hanya


tersenyum tipis, saat melihat kedua orang tuanya yang mulai tersenyum kembali melalui


kaca kecil diatas dashboard.


Menjelang magrib, mereka semua sampai di rumah.


Kiran sudah menunggu dengan cemas.


Ia menunggu di ruang tengah, ruangan yang langsung


terhubung dengan garasi rumah mereka.


“Bagaimana Mas?” tanya Kiran cemas, saat mereka


semua sudah masuk kedalam rumah, Aslan adalah tempat menumpahkan semua rasa


penasarannya atas kondisi Abi.


“Semuanya baik-baik saja sayang, darah tinggi Abi


kambuh,” jelas Aslan apa adanya.


“Benar Umi?” tanya Kiran pada sang ibu mertua,

__ADS_1


seolah tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya sendiri.


“Iya sayang,” balas Yuli, ia bahkan langsung memeluk


tubuh menantunya itu hingag membuat Kiran mengeryit bingung. Apalagi saat Yuli


pun meneteskan air mata sambil memeluknya erat.


Dan seperti terhipnotis, Kiran jadi ikut menangis


juga.


“Kalau semuanya baik-baik saja, kenapa Umi menangis?”


tanya Kirandengan suaranya yang serak, perasaannya yang campur aduk dan sangat


sensitif akhir-akhir ini membuat ia gampang sekali menangis.


Bahkan kini tangisan Kiran lebih parah dari tangisan


Yuli.


“Loh, kok jadi nangis semua?” bingung Aslan.


“Sayang, semuanya baik-baik saja Nak, seperti yang


dijawab Aslan tadi. Umi menangis kali ini karena bahagia,” jelas Yuli akhirnya,


ia menatap menantunya itu yang malah menangis terisak.


“Umi bahagia, karena kamu mau meneruskan usaha Abi,


mempertahankan toko itu untuk tetap dikelola keluarga kita,” timpal Yuli apa


adanya, Kiran yang mulai paham pun mulai mencoba mengendalikan emosinya, namun


ternyata susah sekali. Kini pun ia jadi menangis haru.


Tak menyangka, jika keputusan sederhananya untuk


mengambil alih toko itu, bisa membuat Iwan dan Yuli sebahagia ini. Kiran merasa


sangat dihargai, bukan hanya sebagai menantu tapi juga keluarga yang


sesungguhnya.


Masih menangis, Kiran lalu memelukYuli erat.


“Umi tenang saja, aku akan menjaga toko itu, seperti


Abi selama ini,” jawab Kiran sesuai dengan isi hatinya.


Iwan yang mendengarnya pun mengulas senyum yang


semakin lebar.


Kiran, baginya memang bukan hanya sebagai menantu,


tapi juga seorang anak.


“Ya sudah, jangan nangis-nangis lagi.” Iwan akhirnya


buka suara dan Aslan menagngguk setuju.


Hingga terdengar suada Adzan yang berkumandang,


akhirnya tangis itu baru benar-benar mereda.


Yuli membawa suaminya untuk masuk kedalam kamar, dan


Aslan pun demikan,. Membawa Kiran untuk masuk ke dalam kamar mereka.


Di dalam kamar itu, Kiran masih sesenggukan, meski


sudah tidak menangis lagi.


“Sepertinya, kamu jadi semakin cengeng ya sayang?”


tanya Aslan, seraya menggelar sajadah untuk melaksanakan shalat magrib.


Disebut semakin cengen, Kiran mencebik, tak suka.


“Kok Mas bilangnya gitu sih? Kenapa? Tidak suka


kalau melihat aku memangis?” Kiran balik tanya, dengan nadanya yang kesal, marah,


dan malah terlihat inginj menangis lagi.


Melihat itu, Aslan mengehmbuskan napasnya pelan,


entah kenapa, ia jadi merasa serba salah.


“Tidak sayang, bukan seperti itu,” bela Aslan,


suaranya dibuat selembut mungkin agar tak memancing amarah sang istri.


“Mas jahat,” jawab Kiran, yang kembali meneteskan

__ADS_1


air matanya.


__ADS_2