Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 112


__ADS_3

“Ya ampun Kiran, Aydan!!” histeris Iwan saat melihat


dua ikannya yang sudah pindah ke dalam baskom, bahkan berulang kali Aydan


memukuli ikan itu merasa gemas sekaligus takut.


Mendengar ada keributan, Yuli pun langsung


mendatangi kolam ikan itu. Ia terkejut, saat melihat baju Aydan sudah begitu


basah.


“Kiran!!” pekik Yuli pula.


Dan Kiran menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


****


Setelah membuat keributan, Akhirnya Kiran disuruh


berisitirahat saja di kamar, Iwan mengurus ikan-ikannya dan Yuli yang mengurus


Aydan.


Kembali ke dalam kamar, Kiran melihat jam di


dinding, masih jam 3 sore. Sang suami masih lama pulang, masih butuh waktu 2


jam lagi Aslan baru sampai di rumah.


Seketika itu juga, Kiran baru teringat dengan


panggilan telepon saat ia sedang menyetir tadi. Takut jika itu adalah panggilan


telepon dari sang suami, Kiran buru-buru menjangkau tasnya yang berada diatas


nakas dan mengambil ponsel.


Tertera jelas disana jika ada satu panggilan tidak


terjawab dari Dinda.


Kiran mengerutkan dahinya kala membaca nama itu, ada


apa? Pikirnya didalam hati.


Lalu tanpa menunda, Kiran langsung kembali


menghubungi Dinda. Tak butuh waktu lama, panggilan itu terjawab dan keduanya


saling mengucapkan salam.


“Ada apa Din?” tanya Kiran akhirnya, ia merasa jika


ada sesuatu hal yang ingin Dinda sampaikan atau ceritakan,. Karena tidak


biasanya Dinda menelpon, biasanya mereka hanya saling bertukan kabar melalui


pesan singkat.


Dinda tak langsung menjawa, memberi jeda hingga


membuat Kiran makin penasaran.


“Mas Alfat memintaku untuk ikut dia ke Thailand,


bagaiaman ini Ran?” tanya Dinda lirih setelah cukup lama terdiam.


Dan Kiran bergeming, bingung harus menjawab apa.


“Pindah kesana?” tanya Kiran.


“Iya, mas Alfath mengatakan jika sebaiknya aku dan


Akbar ikut dia kesana dan mulai menetap disana juga. Tapi aku tidak langsung


menyetujui itu, hatiku merasa ada yang mengganjal,” jelas Dinda lagi dengan


suaranya yang serak, Kiran bisa merasa jika saat ini Dinda pasti sudah


menangis.


Dinda sebenarnya tak biasa menceritakan masalah


keluarganya pada orang lain, namun entah kenapa kali ini ia merasa hatinya begitu


sesak dan ingin berbagi. Dan hanya kepada Kiranlah ia berani mengungkapkan


semuanya.

__ADS_1


“Aku takut Akbar disana akan sulit beradaptasi,


apalagi disana tidak ada pula keluarga kami yang lain,” jelas Dinda lagi, yang


tangisnya semakin terdengar jelas.


“Aku tahu, dia mengambil pekerjaan disana waktu itu


untuk menghindarimu Ran, tapi aku tidak menyangka jika kini ia membawa-bawa


Akbar juga, dia egois Ran.” Tangis Dinda pecah.


“Maaf Ran, bukan maksudku menyalahkanmu, aku hanya


merasa, aku merasa semua yang sudah ku lakukan sia-sia, sampai detik ini, mas


Alfat masih juga belum melihat kearahku,” timpal Dinda lagi dengan cepat, tak


ingin Kiran salah memahami maksdunya.


Sumpah, dinda tidak menyalahkan Kiran, ia hanya


kecewa pada sang suami. Yang hingga kini, masih saja belum berpikir matang.


“Din, jangan menangis? Bagaimana jika Akbar


mendengarmu?”


“Akbar ikut neneknya, sekarang aku dirumah sendiri,”


jawab Dinda sesenggukan.


“Aku tidak tahu harus memberimu saran apa.” Jawab


Kiran jujur, dengan suaranya yang terdengar penuh rasa bersalah.


Diujung sana Dinda tersenyum,, meski masih dengan


air mata yang mengalir. Kejujuran Kiran itu, terasa lucu dipendengarannya.


Biasanya Kiran nampak begitu dewasa dan bisa memecahkan semua masalah, namun


nyatanya, Kiran juga sama saja seperti Dia.


