
Membawa setangkai bunga mawar merah pemberian sang suami tadi, Kiran memasuki rumahnya. Tepat jam setengah 5 sore ia sudah pulang.
Masuk dan tak menemukan siapapun disana, dari ruang tengah hingga dapur Kiran tidak bertemu dengan siapapun.
“Kemana semua orang? Umi sama abi memangnya belum pulang dari toko?” tanya Kiran bergumam, bertanya pada dirinya sendiri.
Setelah meminum segelas air putih, Kiran memutuskan
untuk langsung naik ke lantai dua, melihat kamar sang anak, adakah Aydan disana
atau tidak.
Membuka kamar itu, Kiran langsung melihat Desi yang sedang memakaikan baju untuk sang anak, Aydan baru saja selesai mandi. Dengan
antusias, Kiran mendekat, lalu menciumi anaknya itu. Hingga Aydan tertawa
merasa geli.
“Kok rumah sepi Des, umi sama abi kemana? Pak Aslan kemana?” tanya Kiran penasaran.
“Ibu Yuli sama Pak Iwan belum pulang mbak dari toko, kalau pak Aslan setahu saya tadi beliau masih di ruang kerjanya.”
“Memangnya Pras belum pulang?”
“Sudah Mbak, pak Pras pulang sehabis shalat ashar tadi.”
Kiran menganggukkan kepalanya.
Lalu memutuskan untuk mencuci tangannya di kamar Aydan itu, dan saat sang anak selesai mengganti baju, Kiran membawanya. Pergi
untuk menemui sang ayah di ruang kerja. Sekaligus memberikan kesempatan pada
Desi untuk istirahat sejenak dan membersihkan diri.
Tanpa mengetuk pintu itu lebih dulu, Kiran langsung membuka pintu ruang kerja suaminya.
Dan benar saja, Aslan masih duduk disana, lengkap pula dengan layar komputer yang masih menyala.
Baik Aslan ataupun Kiran sama-sama tersenyum, tiap kali mereka saling tatap saat bertemu pertama kali ini seperti ini.
“Duh, anak ayah sudah mandi, coba cium? Masih bau kecut nggak yaa?” ucap Aslan saat melihat anak dan istrinya mendekat.
Kiran menghampiri suaminya itu, hingga berdiri tepat disebelah Aslan, lalu bersandar di meja kerja suaminya.
Aslan mengambil alih Aydan dan dibawanya kepangkuan.
“Hum, harum,” puiji Aslan saat menciumi leher sang anak. Biasanya dibagian ini mencium aroma tubuh bayi yang begitu khas.
Kiran terkekeh.
“Ibunya mau juga dong dicium,”
“Ibunya nanti malam ya?” pinta Aslan dan Kiran
langsung memukul lengan Aslan, bisa lain urusannya kalau cium malam-malam.
Saat itu juga, Kiran menceritakan kepada Aslan
tentang rencananya untuk meminjamkan rumah mas Fahmi pada Agung. Kiran juga
mengatakan jika ia tak ingin Agung membayar uang sewa.
Aslan setuju-setuju saja, lagipula Agung bukan orang asing lagi bagi mereka, justru Aslan merasa senang jika Agunglah yang akan
menempati rumah itu.
__ADS_1
“Nanti aku akan katakan pada mas Fahmi, biar dia
juga tenang kalau rumah itu sudah ada yang menempati dan tidak kosong lagi,”
jelas Aslan kemudian dan Kiran mengangguk setuju.
Drt drt drt
Ponsel Aslan diatas meja bergetar, Aslan dan Kiran sontak melihat ponsel itu bersamaan. Ada panggilan masuk dari Yuli.
Seketika Aslan dan Kiran sama-sama heran, bukannya segera pulang kenapa ibu mereka malah menelpon di jam sore seperti ini.
Tanpa mengulur waktu, Aslan langsung menjawab
panggilan sang ibu. Yuli mengatakan jika ia dan suaminya tidak akan pulang
malam ini, mereka memutuskan untuk menginap di Toko, karena salah satu
karyawannya membuat ulah, menukar baju-baju mereka dengan baju-baju yang
kualitasnya lebih rendah.
“Astagfirulahalazim, sabar Umi,” ucap Aslan ikut
prihatin. Padahal Iwan sudah begitu percaya pada semua karyawan-karyawannya
disana, hingga terkadang ia jarang sekali mengunjungi Toko dan menyerahkan
semuanya kepada mereka.
