Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 115


__ADS_3

 Keesokah harinya.


Pagi-pagi sekali, Aslan dan Kiran sudah mendatangi


rumah Widya.


Sampai disana, Kiran langsung memeluk Widya erat,


memberikan kekuatan pada sahabatnya itu agar selalu sabar dalam menghadapi


setiap ujian. Karena pada dasarnya, kematian itu memang akan mendatangi setiap


umat.


Jam setengah 7 pagi, akhirnya jasad Ana dikebumikan.


Banyak orang yang mengantar kepergiannya. Pagi ini, Widya juga sudah tidak


menangis lagi. Ia bahkan sudah kuat membacakan surat Yasin untuk sang ibu, tapi


ada sesak lagi ditenggorokkannya.


Selesai pemakaman, mereka semua bergegas pulang.


Melanjutkan hidup yang masih terus bergulir, hingga


waktunya nanti tiba untuk berhenti.


“Terima kasih Lan,” ucap Agung pada Aslan, sedari


tadi Aslan memang banyak membantu Agung untuk mengurus ini dan itu, bahkan


Aslan pula yang memimpin kala menshalatkan ibu Ana.


Aslan tak berucap apapun, ia hanya menganggukkan


kepala sebagi jawaban. Lagipula ia melakukan ini semua ihklas, untuk membantu,


Aslan tidak ingin terima kasih.


Setelah berpamitan, Aslan dan Kiran memutuskan untuk


langsung pulang.


Kini keduanya berada didalam mobil, mobil yang melaju


dengan perlahan ditengah-tengah jalanan kota Jakarta.


Aslan menoleh, menatap sang istri yang terlihat


termenung. Tanpa bertanya apa penyebabnya, Aslan langsung saja mengelus pucuk


kepala sang istri dengan sayang.


Lalu saat Kiran menoleh, Aslan tersenyum pada


istrinya itu.


Hingga membuat Kiran kembali tersenyum pula.


“Aku sangat mencintaimu Mas,” ucap Kiran kemudian,


hingga membuat Aslan mengeryit bingung, diantara ia dan Kiran, Kiran adalah


yang paling anti mengucapkan kata cinta.


“Jujurlah padaku, kesalahan apa yang sudah kamu


lakukan?” hardik Aslan, lengkap pula dengan tatapan yang menatap curiga, jika


sudah mengatakan cinta seperti ini, pasti ada apa-apanya, pikir Aslan yakin.


Dintanya seperti itu, Kiran mencebik, mengerucutkan


bibirnya merasa kesal.


Inilah alasannya ia malas mengucapkan kata cinta,


pasti diledek.


“Aku serius Mas,” jawab Kiran, merengek.


Dan Aslan makin menatapnya curiga.


“Benarkah?” tanya Aslan lagi dan Kiran mengangguk.


“Kenapa tiba-tiba mengatakan itu? Pasti ada


alasannya,” timpal Aslan lagi yang belum juga puas. Terlebih sebelumnya, sang


istri sempat melamun.


“Tidak ada alasan kok, aku hanya ingin terus mengucapkan

__ADS_1


kata itu setiap hari, sampai kamu bosan, sampai aku terbiasa terus


mengucapkannya meskipun nanti aku sudah pikun,” jelas Kiran, seraya menerawang


jauh ke masa depan, saat ia dan Aslan sudah menadi nenek dan kakek.


Mendengar itu Aslan tersenyum, lalu saat mobilnya


berhenti dilampu merah, Aslan langsung menarik tubuh sang istri dan


menghujaminya dengan ciuman dalam.  Bahkan


tangannya tak tinggal diam, meremaas apapun yang ingin ia remas. Hingga membuat


lenguhan Kiran akhirnya keluar juga.


Sesaat tak ada yang bisa menghentikan kegilaan


Aslan, ia terus menikmati manisnya bibir sang istri. Hingga suara klakson mobil


dari arah belakang membuatnya tersadar, jika saat ini mereka sedang berada


ditengah-tengah jalan raya.


Aslan terkekeh, buru-buru kembali memelajukan


mobilnya, meninggalkan begitu saja, Kiran yang terengah.


“Mas ih!” kesal Kiran,  apalagi saat menyadari bajunya sudah


berantakan, dan yang lebih membuatnya tak nyaman adalah dibawah sana pun sudah


terasa basah.


Kiran, memukul lengan suaminaya kuat.


Dan hal itu, berhasil membuat kekehan Aslan makin


terdengar jelas.


“Aku mencintaimu sayang,” ucap Aslan kemudian, dan


Kiran mengulum senyumnya.


