Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 58


__ADS_3

Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Hadiah, terima kasih 😗😗


Happy Reading 💚


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saking bahagianya Kiran sudah kembali, Yuli langsung menghubungi sang suami. Meminta iwan untuk datang ke rumah Aslan.


Iwan yang sedang berada di toko pun langsung bergegas pergi. Dengan perasaan yang begitu bahagia, ia memelajukan mobilnya menuju rumah sang anak.


"Kalian istirahatlah dulu, umi akan buatkan makan siang," ucap Yuli antusias, untunglah ia tadi kesini tidak dengan tangan kosong. Yuli sengaja membawa berbagai jenis makanan dan sayuran untuk memenuhi lemari pendingin sang anak.


Kiran hendak menolak dan ingin membantu sang mertua. Namun Aslan buru-buru menyentuh bahunya, memberi isyarat untuk tetap diam.


"Baik Umi," jawab Aslan menurut dan akhirnya Kiran hanya bisa ikut.


Selepas kepergian Yuli, Kiran mendongak dan menatap sang suami yang sudah kembali mendorong kursi rodanya.


"Ikuti saja apa kata umi, jika kita menolak, pasti umi akan bersedih," terang Aslan yang mengetahui kegundahan sang istri.


Mendengar itu, Kiran masih belum merasa lega. Ia merasa tak enak hati saat mengetahui malah Yuli yang melayaninya.


Melihat wajah murung sang istri, Aslan hanya tersenyum kecil. Tetap mendorong kursi roda itu ke kamar mereka, dengan satu tangan yang mengelus pucuk kepala Kiran.


Sampai di dalam kamar, Kiran dibuat tertegun.


Benar-benar tak ada yang berubah sedikitpun. Bahkan catatan target kerjanya dulu pun masih menempel di pinggiran kaca meja rias.

__ADS_1


"Selamat datang kembali, istriku," ucap Aslan lalu mengecup sekilas pipi Kiran.


Tersenyum, Kiran mendengar itu.


Satu hal yang selama ini selalu ia ragukan, tentang cinta Aslan kepadanya. Namun setelah semua yang terjadi, kini Kiran mulai yakin. Jika cintanya memang terbalas, kasih sayang Aslan benar-benar tulus padanya, bukan hanya perihal anak.


"Mas," panggil Kiran.


Aslan lalu mendorong kursi roda sang istri menuju sofa di kamar itu, ia duduk disana berhadapan dengan Kiran.


"Ada apa?" tanya Aslan lembut, seraya menatap sang istri penuh cinta.


Kiran tak langsung menjawab, sedikit ragu untuk mulai buka suara.


"Maafkan aku Mas," lirih Kiran, tatapannya menurun, mengindari tatapan dalam Aslan.


"Aku sudah tahu semuanya, kamu tidak salah," jawab Aslan mencoba menenangkan. Ia lalu bercerita tentang pertemuannya dengan Dinda, juga pesan yang ada di ponsel lama Kiran.


Tak hanya itu, Aslan juga menceritakan tentang rekaman CCTV sebelum kecelakaan itu terjadi.


Mendengar cerita sang suami, tanpa izin air mata Kiran mengalir, tak bisa dicegah. Ternyata begitu banyak yang sudah terjadi dan dia tidak tahu sama sekali.


Lama, akhirnya tangis Kiran mereda. Namun masih ada satu yang mengganjal dipikirannya.


Tentang Maya.


Setelah air matanya kering, Kiran kembali menatap sang suami.

__ADS_1


"Tentang perpisahan Mas dengan Maya, apa kalian benar-benar mengelesaikannya dengan baik?" tanya Kiran lirih, dengan sesenggukan sisa tangisnya tadi.


Kiran, ia memang sempat begitu membenci Maya. Namun setelah pergi menjauh, ia mulai mencoba untuk merasakan jika ia berada diposisi Maya. Mungkin, ia pun akan melakukan hal yang sama.


Sejak awal, Maya tidak pernah berbagi suami, setegar apapun seorang wanita, pasti akan tetap merasakan sakit hati. Apalagi saat dinyatakan ia hamil, pastilah Maya menginginkan keluarganya utuh kembali, dan menyingkirkan Kiran adalah yang harus dilakukan.


Berbeda dengan Kiran, sejak awal hubungannya dengan Aslan. Ia sudah diharuskan berbagi, bahkan sebelum cinta itu datang. Ia sudah terbiasa untuk berbagi suami. Untuk Kiran, ini semua bukanlah hal yang sulit.


Tak langsung menjawab, Aslan menggerakkan satu tangannya untuk mengelus wajah Kiran dengan lembut. Wajah yang terasa begitu lembab.


Ia mengangguk kecil sebagai jawaban atas pertanyaan sang istri.


"Sebaik apapun perpisahan pasti akan meninggalkan luka, aku dan Maya pun seperti itu. Tapi percayalah, kini aku sudah mengihklaskan semuanya. Aku dan Maya sudah berpisah, kini hanya ada kita," terang Aslan.


Dan Kiran bergeming.


"Itu semua sudah menjadi masa lalu Ran, aku dan Maya, kamu dan Alfath. Bisakah kita berdamai dengan masa lalu itu?" tanya Aslan saat dilihatnya sang istri hanya terdiam.


Mendengar itu, Kiran masih tetap bergeming.


Masa lalu? batin Kiran.


Lama tak memberikan jawaban, akhirnya Kiran mengukir senyum tipis. Ya, berdamai dengan masa lalu adalah awal yang baik untuk memulai masa depan.


Kiran mengangguk seraya menggengam tangan Aslan yang masih berada di pipinya.


Setelah pembicaraan itu, baik Aslan atapun Kiran kini sama-sama mulai merasa yakin. Yakin, jika keduanya memang saling mencintai.

__ADS_1


Cinta yang sesungguhnya dan bukan hanya sekedar dibibir.


__ADS_2