Namun ternyata, kepercayaan Iwan itu malah disalah gunakan.
Saat ada seorang pelanggan yang protes, barulah ulah karyawan itu ketahuan.
Tak lama kemudian, panggilan itu terputus. Kiran
langsung menggerutu, tak meyangka ada orang selicik itu.
“Jadi baju-baju Abi, dia jual sendiri secara online
dengan harga yang lebih mahal gitu?” tanya Kiran dan Aslan mengangguk.
“Astagfirulahalazim, astagfirulahalazim,” terus
Kiran beristigfar, agar mulutnya tidak sampai mengumpat, mengucapkan kata-kata
kasar.
“Abi sih terlalu baik dengan mereka, bahkan semua uang keluar masuk juga abi serahkan kan pada kepala toko?”
Lagi Aslan mengangguk.
Sebenarnya bukan Abi yang terlalu mempercayai
karyawan toko itu, namun sudah setahun terakhir ini Abi memang sering mengeluh
lelah jika setiap hari mengawasi toko.
Awalnya, Abi berniat meminta Kiran untuk meneruskan usahanya itu, tapi ternyata Kiran kembali bekerja di showroom. Jadilah,
akhirnya urusan toko terbengkalai, hingga terjadi penyelewengan seperti ini.
Abi, hanya bisa menceritakan semuanya kepada Aslan anak yang satu-satunya Iwan punya. Tak kuasa untuk bercerita kepada istri dan
juga menantunya itu. Tapi Aslan pun tak bisa, untuk keluar dari pekerjaannya saat ini.
__ADS_1
Selain gajinya yang terbilang besar, ia juga sudah menandatangani kontrak, dengan masa jabatan 10 tahun lagi. Selama Aslan bekerja dengan baik,
ia tak akan dipecat dimasa kontrak itu, dan jika ia keluar saat masa kontrak maka Aslan harus membayar uang penalty.
“Ran,” ucap Aslan menggantung, hingga membuat Kiran berhenti beristigfar dan menatap kearahnya.
“Apa?” tanya Kiran kemudian.
Tapi Aslan begitu ragu untuk menyampaikan maksud hatinya. Lagipula tanggung jawab tentang usaha Iwan ini harusnya ia yang pikul,
bukan Kiran.
“Mandilah,” ucap Aslan kemudian, dengan tersenyum agar Kiran menaruh curiga.
Dilihatnya sang istri mencebik, seolah kesal,
ternyata yang ia sampaikan hanyalah soal mandi, dan bukan sesuatu hal yang
penting.
Kiran mengangguk. Saat Kiran hendak membawa Aydan, Aslan mencegahnya. Astan mengatakan jika ia akan menyudahi pekerjaannya dan
menjaga Aydan saja.
Selepas Kiran pergi, Aslan menghembuskan napasnya
pelan. Seolah membuang sedikit beban yang ada dihatinya.
Aslan lalu memutuskan untuk menghubungi nomor sang ayah.
Tak butuh waktu lama, panggilan itu langsung
mendapatkan jawaban. Diujung ssna, Iwan sedikit menjauh dari Yuli saat mendapat
panggilan itu.
“Bagaimana Bi? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Aslan.
Dan mendengar itu, Iwan pun langsung menghembuskan napasnya berat.
Kerugian yang ia alami memang tidak seberapa, namun kepercayaan pelanggan yang hilang begitu memukul hatinya. Rasanya pun Iwan
sudah lelah untuk menesurkan ini semua. Ia bahkan sampai mengatakan pada Aslan
jika ia hendak menjual toko baju ini saja.
Toko baju yang sudah Iwan punya sejak ia masih usia remaja. Toko baju kecil yang berkat usahanya kini menjadi toko ternama. Toko
baju yang juga menjadi sumber penghasilan keluarga, hingga mampu menyekolahkan
Aslan hingga dijenjang tertinggi.
Toko yang menyimpan begitu banyak kenanagan.
Dan Aslan begitu tahu, nilai toko itu dimata sang
ayah.
“Jangan Bi, jangan dijual, aku akan menguruskan
mulai sekarang, Abi percayakan saja padaku, toko itu akan terus ada bahkan
sampai Aydan besar nanti, menikah dan memiliki anak sepertiku,” jelas Aslan.
Dan mendengar itu, kedua netra Iwan berkaca-kaca. Hatinya menghangat, merasa usahanya selama ini sangat dihargai oleh sang anak.
__ADS_1