Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 195 - Kita Kembar


__ADS_3

Sama-sama terkejut, sama-sama tak menyangka, sama-sama tidak percaya Aydan akan memilih Jani. Membuat sudut hati Anja merasa kecewa.


Ia pikir, selama ini Aydan tertarik pada dirinya.


Ia pikir, perasaan yang ia rasa juga sampai dihati Aydan. Tapi siapa sangka, ternyata semua dugaannya salah.


Kembali teringat, kejadian beberapa bulan silam saat ia, Jani dan Aydan masih berkuliah. Anja, seringa melihat Aydan yang diam-diam melirik adiknya itu.


Dulu Anja memilih tak peduli, karena Jani pun selalu tak menatap Aydan.


Rupa-rupanya, Anja baru sadar sekarang. Jika sejak dulu, ia sudah kalah. Sejak dulu, Aydan sudah tertarik pada Jani.


Namun, apalah daya. Di awal, mereka sudah saling berkomitmen, siapapun diantara keduanya yang terpilih, maka satu dari mereka harus ikhlas. Tidak saling membenci atau apapun itu.


Dan kini Anja tengah melakukannya, ia berusaha menerima keputusan Aydan yang memilih sang adik, untuk menjadi pendamping hidupnya. Anja akan turut senang dengan kebahagiaan Jani, rasa kecewa itu akan dia kubur lebih dalam, dan mencoba untuk tetap tersenyum. Meski menyakitkan.


Malam setelah Aydan dan kedua orang tuanya meminang Jani sebagai calon menantu di keluarga itu.


Anja dan Jani, masuk ke dalam kamar mereka sewaktu bayi. Kamar yang selalu dibersihkan oleh sang ibu, meski tidak mereka huni.


Keduanya berbaring bersebelahan di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar yang dihiasi bintang kecil buatan sang ibu, Jihan.


Sejenak tidak ada yang bersuara. Mereka masih saling menyelami pikiran masing-masing. Sibuk diantara banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang seolah tak terjawab.


Adakah alasan terkuat mengapa Aydan memilih Jani?


"Jani. Kamu tahu nggak kenapa Aydan milih kamu? Apa yah yang dia nilai dari kita berdua?" Anja lebih dulu bersuara, memecah keheningan kamar tersebut.


Ia melirik ke samping. Sama seperti dirinya, Jani pun terlihat bergeming, jangankan Anja, Jani saja tidak tahu kenapa lelaki itu memilih dirinya.


Padahal, selama setengah tahun terakhir ini, hubungan keduanya terasa sangat dingin. Tak ada kehangatan yang menyentuh sama sekali.

__ADS_1


Bahkan, hari ini adalah hari pertama perjumpaan mereka setelah sekian lama.


Apa hal itu masuk akal? Jani rasa tidak.


"Apa Aydan suka sama aku dari dulu yah?" Cetua Jani mulai berangan-angan. Menjawab pertanyaan itu dengan pemikirannya sendiri.


Sekaligus berusaha membawa suasana ceria itu kembali, keceriaan antara dirinya dan Anja.


"Dih, geer banget. Mana mungkin, orang dari dulu dia cuek kok. Kamu kali yang pake pelet." Jawab Anja, membalas tingkat kenarsisan sang adik.


Meskipun sebenarnya, dalam hatinya Anja membenarkan ucapan Jani itu.


Mendengar itu, bukannya marah Jani malah terkekeh. "Iya bener. Kayanya pelet aku ampuh deh. Sampe Aydan pilih aku."


"Eh serius kamu pake pelet?" Anja langsung bangkit dari tidurnya, terduduk di samping Jani. Kedua kembar itu saling tatap dengan raut wajah sama-sama tanpa senyum sedikitpun.


Jani mengangguk cepat. "Pelet daki gorila." Lalu tertawa keras, melihat wajah kecewa Anja. Puas sudah dia mengerjai kembarannya itu.


Dan detik selanjutnya, perang bantal itu terjadi begitu saja. Keduanya saling memukul dan tergelak bersama. Hingga suara-suara itu terdengar sampai keluar sana.


Arick dan Jihan sama-sama tersenyum. Bersyukur Anja dan Jani tidak bertengkar karena mempersoalkan tentang Aydan.


Sedangkan di kamarnya, Zayn justru menutup telinga rapat-rapat, karena kebisingan yang dibuat sang adik, benar-benar mengganggu tidurnya.


"Tidak pagi, siang, malam ribut saja gunanya." Gerutu Zayn dengan mata terpejam.


Dan perang bantal itu selesai saat mereka sudah kelelahan. Bahkan Jani sempat terjungkal ke lantai. Untung saja kepalanya kepala batu, jadi tidak mengakibatkan cedera apapun.


Kedua nafas itu terdengar memburu, ada sisa-sisa tawa di bibir mereka. Seperti mendapat sebuah kelegaan, hati Anja dan Jani benar-benar merasa plong.


Anja lebih dulu melirik Jani. Yang dilirik membalas dengan tatapan tajam. "Apa?" Cetus Jani.

__ADS_1


Anja mencebik. "Aku masih penasaran kenapa Aydan pilih kamu." Rengeknya sambil mencubit-cubit kaos kebesaran Jani.


"Coba ceritain pas kamu PDKT." Sambung gadis itu, hatinya sudah diselimuti rasa penasaran yang mendarah daging.


Mendengar itu, Jani malah garuk-garuk kepala. Bahkan setiap pertemuan mereka tidak ada apapun yang terjadi. Sama-sama canggung. Apa seperti itu yang disebut PDKT.


Namun, melihat Anja yang terus-menerus merengek meminta diceritakan. Akhirnya Jani menyerah, dia menceritakan semua hal yang terjadi antara dirinya dan Aydan.


Tidak ada yang ditutup-tutupi sama sekali.


Termasuk tentang kejadian dia membohongi lelaki itu. Hingga terciptalah jarak dan kecanggungan diantara keduanya.


Mendengar jawaban Jani, membuat Anja menoreh kesimpulan. Kenapa Aydan tidak memilih dirinya saja sebagai calon istrinya. Padahal dia adalah gadis yang ceria.


"Kamu bukan ceria, tapi kecentilan." Cibir Jani menyentil dahi Anja dengan kedua jarinya cukup keras.


Merasa sedikit sakit, Anja mengaduh sambil mengusap-usap dahi itu dengan bibir yang mencebik. "Iya kali yah, aku terlalu kecentilan makanya Aydan nggak mau pilih aku." Ucapnya sendu.


"Sabar, aku yakin kamu bakal dapetin seseorang yang lebih baik dari dia. Yang bisa jaga kamu, dan menerima kamu apa adanya." Jani menepuk-nepuk bahu kembarannya itu. Memberi kekuatan.


Namun, secepat kilat Anja menghambur memeluk Jani. Tidak, dia tidak boleh sedih.


Dia harus bahagia melihat Jani bahagia.


"Tapi aku tetep seneng kok, walaupun Aydan nggak pilih aku. Aku udah ikhlas dia sama kamu, kamu orang yang tepat buat dampingi dia. Toh, nanti anak Aydan bakal mirip aku."


Mendengar itu, Jani langsung melepaskan pelukan Anja dari tubuhnya. "Kok gitu?" Sentaknya.


"Yaiyalah, kan kita kembar." Ucap Anja.


"Oh iya yah."

__ADS_1


Tawa keduanya kembali pecah, benar-benar membuat Zayn pusing. Padahal besok, ia ada tander penting


__ADS_2