
Setelah masuk ke dalam ruangan Widya, barulah tangis
Kiran mereda.
Saat itu, hanya ada Kiran dan Widya saja di ruangan
sana. Saat Widya menanyakan apa yang terjadi, Kiran pun menceritakan semuanya.
Saat Agung mengangkat telepon Aslan karena ia paksa, karena Kiran sungguh
enggan untuk menjawab panggilan itu.
Lalu saat Agung menuduhkan hamil dan malah
menyusahkan suami, dan saat itulah ia menangis.
“Kamu sudah periksa kandungan?” tanya Widya lagi dan
Kiran menggeleng.
“Mungkin kamu benar hamil Ran, coba saja periksa,
apa mau aku temani?” tawar Widya sungguh-sungguh dan Kiran malah cercenung, masih
belum mau percaya, jika semua gejala yang ia alami ini adalah hamil, Kiran tak
ingin kecewa terlalu cepat, Kiran ingin tiba-tiba ia tahu perutnya sudah
membuncit.
“Kalau tidak ingin pergi bersamaku, coba pergilah
bersama Aslan,” timpal widya lagi, memberi saran.
“Tidak ada salahnya Ran untuk periksa kandungan saat
ini, lagipula semakin cepat tahu semakin
bagus kan, kamu jadi bisa lebih berhati-hati dan memberinya nutrisi yang
tepat,” ucap Widya, yang mengerti atas kekhawatiran Kiran itu, nampak jelas
diwajah Kiran jika saat ini ia merasa takut dan ragu. Lama menjadi seorang
manajer, Widya bisa membaca suasana hati seseorang melalui raut wajahnya.
“Perkara hamil atau tidak, serahkan saja semuanya
pada Allah, jangan kecewa apapun hasilnya, tugas kita memang selalu untuk
berusaha kan?”
Kiran terdiam, namun ia menganggukan kepalanya
pelan.
“Terima kasih mbak,” jawab Kiran akhirnya. Air
matanya sudah kering, kini berganti senyum yang begitu lebar.
Berbicara dengan Widya, membuat ia merasa begitu
tenang. Seolah kegundahan yang terjadi beberapa menit lalu menghilang seketika.
Dan melihat perubahan itu, Widya semakin yakin, jika
Kiran benar-benar sedang hamil.
***
Saat jam istirahat siang.
Kiran, menghubungi suaminya lebih dulu. Mengucapkan
kata maaf, karena tadi meminta Agung yang menjawab panggilannya.
Aslan yang terlanjur merasa bersalah, merasa ada
sesuatu yang mengganjal dihati, hingga ia bingung harus bagaimana. Hingga
panggilan Kiran itu terasa dingin.
“Mas, maafkan aku?” pinta Kiran lagi, karena Aslan
lebih banyak diam dalam panggilan itu,. Aslan diam, karena ia takut salah,
semua yang ia ucapkan pada Kiran beberapa hari ini selalu saja salah, padahal
itu hanya kata cinta dan ungkapan perhatian.
Kini Aslan benar-benar bingung, bagaimana caranya
bersikap.
“Kamu tidak salah sayang, akulah yang slaah,” jawab
__ADS_1
Aslan akhirnya, dan Kiran malah makin merasa bersalah saat Aslan menjawab
seperti itu.
Lagi-lagi hening.
“Aku akan menjemputmu saat pulang nanti, mobilmu
tinggal saja di showroom,” ucap Aslan kemudian, dan Kiran tak menjawab apapun,
kepalanya mengangguk kecil, seolah Aslan bisa melihatnya.
“Mau tidak?”
“Iya sayang,” balas Kiran cepat.
“Nanti, kita periksa kandungan ya?” ajak Kiran.
Dan entah kenapa, mendengar itu, Aslan langsung
mengukir senyumnya.
“Baiklah, aku mencintaimu Ran.”
“Aku sangat mencintaimu Mas.”
Setelah panggilannya terputus, Kiran senyum-senyum
sendiri. Agung yang melihat itu benar-benar merasa kesal. Agung bahkan langsung
bangkit dari duduknya dan meninggalkan Kiran begitu saja.
Agung, mendatangi ruangan sang kekasih, masuk kesana
lalu menguncinya rapat.
“Mas,” sapa Widya saat melihat sang kekasih masuk.
“Kenapa pintunya dikunci?” tanya Widya heran,
pasalnya saat ini jam makan siang, harusnya mereka keluar untuk mencari makanan,
dan bukannya mengurung diri di ruangan ini.
