Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 191 - Berbohong


__ADS_3

Satu Minggu sudah berlalu.


Kini, giliran Jani yang akan les privat dengan Aydan.


Sebelum berangkat, gadis itu menyempatkan diri untuk menemui Anja terlebih dahulu.


Ia melangkah keluar dari kamarnya, menuju kamar sang Kakak yang berada tepat di sebelah kamar Zayn. Ya, kamar lelaki itu menjadi penengah antara Anja dan Jani.


Dengan keras gadis itu menggedor pintu. Seperti tidak sabaran, Jani sampai tidak menjeda.


Membuat gadis yang ada di dalam sana menggeliat. Baru bangun dari tidur siangnya.


"Anja buka!" Teriak Jani yang sedari tadi terus menggerutu. Karena Anja mengunci pintu kamarnya.


Padahal dia ingin mengambil buku pelajaran milik Aydan. Ya, sebelum les, lelaki itu mengiriminya sebuah pesan, kalau dia harus mengambil buku itu dari Anja.


Karena ada bahan referensi dari sana, yang sudah di tulis Aydan, lengkap dengan soal-soal.


"Anja buka nggak! Atau aku dobrak." Ancam Jani, ia sungguh sudah kesal setengah mati. 10 menit menunggu nyatanya si empunya kamar tidak lekas bangun juga.


Kupingnya terbuat dari apa sih anak ini?


Sedangkan Anja mulai mendengus kesal. Ingin menantang ucapan Jani. "Dobrak aja kalo bisa!" Cetusnya dari dalam.


"Oke, tunggu yah. Aku panggil kak Zayn dulu!" Jani tak mau kalah, mana bisa dia mendobrak pintu ini sendiri.


Dan detik selanjutnya, suara bahak menggema dari dalam sana. Sudah bisa ia tebak, Jani hanya menggertak.


"Anja buruan, nanti aku telat!" Rengek Jani, baginya menunggu itu membosankan. Dan dia tidak mau membuat Aydan merasakan itu.


Tidak boleh!


"Emangnya kamu mau apa sih?" Masih kekeuh belum mau buka pintu. Malah saling berteriak seperti hidup di hutan.


"Buku Aydan. Aku mau ambil buku dia, kata dia sama kamu." Ucap Jani jujur. Memang itu tujuan awalnya. Tidak ada yang lain.


Mendengar itu, akhirnya dengan gerakan malas. Anja bangun dari atas ranjang, melangkah menuju pintu dan memutar kunci.

__ADS_1


Klek'


"Gitu kek dari tadi." Jani langsung menyelonong masuk, bahkan sampai menabrak bahu Anja hingga berbunyi bugh'.


Ck!


Anja berdecak keras. Tetapi tak bisa mengomel, karena dia pun sering melakukan itu pada Jani. Jadi dia menganggapnya impas.


Jani mencari buku itu di meja belajar milik Anja. Mengobrak-abrik semua yang ada di atas sana. Tapi ternyata dia tidak menemukannya.


"Dimana sih naronya?" Cetus Jani yang sudah makin kesal, karena buku itu tidak jua ditemukan.


"Di hati." Balas Anja nyeleneh, lalu menaruh buku itu tepat di hadapan Jani. Sebenarnya Anja menaruhnya di dalam tas. Ia diam karena sedang malas bicara, maklum masih mengumpulkan nyawa.


Jani mengambil buku itu dengan kasar.


"Cih, mulutnya coba itu dipake buat ngomong. Bilang kalo ada di dalem tas." Cerocos sang adik sambil menoyor kepala Anja. "Biar pinter!" Lalu bersiap untuk kabur.


Namun, sebelum itu terjadi matanya justru menangkap sesuatu. Sesuatu yang menggantung di depan lemari pakaian Anja. Sebuah sweater yang sangat ia kenal, milik lelaki yang juga ia suka.


Jani menarik nafas, lalu berbalik menatap gadis yang wajahnya sangat mirip sekali dengannya.


