
Malam harinya, rumah Aslan kembali sepi saat acara tahlilan telah usai. Tinggal anggota keluarga saja yang tinggal disini, termasuk Fahmi dan juga Tika.
Mereka semua kini duduk di ruang tengah, dengan
keheningan yang menyelimuti.
“Oma, adek ngantuk,” rengek Aydan pada sang nenek, Aydan memang beberapa bulan ini selalu tidur dengan nenek dan kakeknya.
“Dimana Opa? Ayo kita tidur sama-sama, bareng-bareng,” ucap Aydan lagi, hingga membuat Yuli kembali meneteskan air mata meski tanpa suara isak.
Namun dengan cepat pula, Yuli menghapus air matanya sendiri.
Lalu terdengar Alana yang menangis di gendongan Kiran. Buru-buru Kiran bangkit dan menangkan anaknya.
Melihat Aydan dan mendengar tangis Alana, Yuli
tersenyum kecil.
Beginilah kehidupan, ada kelahiran dan ada juga
kematian.
Yuli, akan belajar ikhlas, merelakan sang suami pergi lebih dulu daripada dirinya.
“Opa sudah meninggal sayang, opa sudah bertemu
dengan Allah,” jelas Yuli pada cucu laki-lakinya itu.
“Nanti pulang lagi nggak?” tanya Aydan lagi, yang ingin sang opa kembali ke rumah ini.
“Tidak, kalau Aydan kangen sama opa, Aydan bisa
doakan opa setiap waktu, doa Aydan itu akan terkirim untuk opa,” jelas Yuli lagi.
Asaln yang mendengar ucapan sang ibu itu sedikit
mengukir senyumnya, bersyukur jika sang ibu memilih untuk ikhlas daripada terus
berada di jurang kesedihan.
Karena sejatinya, setiap manusia pun pasti kelak
akan menemui ajalnya, di waktu yang sudah ditetapkan oleh sang pencipta.
Malam itu, Yuli tak tidur seorang diri. Ia ditemani
oleh sang cucu, Aydan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu dan berganti bulan.
Kesedihan-kesedihan itu mulai menghilang dengan sendirinya.
Dan Alana dan Aydan, adalah penyumbang terbanyak untuk menghilangkan semua kesedihan itu.
“Umi, aku main dulu ya, ketempat mbak Wid, sebentar sajaaa,” pinta Kiran pada sang mertua yang tengah membuat kue kering untuk
Aydan.
Mendengar kata Main, Yuli langsung menatapnya tajam.
“Alana baru imunisasi jangan dibawa-bawa keluar rumah,” jawab Yuli sinis, apalagi saat melihat Kiran yang tengah menggendong baby
Alana, cucu kesayangannya.
“Sebentar saja Umi, mbak Wid sepertinya sedang
__ADS_1
kontraksi, aku hanya ingin menenangkannya secara langsung,” terang Kiran kemudian, berucap jujur, karena memang itulah tujuannya ingin mengunjungi sang sahabat yang berada tepat di samping rumahnya.
“HA! Widya kontraksi, ya sudah sana cepat dilihat! Alana biar Desi yang pegang,” jawab Yuli. Melotot khas orang terkejut.
“Tapi mbak Desi masih sama Aydan, Alana biar ku bawa saja,” pinta Kiran sungguh-sungguh.
“Aydan biarkan saja, dia sudah besar.”
“Kalau Aydan berantakin rumah bagaimana?”
“Kamu yang bereskan.”
Kiran, mencebik.
Lalu segera pergi dari dapur dan memberikan Alana pada Desi, sesuai permintaan sang ibu mertua.
“Aydan sayang anak ibu yang paling pintar, jangan berantakin rumah ya, ibu mohon,” pinta Kiran sungguh-sungguh pada anak
laki-lakinya itu, ia bahkan mengatupkan kedua tangannya didepan dada, membuat
permohonan.
“Siap Bu!” jawab Aydan patuh, dan Kiran mencoba
percaya, meski rasanya, sangat mustahil.
Selesai membuat kesepakatan dengan sang anak, Kiran langsung bergegas menuju rumah Widya. Saat ini, Agung sedang bekerja, sama seperti
suaminya.
Kiran menekan bell rumah itu dan bude Asni segera membukanya.
