Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 128 - Rencana Babymoon


__ADS_3

Pagi ini, Agung benar-benar mendatangi rumah Aslan sebelum ia berangkat kerja.


Agung kesana tidak untuk menemui Aslan apalagi Kiran. Ia kesana untuk menemui Yuli dan mengucapkan banyak terima kasih.


Tentang bude Asni yang diperbolehkan untuk bekerja sementara di rumahnya.


Yuli tersenyum, ia juga menganggukkan kepalanya kala mendengar ucapan terima kasih dari Agung.


Semenjak hari itu, hubungan bertetangga antara keluarga Agung dan keluarga Aslan makin terjalin erat.


Bahkan hari-hari biasa mereka saling bertukar masakan.


Sesekali Yuli memberikan Agung dan Widya makanan, dan sesekali pula Widya membalasnya.


Widya, benar-benar bersyukur. Merasa jika ia hidup ditempat yang tepat.


Dua bulan berlalu, saat itu usia kehamilan Kiran memasuki usia 6 bulan. Sementara usia kehamilan Widya memasuki usia kehamilan 3 bulan.


Dan ternyata, Dinda mengatakan jika kini ia tengah hamil, dengan usia kehamilan 1 bulan.


Kebahagian datang silih berganti, membuat mereka terus tersenyum tanpa henti.


Malam ini, Dinda dan Alfath mengundang Aslan dan Kiran juga Agung dan Widya untuk datang ke rumahnya.


Dinda, meminta kedua sahabatnya itu untuk makan malam di rumahnya.


Kiran dan Widya pun menyetujui itu.


Setelah makan malam usai, para pria duduk di ruang tengah sambil menjaga anak-anak, Aydan dan Akbar. Sementara para wanita, masih membantu pelayan di rumah itu untuk membereskan meja makan.


"Perutmu sudah besar ya Ran?" tanya Dinda, sambil mengelus perut Kiran yang sudah begitu membuncit.


Bahkan kini berat badan Kiran naik lagi, sebanyak 3 kilo.


"Iya Din, bukan cuma perut yang nambah besar, lengan sama kakiku juga," jawab Kiran dengan senyumnya yang lebar.


Senyum yang membuat Dinda dan Widya terkekeh.


"Duduklah saja, biar ini yang kami kerjakan," ucap Widya, meminta Kiran untuk tak ikut repot di westafel. Ia tak tega, membiarkan ibu hamil besar ini membantu mereka.


"Iya Ran, pergilah ke ruang tengah, nanti kami akan susul," timpal Dinda pula.

__ADS_1


Namun Kiran malah menggeleng.


"Kalau begitu duduk saja di meja makan," titah Dinda lagi.


"Aku hamil, bukan sakit," sanggah Kiran, namun meski begitu ia menuruti keinginan kedua sahabatnya itu.


"Tetap saja, kami tidak tega melihatnya," kini giliran Widya yang buka suara.


"Lihatlah, nanti saat perut kalian sudah membesar, aku juga akan larang ini dan itu," jawab Kiran tak mau kalah, berucap dengan suaranya yang ketus.


"Jangan suka marah-marah, nanti anakmu jadi seperti dirimu. Ketus," ucap Alfath yang tiba-tiba ada disana.


Kiran mencebik, tak peduli.


Sementara orang lain yang mendengar hanya terkekeh.


Ya, kini hubungan Kiran dan Alfath sudah benar-benar membaik. Bahkan keduanya sudah tak canggung untuk saling bertukar kata.


Terlebih Aslan dan Dinda juga yang menaruh percaya pada keduanya.


Kiran dan Alfath memang tidak berjodoh, namun mereka tetap memiliki hubungan yang baik. Lalu hidup bahagia bersama dengan pasangannya masing-masing.


"Mas mau ambil apa?" tanya Dinda pada suaminya itu.


"Aydan sama Akbar suka anggurnya sayang, tapi maunya kulit anggurnya dikupas dulu," jawab Alfath, seraya sibuk mengambil buah anggur di lemari pendingin itu.