Ditanya seperti itu Anja justru tersenyum-senyum. Mengingat saat Aydan memintanya untuk memakai sweater miliknya.


"Dih, ditanya malah senyam-senyum enggak jelas. Kurang waras emang ini orang. Aku yakin, sweater itu belum kamu cuci, iyakan?" Tuding Jani, dan dijawab anggukan oleh Anja.


"Baunya bikin nyandu." Rancaunya mulai tidak jelas.


Melihat itu, Jani jadi keki sendiri. Dan saat dia melihat jam? Jani sontak berteriak. "Ya Allah... Aydan!!!!"


Ya, dia hampir saja telat. Gara-gara meladeni Anja. Bergegas, Jani langsung berlari keluar dari kamar kembarannya itu.


Namun, tak lama dari itu, Jani kembali lagi, hanya menyembulkan kepalanya di ambang pintu. "Inget! Sweater punya orang, balikin! Jangan jadi hak milik."


Lantas, setelah itu. Jani benar-benar berlalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jani berlari diantara lorong-lorong kelas menuju perpustakaan. Takut Aydan menunggu terlalu lama. Kaki itu reflek tergesa-gesa.


Hingga sesampainya di sana. Aydan benar-benar sudah datang. Nafas gadis itu terengah-engah. Membuat perhatian Aydan teralihkan.


"Kamu kenapa?" Tanya Aydan sedikit terlihat cemas.


Sedangkan gadis itu masih mengatur nafasnya yang berhembus tak normal.


Sebelum bicara, Jani lebih dulu menelan salivanya. "Aku nggak apa-apa. Kamu gimana? Udah nunggu lama?"


Mendengar itu, Aydan mulai mengerti, kalau gadis di depannya tak mau membuat ia menunggu. Dengan perhatian, Aydan menyerahkan botol minum ke arah Jani.


"Tenang aja, aku juga baru dateng." Balasnya meyakinkan, agar gadis itu tidak merasa bersalah.


Ragu, Jani menerima uluran air minum itu dari tangan Aydan. "Makasih." Ucapnya seraya membuka penutup botol dan mulai meminumnya.


Sedangkan Aydan menelisik wajah Jani. Tepat di bawah bibirnya. Ternyata benar yang dikatakan Anja. Di bawah sana tidak ada tahi lalat, berarti yang ini Jani.


Sadar tengah diperhatikan bibirnya, Jani sontak bertanya. "Aku siapa?"


Aydan langsung mengangkat kepala, dan menjawab. "Jani."


Seketika Jani langsung punya ide usil untuk mengerjai Aydan. Gadis itu memutar balikan fakta, mengatakan pada Aydan kalau dia adalah Anja. Dan yang ada tahi lalatnya itu Jani.


"Kamu dibohongin sama dia." Ucap Jani lalu terkekeh.


Mendengar penjelasan itu. Aydan dibuat bingung sendiri. Tetapi dia tidak mau ambil pusing. Yang penting dia mengajari dua orang, yang satu ada tahi lalatnya, yang satu tidak ada. Tidak peduli itu mana Anja, mana Jani.


"Terus, kalo kamu suruh pilih antara Anja sama Jani, kamu pilih siapa?" Tanya Jani yang mengaku-ngaku sebagai Anja.


"Jani. Soalnya dia orangnya jujur dan nggak suka bohong." Balas Aydan cepat.


Deg!


Mendengar itu, Jani langsung tak punya muka. Ia merasa malu sekaligus bersalah, karena telah membohongi Aydan.


Hingga akhirnya, setelah percakapan itu. Jani tak lagi yang bersuara. Dia bungkam, dan berkalut dengan pikirannya.

__ADS_1


Sedangkan Aydan seperti biasa. Menjalankan tugasnya sebagai guru privat, menjelaskan pelajaran hari ini pada Jani.


Pertemuan kali ini benar-benar terkesan dingin. Entah sebab apa, Aydan pun merasakannya.


__ADS_2