“Dimana mbak Wid bude?” tanya Kiran, seraya
mengedarkan pandangan keseluruh penjuru rumah ini.
Lalu dengan langkah cepat, kedua wanita ini segera bergegas menuju dapur.
“Ran,” panggil widya lebih dulu saat melihat
kedatangan sang sahabat. Widya duduk di meja makan, dengan kepalanya yang
bersandar di meja sana, beralaskan lengan tangannya sendiri.
Lengkap, dengan mulut yang terus mengunyah makanan.
“Sejak kapan kontraksinya?” tanya Kiran cemas, lalu duduk disebelah Widya.
“Subuh tadi, terus sekarang mulai 15 menit sekali perutku sakit,” jawab Widya jujur.
“Hii! Berarti itu bukan kontraksi palsu! Ayo buruan ke rumah sakit,” ajak Kiran cemas, ia malah merasa gugup sendiri kala melihat
Widya yang hendak melahirkan.
“Tunggu mas Agung dulu, mungkin 10 menit lagi
datang,” balas Widya lagi, sambil terus makan lalu minum jika haus.
“Kita pergi duluan sih, aku yang bawa mobil,”
sanggah Kiran tak kalah cepat, rasanya jika seperti ini ia sudah tidak bisa
menunggu. Bagaimana jika Agung datang terlambat dan malah Widya mengalami pecah
ketuban.
Hanya membayangkannya aja, Kiran sudah bergidik ngeri.
__ADS_1
Pikiran Kiran sudah melayang jauh kemana-mana. Bahkan berulang kali ia menggerutu, Agung lama sekali, kesalnya.
Tapi untunglah, benar seperti ucapan Widya, 10 menit kemudian Agung datang, berlari dengan tergesa masuk ke rumah itu. Seraya berteriak
memanggil-manggil istrinya.
“Sayang!” pekik Agung, hingga membuat Kiran menutup telinganya, dengung.
“Ayo ke rumah sakit,” ajak Agung kemudian ketika ia sudah berdiri tepat disebelah sang istri.
Tanpa babibu, Agung langsung memepah tubuh istrinya itu dan membawanya keluar, masuk ke dalam mobil mereka.
Kala itu, Agung menemani Widya di kursi belakang, sementara Kiran menyetir mobil itu, bude Asni juga ikut, duduk disebelah Kiran.
“Ran, buruan, kasihan istriku Ran,” pinta Agung
merengek sekaligus memerintah.
“Salah siapa datang lama banget,” kesal Kiran pula.
Kedua orang ini terus berdebat, sementara Widya
terus memakan cemilannya, ingin mengalihkan rasa sakit yang ia rasa dengan
makanan-makanan itu.
Hingga 20 menit kemudian, mobil itu sampai di rumah sakit.
Agung dan Kiran ikut masuk menemani Widya di ruang persalinan.
Agung bahkan terus menangis melihat perjuangan
istrinya itu.
“Semangat sayang, semangat,” rintih Agung seraya menciumi wajah Widya yang nampak merah, sakit sekaligus lelah mengenjan., namun
sang jabang bayi masih belum juga keluar.
Hingga akhirnya, dokter susan membuat jalan lahir, menyobeknya menggunakan gunting.
Dan saat Susan kembali memberi aba-aba untuk
mengenjan, akhirnya bayi laki-laki itu keluar.
Agung langsung memeluk istrinya erat, bahkan
menciumi berulang kali wajah sang istri. Dengan tangisnya yang banjir.
“Gung, ini anaknya mau minta dicium juga,” ucap
Kiran menginterupsi. Saat dokter susan sudah membawa bayi laki-laki yang telah
dibersihkan itu, untuk menyerahkannya pada sang ibu.
“Selamat ya, bayi laki-laki ini lahir dengan selamat dan sehat, tidak kekurangan sesuatu apapun,” jelas Susan, seraya membaringkan
sang anak dipelukan ibunya.
Widya menangis, semua rasa sakitnya terbayar lunas kala melihat bayi mungil ini, anaknya.
Seorang anak laki-laki yang mereka beri nama,
Muhammad Altar.
Agung sengaja membuat nama Al, agar sama dengan jodoh masa depannya kelak, Alana.
Bahkan Agung tersenyum lebar, ketika memberikan nama itu kepada anak kesayangannya.
__ADS_1