Setelah dapat, ia segera menaruhnya di piring dan membawanya ke depan. Buah-buah di dalam lemari pendingin Dinda sebelumnya sudah dicuci lebih dulu.


"Eh, minta tempat untuk kulitnya juga," ucap Alfath, yang kembali lagi memutar badannya kesini.


Dinda tersenyum, seraya menyerahkan piring kecil pada suaminya itu.


Selesai beres-beres di dapur, para wanita ikut berkumpul bersama suami-suaminya di ruang tengah.


Sampai di sana, ketiga wanita itu dibuat terperangah. Kala melihat ruang tengah yang begitu berantakan.


"Ya ampun mas Alfath! kenapa jadi berantakan seperti ini?" Dinda si pemilik rumah mulai gusar, tissue berserak dimana-mana, juga bantal sofa yang berhamburan tidak jelas.


"Bukan kami yang acak-acak sayang, tapi Akbar sama Aydan. Mereka suka menarik-narik tissue ini," jawab Alfath apa adanya hingga membuat tanduk di kepala Dinda keluar.


"Ya dibilang dong Mas, jangan! gitu!" kesal Dinda, lalu mengambil kotak tissue yang tengah dipermainkan oleh Akbar dan juga Aydan. Berulang kali Dinda menjelaskan kepada kedua anak itu bahwa tidak boleh memainkan tissue.

__ADS_1


Belum lagi jika tissue itu termakan, maka akan lebih fatal lagi.


Seolah mengerti, Akbar dan Aydan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kalau tidak diberi tahu, mana tahu mereka mana yang benar mana yang salah." timpal Kiran yang ikut buka suara.


"Ini bapak-bapaknya asik ngobrol sendiri pasti, makanya Akbar sama Akbar dibiarin aja main tissue," jelas Widya pula.


Hingga membuat ketiga pria itu saling pandang. Sudah, jika seperti ini apapun yang akan mereka ucapkan akan selalu salah.


Diam, adalah pilihan yang terbaik.


Lalu Aslan dan Alfath menggendong anaknya masing-masing, dan membiarkan para istri untuk kembali membenahi ruang tengah itu, hingga kembali layak untuk dijadikan tempat berkumpul.


"Dimana-mana, beres-beres," keluh Dinda, yang hormon kehamilannya masih bergejolak hebat.


"Yang ikhlas dong sayang," bujuk alfat pada istrinya itu.


"Ikhlas sih ikhlas, tapi Mas ngerti juga dong," balas Dinda cepat.


Agung dan Aslan kompak mengelus pindak alfath, memberikan dukungan.


Mereka, sudah lebih dulu merasakan jadi Alfath seperti itu. Menjadi tempat keluh kesah sang istri yang tanpa batas.


"Sabat Fath, setelah e bulan biasanya istri akan kembali seperti semula," bisik Agung.


"Sebenarnya bisa lebih cepat, tapi kamu harus pintar-pintar mengambil hati istrimu," bisik Aslan pula, sesuai dengan pengalamannya.


Sedangkan Alfath hanya mampu menghembuskan napasnya berat. Apapun yang ia lakukan, akhir-akhir ini selalu salah di mata Dinda.


Seolah karma itu tengah mengusik hidupnya. Dulu, ia bisa sesuka hati memperlakukan Dinda, memanfaatkan cinta tulus istrinya itu.


Kini, semuanya seolah terbalik. Dinda lah yang selalu membolak-balikkan Alfath, menuruti semua perintahnya tanpa bisa menolak.


Seperti kerbau yang di cucuk hidungnya.


"Mas ngerti tidak?" tanya Dinda lagi, setelah ia selesai membereskan ruang tengah itu dengan bibir yang mengerucut.


"Iya sayang, maaf ya. Lain kali aku akan memberitahu Akbar, mana yang boleh mana yang tidak," jawan Alfath patuh, namun terlihat lucu di mata semua orang.


"Bagus," timpal Dinda singkat.

__ADS_1


Malam itu, mereka semua berkumpul dan saling bertukar cerita.


Bahkan mereka sepakat, untuk baby moon bersama-sama. Satu minggu lagi.


__ADS_2