Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 140 - Sebuah Rencana


__ADS_3

Tepat jam 2 siang, Alana dan Altar sampai di rumah mereka masing-masing.


Alana langsung berlari masuk ke dalam rumah, mencari dimana keberadaan sang ibu berada. Dari ruang tengah hingga sampai di dapur, ia tak melihat ibunya. Jika seperti ini, pilihannya hanya tinggal ada 2, di kolam ikan ayah atau di lantai 2 di kamar sang ibu.


“Apa jangan-jangan ibu sudah pergi ke rumah tante Dinda?” gumam Alana, bingung.


Tak ingin sibuk dengan dugaannya sendiri, akhirnya Alana memutuskan untuk ke taman


belakang rumah lebih dulu sebelum naik ke lantai 2, mendatangi kolam ikan koi milik ayahnya.


Dan benar saja, Alana melihat dengan jelas jika Ayah dan Ibunya sedang duduk disalah satu gazebo di sana. Duduk bersebelahan dengan


saling bertukar cerita, bahkan terlihat sesekali ibunya itu tertawa.


“Alana,” panggil Kiran saat melihat anak gadisnya


sudah pulang, bukannya langsung ganti baju ia malah datang kesini.


“Kenapa kesini? Ganti baju sana,” titah Kiran.


Bukannya menurut, Alana malah mencebik.


“Ada apa sayang?” tanya Aslan, dengan suara yang lebih hangat dibanding ibunya.


Ditanya seperti itu, Alana langsung tersenyum,


merasa ada kesempatan untuk mulai bertanya tentang  jodoh-jodohan sial itu.


Alana langsung mengambil posisi duduk disebelah sang ayah, lengkap dengan wajahnya yang memelas.


“Paling minta uang jajan? Iya kan?” tebak Kiran


meledek, sudah hapal gelagat sang anak.


“Bukan sih Bu, dengar Alana dulu,” pinta Alana sungguh-sungguh, ia tahu berbicara keras dengan sang ibu ia tak akan pernah memang. Karena


itulah, ia memutuskan untuk mengambil simpati kedua orang tuanya ini, menggunakan cara halus.


Pelan, Alana mulai bercerita semua yang diungkapkan Sisil disekolah tadi. Selesai bercerita iapun langsung mengungkapkan keberatannya. Ia merasa masih memiliki masa depan yang panjang, belum kuliah belum bekerja.


Alana tak ingin hidupnya di kekang dengan perjodohan itu. Apalagi tidak menutup kemungkinan, jika mungkin nanti Alana akan jatuh cinta dengan pria lain di masa depannya.


Mendengar keluh kesah sang anak, Aslan dan Kiran tidak terkejut sedikitpun, sudah mengira jika Alana akan menolak jika tahu perihal perjodohan ini. Dan serapat apapun rahasia perjodohan ini ditutup pasti akan terbongkar juga.


Dan ternyata, terbongkarnya adalah hari ini.


Kiran hendak buka suara, namun Aslan dengan cepat menahannya. Menggenggam erat tangan sang istri, memberi isyarat untuk diam dan

__ADS_1


membiarkan dia saja yang menjawab pi sang anak.


“Al, kamu adalah harta ayah dan ibu yang paling


berharga Nak, kamu dan mas Aydan adalah segalanya bagi ibu dan ayah. Karena itulah,


kami ingin memberi yang terbaik untukmu.” Jawab Aslan dengan suaranya yang lembut, sifat Aslan begitu mengayomi, berbeda sekali dengan Kiran yang lebih mirip umi Yuli, suka marah-marah.


“Benar, kamu memang akan kami jodohkan dengan Altar. Tapi kami tidak memaksa Nak, jika kalian berdua menolak, maka perjodohan itu tidak akan pernah terjadi,” timpal Aslan lagi.


Kiran menghembuskan napasnya pelan dan Alana mulai mengukir senyum kecil, ia tahu, ayahnya memang paling bisa diandalkan.


“Tapi sebelumnya, dengarkan dulu alasan kami kenapa ingin menjodohkan kalian.”


Mendengar ucapan sang ayah yang ini, Alana kembali kehilangan senyumnya.


Ternyata, posisinya belum aman.