Rasanya geli untuk menjawab, namun akhirnya, ia


berucap juga, “ Aku lebih mencintaimu Mas,” jawab Kiran kemudian.


tangan, sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk menggenggam erat tangan


sang istri.


****


Hari berlalu, semenjak sang ibu meninggal  Widya memutuskan untuk keluar dari


pekerjaannya. Hal itu juga atas dasar keinginan yang diutarakan ibunya sebelum


ajal datang menjemput.


Mengundurkan diri dari jabatannya sebagai manajer,


Widya merekomendasikan Agung sebagai penggantinya.


Dan untunglah, CEO Showroom itu menyetujui. Agung


bukanlah orang baru di showroom ini, hingga sang pemilik showroom yakin, jika


Agung pun pasti bisa menggantikan posisi Widya itu. Mengemban tanggung jawab


dengan baik.


Dan sudah 2 hari ini, Agung menjabat sebagai jabatan


barunya itu, seorang manajer.


Saat tepat jam 5 sore, Agung sudah pulang ke


rumahnya. Saat ini, ia masih tinggal di rumah Widya, malam ini adalah malam


terakhir Yasinan diadakan di rumah itu, bertepatan dengan 7 hari meninggalnya


sang ibu, Ana.


Tak melihat sang istri dimanapun, akhirnya Agung langsung


memutuskan untuk menuju kamar mereka. Melewati para ibu-ibu yang sedang sibuk


menyiapkan makanan untuk Yasinan nanti malam.


Sampai di kamar, Agung mengedarkan pandangannya.


Hingga ia melihat sang istri yang sedang membereskan beberapa pakaian diatas

__ADS_1


karpet tebal dikamar itu.


Agung mendekat, duduk tepat disebelah sang istri.


“Mas,” sapa Widya, seraya mengambil tangan Agung dan


diciumnya takzim.


Agung menatap sang istri yang nampak segar, ia bisa


menebak jika istrinya ini baru saja mandi, bahkan aroma tubuhnya masih kuat


tercium oleh indera penciumannya.


“Kenapa tidak turun, dibawah sudah ramai,” tanya


Agung.


Widya tak langsung menjawab, ia malah memutar


tubuhnya hingga kini menghadap sang suami. Lalu membantu Agung untuk melepas


dasi dan membuka kancing di kedua pergelangahn tangan sang suami.


“Sengaja, aku menunggu mas Pulang dulu, sambil


melipat baju,” jawab Widya jujur, lalu menatap dalam kedua netra sang suami.


Sesaat. Keduanya hanya saling tatap, tanpa ada


pembicaraan lagi. Hingga Agung akhirnya mengikis jarak dan mencium bibir sang


istri dengan begitu lembut. Kelembutan yang lama-lama berubah jadi kasar dan


menuntut.


Widya menerima itu semua, ia bahkan bergerak duduk


diatas pangkuan sang suami.


Semenjak menikah hingga hari ini, mereka belum


melakukan malam pertama. Kesedihan Widya membuat ia tak bisa melakukan itu dan


Agung pun  memahaminya dengan baik.


Namun tadi, Fadli memanggil sang anak. Fadli dan


Widya berbincang hanya berdua di ruang keluarga. Fadli mengatakan, jika sebaiknya


Widya dan Agung segera pindah ke rumah mereka yang baru. Menasehati sang anak,


jika kini ia sudah menyandang status baru, seorang stri. Maka tugasnya kini


bukan lagi patuh kepada orang tua, melainkan patuh kepada sang suami.


Mendengar itu, mendadak Widya merasa bersalahyang


amat sangat besar.


Seminggu terakhir, selalu Agung yang melayaninya, ia


sampai acuh.


Bahkan ketika membayangkan hari-hari itu, kedua


netra Widya sampai berkaca-kaca.


Dan kini, ia ingin menebus itu semua.


Agung melepas pagutan bibirnya, saat mereka


sama-sama kehabisan nafas. Keduanya saling tatap dengan napas yang saling


beradu, memburu.


“Maafkan aku, Mas,” ucap widya terengah, dan Agung


tidak tahu apa yang sedang istrinya bicarakan, maaf untuk apa?


“Maaf, karena sempat mengabaikanmu, beralasan karena


bersedih perihal ibu, maafkan aku,” ucap Widya lagi, tulus dari dalam hatinya.


Agung tersenyum, lalu menangkup kedua sisi wajah


sang istri dengan sayang.


“Jadi ini maksudnya apa?” tanya Agung menggoda,


seraya melirik tubuh sang istri yang kini sudah berada diatas pangkuannya.


Widya bergeming, hanya bisa menunduk, malu.

__ADS_1


__ADS_2