
“Ya ampun Kiran, Aydan!!” histeris Iwan saat melihat
dua ikannya yang sudah pindah ke dalam baskom, bahkan berulang kali Aydan
memukuli ikan itu merasa gemas sekaligus takut.
Mendengar ada keributan, Yuli pun langsung
mendatangi kolam ikan itu. Ia terkejut, saat melihat baju Aydan sudah begitu
basah.
“Kiran!!” pekik Yuli pula.
Dan Kiran menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
****
Setelah membuat keributan, Akhirnya Kiran disuruh
berisitirahat saja di kamar, Iwan mengurus ikan-ikannya dan Yuli yang mengurus
Aydan.
Kembali ke dalam kamar, Kiran melihat jam di
dinding, masih jam 3 sore. Sang suami masih lama pulang, masih butuh waktu 2
jam lagi Aslan baru sampai di rumah.
Seketika itu juga, Kiran baru teringat dengan
panggilan telepon saat ia sedang menyetir tadi. Takut jika itu adalah panggilan
telepon dari sang suami, Kiran buru-buru menjangkau tasnya yang berada diatas
nakas dan mengambil ponsel.
Tertera jelas disana jika ada satu panggilan tidak
terjawab dari Dinda.
Kiran mengerutkan dahinya kala membaca nama itu, ada
apa? Pikirnya didalam hati.
Lalu tanpa menunda, Kiran langsung kembali
menghubungi Dinda. Tak butuh waktu lama, panggilan itu terjawab dan keduanya
saling mengucapkan salam.
“Ada apa Din?” tanya Kiran akhirnya, ia merasa jika
ada sesuatu hal yang ingin Dinda sampaikan atau ceritakan,. Karena tidak
biasanya Dinda menelpon, biasanya mereka hanya saling bertukan kabar melalui
pesan singkat.
Dinda tak langsung menjawa, memberi jeda hingga
membuat Kiran makin penasaran.
“Mas Alfat memintaku untuk ikut dia ke Thailand,
bagaiaman ini Ran?” tanya Dinda lirih setelah cukup lama terdiam.
Dan Kiran bergeming, bingung harus menjawab apa.
“Pindah kesana?” tanya Kiran.
“Iya, mas Alfath mengatakan jika sebaiknya aku dan
Akbar ikut dia kesana dan mulai menetap disana juga. Tapi aku tidak langsung
menyetujui itu, hatiku merasa ada yang mengganjal,” jelas Dinda lagi dengan
suaranya yang serak, Kiran bisa merasa jika saat ini Dinda pasti sudah
menangis.
Dinda sebenarnya tak biasa menceritakan masalah
keluarganya pada orang lain, namun entah kenapa kali ini ia merasa hatinya begitu
sesak dan ingin berbagi. Dan hanya kepada Kiranlah ia berani mengungkapkan
semuanya.
__ADS_1
“Aku takut Akbar disana akan sulit beradaptasi,
apalagi disana tidak ada pula keluarga kami yang lain,” jelas Dinda lagi, yang
tangisnya semakin terdengar jelas.
“Aku tahu, dia mengambil pekerjaan disana waktu itu
untuk menghindarimu Ran, tapi aku tidak menyangka jika kini ia membawa-bawa
Akbar juga, dia egois Ran.” Tangis Dinda pecah.
“Maaf Ran, bukan maksudku menyalahkanmu, aku hanya
merasa, aku merasa semua yang sudah ku lakukan sia-sia, sampai detik ini, mas
Alfat masih juga belum melihat kearahku,” timpal Dinda lagi dengan cepat, tak
ingin Kiran salah memahami maksdunya.
Sumpah, dinda tidak menyalahkan Kiran, ia hanya
kecewa pada sang suami. Yang hingga kini, masih saja belum berpikir matang.
“Din, jangan menangis? Bagaimana jika Akbar
mendengarmu?”
“Akbar ikut neneknya, sekarang aku dirumah sendiri,”
jawab Dinda sesenggukan.
“Aku tidak tahu harus memberimu saran apa.” Jawab
Kiran jujur, dengan suaranya yang terdengar penuh rasa bersalah.
Diujung sana Dinda tersenyum,, meski masih dengan
air mata yang mengalir. Kejujuran Kiran itu, terasa lucu dipendengarannya.
Biasanya Kiran nampak begitu dewasa dan bisa memecahkan semua masalah, namun
nyatanya, Kiran juga sama saja seperti Dia.