“Keluarga kita dan keluarga ayah Agung sudah kenal sejak lama, baik buruknya kita sudah saling mengerti. Bagaimanapun Altar, dia adalah anak yang baik, bahkan mengajinya bagus dia dibanding kamu, iya kan? Dia bukannya tidak pintar, tapi malas belajar.”


Sama saja! Jawab Alana ketus, dan hanya berani ia ucapkan didalam hati.


“Ayah dan ibu tidak ingin kamu terlibat dengan


hubungan yang tidak jelas Nak, itu hanya akan membuang waktu dan tenaga mu. Lagipula, cinta itu tidak ada yang bisa tumbuh dalam waktu sehari. Kalian harus saling mengenal lebih dulu, membuka hati barulah rasa itu tumbuh.”


“Karena kamu sudah tahu tentang perjodohan ini,  mulai sekarang  cobalah untuk memiliki hubungan yang baik dengan Altar. Ayah beri waktu sampai kalian lulus SMA, keputusannya semua ada ditangan kalian, kalian ingin menggagalkan perjodohan ini, atau lanjut dengan


sebuah pertunangan.”


Ucapan ayahnya itu terus terngiang ditelinga Alana, hingga malam menjelang. Tidur berbaring di atas ranjang dengan tatapan kosong menatap


langit langit.


Ayahnya juga mengatakan, jika ia akan mengatakan hal ini pada ayah Agung pula. Dan malam inipun, Altar akan diberi tahu tentang


perjodohan mereka dan tentang kesepakatan yang mereka buat.


Alana jelas ingin menolak perjodohan ini, namun


mengingat niat baik sang ayah dan ibunya, ia jadi tak kuasa untuk menolak dengan


lantang. Terlebih Alana juga begitu menghormati ayah Agung dan ibu Widya.


“Aku tidak akan bisa menolak perjodohan ini, harus Altar yang menolaknya. Atau jika tidak, kami berdua harus sama-sama saling menolak,”


gumam Alana pelan, hanya didengar oleh telinganya sendiri.

__ADS_1


Tak ingin pusing sendiri, akhirnya malam itu Alana


memutuskan untuk menelpon Sisil, sang sahabat. Tempatnya berbagi keluh dan


kesah, berbagi suka dan duka.


Di panggilan pertama, Sisil langsung menjawab


telepon Alana itu. Tanpa basa basi, Alana pun  langsung menceritakan semuanya.


Bukannya sedih, Sisil malah bersorak senang, semakin besar harapannya untuk bisa bersanding dengan mas Aydan.


“Sil, bahas aku dulu dong, jangan mas Aydan aja yang ada di kepalamu,” ketus Alana, yang diketusi malah terkekeh sendiri.


“Maaf Al, aku hanya terlalu senang, ternyata


perjodohan itu memang benar adanya. Bundaku tidak bohong kan?”


Alana mencebik.


“Jadi apa rencana mu?” tanya Sisil kemudian.


“Itu yang mau aku tanya, aku harus bagaimana Sil?” rengek Alana memelas, nyaris saja ia menangis, jika kembali teringat atas perjodohan


itu dan keinginan kedua orang tuanya. Alana sadar, tidak ada yang salah dengan kedua orang tuanya itu, mereka hanya menginginkan yang terbaik untuk dirinya. Dan Alana, bisa memahami itu.


Terlebih mereka memang memiliki hubungan yang baik dengan keluarga ayah Agung dan ibu Widya.


Alana hanya merasa cemas, jika ia dan Altar tidak


akan pernah bisa saling mencintai. Alana juga sadar, bukan hanya ia saja yang


tidak menyukai Altar saat ini, tapi Altar pun juga tidak menyukai dia.


“Katakan saja pada Altar, kamu mau  kalian menolak perjodohan itu saat kelulusan


nanti,” jawab Sisil setelah cukup lama terdiam.


“Ku rasa dia akan menyetujui itu, bukannya Altar


sudah punya pacar ya? Yang anak kelas satu itu, siapa ya namanya? Aku tidak ingat,” timpal Sisil lagi seraya berpikir keras. Namun sesusah payah apapun ia berpikir, ia tetap tak bisa mengingat satu nama pun.


Mendengar ucapan Sisil itu, senyum Alana kembali


terbit.


Ya, Altar pasti mau menolak perjodohan ini. Batin Alana yakin.

__ADS_1


__ADS_2