Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 192 - Pembohong Atau Jujur


__ADS_3

Hingga les privat itu selesai, Jani benar-benar masih bungkam. Dia masih betah mendiami Aydan.


Rasa bersalah membuatnya tak berani berucap. Rasa-rasanya, kini semua yang keluar dari mulutnya hanyalah kebohongan.


Dan Jani sangat yakin, jika Aydan akan berpikir seperti itu.


Bahkan Jani juga mengemas bukunya dengan cepat dan asal, ingin segera pergi dari hadapan lelaki ini.


Ia terlanjur tidak punya muka, ia malu. Pastilah Aydan sedang berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.


Seorang pembohong.


Sedangkan Aydan tak mampu berbuat apapun. Dia hanya memperhatikan setiap gerak-gerik Jani yang tiba-tiba berubah, dingin.


Perasaan tak nyaman seketika memasuki hati Aydan. Ia ingin bertanya Kenapa, namun lidahnya kelu. Merasa tak punya hak untuk itu, untuk mengetahui apa yang dirasakan gadis ini secara pribadi.


"Aydan aku pulang duluan." Pamit Jani dengan wajahnya yang menunduk, bahkan tak sanggup hanya sekedar melirik untuk melihat tubuh Aydan.


Namun hingga beberapa saat, Jani tak mendengar jawaban apapun dari lelaki itu, dan akhirnya Jani memutuskan untuk keluar lebih dulu.


Tetapi langkah gadis itu tercekat, saat ia merasakan lengannya dicekal dari arah belakang.


Deg, deg, deg...


Jantungnya langsung berdetak tidak normal. Semakin kencang, seiring cekalan itu semakin terasa kuat menahannya.


"Aku antar ya." Ucapan Aydan yang akhirnya membuat Jani mau tidak mau harus menoleh. Ia menatap ke arah lengannya, lengan yang masih setia dalam genggaman Aydan, lelaki yang ia sukai itu.


Menyadari tatapan mata Jani, Aydan perlahan melepaskan. Lalu dia sendiri yang jadi salah tingkah. Garuk-garuk tengkuk, padahal tidak gatal.

__ADS_1


"Maaf. Aku cuma mau ngajak kamu pulang bareng." Ucapnya sekali lagi, untuk meyakinkan Jani.


"Nggak perlu, aku bisa naik taksi." Tolak Jani merasa tak enakan. Semakin lama bersama lelaki itu, pasti akan membuat rasa malunya tak berkesudahan.


Kabur, adalah pilihannya.


"Nggak apa-apa. Ayo!" Ajak Aydan dengan sorot matanya yang entahlah. Jani tidak bisa membacanya.


Seolah memaksa, namun ketika menyadari dirumahnya tak hanya ada dia, Jani pun kembali menghembuskan napasnya kecewa.


Hem. Mungkin dia mau ketemu Anja, makanya nawarin pulang bareng. Batinnya sangat yakin.


Pelan, akhirnya gadis itu mengangguk. Dan Aydan langsung mengulum senyum, seraya mengajak Jani untuk melangkah ke arah mobilnya.


Sampai di dalam mobil, Jani berusaha memasang sabuk pengamannya. Tapi lagi-lagi tidak berhasil, entah saking gugupnya atau bagaimana, benda itu tak bisa saling mengait.


Tapi sebisa mungkin, dia tidak mau meminta bantuan Aydan. Ia bisa sendiri, meski tangannya terasa gemetaran.


Sudah susah, kenapa tidak mau minta tolong sih. Lelaki itu membatin.


Hingga tanpa persetujuan Jani. Aydan langsung mencondongkan tubuhnya.


Glek!


Gadis itu tersentak kaget, reflek memundurkan kepalanya. Hingga pucuk hidungnya mengenai ujung rambut Aydan.


Tak sedikit, Jani bisa menghirup aroma shampo yang Aydan pakai. Menguar-nguar, mengobrak-abrik detak jantungnya. Tubuhnya memanas, sedangkan hidungnya langsung menahan nafas.


"Sudah." Ucap Aydan seraya kembali ke posisi semula.

__ADS_1


Dan Jani langsung menghela nafas panjang. Seolah udara dalam tubuhnya itu habis, ia langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Lagi, Aydan melirik Jani sekilas. Dengan senyum kecil yang terukir, lelaki itu mulai melajukan mobilnya menuju rumah gadis itu.


Sama halnya dengan Anja kala itu. Bersama Jani, Aydan juga tak bersuara. Apalagi gadis di sebelahnya seperti tengah menghindarinya.


Hingga tak berapa lama kemudian, mobil itu sudah sukses terparkir di rumah yang sama, yang ditempati oleh Anja.


Namun, hingga beberapa menit, Jani sama sekali tak bergerak, ia terus bergeming seperti enggan untuk turun. Meski sabuk pengaman sudah terlepas.


Lalu tiba-tiba terdengar lirih di telinga Aydan. Gadis itu mengeluarkan suara. "Maaf." Kecil, nyaris tak terdengar.


Sontak Aydan menoleh ke samping, melihat Jani yang masih tertunduk dengan wajah penuh rasa bersalah. Sedangkan jari-jarinya setia menilin ujung bajunya.


"Maaf udah bohong sama kamu. Kamu bener, yang ada tahi lalatnya itu Anja, dan yang nggak ada itu Jani. Ya, aku Jani bukan Anja..." Jelasnya semakin menunduk.


"Dan sebelumnya aku juga mau jujur, kalau sebenernya_" Ucapan gadis itu menggantung, memantapkan hatinya untuk bicara dengan jujur. "Sebenarnya aku sama Anja itu lagi deketin kamu. Kita berdua berharap punya hubungan lebih dari sekedar temen. Dengan bersaing secara sehat..."


"Tapi sekarang aku udah mundur. Karena aku rasa kamu lebih cocok sama Anja. Dia anaknya jujur, nggak kaya aku yang suka bohong." Jani melirik wajah Aydan sebentar. Wajah yang tak pernah berubah, dalam kondisi apapun tetap saja tampan.


Lalu tanpa apapun lagi, gadis itu langsung pergi. Berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Aydan sendiri.


Ia tidak mau menunggu jawaban Aydan, ia tidak mau mendengar lelaki itu bersuara. Cukup ia jujur dengan perasaannya, dan dengan persaingan antara dirinya dan Anja.


Itu saja. Ia tidak mau mendengar Aydan menjawab, karena akan lebih kecewa, saat apa yang kita harapkan, tidak sesuai dengan kenyataan.


Sedangkan Aydan terlihat termenung di tempatnya. Lalu tiba-tiba dia kembali tersenyum kecil, mengingat pengakuan Jani yang secara frontal sedang memperebutkan dirinya.


Dan hal itu, membuat ia tak mampu lagi untuk menahan tawa, lelaki itu terkekeh, merasa lucu sendiri dengan tingkah Jani.

__ADS_1


"Jadi, kamu itu pembohong atau jujur?" gumam Aydan, pelan.


__ADS_2