“Jadi aku harus minta bantuan siapa?” balas Dinda
“Mintalah bantuan kepada Allah,” jelas Kiran dengan
nada bicaranya yang dibuat seperti seorang guru.
Jawaban itu, tanpa ditanya pun Dinda sudah tahu
jawabannya. Akhirnya keduanya terkekeh, merasa lucu sendiri dengan perbincangan
mereka.
Pembicaraan itu masih terus berlanjut, tapi dengan
pembahasan yang berbeda. Kiran menceritakan tentang tokonya untuk mengalihkan
perhatian Dinda pada masalahnya itu. Bhkan Kiran meminta Dinda untuk selalu
datang ke tokonya jika merasa bosan atau butuh teman, bukan hanya ke toko, Kiran
juga meminta Dinda untuk sering menemuinya di rumah.
Lama mereka saling bertukar cerita, hanyut dalam
canda yang mereka buat sendiri. Hingga Kiran tak menyadari jika sang suami
sudah pulang ke rumah.Aslan pulang lebih cepat, senagja untuk memberi kado yang
sitri. Hari ini Kiran ulang tahun.
Tanpa babibu, Aslan langsung memeluk erat tubuh sang
istri dari arahbelakang, hinga membuat Kiran menjerit kaget.
“Mas ih!” kesal Kiran hingga Dinda pun mendengar
kekesalan itu.
“Aa! Suamimu udah pulang Ran, apalah akuu,” rengak
Dinda diujung sana.
Kiran terkekeh, lalu berpamitan untuk memutuskan
sambungan telepon itu.
__ADS_1
“Dinda?” tebak Aslan dan Kiran mengangguk.
Tak ingin membicarakan hal yang lain, Aslan lalu
menyerahkan paper bag berwarna merah yang ia bawa, langsung ke hadapan sang istri.
“Apa ini?” tanya Kiran, bertanya dengan senyum yang
terkembang, siapa yang tidak suka diberi hadiah? semua wanita menyuakinya,
apalagi jika itu adalah hadiah dari sang suami. Dan rasa bahagia itu, kini
sedang dirasakan oleh Kiran.
“Bukalah,” jawab Aslan singkat, ia lalu kembali
menarik pinggang sang istri dan memeluknya erat.
Tanpa babibu, Kiran langsung membuka paper bag itu,
menarik sebuah gaun malam di dalamnya.
Gaun yang nampak seperti? Lingeri.
“Lingeri?” tanya Kiran tak percaya, kado macam apa
ini? Pikirnya.
“Ya, kado ulang tahunmu,” jawab Aslan bangga dan
Kiran mencebik, ia saja lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya, dan
ketika ia ingat malah mendapatkan kado sebuah lingeri.
“Ini sih bukan kado buat aku, tapi kado buat Mas,”
jawab Kiran dengan bibir yang mengerucut, kesal. Tidak jadi bahagia.
Dan melihat itu, Aslan terkekeh.
Namun meskipun kesal, saat malam harinya, Kiran
tetap memakai lingeri itu. Berjalan menghampiri sang suami yang sedang duduk di
sofa sambil membaca seseuatu didalam tablet.
Kiran duduk disebelah Aslan dan langsung
menyilangkan kaki, memperlihatkan betapa jenjangnya kedua kaki itu.
“Mau buka kado nggak?” tawar Kiran dengan nada
ketus, namun terlihat begitu menggemaskan dimata Aslan.
“Duduk diatas pangkuanku,” titah Aslan dan Kiran
menurut.
“Kenapa tadi Dinda menelpon?” tanya Aslan kemudian,
jujur saja ia merasa penasaran, takut jika sang istri masih membahas-bahas
tentang Alfath.
“Dinda cerita, katanya Alfath ajak dia dan Akbar
untuk pindah ke Thailand, tapi Dinda masih ragu, takut Akbar tidak bisa
beradapatasi disana, apalagi dari segi bahasa,” jelas Kiran jujur, lalu
menggantungkan kedua tangannya dileher sang suami.
Aslan menganggkkan kepala, mulai mengerti pembahasan
sang istri dengan Dinda sore tadi.
“Mau buka kado nggak?” tawar Kiran lagi dengan suara
yang menggoda, ia bahkan lebih mendelat, mengikis jarak hingga dagu sang suami
bersarang diatara dua gundukan itu.
“Dibuka pelan-pelan ya?” tawar Aslan pula, lalu
menarik beberapa tali pengait lingeri itu yang berada dipunggung sang istri.
Kiran terkekeh, terlebih saat merasa lingerinya
mulai tertanggal satu per satu.
__ADS_1