“Aku ingin menghukummu,” balas Agung dengan tatapannya
yang dibuat seolah marah.
“Menghukum?” ulang Widya, seraya menerka-nerka,
“Memangnya aku salah apa?” tanya Widya, yang merasa
ia tak memiliki salah apapun.
Hingga Agung berdiri disebelahnya, lalu mengangkat
Widya untuk berdiri. Agung bersandar di meja kerja dan memeluk pinggang Widya
erat.
“Hukuman, karena kamu lebih mempercayai Kiran
daripada aku. Kiran yang salah, bukan aku, dia yang menangis sndiri, bukan
karena aku,” gerutu Agung, dan Widya malah terkekeh.
Widya bergerak lebih dulu, untuk mengecup sekilas
bibir sang kekasih sebagai permintaan maaf.
Mereka tahu ini salah, namun entah kenapa sulit
sekali untuk mencegah. Seolah gelora cinta ini tak bisa mereka bendung.
Hingga saat Widya hendak melepas kecupannya, Agung
malah memperdalam. Menahan tengkuk kekasihnya dan menjelajah bibir ranum itu, masuk
lebih dalam hingga saling membelit.
Lalu ruangan yang sunyi itu, mendadak dipenuhi suara
decapan.
****
Pulang kerja, Aslan langsung menjemput sang istri.
Mengemudikan mobil dengan hatinya yang riang. Selain
karena sudah berbaikan dengan sang istri, mereka nanti juga akan memeriksakan Kiran
ke dokter kandungaa, satu hal yang membuat Aslan berdebar-debar.
Senyum Aslan makin terkembang, saat dilihatnya Kiran
__ADS_1
yang sudah menunggu didepan showroom, lalu berlari kearahnya sesaat setelah ia
berhenti di halaman showroom itu.
Aslan membuka kaca mobilnya dan berucap, “Hati-hati
sayang,” pintanya dengan sangat, ia takut Kiran malah akan berakhir terjatuh.
Sang istri tak menjawab apapun, hanya memperlihatkan
senyum kuda, lalu segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi
kemudi.
Aslan menggenggam erat salah satu tangan sang istri,
lalu kembali memelajukan mobilnya.
Menuju rumah sakit.
Hingga saat sampai di rumah sakit dan mobil itu
kembali berhenti, Kiran malah enggan untuk turun.
Ia memasang wajah sendu, lalu menatap sang suami
engan tatapan yang entah.
“Kenapa?” tanya Aslan, karena saat hendak turun, Kiran
malah menahan lengannya.
“Bagaimana kalau aku tidak hamil?” tanya Kiran
langsung, dengan tatapannya yang semakin sendu.
“Kita buat lagi,” jawab Aslan seraya terkekeh. Lalu
menarik sang sitri untuk dipeluknya erat.
“Apa iya semudah itu? Mas tidak akan kecewa?” tanya
Kiran yang juga membalas pelukan Aslan tak kalah eratnya.
“Memang hanya semudah itu, kalau kamu belum hamil ya
kita buat lagi. Apa susahnya? Yang membuat susah itu hanya pikiran kita
sendiri, yang berpikir terlalu berlebihan,” jelas Aslan, lalu ia melerai
pelukan mereka dan menatap dalam kedua netra sang istri.
Keduanya saling tatap, mengunci dengan tatapan yang
dalam.
Hingga lambat laun Kiran pun mengukir senyumnya.
“Terima kasih Mas.”
“Terima kasih untuk apa?”
“Karena kamu selalu mengerti aku, ada didekatku,
bahkan saat aku sangat menyebalkan.”
“Kamu sadar kalau kamu sangat menyebalkan
akhir-akhir ini?”
Kiran mengangguk.
Dan Aslan terkekeh.
“Boleh saja marah-marah, tapi jangan lama-lama, dan
setelah itu beri aku kekuatan, sebuah sentuhan hangat,” ucap Asalan apa adanya,
itulah memang yang selalu ia inginkan setelah mereka saling berdebat.
Kiran tersenyum, lalu kembali mengikis jarak, menggantungkan
kedua tangannya dileher sang suami, lalu menciumi bibir Aslan, memainkan
lidahnya, ingin segera masuk.
Aslan tak tinggal Diam, dia pun membalas ciuman itu,
bahkan membuka mulutnya memberi akses sang istri untuk masuk,. Seraya memeluk
pinggang Kiran dengan erat.
Menyalurkan semua rasa cinta dan rindu yang beberapa
hari ini terpendam.
__ADS_1