
Keesokah harinya.
Pagi-pagi sekali, Aslan dan Kiran sudah mendatangi
rumah Widya.
Sampai disana, Kiran langsung memeluk Widya erat,
memberikan kekuatan pada sahabatnya itu agar selalu sabar dalam menghadapi
setiap ujian. Karena pada dasarnya, kematian itu memang akan mendatangi setiap
umat.
Jam setengah 7 pagi, akhirnya jasad Ana dikebumikan.
Banyak orang yang mengantar kepergiannya. Pagi ini, Widya juga sudah tidak
menangis lagi. Ia bahkan sudah kuat membacakan surat Yasin untuk sang ibu, tapi
ada sesak lagi ditenggorokkannya.
Selesai pemakaman, mereka semua bergegas pulang.
Melanjutkan hidup yang masih terus bergulir, hingga
waktunya nanti tiba untuk berhenti.
“Terima kasih Lan,” ucap Agung pada Aslan, sedari
tadi Aslan memang banyak membantu Agung untuk mengurus ini dan itu, bahkan
Aslan pula yang memimpin kala menshalatkan ibu Ana.
Aslan tak berucap apapun, ia hanya menganggukkan
kepala sebagi jawaban. Lagipula ia melakukan ini semua ihklas, untuk membantu,
Aslan tidak ingin terima kasih.
Setelah berpamitan, Aslan dan Kiran memutuskan untuk
langsung pulang.
Kini keduanya berada didalam mobil, mobil yang melaju
dengan perlahan ditengah-tengah jalanan kota Jakarta.
Aslan menoleh, menatap sang istri yang terlihat
termenung. Tanpa bertanya apa penyebabnya, Aslan langsung saja mengelus pucuk
kepala sang istri dengan sayang.
Lalu saat Kiran menoleh, Aslan tersenyum pada
istrinya itu.
Hingga membuat Kiran kembali tersenyum pula.
“Aku sangat mencintaimu Mas,” ucap Kiran kemudian,
hingga membuat Aslan mengeryit bingung, diantara ia dan Kiran, Kiran adalah
yang paling anti mengucapkan kata cinta.
“Jujurlah padaku, kesalahan apa yang sudah kamu
lakukan?” hardik Aslan, lengkap pula dengan tatapan yang menatap curiga, jika
sudah mengatakan cinta seperti ini, pasti ada apa-apanya, pikir Aslan yakin.
Dintanya seperti itu, Kiran mencebik, mengerucutkan
bibirnya merasa kesal.
Inilah alasannya ia malas mengucapkan kata cinta,
pasti diledek.
“Aku serius Mas,” jawab Kiran, merengek.
Dan Aslan makin menatapnya curiga.
“Benarkah?” tanya Aslan lagi dan Kiran mengangguk.
“Kenapa tiba-tiba mengatakan itu? Pasti ada
alasannya,” timpal Aslan lagi yang belum juga puas. Terlebih sebelumnya, sang
istri sempat melamun.
“Tidak ada alasan kok, aku hanya ingin terus mengucapkan
__ADS_1
kata itu setiap hari, sampai kamu bosan, sampai aku terbiasa terus
mengucapkannya meskipun nanti aku sudah pikun,” jelas Kiran, seraya menerawang
jauh ke masa depan, saat ia dan Aslan sudah menadi nenek dan kakek.
Mendengar itu Aslan tersenyum, lalu saat mobilnya
berhenti dilampu merah, Aslan langsung menarik tubuh sang istri dan
menghujaminya dengan ciuman dalam. Bahkan
tangannya tak tinggal diam, meremaas apapun yang ingin ia remas. Hingga membuat
lenguhan Kiran akhirnya keluar juga.
Sesaat tak ada yang bisa menghentikan kegilaan
Aslan, ia terus menikmati manisnya bibir sang istri. Hingga suara klakson mobil
dari arah belakang membuatnya tersadar, jika saat ini mereka sedang berada
ditengah-tengah jalan raya.
Aslan terkekeh, buru-buru kembali memelajukan
mobilnya, meninggalkan begitu saja, Kiran yang terengah.
“Mas ih!” kesal Kiran, apalagi saat menyadari bajunya sudah
berantakan, dan yang lebih membuatnya tak nyaman adalah dibawah sana pun sudah
terasa basah.
Kiran, memukul lengan suaminaya kuat.
Dan hal itu, berhasil membuat kekehan Aslan makin
terdengar jelas.
“Aku mencintaimu sayang,” ucap Aslan kemudian, dan
Kiran mengulum senyumnya.