“Jadi aku harus minta bantuan siapa?” balas Dinda


“Mintalah bantuan kepada Allah,” jelas Kiran dengan


nada bicaranya yang dibuat seperti seorang guru.


Jawaban itu, tanpa ditanya pun Dinda sudah tahu


jawabannya. Akhirnya keduanya terkekeh, merasa lucu sendiri dengan perbincangan


mereka.


Pembicaraan itu masih terus berlanjut, tapi dengan


pembahasan yang berbeda. Kiran menceritakan tentang tokonya untuk mengalihkan


perhatian Dinda pada masalahnya itu. Bhkan Kiran meminta Dinda untuk selalu


datang ke tokonya jika merasa bosan atau butuh teman, bukan hanya ke toko, Kiran


juga meminta Dinda untuk sering menemuinya di rumah.


Lama mereka saling bertukar cerita, hanyut dalam


canda yang mereka buat sendiri. Hingga Kiran tak menyadari jika sang suami


sudah pulang ke rumah.Aslan pulang lebih cepat, senagja untuk memberi kado yang


sitri. Hari ini Kiran ulang tahun.


Tanpa babibu, Aslan langsung memeluk erat tubuh sang


istri dari arahbelakang, hinga membuat Kiran menjerit kaget.


“Mas ih!” kesal Kiran hingga Dinda pun mendengar


kekesalan itu.


“Aa! Suamimu udah pulang Ran, apalah akuu,” rengak


Dinda diujung sana.


Kiran terkekeh, lalu berpamitan untuk memutuskan


sambungan telepon itu.

__ADS_1


“Dinda?” tebak Aslan dan Kiran mengangguk.


Tak ingin membicarakan hal yang lain, Aslan lalu


menyerahkan paper bag berwarna merah yang ia bawa, langsung ke hadapan sang istri.


“Apa ini?” tanya Kiran, bertanya dengan senyum yang


terkembang, siapa yang tidak suka diberi hadiah? semua wanita menyuakinya,


apalagi jika itu adalah hadiah dari sang suami. Dan rasa bahagia itu, kini


sedang dirasakan oleh Kiran.


“Bukalah,” jawab Aslan singkat, ia lalu kembali


menarik pinggang sang istri dan memeluknya erat.


Tanpa babibu, Kiran langsung membuka paper bag itu,


menarik sebuah gaun malam di dalamnya.


Gaun yang nampak seperti? Lingeri.


“Lingeri?” tanya Kiran tak percaya, kado macam apa


ini? Pikirnya.


“Ya, kado ulang tahunmu,” jawab Aslan bangga dan


Kiran mencebik, ia saja lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya, dan


ketika ia ingat malah mendapatkan kado sebuah lingeri.


“Ini sih bukan kado buat aku, tapi kado buat Mas,”


jawab Kiran dengan bibir yang mengerucut, kesal. Tidak jadi bahagia.


Dan melihat itu, Aslan terkekeh.


Namun meskipun kesal, saat malam harinya, Kiran


tetap memakai lingeri itu. Berjalan menghampiri sang suami yang sedang duduk di


sofa sambil membaca seseuatu didalam tablet.


Kiran duduk disebelah Aslan dan langsung


menyilangkan kaki, memperlihatkan betapa jenjangnya kedua kaki itu.


“Mau buka kado nggak?” tawar Kiran dengan nada


ketus, namun terlihat begitu menggemaskan dimata Aslan.


“Duduk diatas pangkuanku,” titah Aslan dan Kiran


menurut.


“Kenapa tadi Dinda menelpon?” tanya Aslan kemudian,


jujur saja ia merasa penasaran, takut jika sang istri masih membahas-bahas


tentang Alfath.


“Dinda cerita, katanya Alfath ajak dia dan Akbar


untuk pindah ke Thailand, tapi Dinda masih ragu, takut Akbar tidak bisa


beradapatasi disana, apalagi dari segi bahasa,” jelas Kiran jujur, lalu


menggantungkan kedua tangannya dileher sang suami.


Aslan menganggkkan kepala, mulai mengerti pembahasan


sang istri dengan Dinda sore tadi.


“Mau buka kado nggak?” tawar Kiran lagi dengan suara


yang menggoda, ia bahkan lebih mendelat, mengikis jarak hingga dagu sang suami


bersarang diatara dua gundukan itu.


“Dibuka pelan-pelan ya?” tawar Aslan pula, lalu


menarik beberapa tali pengait lingeri itu yang berada dipunggung sang istri.


Kiran terkekeh, terlebih saat merasa lingerinya


mulai tertanggal satu per satu.

__ADS_1


__ADS_2