Rasanya geli untuk menjawab, namun akhirnya, ia
berucap juga, “ Aku lebih mencintaimu Mas,” jawab Kiran kemudian.
tangan, sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk menggenggam erat tangan
sang istri.
****
Hari berlalu, semenjak sang ibu meninggal Widya memutuskan untuk keluar dari
pekerjaannya. Hal itu juga atas dasar keinginan yang diutarakan ibunya sebelum
ajal datang menjemput.
Mengundurkan diri dari jabatannya sebagai manajer,
Widya merekomendasikan Agung sebagai penggantinya.
Dan untunglah, CEO Showroom itu menyetujui. Agung
bukanlah orang baru di showroom ini, hingga sang pemilik showroom yakin, jika
Agung pun pasti bisa menggantikan posisi Widya itu. Mengemban tanggung jawab
dengan baik.
Dan sudah 2 hari ini, Agung menjabat sebagai jabatan
barunya itu, seorang manajer.
Saat tepat jam 5 sore, Agung sudah pulang ke
rumahnya. Saat ini, ia masih tinggal di rumah Widya, malam ini adalah malam
terakhir Yasinan diadakan di rumah itu, bertepatan dengan 7 hari meninggalnya
sang ibu, Ana.
Tak melihat sang istri dimanapun, akhirnya Agung langsung
memutuskan untuk menuju kamar mereka. Melewati para ibu-ibu yang sedang sibuk
menyiapkan makanan untuk Yasinan nanti malam.
Sampai di kamar, Agung mengedarkan pandangannya.
Hingga ia melihat sang istri yang sedang membereskan beberapa pakaian diatas
__ADS_1
karpet tebal dikamar itu.
Agung mendekat, duduk tepat disebelah sang istri.
“Mas,” sapa Widya, seraya mengambil tangan Agung dan
diciumnya takzim.
Agung menatap sang istri yang nampak segar, ia bisa
menebak jika istrinya ini baru saja mandi, bahkan aroma tubuhnya masih kuat
tercium oleh indera penciumannya.
“Kenapa tidak turun, dibawah sudah ramai,” tanya
Agung.
Widya tak langsung menjawab, ia malah memutar
tubuhnya hingga kini menghadap sang suami. Lalu membantu Agung untuk melepas
dasi dan membuka kancing di kedua pergelangahn tangan sang suami.
“Sengaja, aku menunggu mas Pulang dulu, sambil
melipat baju,” jawab Widya jujur, lalu menatap dalam kedua netra sang suami.
Sesaat. Keduanya hanya saling tatap, tanpa ada
pembicaraan lagi. Hingga Agung akhirnya mengikis jarak dan mencium bibir sang
istri dengan begitu lembut. Kelembutan yang lama-lama berubah jadi kasar dan
menuntut.
Widya menerima itu semua, ia bahkan bergerak duduk
diatas pangkuan sang suami.
Semenjak menikah hingga hari ini, mereka belum
melakukan malam pertama. Kesedihan Widya membuat ia tak bisa melakukan itu dan
Agung pun memahaminya dengan baik.
Namun tadi, Fadli memanggil sang anak. Fadli dan
Widya berbincang hanya berdua di ruang keluarga. Fadli mengatakan, jika sebaiknya
Widya dan Agung segera pindah ke rumah mereka yang baru. Menasehati sang anak,
jika kini ia sudah menyandang status baru, seorang stri. Maka tugasnya kini
bukan lagi patuh kepada orang tua, melainkan patuh kepada sang suami.
Mendengar itu, mendadak Widya merasa bersalahyang
amat sangat besar.
Seminggu terakhir, selalu Agung yang melayaninya, ia
sampai acuh.
Bahkan ketika membayangkan hari-hari itu, kedua
netra Widya sampai berkaca-kaca.
Dan kini, ia ingin menebus itu semua.
Agung melepas pagutan bibirnya, saat mereka
sama-sama kehabisan nafas. Keduanya saling tatap dengan napas yang saling
beradu, memburu.
“Maafkan aku, Mas,” ucap widya terengah, dan Agung
tidak tahu apa yang sedang istrinya bicarakan, maaf untuk apa?
“Maaf, karena sempat mengabaikanmu, beralasan karena
bersedih perihal ibu, maafkan aku,” ucap Widya lagi, tulus dari dalam hatinya.
Agung tersenyum, lalu menangkup kedua sisi wajah
sang istri dengan sayang.
“Jadi ini maksudnya apa?” tanya Agung menggoda,
seraya melirik tubuh sang istri yang kini sudah berada diatas pangkuannya.
Widya bergeming, hanya bisa menunduk, malu.
__ADS_1